Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-Tiba Bisa Masuk ke Dalam Game!
(Dunia paralel, bukan dunia nyata, tidak ada nama tempat maupun negara sungguhan? Tolong jangan terlalu baper!)
…
Teriknya matahari di bulan Agustus ini sukses bikin hati bawaannya sumuk dan emosi.
Kabupaten Jatiroso.
Sebuah daerah pinggiran yang asyu, di mana gaji UMR warganya rata-rata mentok di enam sampai delapan jutaan, tapi harga rumah gila-gilaan nyekek leher sampai dua puluh empat juta per meter persegi.
Di dalam sebuah warung sayur dan buah yang tidak terlalu besar, Bima memaksakan senyum ramah sambil menyerahkan sekantong kresek berisi sayuran kepada seorang ibu-ibu paruh baya, "Ini sayurnya, Bu. Matur nuwun ya, monggo mampir lagi."
Begitu pelanggannya pergi, Bima langsung cemberut melihat beberapa lalat hijau yang berterbangan menyebalkan di sekitar dagangannya. Mau tak mau, ia meraih raket nyamuk dan mulai melakukan pengusiran.
Setelah peperangan sengit berdarah-darah, beberapa bangkai lalat sukses dieksekusi.
Bima kembali duduk ngedeprok di meja kasir. Ia meraih ponselnya dan membuka sebuah game jadul bernuansa nostalgia yang baru saja dirilis ulang, Harvest Moon.
Ini adalah game simulasi bercocok tanam dengan tingkat kebebasan yang tinggi dan tidak butuh otak mikir keras. Cocok banget buat kaum penunggu warung sepertinya untuk membunuh waktu.
Sudah setahun sejak ia lulus kuliah, tapi hidupnya masih luntang-lantung begini. Sarjana Manajemen Pariwisata, eh ujung-ujungnya malah jadi juragan sayur dan buah. Yah, realita emang sering kali nggak ngasih kita banyak pilihan.
Keluarganya selama tiga generasi ke atas murni berasal dari kelas ekonomi kere. Beberapa tahun lalu, kakeknya jatuh sakit, dan sebelum mendiang kakeknya berpulang, bapaknyalah yang banting tulang dari subuh sampai larut malam ngurus warung buah ini demi nutup biaya berobat dan perut keluarga.
Tapi Gusti Allah sepertinya lagi ngajak bercanda keluarganya. Tak lama setelah sang kakek meninggal, bapaknya juga tumbang. Tubuhnya yang terus-terusan diforsir akhirnya didiagnosis terkena kanker.
Ibunya nyaris tidak bisa bertahan hanya dengan mengandalkan warung kecil ini. Meskipun mereka sudah sampai jual rumah dan menebalkan muka pinjam uang sana-sini sampai berutang ratusan juta rupiah, nyawa bapaknya tetap tak bisa diselamatkan.
Karena terlalu lelah dan banyak pikiran, tubuh ibunya pun ikut-ikutan drop. Hasil pemeriksaan medisnya kurang bagus, sehingga beliau butuh orang untuk merawatnya di rumah.
Itulah kenapa, setelah lulus kuliah, meski Bima sebenarnya punya kesempatan emas buat kerja di sebuah perusahaan besar, ia terpaksa harus pulang kampung demi merawat ibunya, sekaligus mewarisi warung buah gurem ini... dan tumpukan utang keluarganya.
Kalau orang-orang di luar sana bilang titik start kehidupan mereka dimulai dari nol, maka Bima mulainya dari minus ratusan juta.
Hidup emang jian nggak ada adil-adilnya.
Bukannya dia tak pernah kepikiran buat cari kerjaan sampingan sambil jaga warung. Tapi buat ukuran tamatan baru sepertinya, boro-boro modal, pengalaman kerja keras di lapangan aja masih nol putul.
Mengandalkan pendapatan dari warung ini saja sudah bikin napas ngos-ngosan. Harus dipotong biaya operasional, uang nutrisi untuk pengobatan ibunya, ditambah cicilan utang tiap bulan. Saldo di rekening Bima sekarang malah nggak sampai sembilan juta perak.
Jangankan sakit parah, dia bahkan nggak punya hak finansial buat sekadar flu dan pergi ke klinik.
Toh, dia sadar diri. Dia bukan seleb TikTok yang bisa pamer jualan di lapak buah ukuran 30 meter persegi tapi ngaku-ngaku omzetnya tembus puluhan sampai ratusan juta sebulan. Ah, aplikasi ajaib, di mana semua user-nya kelihatannya punya duit miliaran.
Selama ibunya belum sembuh total dan masih butuh perawatan, raga Bima benar-benar terjebak di warung kecil ini hanya sekadar untuk menyambung napas.
Bima mendesah berat. Jari-jarinya kembali mengontrol karakter di dalam layarnya untuk keluar rumah. Di hadapannya kini terpampang 6 petak tanah yang sudah ditanami bibit semangka. Karena dia baru saja mulai main, tanah yang terbuka baru 6 petak itu saja.
Cabut rumput liar, siram air!
Setelah menunggu beberapa saat, 6 petak semangka itu bergantian memunculkan notifikasi panen. Arus waktu di dalam game ini memang beda. Semangka yang di dunia nyata butuh berbulan-bulan untuk panen, di game ini belasan jam saja sudah matang siap petik.
Setiap satu petak tanah biasanya bisa menghasilkan sekitar 15 sampai 20 buah semangka.
Bima baru saja mau menyuruh karakter utamanya memetik semangka tersebut ketika tiba-tiba, sebuah arus listrik melonjak liar dari ponselnya dan seketika membuat seluruh tubuhnya mati rasa kesetrum.
Bocor listrik?!
Refleks, Bima ingin mengumpat kasar.
Asu! Hapenya ini kan bukan merek Samsung, masa bocor listrik sedikit aja setrumannya ngalah-ngalahin gardu PLN?!
"Ding! Jalur permainan khusus diaktifkan. Mengunci game 《Harvest Moon》, harap tunggu sebentar..."
"???" Bima menepuk-nepuk kepalanya pusing.
Kesetrum begini apa bisa bikin halusinasi segala?
"Ding! Jalur permainan khusus berhasil ditautkan. Telah menautkan game 《Harvest Moon》. Apakah Host ingin masuk ke dalam permainan untuk pertama kalinya?"
Tiba-tiba, sebuah pemandangan visual yang sangat surealis terproyeksi di dalam kepala Bima. Itu adalah sebuah lahan peternakan, dan di atas 6 petak tanahnya tergeletak semangka-semangka matang yang montok.
Lho, ini kan visual game Harvest Moon?!
Karakter gamenya bahkan masih berdiri bengong di depan ladang semangka, tepat di posisi saat ia memerintahkannya untuk memanen tadi.
Yang lebih sinting lagi, begitu Bima menggerakkan pikirannya, karakter game itu langsung maju dan memetik satu buah semangka sungguhan!
Gila, jadi dia sekarang bisa main game cuma pakai niat dari dalam otak?
Tak lama setelahnya, Bima menyadari ada sebuah pop-up pilihan khusus yang mengambang di atas visual tersebut: Apakah Anda ingin masuk?!
"Masuk!"
Teringat pada notifikasi sistem barusan, Bima yang masih tak percaya memutuskan untuk nekat mengiyakan pilihan tersebut.
Sensasi sedotan gravitasi yang sangat aneh tiba-tiba menarik tubuhnya. Dalam sekejap mata, pemandangan di sekelilingnya berubah drastis.
Kini, matanya disuguhi hamparan ladang semangka hijau yang luasnya bukan main.
Udara di sekitarnya menguar dengan aroma manis khas semangka yang menyegarkan. Dan yang paling gila... kedua tangannya kini sedang mendekap sebuah semangka bulat yang berat. Ia seolah-olah telah menggantikan posisi karakter game tersebut secara fisik!
"Ini... bukan halusinasi, kan?" Bima bergumam tak percaya. Tekstur semangka di tangannya ini kelewat nyata. Bahkan, ada kotak informasi transparan yang melayang di atas buah tersebut:
【Semangka Tanpa Biji: Kualitas 1】
【Catatan: Meski bukan jenis bibit semangka spesial, namun karena ini adalah produk dari dalam game, tingkat kelezatannya adalah yang terbaik di antara semangka biasa. Lezat +1, Manis +1, Tekstur +1.】
Buah-buahan yang ditanam di Harvest Moon versi ini rupanya punya sistem pembagian kualitas. Semakin tinggi angkanya, makin enak rasanya, dan harga jualnya otomatis makin mahal.
Tapi anehnya, catatan atribut yang muncul ini beda dari yang di layar HP-nya tadi. Kok bisa ada buff atribut tambahan segala?
Bima menaruh semangka di tangannya dan memetik beberapa buah lagi. Hasilnya sama persis. Informasi yang sama muncul melayang, dan semuanya punya keterangan Lezat +1, Manis +1.
Bima lalu memutar pandangannya ke sekeliling. Bangunan kincir angin raksasa, gudang silo penyimpanan, pagar kayu pembatas...
Segala sesuatunya sama persis dengan yang ada di visual game!
Satu-satunya perbedaan hanyalah skala tanah di depannya yang jauh, jauh lebih luas, membentang penuh dengan ladang semangka. Ini bukan lagi kotak-kotak piksel sempit kayak di game. Bahkan hasil panennya ditunjukkan pakai sistem hitungan angka nyata.
Lebih lanjut, saat ia melirik jam di ponselnya, arus waktu setelah ia masuk ke mari ternyata kembali menjadi sinkron dan berjalan normal seperti di dunia nyata.
Tiba-tiba, Bima teringat sesuatu. Ia buru-buru memeriksa layar antarmuka di benaknya.
Duh, kalau dia nggak bisa balik ke dunia nyata gimana? Bisa-bisa ibunya jantungan nyariin dia!
Syukurlah, visual di kepalanya langsung berubah. Kali ini yang terlihat adalah kondisi di dalam warung buahnya. Dan pilihan yang muncul pun berganti: Apakah Anda ingin keluar?
Ternyata dia memang bisa keluar-masuk sesuka hati.
Bima membatin kata 'Keluar'. Sensasi tarikan gravitasi aneh itu muncul lagi, dan seketika ia sudah kembali berpijak di dalam warung buahnya masih dengan posisi memeluk sebiji semangka.
Demi memastikan tingkat kewarasannya, Bima mengambil sebilah pisau besar, menaruh semangka itu di atas talenan, dan langsung membelahnya jadi dua. Daging buah berwarna merah menyala langsung terekspos. Dan benar saja, tak ada sebutir pun biji hitam di dalamnya.
Ini beneran semangka asli!
Bima mengambil separuh potongan itu, membelahnya lagi jadi beberapa irisan memanjang. Dia mengambil sepotong, berniat untuk langsung mencicipinya. Tapi entah kenapa ia mendadak ragu. Takutnya buah gaib ini mengandung racun atau semacamnya, kan? Bagaimanapun asal-usul semangka ini kelewat di luar nalar.
Bima berjalan ke depan warung. Di dekat tong sampah pasar, terlihat seekor anjing jalanan berbulu hitam dekil sedang mondar-mandir mengais sisa makanan.
Lantaran lokasi ini adalah jalanan pasar, mencari sisa makanan memang hal yang gampang, makanya sering banget ada anjing liar berkeliaran. Kalaupun dinas terkait turun tangan dan menangkap satu ekor, beberapa waktu kemudian pasti ada saja anjing liar baru yang datang menggantikan.
Yah, mau bagaimana lagi. Salahkan saja orang-orang kemaki yang pengen gaya-gayaan pelihara anjing tapi pas bokek malah menelantarkannya.
Bima langsung melempar sepotong semangka itu ke arah si anjing hitam. Anjing itu sigap melompat, menahan semangkanya dengan cakar, celingak-celinguk waspada sebentar, baru kemudian menunduk dan melahapnya dengan rakus.
Setelah menunggu beberapa menit dan memastikan anjing hitam itu tak tiba-tiba kejang atau mati busa, barulah Bima berani mengambil satu irisan lagi dan menggigitnya sendiri.
Kres!
Satu gigitan, dan kedua mata Bima langsung berbinar-binar.
Dia akhirnya paham betul apa maksud dari 'Catatan Atribut' di semangka tadi.
Manisnya bukan main! Lezat, juicy, airnya luber di mulut, tingkat gulanya luar biasa tinggi, dan teksturnya sangat renyah menyegarkan.
Kualitas semangka ini benar-benar jauh, jauh melampaui stok semangka supplier yang biasa ia kulak tiap hari!
Jadi, ini efek dari atribut Lezat +1, Manis +1, Tekstur +1 itu?!
Sebagai orang yang tiap hari bergelut di bidang buah, Bima tahu betul kalau semangka dengan kualitas dewa begini peluang ketemunya paling cuma satu banding seratus buah di pasaran. Sedangkan di dalam game sana, semuanya punya standar yang sama rata!
Setelah satu irisan ludes tak bersisa, Bima yang masih ngiler langsung menyikat irisan kedua dengan kalap.
Jujur saja, margin keuntungan jualan semangka itu tipis banget. Walaupun harga jual eceran di pasar sekarang naik jadi Rp 8.000 per kilogram, tapi setelah dipotong modal dari petani, biaya kuli, ongkos angkut, sampai mark-up agen tengkulak... warung kecil kayak miliknya ini mentok-mentok cuma dapat harga grosir Rp 6.000 per kilonya. Untungnya mepet banget.
Tapi... bagaimana kalau dia dapat pasokan semangka tanpa keluar modal sepeser pun? Berapa pun yang laku terjual, seratus persen duitnya masuk ke kantong sebagai untung bersih, kan?!
Begitu teringat akan hamparan ladang semangka luas di dalam ladangnya tadi, mata Bima bersinar makin terang, nyaris membentuk simbol mata uang.
Anggap satu semangka beratnya 5 kilogram. Kalau sekilo dijual Rp 8.000, harganya jadi Rp 40.000 per buah. Sepuluh buah berarti Rp 400.000 untung bersih!
Kalau dalam sehari dia bisa jual 20 buah saja, sebulan dia bisa mengantongi dua puluh empat juta rupiah! Gila, nominal ini jauh lebih besar dari penghasilannya jaga warung sebulan penuh sampai tipus.
Di ladang gamenya tadi, pastinya ada ratusan buah semangka yang siap panen. Dan yang paling penting, tanah di game tersebut bisa ditanami bibit baru terus-menerus. Semangka yang normalnya butuh waktu lama, cuma butuh belasan jam untuk matang di sana!
"Guk! Guk!"
Saat Bima sedang asyik melamun hitung-hitungan cuan, suara gonggongan anjing tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Anjing hitam dekil tadi ternyata sudah nongkrong manis di depan pintu warung, menatap lapar ke arah sisa kulit semangka di tangan Bima.
Wah, nih anjing dikasih hati minta ampela rupanya?
Tapi karena suasana hati Bima sedang sangat bagus, ia mengambil satu irisan lagi dan melemparnya ke arah anjing tersebut. Setelah itu, ia berbalik dan menutup rolling door warungnya rapat-rapat.
Dengan begini, orang dari luar tidak akan bisa mengintip apa yang ia lakukan di dalam.
Bima mengambil sebuah keranjang bambu besar yang biasa ia pakai buat kulakan, lalu memusatkan pikirannya. Detik berikutnya, ia kembali masuk ke dalam area peternakan.
Hamparan semangka hijau kembali memenuhi indra penglihatannya. Bima tak mau buang-buang waktu. Ia memungut semangka-semangka besar itu dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Setelah memasukkan 15 buah semangka hingga keranjang bambunya penuh sesak, ia mencengkeram gagang keranjang itu dan kembali ke alam nyata.
Melihat keranjang yang penuh dengan semangka premium di depannya, wajah Bima memerah kegirangan.
Sumpah, dia bakal kaya mendadak!
Bima melirik lagi ke layar antarmuka di benaknya. Di dalam visual game, stok semangka di salah satu petak tanah sudah berubah jadi angka 0. Sulur-sulur pohonnya tampak layu mengering, dan sistem memunculkan notifikasi bahwa lahan itu sudah bisa dibersihkan untuk ditanami bibit baru.
Rupanya, sistem cocok tanam di game ini hanya mengizinkan satu kali panen untuk tiap bibit. Beda dengan dunia nyata di mana pohon semangka yang habis dipetik terkadang masih bisa berbuah lagi.
Melihat notifikasi tersebut, otak Bima langsung jalan. Lewat interface di benaknya, ia segera memerintahkan karakter utamanya untuk memanen sisa petak tanah yang belum dipetik.
Hanya dalam sekejap mata, seluruh petak tanah di layar sudah selesai dipanen.
Bima kembali masuk ke dalam game. Benar saja, petak-petak lahan di sana sudah bersih dari semangka matang, hanya menyisakan batang dan daun layu yang meranggas.
Ia segera berjalan menuju bangunan gudang penyimpanan di samping rumah kayunya. Begitu pintu dibuka, ia mendapati ratusan semangka sudah tersusun rapi di sana.
Lah, kalau begitu mending dia langsung bawa masuk keranjangnya ke mari dong buat loading? Ngapain tadi dia sok rajin repot-repot metik manual di luar?
Di depan tumpukan semangka tersebut, tertancap sebuah papan informasi kayu.
Semangka Tanpa Biji: 90 Buah (Kualitas 1).
Artinya, gundukan di depannya ini berisi 90 buah semangka premium! Dilihat dari diameternya yang jumbo, bobot per buahnya pasti tak kurang dari 5 kilo. Tumpukan ini nilainya jelas di atas tiga setengah juta rupiah!
Satu jentikan niat di kepala, dan Bima sudah kembali ke warungnya. Ia membawa masuk keranjang bambu kosong itu lagi dan mengisinya sampai penuh.
Bima juga menyadari sebuah celah praktis: selama tangannya menempel pada keranjang tersebut dan dia berniat 'Keluar', maka satu keranjang penuh semangka itu akan otomatis ikut berteleportasi bersamanya ke warung dunia nyata.
Dengan metode itu, Bima bolak-balik selama beberapa saat untuk memindahkan seluruh isi gudang. Kini, pojokan warung buahnya sudah menggunung dipenuhi tumpukan semangka montok.
Ditambah dengan panen kloter pertamanya tadi, total keseluruhan semangka yang berhasil ia angkut adalah 105 buah.
Setelah urusan angkat-junjung selesai, Bima kembali mengecek layar antarmuka di benaknya. Visualnya kembali menyorot petak-petak lahan yang kini penuh dengan sulur layu, siap untuk dibabat dan ditanami bibit baru.
Ia segera mencabuti tanaman mati itu dan menaburkan bibit semangka yang baru.
Dengan begini, belasan jam lagi ia akan kembali panen semangka premium gratisan!
Nah, urusan produksi sudah beres. Masalah utamanya sekarang adalah... bagaimana cara menjual 105 buah semangka ini dengan cepat?
Bima kembali menggulung rolling door warungnya ke atas. Anjing hitam tadi ternyata masih betah meringkuk di teras. Hewan itu mendongak menatapnya sekilas, lalu kembali menjilati cakarnya dengan santai.
Nih anjing nggak punya niatan pergi apa?
Bima masa bodoh dengan anjing tersebut. Ia mulai menyusun keranjang semangka pertamanya ke rak pajangan depan warung. Ia melirik papan harganya yang bertuliskan: Rp 8.000 / Kg.
Itu adalah harga normal di pasaran saat ini. Masalahnya, dengan harga segitu, warung sepinya ini paling banter cuma bisa laku jual dua atau tiga buah semangka sehari.
Sambil memandangi tumpukan semangka gaib kualitas dewa miliknya, Bima memutuskan untuk mencoret papan harganya menjadi Rp 6.000 / Kg (Harga Grosir). Toh modalnya nol rupiah. Makin murah harganya, makin cepat muter duitnya.
Namun, realita lapangan rupanya tak semudah yang ia bayangkan. Hari sudah beranjak sore, tapi dagangannya baru terjual beberapa buah saja. Bukannya kualitas semangka Bima jelek, tapi karena lalu-lalang pelanggan yang masuk ke warungnya dan kebetulan sedang ngidam semangka memang cuma segelintir orang.
Bima menepuk jidatnya keras-keras. Edan, dia baru sadar kalau target pasarnya salah besar!
Mengingat harganya sudah diturunkan jadi harga tengkulak Rp 6.000 per kilo, buat apa dia repot-repot nungguin laku eceran di pinggir jalan begini?
Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp.
Ia langsung meluncur ke grup "Sedulur Bakul Buah Jatiroso".
Ini adalah grup kumpul-kumpul antar bos warung sayur dan buah di seluruh Kabupaten Jatiroso. Awalnya Bima juga tak tahu siapa admin iseng yang bikin grup ini. Katanya sih niat awalnya buat jaga kekompakan, memantau update harga pasar, dan saling berbagi info biar sesama pedagang nggak gampang dikadalin sama agen supplier.
Biasanya grup ini sepi kayak kuburan, kecuali pas lagi ada bapak-bapak kurang kerjaan yang doyan kirim gambar meme selamat pagi.
Bima langsung mengetik barisan pesan dan menekan tombol Send:
"Permisi sedulur-sedulur sekalian. Info penting, anak dari keponakannya paman kakek saya di kampung baru aja panen gede semangka tanpa biji. Kualitas dijamin mantap, super manis dan luber airnya. Dijual cepat harga grosir Rp 6.000/Kg. Siap antar sampai depan lapak masing-masing! Monggo buat bos-bos yang minat, silakan japri atau mampir dulu ke warung saya buat icip-icip."