NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Frekuensi yang Terkoyak

Bunker bawah tanah Gideon terasa seperti perut raksasa besi yang berdenyut. Suara dengung dari puluhan server tua dan pendingin ruangan yang bekerja keras menciptakan simfoni mekanis yang menyesakkan. Cahaya neon biru pucat memantul di wajah Liana yang tegang saat ia menatap layar monitor raksasa yang menampilkan peta satelit Asia Tenggara.

Titik-titik merah mulai bermunculan di atas wilayah Sektor Selatan—pertanda bahwa protokol pemutusan sinyal Elena telah mulai memakan korban.

​"Enam jam adalah perkiraan yang optimis, Gadis Bunga," suara Gideon menggelegar dari balik kegelapan ruangan. Ia melangkah maju, tangannya yang kasar memegang sebuah peta taktis fisik.

"Elena baru saja mempercepat transmisi melalui satelit Icarus-4. Jika kita tidak memutus pusat relay-nya di perbatasan utara ini, Sektor Selatan akan gelap total. Rumah sakit, sistem air, dan navigasi udara akan lumpuh. Kekacauan massal adalah pengalihan perhatian yang dia butuhkan untuk meluncurkan fase kedua."

Arkan, yang baru saja selesai membalut luka di lengannya, mendekat ke meja bundar di tengah ruangan. Wajahnya tampak lebih keras, matanya yang dulu penuh keraguan kini sedingin es.

"Pusat relay itu... ada di Mercusuar Hitam, bukan?"

​Gideon mengangguk singkat. "Sebuah stasiun pemancar tua di tebing pantai yang menyamar sebagai mercusuar navigasi. Itu adalah satu-satunya titik lemah dalam jaringan Phoenix di wilayah ini. Jika kita menghancurkannya, kita akan memutuskan koneksi Elena dengan satelit selama 24 jam. Waktu yang cukup untuk kita melacak keberadaan fisik ibumu."

​Liana menoleh ke arah Arkan. "Kau pernah ke sana?"

​"Dulu, saat aku masih kecil," jawab Arkan pelan, bayangan masa lalu melintas di matanya.

"Ayah membawaku ke sana untuk menunjukkan betapa mudahnya mengendalikan arus informasi di kota ini. Tempat itu dijaga oleh sistem otomatis yang sensitif terhadap panas dan gerakan. Masuk ke sana tanpa kode akses adalah bunuh diri."

Maka dari itu kita akan menggunakan jalur belakang," Gideon menunjuk ke arah tebing karang di peta.

"Ada sebuah terowongan penyelundupan tua yang tembus ke pondasi mercusuar. Tapi air laut sedang pasang. Kalian harus berenang sejauh dua ratus meter dalam kegelapan total sebelum mencapai tangga darurat."

​Operasi dimulai tepat pukul dua pagi. Langit di atas perbatasan utara hitam pekat, tanpa bintang maupun bulan, seolah alam semesta pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi. Arkan dan Liana mengenakan pakaian selam termal berwarna hitam legam. Mereka meluncur dari tebing karang ke dalam air laut yang dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang.

​Arkan memimpin di depan, tarikan napasnya yang tenang melalui alat selam menjadi satu-satunya suara di telinga Liana melalui sistem komunikasi nirkabel. Liana mengikuti tepat di belakangnya, tangannya menggenggam tas kedap air berisi perangkat peretas dan bahan peledak kecil yang diberikan oleh anak buah Gideon.

Saat mereka mencapai mulut terowongan bawah air, arus mulai menyeret mereka dengan liar. Liana sempat panik saat tabung oksigennya membentur karang tajam, namun tangan Arkan segera menyambar bahunya, menstabilkan posisinya dan memberi isyarat agar ia terus bergerak.

​Setelah perjuangan melawan arus selama lima belas menit yang terasa seperti selamanya, mereka akhirnya muncul di sebuah ruang pengumpul air di bawah mercusuar. Arkan membantu Liana memanjat tangga besi yang berkarat. Di atas mereka, suara mesin transmisi berdaya tinggi terdengar seperti raungan binatang buas yang tertidur.

​"Liana, siapkan perangkatnya. Aku akan mengamankan pintu masuk utama," bisik Arkan sembari mengeluarkan pistol dengan peredam suara.

Liana segera bergerak menuju panel kontrol pusat. Jemarinya yang masih gemetar karena dingin mulai menari di atas keyboard virtual. Layar menampilkan ribuan baris kode enkripsi Project Phoenix.

"Arkan, ini bukan enkripsi biasa. Ini adalah algoritma organik. Ia berubah setiap detik. Jika aku melakukan satu kesalahan kecil, sistem ini akan meledakkan diri bersama kita di dalamnya."

​"Percayalah pada instingmu, Liana. Kau adalah orang yang berhasil meretas sistem keamanan Mansion Dirgantara. Kau bisa melakukannya,"

Arkan menyemangati sembari matanya terus waspada menatap koridor yang gelap.

​Tiba-tiba, lampu di ruang kontrol berubah menjadi merah darah. Sebuah suara wanita yang sangat dikenal kembali menggema, bukan melalui pengeras suara, tapi langsung di layar monitor Liana.

Halo lagi, Liana. Aku terkesan kau bisa bertahan di air sedingin itu. Tapi kau lupa satu hal... aku menciptakan sistem ini dari DNA-ku sendiri. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkannya."

Elena muncul di layar kecil di sudut monitor, tersenyum dengan kemenangan yang mengerikan.

​"Ibu, hentikan ini!" raung Arkan ke arah kamera pengawas di sudut ruangan.

​"Hentikan? Arkan, sayangku... dunia butuh pembersihan. Sektor Selatan hanyalah tumpukan sampah yang menghalangi kemajuan. Dengan Phoenix, aku akan membangun tatanan dunia baru di mana tidak ada lagi kemiskinan, karena hanya yang kuat yang akan memiliki akses ke sumber daya."

​"Kau gila!" teriak Liana.

Ia tidak berhenti meretas. Ia menggunakan kode deksripsi yang ia curi sebelumnya sebagai perisai, membiarkan virus Elena menyerang kode palsu sementara ia menyisipkan perintah penghancuran ke dalam inti sistem.

SYSTEM OVERLOAD: 60%... 80%...

​"Arkan! Kita harus pergi sekarang! Sistem ini akan meledak!" seru Liana.

​Namun, pintu baja ruang kontrol tiba-tiba tertutup rapat. Elena tertawa.

"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang bisa. Selamat malam, anakku."

​Arkan tidak membuang waktu. Ia menembak engsel pintu dengan sisa pelurunya, lalu menendangnya dengan seluruh kekuatan.

"Liana, lompat ke lubang pembuangan! Sekarang!"

​Mereka meluncur turun tepat saat lantai di belakang mereka mulai runtuh akibat ledakan energi frekuensi tinggi. Cahaya biru raksasa terpancar dari puncak mercusuar, menerangi langit malam selama beberapa detik sebelum stasiun itu meledak hebat, mengirimkan puing-puing besi ke laut lepas.

Arkan dan Liana terombang-ambing di permukaan air, menatap sisa-sisa Mercusuar Hitam yang terbakar. Transmisi Elena terputus. Sektor Selatan selamat untuk sementara. Namun, di kejauhan, melalui kacamata penglihatan malamnya, Arkan melihat sebuah kapal selam hitam kecil meluncur menjauh dari dasar laut dekat mercusuar.

​"Dia ada di sana," bisik Arkan. "Dia tidak di Singapura. Dia ada di sini, di bawah kaki kita."

​Liana mengatur napasnya, menatap kapal selam yang menghilang di kedalaman samudra. Perang ini belum berakhir. Mereka baru saja memenangkan satu pertempuran, namun Elena Dirgantara baru saja menunjukkan bahwa ia siap mengorbankan putranya sendiri demi takhta digitalnya.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!