NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alpha dan perasaannya

Malam itu, langit Jakarta gelap tanpa bintang.

Alpha duduk di balkon apartemennya—kamar nomor 12 lantai 22, tempat yang ia pilih sendiri untuk menghindari keramaian. Di tangannya, ponsel menyala. Satu foto. Foto lama. Foto yang disimpan di folder berpasword—yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Aelira. Masih dengan seragam SMP, rambut diikat dua, senyum lebar sambil memegang es krim.

Usia tiga belas tahun. Hari pertama mereka resmi bersahabat.

Jempol Alpha bergerak sendiri—mengusap layar, menyentuh pipi gadis di foto itu.

“Alphaaaaa!”

“Aelira, lo cepet amat sih makan eskrimnya, nanti masuk angin.”

“Ah, Alpha norak. Udah kayak bapak-bapak aja.”

“Gue bapak-bapak lo.”

“Cih. Sahabat. Bukan bapak.”

Alpha tersenyum—tapi senyum itu luntur perlahan.

“Bro,” suara Zayn—teman sekaligus tetangga kamarnya—membuyarkan lamunan. “Masih ngeliatin foto bini orang mulu?”

Alpha tidak menoleh. “Mereka belum nikah.”

Zayn terkekeh, melemparkan kaleng soda ke arah Alpha. “Belum nikah juga statusnya udah jelas punya siapa, bro. Lo liat sendiri. Cowok itu gila. Gue aja takut.”

Alpha menangkap kaleng soda tanpa melihat. Dibukanya. Disruputnya pelan.

“Gue nggak takut.”

“Bukan masalah takut, bro. Lo sayang sama Aelira. Gue tau. Semua orang yang perhatian juga tau.” Zayn duduk di sampingnya. “Tapi cowok itu punya kuasa lebih dari kita. Kakeknya punya setengah perusahaan di Jakarta. Lo mau ngelawan?”

Alpha diam.

“Gue nggak ngelawan,” katanya akhirnya. “Gue cuma... nunggu.”

“Nunggu apa?”

Alpha tidak menjawab.

Dia tahu persis apa yang ia tunggu. Tapi tidak bisa ia ucapkan. Karena mengucapkannya berarti mengaku—dan mengaku akan menyakitkan.

---

Seminggu kemudian...

Zayn mengajak Alpha ke studio musik langganan mereka. Sebuah tempat kecil di kawasan selatan Jakarta—jauh dari keramaian, jauh dari fans, jauh dari mata-mata agensi.

“Lo butuh nyanyi, bro,” kata Zayn sambil menyetel gitar. “Daripada lo diem melamun terus kayak patung.”

Alpha duduk di depan mikrofon. Tangannya memegang gitar—tapi tidak dipetik. Matanya menatap dinding kosong.

Zayn menghela napas. “Nyanyi aja, Alpha. Apa pun. Yang mewakilkan lo.”

Alpha diam beberapa saat.

Lalu jarinya mulai memetik.

Suara gitarnya pelan—sendu—seperti hujan di sore hari yang tidak kunjung reda.

“Kututup mataku... agar tak melihat senyummu...”

Zayn mengernyit. Dia kenal lagu ini.

“Kututup telingaku... agar tak mendengar tawamu...”

Alpha melanjutkan. Suaranya pecah—tapi tidak menangis. Hanya... lelah.

“Karena kau kini miliknya... bukan lagi milikku...”

Zayn menatap Alpha lama. “Bro...”

“Dan aku hanya bisa diam... dari kejauhan... memeluk bayangmu...”

Alpha berhenti. Jarinya bergetar di atas senar.

“Itu lagu lama, bro,” kata Zayn pelan.

“Iya.” Alpha meletakkan gitar. “Lagu yang gue dengerin terus sepanjang tahun lalu. Setiap kali gue lihat Aelira sama dia.”

“Lanjut.”

Alpha menghela napas. Lalu jarinya kembali memetik—tapi kali ini lagu yang lebih baru. Lagu yang ia tulis sendiri. Belum pernah dinyanyikan di depan siapa pun.

“Dulu kita berlari di taman yang sama...”

“Tanganmu menggenggam tanganku erat...”

“Kau bilang sahabat selamanya...”

“Tapi sejak dia datang... kau hilang...”

Zayn menutup mata. Dadanya terasa sesak—bukan karena lagunya, tapi karena rasa yang terdengar begitu nyata di suara Alpha.

“Bukan aku yang memilih menjauh...”

“Bukan aku yang menutup pintu...”

“Tapi saat kau lihat dia... matamu berubah...”

“Dan aku hanya... tamu di rumah yang dulu kubangun sendiri.”

Senar terakhir dipetik. Getarnya menggantung di udara.

Alpha menatap gitarnya. Tidak bicara.

Zayn mengusap wajahnya. “Bro, gue... nggak tahu harus bilang apa.”

“Nggak usah bilang apa-apa.” Alpha berdiri. “Gue udah lega.”

“Beneran?”

“Nggak.” Alpha tersenyum pahit. “Tapi setidaknya gue udah ngeluarin.”

Zayn terdiam. Lalu tiba-tiba berdiri dan menepuk bahu Alpha.

“Lo kuat, bro. Gue tahu lo kuat. Tapi lo juga boleh lemes. Lo juga boleh marah. Lo juga boleh... iri.”

Alpha menatap Zayn. “Gue iri, bro. Iri banget. Setiap hari gue liat dia di samping cowok lain. Setiap hari gue denger dia nyebut nama cowok itu. Dan gue cuma bisa... diam.”

“Kenapa lo diam?”

“Karena dia bahagia.” Suara Alpha pecah. “Dan gue nggak pantas merusak kebahagiaan dia hanya karena gue iri.”

Zayn memeluk Alpha—erat.

Dan Alpha—yang dari tadi berusaha tegar—akhirnya menangis. Diam-diam. Pelan. Tersedu-sedu di bahu Zayn.

Bukan karena putus asa.

Tapi karena merelakan—dan merelakan adalah bentuk cinta paling menyakitkan yang pernah ia tahu.

---

Tiga hari kemudian...

Alpha dan Zayn duduk di kantin sekolah. Di kejauhan, Aelira berjalan dengan Ravian. Tangan mereka bergandengan. Ravian sesekali menunduk—membisikkan sesuatu di telinga Aelira. Aelira tertawa.

Alpha menatap.

Zayn melirik. “Bro...”

“Gue nggak apa-apa,” kata Alpha pelan. “Gue udah nggak nangis lagi kemarin.”

“Bukan itu.” Zayn menunjuk ke arah lain. Seorang cowok dengan jaket abu-abu berdiri di dekat pohon rindang—menatap ke arah Aelira juga.

Cowok itu... Radit. Cinta pertama Aelira.

Radit tidak bergerak. Tidak mendekat. Hanya menatap.

Alpha mengepalkan tangan.

Dia bukan satu-satunya yang merindukan Aelira dari kejauhan.

Dan itu... membuatnya semakin sedih.

Karena di antara mereka semua yang menyayangi Aelira—hanya ada satu yang dipilih. Dan sisanya? Hanya bisa menonton dari kursi penonton sambil bertepuk tangan pelan untuk kebahagiaan orang yang mereka cintai.

“Gue akan jadi penonton terbaik untuk dia,” kata Alpha pelan. “Gue akan tepuk tangan paling keras. Gue akan tersenyum paling lebar. Gue akan bahagia... pura-pura bahagia... sampai suatu hari gue benar-benar bahagia.”

Zayn tidak menjawab. Hanya menepuk pundak Alpha.

Dan Alpha kembali menatap foto di ponselnya—foto lama yang tidak akan pernah ia hapus.

Bukan karena dia tidak bisa move on.

Tapi karena kenangan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diambil Ravian darinya.

Dan untuk Alpha—itu cukup.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!