Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Mengambil Alih Toko Ayah.
"Ini cocok dengan Anda, Nona. Anda terlihat lebih dewasa dan tentunya berkelas," ujar Luna, asisten pribadinya, menatap kagum.
Safa berjalan menuju cermin besar di sudut butik mewah pusat kota itu. Ia berputar pelan, menilai pantulan dirinya. Celana palazzo warna broken white dipadukan dengan blus satin warna camel yang dimasukkan rapi, ditambah blazer senada, hijab segi empat, serta sepatu lancip kulit. Tak lupa tas hitam elegan yang melingkar di lengannya. Anggun, menutup aurat dengan sempurna, namun memancarkan aura ketegasan yang mutlak.
Safa mengangguk puas. Hari ini, saat pulang ke rumah masa kecilnya, ia harus terlihat tangguh. Sang mama tidak boleh meremehkannya lagi.
"Baiklah, kita pilih ini saja. Ayo ke kasir," ucap Safa.
Luna terkekeh pelan. "Tidak perlu, Non. Semua yang di ruko branded ini bebas Non Safa ambil. Toko ini milik Wijaya Group. Punya Tuan Arlan, suami Anda."
Safa ternganga. "Milik ... suamiku?" Ia mengusap kain bajunya dengan tangan sedikit bergetar. "Kekayaan macam apa lagi yang belum aku tahu dari dia, Mbak?"
"Masih banyak, Non. Pelan-pelan saja, kalau tahu sekaligus, takutnya Non Safa pingsan," ledek Luna sambil menahan tawa, diikuti senyum simpul beberapa pelayan toko yang sejak tadi memperhatikan istri bos mereka.
Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama. Di luar butik, sebuah Rolls-Royce Spectre kustom berwarna pink elegan dengan plat nomor khusus sudah menunggu, hadiah lain dari Arlan yang membuat dada Safa bergemuruh antara takjub dan asing.
Di sepanjang jalan menuju pusat kota, Safa mencoba mengirim pesan terima kasih pada suaminya.
Centang dua. Abu-abu. Tidak dibalas. Safa mencoba menepis rasa kecewa yang mulai merayap. Ada perang lebih besar yang harus ia hadapi di depannya.
Mobil mewah itu berhenti mulus di depan gerbang sebuah rumah. Safa mendadak mencengkeram tas hitamnya erat-erat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Saya tunggu di sini ya, Non," ucap Luna protektif.
Safa mengangguk tegang. Ia turun dari mobil, menatap setiap jengkal bangunan di hadapannya. Rasa ragu itu muncul bukan karena mama atau kakaknya, melainkan bayang-bayang trauma masa lalu yang ditorehkan oleh ayah tirinya.
Sebelum jemari Safa menyentuh gagang pintu, pintu kayu jati itu mendadak terbuka dari dalam secara kasar. Sang mama muncul di sana. Wajahnya muram, guratan sinis tercetak jelas di sudut bibirnya.
"Kau datang juga akhirnya," ketus sang mama.
Tatapannya menelisik tajam dari ujung kepala hingga ujung kaki Safa, lalu beralih pada mobil miliaran rupiah yang terparkir di depan pagar. Bukannya senang melihat perubahan drastis putrinya, wanita itu justru mendengus meremehkan dan berbalik masuk begitu saja.
Safa menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan melangkah masuk. Di ruang tamu, sang mama sudah duduk dengan posisi angkuh.
"Kamu bawa uangnya? Kalau tidak ada, mama akan jual toko peninggalan papamu itu hari ini juga ke orang lain. Lagi pula, toko itu sudah tidak menghasilkan!" cerocos sang mama tanpa basa-basi. Tanpa bertanya kabar.
Safa duduk di hadapan wanita yang melahirkannya itu. Tidak ada lagi air mata atau raut memelas. "Aku akan membelinya dari Mama. Tapi dengan satu syarat: setelah hari ini, Mama tidak boleh lagi mengusik atau ikut campur urusan toko itu."
Sang mama menyeringai serakah. "Tentu, asal harganya pas. Lima ratus juta. Harus tunai atau cek yang bisa langsung cair hari ini. Mama tidak mau diutang!"
Tanpa ragu, Safa membuka tasnya dan mengeluarkan selembar cek senilai Rp500 juta yang telah ia siapkan. Melihat kertas berharga itu, mata sang mama langsung berbinar buas. Ia menyambarnya secepat kilat.
"Wah, ini benaran? Kamu tidak menipuku, kan?" Sang mama tertawa melengking, tawa yang membuat bulu kuduk Safa meremang. "Lihat, kan? Mama tidak salah menjualmu pada pak tua itu! Sekarang hidupmu bergelimang harta."
Safa mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga kukunya memutih. Menjualnya? Kalimat itu keluar begitu enteng dari mulut ibunya sendiri.
Di tengah atmosfer yang kian memanas, Bi Ijah—asisten rumah tangga yang merawat Safa sejak kecil—datang membawa segelas jus kesukaan Safa. Pelupuk mata wanita tua itu digenangi air mata. Ia meletakkan gelas dengan gemetar, lalu langsung menghambur memeluk Safa.
"Ya Allah, Non... Bibi kangen sekali," bisik Bi Ijah terisak.
"Safa juga kangen, Bi. Bibi sehat?" Safa mendekap erat satu-satunya sumber kehangatan di rumah terkutuk ini.
"Alah, lebay! Tidak usah banyak drama di depanku, muak tahu!" bentak sang mama kasar. Ia bangkit berdiri sambil mengibas-ngibaskan cek di tangannya. "Terserah kalian mau menangis darah sekalipun. Aku mau masuk, menikmati uangku."
Dengan wajah berseri-seri dipenuhi keserakahan, sang mama melangkah pergi. Safa menatap punggung itu dengan dada sesak. Kerinduan untuk dipeluk seorang ibu runtuh menjadi abu.
Sepeninggalan sang mama Safa dan Bi Ijah melepas rasa rindu mereka dengan duduk berdua. Safa menceritakan jika hidupnya kini baik-baik saja. Mendengar penjelasan gadis yang di sayanginya itu, Bi Ijah menghela nafas lega.
"Syukurlah Non. Allah pasti kasih yang terbaik untuk hambanya yang bersabar. Semoga rumah tangga Non Safa selalu harmonis dan di jauhkan dari niat orang-orang jahat, ya Non."
Safa mengusap lembut punggung tangan wanita paru baya itu. "Aamiin, Bik. Makasih ya Bik selama ini udah merawatku."
"Tentu Non. Bibik sayang sama Non Safa, jadi bibik senang bisa merawat Non Safa sampai sekarang," tutur Bi Ijah sambil mengusap lengan Safa penuh kasih.
Waktu tak terasa berlalu begitu cepat saat mereka mencurahkan rasa rindu yang menggebu.
Panik mulai merayap saat Safa menatap jam di tangannya. "Bik aku harus pulang. Aku gak mau ketemu dengan Om Hendra."
Bi Ijah mengangguk. Ia segera bangkit dan mengantar Safa keluar. "Iya Non, lebih baik Non Safa cepat pulang. Jangan sampai ketemu tuan Hendra."
Dengan langkah cepat ia berjalan menuju pintu, bahkan Safa tak berniat pamit dengan sang mama. Namun, saat ia mulai merasa lega, tepat di depan pintu, Hendra berdiri dengan seringaian tipis.
"Loh, mau kemana? Kok buru-buru amat Safa?" tungkasnya, ia berdiri tepat di tengah pintu.
Safa hanya menatapnya dingin. Sedang Bi Ijah berdiri di samping Safa sambil menggenggam erat tangan nonanya.
Tanpa menjawab Safa berjalan melewati Hendra begitu saja. Namun, bukan Hendra jika tak menggoda sang anak tiri.
Tangannya meraih tangan Safa dengan protektif. Hendra menariknya mendekat hingga Safa hampir terjatuh jika tak ada Bi Ijah yang menahannya.
"Lepas, Om! Dasar tua bangka gak tau malu!" sentak Safa sambil menghempaskan tangannya kuat hingga cengkraman sang bapak tiri terlepas.
Merasa jijik dan muak Safa langsung berlari ke arah mobil. Ia pamit dan mencium punggung tangan Bi Ijah sebelum masuk ke dalam mobil.
Safa melambai saat mobil mulai berjalan meninggalkan kediaman sang mama.
Bi Ijah melambai tinggi sambil beristighfar. Ia lalu menatap tajam ke arah Hendra yang hanya tersenyum aneh ke arah Safa.
"Dasar wong edyan!" gumamnya lirih lalu masuk kembali ke dalam rumah.
🍃🍃🍃🍃
Mobil BMW i7 hitam mengkilap melaju di bawah teriknya matahari siang itu. Arlan dan Egar duduk di kursi belakang dengan wajah menegang. Kini mereka tengah menuju ke sebuah tempat yang telah mereka rencanakan.
Ketakutan Safa akan dia balas sepuluh kali lipat. Tak ada yang boleh menyentuh ataupun mengusik gadis yang kini memiliki tempat di hatinya.
"Lihat saja. Aku akan buat kamu memohon," lirihnya sembari menatap iPad yang berisi informasi pencuri rumahnya semalam.