NovelToon NovelToon
Takluk Pada Sekretaris Alana

Takluk Pada Sekretaris Alana

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUNIA YANG BERPUTAR BARU

Hari-hari berlalu kini dengan irama yang jauh berbeda dari masa lalu. Rumah besar Arkananta yang dulu hening, dingin, dan penuh kesunyian, kini berubah menjadi tempat paling riuh, paling hangat, dan paling penuh warna di seluruh kota. Tangisan halus, suara coo kecil, dan tawa renyah mulai terdengar di setiap sudutnya, menjadi musik terindah yang tak pernah bosan didengar oleh penghuninya.

Gala Arkananta, sang Pangeran Kecil yang baru berusia sebulan itu, kini menjadi pusat semesta bagi Devan dan Alana. Segala perhatian, waktu, kasih sayang, dan pikiran mereka tercurah penuh pada mahluk mungil berharga ini. Bagi Devan, tidak ada lagi hal yang dianggap penting di dunia ini selain dua makhluk yang tidur dan bangun di sebelahnya setiap hari.

Pagi itu, sinar matahari pagi masuk lembut lewat jendela kamar, menyinari tempat tidur besar yang kini terasa makin nyaman dan penuh. Di sana, di tengah-tengah, terbaring Gala dalam ayunan kecil yang diletakkan tepat di samping mereka, tidur pulas dengan wajah damai, tangan mungilnya menggenggam udara seolah sedang memegang sesuatu yang berharga.

Alana terbangun lebih dulu, menatap wajah buah hatinya dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya. Namun saat ia berbalik, pemandangan yang dilihatnya membuat hatinya meleleh sepenuhnya. Devan sudah bangun sejak tadi, duduk bersimpuh di tepi ranjang, menatap wajah Gala lekat-lekat dengan tatapan yang bercampur takjub, haru, dan kekaguman tanpa batas. Matanya tak berkedip, seolah takut kalau ia berkedip sedetik pun, pemandangan indah ini akan hilang.

"Pagi, Ayah Gala," sapa Alana lembut, suaranya penuh hiburan melihat suaminya yang kini benar-benar berubah total.

Devan menoleh perlahan, senyumnya mekar lebar begitu bertemu pandang dengan istrinya. Ia langsung mendekat, mengecup kening dan bibir Alana dengan lembut sekali.

"Pagi, Ibu hebatku. Kau tahu? Aku sudah menatapnya hampir satu jam, tapi rasanya belum puas sedetik pun. Dia terlalu sempurna, Alana. Terlalu indah sampai rasanya aku tak percaya dia daging darahku, dia anakku. Dia seperti malaikat yang jatuh langsung ke pelukanku."

Ia kembali menoleh ke arah Gala, tangannya besar dan kasar namun bergerak dengan kehati-hatian luar biasa, menyisir rambut halus di kepala si kecil.

"Lihat bibirnya, persis bibirmu. Dan bentuk matanya, meski masih terpejam, aku yakin nanti akan tajam dan dalam persis mataku. Tapi yang paling penting... dia punya hatimu yang lembut dan murni itu. Aku doakan dia begitu."

Sejak Gala lahir, Devan benar-benar mengalami transformasi jiwa yang luar biasa. Sosok penguasa dingin dan kejam yang dulu ditakuti ribuan orang itu, kini lenyap tanpa jejak. Berganti menjadi sosok ayah yang paling lembut, paling sabar, dan paling manja. Ia sama sekali tidak malu melakukan hal-hal yang dulu akan dianggapnya konyol atau memalukan. Ia mau bangun tengah malam hanya untuk mengganti popok, menyusukan susu, atau sekadar menggendong Gala sampai tertidur kembali. Ia mau mengajak Gala bicara dengan suara lembut dan nada tinggi, seolah anak itu sudah mengerti setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Devan, sudah jam setengah sembilan," ingat Alana pelan, menatap jam dinding. "Bapak harus ke kantor. Rapat penting dengan investor asing kan hari ini? Kalau telat nanti..."

Devan mengibaskan tangannya santai, wajahnya tampak tak peduli sedikit pun.

"Biarkan mereka menunggu. Biarkan rapatnya diundur, biar pertemuannya dijadwal ulang. Tidak ada yang lebih penting dari ini, Sayang. Tidak ada yang lebih mendesak daripada menatap anakku dan mencium istriku. Dunia bisnis boleh runtuh besok, tapi kebahagiaanku di sini tidak boleh terganggu sedetik pun."

Alana menggeleng sambil tersenyum tak percaya, namun hatinya penuh kehangatan yang luar biasa.

"Bapak ini ya... dulu kalau saya telat lima menit saja laporan belum di atas meja, Bapak sudah teriak-teriak marah-marah. Sekarang malah rapat penting pun mau ditunda demi lihat anak tidur."

Devan tertawa rendah, lalu beralih duduk di samping Alana, menarik tubuh istrinya bersandar nyaman di dadanya.

"Dulu aku gila, Sayang. Aku gila karena aku kosong, aku sepi, aku tidak tahu tujuan hidup apa yang sebenarnya. Aku mengira kesuksesan itu angka, itu uang, itu jabatan. Ternyata aku orang paling bodoh sedunia. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah bangun pagi begini, melihat kalian berdua ada di sini, sehat, selamat, dan tersenyum. Itu kekayaan yang tidak bisa dibeli uang seisi dunia pun."

Ia mencium puncak kepala Alana, tangannya melingkar melindungi bahu istrinya.

"Dan lagipula, sekarang Arkananta Group sudah punya pemimpin yang sebenarnya. Aku cuma wakilnya saja. Pemimpin aslinya ada di sana, yang kalau menangis seisi rumah panik, dan kalau tersenyum seisi rumah bahagia. Gala adalah Bos Besar yang sesungguhnya, aku cuma karyawan pertamanya yang paling setia dan paling patuh."

Siangnya, meski dengan berat hati dan langkah yang tertatih, Devan akhirnya berangkat ke kantor. Namun perubahan di Arkananta Tower pun sangat terasa. Devan yang dulu memimpin dengan tangan besi dan tekanan tinggi, kini memimpin dengan senyum dan ketenangan. Ia jadi jauh lebih sabar, jauh lebih pengertian, dan karyawan pun jadi lebih semangat bekerja karena suasana kantor yang kini hangat dan mendukung.

Namun, setiap jam sekali, Devan pasti menelepon ke rumah. Bukan untuk menanyakan laporan, tapi untuk menanyakan kabar istrinya dan si kecil.

"Gala sudah bangun? Sudah minum? Tidak rewel kan? Kamu sudah makan? Sudah istirahat? Jangan capek-capek, serahkan semuanya ke pembantu, kamu cukup duduk cantik dan menyusui saja. Aku pulang cepat ya, tahan sebentar lagi rindunya Ayah."

Begitu telepon ditutup, Devan akan tersenyum sendiri, membuat para bawahannya yang melihat jadi geleng-geleng kepala namun senang melihat perubahan atasan mereka.

Sore itu, Devan pulang lebih awal dari biasanya. Begitu mobil masuk ke halaman rumah, ia langsung berlari masuk, melepas jas dan dasinya sembarangan di sepanjang jalan lorong, seolah anak kecil yang tak sabar mainan baru.

"Di mana anakku? Di mana istriku?" teriaknya riang, suaranya memenuhi ruang tengah.

Ia langsung menuju kamar utama, dan di sana, pemandangan yang ia tunggu ada di depan mata. Alana sedang duduk di sofa menyusui Gala, wajahnya teduh dan bersinar keibuan, sedangkan si kecil minum dengan lahap dan tenang.

Begitu melihat itu, napas Devan seolah berhenti sejenak. Ia melangkah mendekat perlahan, berlutut di depan mereka berdua, menatap pemandangan itu dengan mata yang penuh kekaguman.

"Ya Allah... indahnya..." bisiknya parau. "Pemandangan ini melebihi pemandangan apa pun di dunia ini. Ini surga yang nyata, ada di depan mataku."

Ia menunggu sampai Gala selesai menyusu dan disendawakan, lalu dengan hati-hati sekali ia mengambil alih gendongan si kecil. Gala yang baru saja kenyang, menatap wajah ayahnya dengan mata bulatnya yang bening, lalu tiba-tiba tersenyum lebar, mulutnya terbuka menampakkan gusi yang polos.

Hati Devan seolah hancur lebur karena bahagia. Ia langsung mencium pipi Gala berkali-kali dengan suara ciuman yang keras dan penuh kasih sayang.

"Ah, sayangku... malaikatku... Ayah rindu sekali seharian ini. Kamu senang ya lihat Ayah? Kamu sayang Ayah kan? Sayang sekali sama Ayah?" celotehnya panjang lebar, membuat Alana tertawa melihat sosok besar yang kini menjadi begitu lembut dan konyol.

Devan membawa Gala berjalan-jalan keliling rumah, menggendongnya tegak, menunjuk lukisan-lukisan, tanaman, jendela, dan bercerita tentang segalanya dengan suara rendah dan lembut.

"Lihat itu, Nak. Itu taman tempat Ayah dulu sering duduk sendirian. Dulu rasanya sepi dan gelap sekali. Tapi sekarang, ada kamu dan Ibu, semuanya jadi terang dan indah. Nanti kalau kamu besar, Ayah ajari kamu lari-lari di sana, ajari kamu main bola, ajari kamu segala hal yang Ayah tahu. Ayah janji, Ayah bakal jadi teman mainmu yang paling seru, pelindungmu yang paling kuat, dan orang yang paling sayang sama kamu selamanya."

Malam harinya, setelah Gala tidur lelap di antara mereka, Devan dan Alana duduk berdua di teras kamar, menikmati udara malam yang sejuk. Devan menarik Alana bersandar di dadanya, memeluknya erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali.

"Alana..." panggilnya pelan.

"Ya, Suamiku?"

"Terima kasih. Terima kasih sudah mengubah duniaku. Dulu dunia ini berputar di sekelilingku, di sekeliling ambisiku, egoku, dan keinginanku sendiri. Rasanya berat, kosong, dan cepat sekali. Sekarang? Dunia ini berputar di sekeliling kalian berdua. Di sekeliling senyum Gala, di sekeliling kenyamananmu, di sekeliling kebahagiaan kita. Rasanya ringan, penuh, dan sangat lambat namun sangat indah."

Ia memegang tangan Alana, mengusap cincin di jari manis itu dengan lembut.

"Aku sadar sekarang, bahwa segala harta, kekuasaan, dan nama besar itu cuma pelengkap saja. Yang membuat hidup ini berharga adalah kalian. Kalianlah poros dunia yang sesungguhnya."

Devan menatap langit yang penuh bintang, lalu kembali menatap istrinya dengan tatapan yang paling dalam dan paling tulus.

"Dunia boleh berputar terus, boleh berubah apa saja, boleh memberi apa pun atau mengambil apa pun. Selama aku punya kalian berdua, aku sudah lengkap, aku sudah menang, aku sudah punya segalanya yang paling sempurna."

Dan sekali lagi, janji yang makin luas maknanya, yang kini mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan panjang mereka bertiga, terucap tegas dan penuh keyakinan mutlak:

"Di dunia yang kini berputar dengan irama bahagia ini, di tengah kehangatan keluarga yang utuh ini... segalanya, harta, kekuasaan, jiwa, raga, masa depan, dan segala yang ada padaku... semuanya dan selamanya tetap takluk, hanya padamu, Alana. Ibu hebatku, Ratu hatiku, dan poros seluruh duniaku."

1
Hikayah Rahman
mampir thor
Anonim
Sejauh ini bagus sekali, semangat update yaa 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!