Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Suasana ruang kerja kembali hening beberapa saat setelah percakapan tentang Haikal selesai. Emran Richard kemudian melirik jam tangan mahal di pergelangan tangannya.
Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore. Pria itu perlahan berdiri dari sofa sambil merapikan jas hitamnya.
“Saya ada pertemuan penting setelah ini.”
Darto Erlangga langsung mengangguk paham.
“Tentu, kamu pasti sibuk.”
Sebelum benar-benar pergi, Emran kembali membuka suara,
“Malam ini datanglah ke mansion.”
Darto sedikit terkejut. “Hm?”
“Saya membawa hadiah besar dari luar negeri untuk Anda.” Nada suara Emran terdengar santai tetapi sorot matanya samar berubah dalam.
“Tapi Anda harus mengambilnya sendiri.”
Entah kenapa kalimat itu membuat Darto sedikit bingung.
“Hadiah?” Pria tua itu tertawa kecil. “Apa lagi yang kamu bawa?”
Emran hanya tersenyum tipis samar. “Nanti Anda lihat sendiri.”
Darto akhirnya mengangguk setuju.
“Baiklah.” Senyum pria tua itu perlahan berubah redup. “Lagipula sudah lama saya tidak makan malam ditemani keluarga.”
Kalimat itu terdengar ringan, ada kesepian yang jelas terasa di dalamnya. Sejak hubungannya dengan Annisa memburuk lima tahun lalu, rumah besarnya terasa semakin kosong dari tahun ke tahun.
Darto Erlangga ikut berdiri saat Emran Richard bersiap meninggalkan ruangannya.
“Aku antar sendiri.”
Satrio dan Han langsung saling melirik kecil. Tidak semua orang mendapat perlakuan seperti itu dari Darto. Keduanya lalu berjalan keluar ruang CEO bersama-sama.
Aura mereka begitu kuat saat melangkah menyusuri koridor lantai atas perusahaan. Satu adalah pemilik perusahaan besar yang disegani. Satunya lagi pengusaha muda paling berpengaruh yang dibesarkan langsung oleh keluarga Erlangga. Siapa pun yang melihat mereka langsung bisa merasakan aura keluarga bangsawan dan kekuasaan yang begitu jelas. Bahkan, beberapa staf yang berpapasan buru-buru menunduk hormat.
Di tengah perjalanan menuju lift pribadi, Emran tiba-tiba melirik Satrio.
“Satrio.”
“Ya, Tuan Emran?”
“Jam berapa Haikal biasanya pulang kerja?”
Satrio berpikir sebentar lalu menjawab, “Sekitar jam empat sore, Tuan.”
Emran mengangguk pelan. Lalu, dengan nada santai seolah hanya memberi saran biasa, pria itu berkata,
“Mulai hari ini biarkan dia lembur setiap hari.”
Satrio sedikit terkejut tetapi Emran tetap melanjutkan tenang, “Pulang jam sepuluh malam saja.” Tatapan matanya samar menggelap.
“Mana tahu kalau dia kerja lebih keras, dia bakal cocok naik jabatan lagi.”
Kalimat itu terdengar ringan tetapi Han yang berdiri di belakang langsung tahu, Tuannya sengaja melakukannya. Dan sengaja mengucapkan alasan itu agar Darto tidak banyak bertanya.
Darto Erlangga malah tertawa kecil lalu mengangguk setuju.
“Itu juga bagus.” Pria tua itu tampak tidak keberatan sama sekali. “Anak muda memang harus kerja keras.”
Emran hanya tersenyum tipis samar. Pria tersebut mulai menyusun sesuatu perlahan untuk Haikal. Begitu lift pribadi terbuka di lantai lobby, suasana langsung berubah ramai.
Banyak karyawan yang tanpa sadar menghentikan aktivitas mereka saat melihat Darto Erlangga berjalan berdampingan bersama Emran Richard. Aura keduanya benar-benar mencolok.
Dua karyawan wanita yang berdiri tidak jauh dari meja resepsionis diam-diam berbisik kagum.
“Serasi banget ya sebenarnya Tuan Emran sama putri Tuan Darto.”
“Iya...” yang lain mengangguk pelan. “Sayang banget anak beliau dulu malah nolak Tuan Emran.”
Langkah Emran mendadak berhenti, suasana lobby langsung terasa sunyi. Kedua karyawan itu langsung pucat saat menyadari pria yang mereka bicarakan benar-benar berhenti.
Perlahan, Emran berbalik. Tatapan matanya dingin menusuk hingga membuat keduanya gemetar.
“Kalau kalian karyawan saya...” suara pria itu rendah namun penuh tekanan, “kalian sudah saya pecat,”
Kedua wanita itu langsung menunduk panik.
“S-saya minta maaf, Tuan!”
Emran menatap mereka tajam beberapa detik sebelum kembali berkata dingin,
“Saya membayar karyawan untuk bekerja.” Tatapannya menyapu lobby.
“Bukan untuk mengomentari kehidupan bosnya.”
“Maaf, Tuan...” Keduanya hampir tidak berani mengangkat kepala lagi.
Suasana lobby mendadak begitu tegang. Beberapa karyawan lain bahkan ikut menunduk takut terkena amarah Emran.
Di sisi lain, Darto Erlangga justru menatap Han sambil menghela napas kecil.
“Kenapa anak itu sekarang makin menakutkan?”
Han yang berdiri di dekat mobil hanya tersenyum tipis samar.
“Masalah cinta, Tuan.”
Darto langsung terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil pelan.
“Jadi masih belum selesai rupanya...”
Tak lama kemudian mereka tiba di depan mobil Emran. Han segera membuka pintu belakang dengan hormat.
Sementara, Emran kembali memasang ekspresi dinginnya sebelum masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara lagi. Sebelum Emran Richard masuk sepenuhnya ke dalam mobil, Darto Erlangga kembali mendekat lalu memeluknya singkat sekali lagi. Tepukan hangat di bahu Emran membuat beberapa karyawan yang melihat semakin kagum pada kedekatan mereka.
Emran mengangguk tipis hormat sebelum hendak masuk. Darto tiba-tiba berkata santai,
“Bawa perempuan itu menemuiku.”
Gerakan Emran langsung berhenti.
Darto tersenyum penuh arti sambil melanjutkan, “maka kalian akan segera ku nikahkan.”
Beberapa detik suasana terasa begitu aneh. Lalu, perlahan tatapan dingin Emran langsung beralih ke arah Han.
Han yang berdiri di samping mobil langsung menegang. Keringat dingin hampir keluar saat menyadari tuannya pasti tahu siapa penyebab kesalahpahaman ini.
Sementara itu, Emran menatap asistennya penuh tekanan seolah berkata,
'Kau banyak bicara sekali.' Han langsung menunduk cepat pura-pura tidak tahu apa-apa. Sedangkan, Darto yang melihat ekspresi Emran malah tertawa kecil.
“Hahaha...”
Pria tua itu menggeleng pelan melihat wajah Emran yang mendadak terlihat canggung untuk pertama kalinya hari itu.
“Sudahlah, lupakan.”
Namun, senyum di wajah Darto justru semakin lebar. Karena semakin melihat reaksi Emran, semakin yakin pula pria tua itu kalau anak angkatnya benar-benar sedang jatuh cinta.
“Sampai jumpa nanti malam.” Suara Emran Richard terdengar tenang dari dalam mobil.
Darto Erlangga tersenyum kecil lalu mengangguk.
“Sampai jumpa nanti malam.”
Pria tua itu kemudian menutup pintu mobil perlahan. Tak lama kemudian, mobil mewah tersebut melaju meninggalkan halaman Erlangga Group.
Darto masih berdiri beberapa saat menatap mobil itu pergi sebelum akhirnya berbalik pada Satrio.
“ Satrio.”
“Ya, Tuan?”
“Mulai hari ini berikan Haikal pekerjaan tambahan.”
Satrio sedikit terdiam.
“Dan pastikan dia lembur sampai jam sepuluh malam.”
Satrio langsung memahami maksud perintah itu. Namun, karena itu instruksi langsung dari Darto, pria itu hanya mengangguk hormat.
“Baik, Tuan.”
Sementara itu, beberapa menit kemudian.
Di ruang kerja barunya, Haikal yang baru saja duduk santai langsung dibuat membeku saat menerima tumpukan dokumen dan jadwal kerja tambahan dari staf administrasi.
“Pak Satrio bilang ini harus selesai malam ini, Pak.”
“Malam ini?” Haikal mengernyit.
“Dan mulai sekarang Bapak dijadwalkan lembur sampai jam sepuluh.”
Wajah Haikal langsung berubah. “Apa?!”
Staf itu terlihat gugup. “Itu perintah atasan, Pak.”
Begitu staf tersebut keluar, Haikal langsung membanting map di tangannya ke meja.
“Sialan!”
Pria itu meremas rambutnya frustrasi sambil berdiri mondar-mandir di ruangan. Dia tahu ini ulah Emran, selama bekerja di perusahaan ini, dirinya hampir tidak pernah lembur. Apalagi sampai jam sepuluh malam setiap hari.
“Dasar gila kekuasaan...” geramnya emosi. Tatapan dingin Emran tadi siang kembali teringat jelas di kepalanya.
"Liat saja nanti, kalau aku naik jabatan jadi Direktur. Aku bisa menguasai tempat ini tidak ada lagi yang bisa semena-mena sama aku!" Haikal tertawa dengan bangga, dan memikirkan saat dirinya nanti naik jabatan lagi.
bahwa kehadirannya sungguh berharga