Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — "Aku Dibunuh"
Tubuh Naresha membeku.
Napasnya tercekat saat suara perempuan itu terdengar jelas di belakang telinganya.
“Aku… tidak bunuh diri…”
Suaranya lirih.
Dingin.
Dan terlalu dekat.
Bulu kuduk Naresha langsung berdiri.
Tangannya gemetar saat perlahan menoleh ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun hawa dingin di ruangan arsip mendadak terasa menusuk sampai ke tulang.
Arven langsung berdiri cepat.
“Sha?”
Naresha menatapnya dengan wajah pucat.
“Dia ngomong sama gue…”
Ekspresi Arven berubah serius.
“Apa yang dia bilang?”
Naresha menelan ludah pelan.
“Dia bilang… dia ga bunuh diri.”
Sunyi.
Lampu ruangan kembali berkedip pelan.
Ctek.
Ctek.
Ctek.
Arven langsung merebut map hitam dari tangan Naresha lalu menutupnya cepat.
“Kita harus keluar dari sini.”
“Hah? Kenapa?”
“Karena dia mulai nyoba komunikasi.”
Kalimat itu justru membuat Naresha makin panik.
“Bukannya itu bagus? Berarti kita bisa tahu siapa yang bunuh dia!”
“Ga sesimpel itu.”
Arven menggenggam pergelangan tangan Naresha lagi.
Dan kali ini tangannya terasa dingin.
“Semakin dia dekat sama lo… semakin bahaya.”
Naresha menatap cowok itu bingung.
“Kenapa gue?”
Arven diam.
Dan diamnya membuat suasana semakin tidak nyaman.
Sebelum Naresha sempat memaksa jawaban—
Brakkk!
Salah satu lemari arsip tiba-tiba jatuh sendiri.
Kertas-kertas beterbangan ke seluruh ruangan.
Naresha refleks mundur.
“Astaga!”
Lampu mendadak mati.
Gelap.
Total.
“Arven?”
Tidak ada jawaban.
Napas Naresha langsung memburu.
“Ven jangan becanda…”
Sunyi.
Lalu terdengar suara langkah kaki pelan di dalam ruangan.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu berjalan mengelilinginya.
Padahal jelas-jelas ruangan gelap total.
Jantung Naresha berdetak sangat keras.
Ia mencoba mencari Arven dalam gelap.
Namun tiba-tiba—
Seseorang menyentuh bahunya.
Naresha langsung menjerit kecil.
“ARGH—”
“Sha. Gue.”
Suara Arven.
Naresha langsung menghela napas lega.
“Jangan ngagetin gue bisa ga sih?!”
Arven mendekat lalu menyalakan senter kecil dari ponselnya.
Cahaya redup menerangi ruangan arsip.
Berantakan.
Kertas berserakan di lantai.
Lemari arsip roboh.
Dan hawa dingin masih terasa.
Namun yang membuat Naresha membeku…
Adalah tulisan merah di dinding belakang ruangan.
AKU DIBUNUH
Tulisan itu terlihat seperti dibuat menggunakan darah.
Masih basah.
Menetes perlahan ke lantai.
Napas Naresha tercekat.
“Astaga…”
Arven langsung memalingkan cahaya senter ke arah lain seolah tidak ingin Naresha melihat lebih lama.
“Kita pergi sekarang.”
Namun sebelum mereka bergerak—
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah kaki terdengar lagi.
Kali ini dari luar pintu ruang arsip.
Pelan.
Menyeret.
Naresha refleks mendekati Arven.
“Dia lagi…”
Arven mematikan senter cepat.
Ruangan kembali gelap.
“Jangan bersuara,” bisiknya pelan.
Naresha langsung menutup mulutnya sendiri.
Suara langkah kaki itu semakin dekat.
Tok…
Tok…
Tok…
Lalu berhenti tepat di depan pintu.
Sunyi.
Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar.
Beberapa detik berlalu.
Dan perlahan…
Gagang pintu mulai bergerak sendiri.
Krekkk…
Naresha langsung memegang lengan Arven kuat-kuat.
Pintu itu bergerak pelan.
Seolah seseorang sedang mencoba membukanya dari luar.
Padahal pintunya terkunci.
Krekkk…
Krekkk…
Tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa kecil.
“Hehehe…”
Tubuh Naresha langsung dingin.
“Itu Evelyn?” bisiknya gemetar.
Arven tidak menjawab.
Namun Naresha bisa merasakan tubuh cowok itu ikut menegang.
Lalu suara perempuan itu berubah pelan.
Menjadi bisikan lirih.
“Arven…”
Deg.
Mata Naresha langsung membesar.
Sosok itu tahu nama Arven.
“Kenapa dia manggil lo?” bisik Naresha cepat.
Arven tetap diam.
Tatapannya lurus ke arah pintu.
Dan untuk pertama kalinya…
Naresha melihat ketakutan nyata di mata cowok itu.
“Hehehe…”
Suara tawa itu terdengar lagi.
Lalu—
Brakkk!
Pintu ruang arsip tiba-tiba digedor keras dari luar.
Naresha refleks memeluk lengan Arven.
“Ven!”
Brakkk!
Gedoran kedua lebih keras.
Seolah sesuatu sedang mencoba masuk paksa.
Lampu di ruangan mendadak menyala mati sendiri.
Ctek!
Gelap.
Ctek!
Terang.
Ctek!
Gelap lagi.
Dan di sela cahaya yang berkedip itu…
Naresha melihat sosok perempuan berdiri tepat di balik kaca kecil pintu arsip.
Rambut panjang.
Wajah pucat.
Dan mata hitam pekat yang menatap lurus ke arahnya.
Namun yang paling membuat darah Naresha terasa berhenti…
Adalah senyuman perempuan itu.
Karena perlahan…
Senyum itu melebar tidak manusiawi.