NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duri di Bawah Naungan Damar

Langit di atas sana mulai berubah warna, memadukan semburat jingga dan ungu yang saling berpilin di antara gumpalan awan.

Angin sore berembus rendah, menyusup di sela-sela tajuk pohon damar yang menjulang tinggi seperti raksasa hijau yang menjaga rahasia bumi.

Suara gesekan daun-daunnya menciptakan simfoni alam yang ritmis, sesekali diselingi kepak sayap burung yang pulang ke sarang.

Aroma resin yang khas—campuran antara wangi kayu basah, getah yang getir, dan kesegaran hutan—memenuhi rongga dada siapa pun yang menghirupnya.

Di bawah naungan dahan-dahannya yang kokoh, Arunika duduk beralaskan akar-akar besar yang menonjol dari tanah seperti urat-urat bumi yang perkasa.

Ia tampak tenang, namun matanya menatap jauh ke arah cakrawala yang mulai meredup.

Senja berjalan perlahan mendekat. Langkah kakinya sengaja dibuat tenang, tidak ingin merusak kesunyian yang sedang dinikmati gadis itu.

Setelah perdebatan kecil mereka tempo hari—yang dipicu oleh rasa ingin tahu Senja yang dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi—ia merasa perlu memperbaiki keadaan.

Baginya, logika selalu lebih baik daripada emosi, dan meminta maaf atau sekadar mencairkan suasana adalah langkah paling masuk akal.

Arunika menyadari kehadiran lelaki itu.

Di dalam hatinya, Ika mulai menimbang-nimbang. Ia berpikir tidak mungkin ia terus-menerus bersikap dingin dan ketus kepada Senja.

Ada benarnya juga jika ia mulai membuka diri dan menerima orang lain, apalagi Senja sepertinya hanya ingin berteman dengan tulus.

Tiba-tiba, Ika teringat akan nasihat kakek dan neneknya tentang pentingnya menyambung tali silaturahmi dan bersikap baik kepada tamu yang berniat baik.

"Ternyata kamu di sini," gumam Senja pelan, cukup untuk membuat Arunika menoleh.

Ika hanya menatapnya sekilas, kali ini tanpa tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan. Ia menggeser duduknya sedikit, memberikan ruang secara tersirat.

Senja kemudian mengambil posisi, berdiri tak jauh darinya, menatap pohon besar yang menaungi mereka.

"Kenapa sih kamu suka banget duduk diam di bawah pohon damar ini?" tanya Adit memecah keheningan.

Ia berhenti tepat di samping batang pohon yang bersisik, menyentuh kulit kayunya yang kasar dengan ujung jemari.

Ika menengadah, menatap celah-celah daun yang membiarkan sinar matahari jatuh di wajahnya melalui celah dedaunan.

"Karena pohon ini berhubungan sama aku," jawab Ika singkat, suaranya nyaris berbisik mengikuti irama angin.

Senja mengernyitkan dahi, sebuah kerutan tipis muncul di antara alisnya. Ia menoleh sepenuhnya ke arah gadis itu.

"Berhubungan gimana maksudnya? Apa pohon ini punya sejarah khusus buat kamu?" tanya Adit lagi. Nadanya tenang, namun terselip rasa ingin tahu yang besar di balik intonasinya.

Arunika tersentak pelan. Ia menyadari bahwa kalimatnya barusan terlalu terbuka, seolah-olah ia hampir saja melepaskan sebuah rahasia yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya.

"Eh... nggak apa-apa. Lupakan saja." jawab Ika cepat sembari membuang muka, pura-pura sibuk merapikan ujung roknya.

Senja tidak mendesak. Ia tahu betul karakter Ika yang akan semakin menutup diri jika terus ditekan.

Sebagai seseorang yang terbiasa menganalisis keadaan, ia memilih untuk mengganti topik, menyentuh sisi personal yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya.

"Ika," panggil Adit pelan. Suaranya rendah dan stabil. "Aku mau nanya sesuatu... boleh? Ini murni karena aku ingin tahu saja, bukan bermaksud lancang."

Arunika hanya bergumam kecil sebagai jawaban, matanya masih menatap semak-semak yang bergoyang ditiup angin sore.

"Kamu... sebenarnya sudah punya pacar atau belum?" tanya Adit. Pertanyaan itu meluncur begitu saja, terdengar sangat datar seolah ia sedang menanyakan jadwal keberangkatan kereta api.

Ika menoleh seketika, matanya memicing menatap Senja. Namun, mengingat niatnya untuk lebih terbuka, nada bicaranya tidak sedingin biasanya.

"Ngapain nanya gitu?" tanya Ika ketus, meski ada sedikit rasa ingin tahu di baliknya.

Senja hanya mengangkat bahunya sedikit, tetap dengan ekspresi tenangnya yang sulit dibaca. "Cuma kepo" jawab Adit singkat.

Ika menghela napas panjang, lalu kembali menatap akar pohon di bawahnya. "Kalo kamu ga mau jawab gapapa kok".

Ucap Adit engan senyum yang kikuk karena dia tidak ingin kejadian seperti kemaren terulang lagi. Tetapi Ika malah balik bertanya tanpa menatap lelaki itu.

"Kamu sendiri gimana? Orang kota yang sering bepergian sepertimu pasti punya banyak teman dekat, kan?"

"Aku belum pernah pacaran," jawab Adit jujur. Matanya menatap lurus ke depan, memberikan kesan bahwa ia tidak sedang bercanda.

Arunika benar-benar tertegun. Ia mengernyitkan dahi, memutar tubuhnya menghadap Senja sepenuhnya.

"Oh ya kah? Aku kira orang kota kaya kamu suka mainin perasaan wanita. Biasanya kan begitu, punya banyak pilihan lalu memilih untuk tidak serius dengan siapa pun," ujar Ika dengan nada sangsi yang sangat kentara.

Senja tidak tersinggung. Ia justru menatap Ika dengan tatapan yang dalam, sebuah tatapan yang memancarkan kejujuran yang murni.

"Gitu kah pandangan kamu ke aku? Gini-gini aku nggak suka mainin perasaan wanita lho," ujar Adit dengan nada bicara yang berubah serius.

Ika terdiam, menunggu alasan di balik pernyataan itu.

"Karena aku selalu inget ibuku," lanjut Adit. Suaranya melunak, membawa beban emosi yang tulus.

"Aku menganggap wanita itu setara dengan ibuku. Beliau adalah orang yang paling aku hargai di dunia ini, dan bagiku, menyakiti perasaan seorang wanita sama saja dengan tidak menghargai keberadaan ibuku sendiri."

Pertahanan Arunika runtuh seketika.

Dalam hatinya, Arunika tersenyum kecil tanpa sadar. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah pengakuan tak terucap bahwa lelaki di depannya ini jauh lebih keren dari yang ia duga sebelumnya.

Jarang ada laki-laki di zaman sekarang yang dengan bangga menyatakan bahwa prinsip hidupnya berakar dari rasa hormat pada ibunya.

Namun, momen tenang itu pecah saat suara ranting kering yang terinjak terdengar mendekat.

Dari balik rimbunnya semak belukar, muncul seorang pemuda dengan jaket denim yang tampak serasi dengan gaya santainya.

Wajahnya cerah, menyiratkan kebahagiaan seseorang yang baru saja pulang ke rumah. Dia adalah Arkala, atau yang lebih sering dipanggil Kala.

"Ika! Sudah aku duga kamu pasti di sini," seru Kala dengan suara baritonnya yang mantap. Tanpa ragu, ia berjalan mendekat dan langsung merangkul pundak Ika dengan gaya yang sangat akrab.

Senja berdiri terpaku. Wajahnya yang tadinya tenang mendadak mengeras.

Ia menatap tangan Kala yang melingkar di pundak Ika, lalu menatap wajah Ika yang tampak begitu rileks, seolah hal itu adalah hal yang sangat wajar.

"Katanya susah akrab dengan orang baru, tapi dengan orang ini malah akrab banget tuh," batin Senja getir.

Ada rasa tidak nyaman yang merayap di ulu hatinya, sebuah perasaan asing yang ingin ia tepis namun sulit hilang.

"Siapa ini, Ika?" tanya Adit. Suaranya masih tenang, namun ada nada dingin yang terselip di sana, seperti hembusan angin malam yang tiba-tiba datang.

"Ini Kala," jawab Ika singkat, tanpa menyadari gejolak yang sedang terjadi di pikiran Senja.

Senja menatap Kala dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menyelidik.

"Nama kok Kala... emangnya Sangkakala? Mau niup terompet kiamat di sini?" sindir Adit tajam.

Kalimat itu diucapkan dengan gaya bicara yang datar, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menyayat kesunyian sore itu.

Kala yang tadinya tersenyum, langsung menghentikan gerakannya.

Ia melepaskan rangkulannya dari bahu Ika dan menatap Senja dengan dahi berkerut. Sebagai seseorang yang baru saja pulang, ia merasa terusik dengan sambutan dingin dari orang asing ini.

"Maksud kamu apa ya?" tanya Kala dengan nada yang mulai meninggi. "Gue nggak tahu lo siapa, tapi jangan asal bicara soal nama orang. Sopan dikit kalau jadi tamu di tempat orang."

"Aku cuma bertanya," sahut Adit kalem, namun matanya tetap menatap Kala dengan penuh kecurigaan. "Karena biasanya nama punya arti besar. Dan Sangkakala punya arti yang sangat besar, bukan?"

Ika berdiri di antara mereka, mencoba meredam ketegangan yang mulai mengkristal. "Sudah, Senja.

Jangan mulai deh. Kala ini memang yang menemani aku terus selama aku di sini. ya pokoknya dia orang baik," ucap Ika membela Kala.

Adit hanya mengangguk kecil, meski di dalam kepalanya, skenario tentang siapa sebenarnya Kala mulai bermunculan.

Ia melihat kedekatan mereka sebagai ancaman, sebuah hambatan tak terduga yang muncul di bawah pohon damar yang seharusnya menjadi tempat yang tenang.

Sementara itu, angin terus berembus, membiarkan Senja tenggelam dalam cemburu yang ia simpan di balik wajah tenangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!