Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadi yang takkan Putus
Mereka berpapasan dengan putra mereka yang baru saja keluar dari kamarnya dengan suara bantingan pintu karena terburu-buru.
"Ada apa El ?" Tanya Mamanya dengan mata sedikit menyipit di susul suaminya yang berada dibelakangnya.
"Ma .." Elgar tampak linglung untuk merangkai kata-kata namun dia seperti diburu waktu.
Elgar memeluk sejenak wanita yang dicintainya lalu membisikkan kalau semuanya baik-baik saja. Dengan langkah cepat dia menuruni anak tangga.
Ucapan putranya tak memuaskan rasa penasarannya, dia mengajak suaminya untuk ikut turun. Dari kejauhan melihat sosok yang terbaring meski belum mengenali. Elgar hendak memangku, sementara satpam sudah menyiapkan mobil.
"Astaga, Clarissa....kamu kenapa nak" Pekik Mamanya akhirnya dikala melihat dengan jelas bahwa wanita yang terbaring lemah itu adalah putrinya sendiri.
Elgar menulikan pendengarannya dengan segala pertanyaan dari kedua orangtuanya. Pintu mobil telah terbuka, Elgar segera memasukkan tubuh adiknya dengan perlahan kedalam.
Mamanya meski histeris namun dengan mendampingi sigap putrinya, ikut masuk dan menyenderkan kepala Clarissa di pangkuannya.
Papanya ikut kacau dan belum menemukan jawaban dari segala situasi yang dilihatnya.
"Pak, terimakasih bantuannya. Sepertinya saya saja yang menyetir biar kami saja yang ke rumah sakit" Elgar akhirnya dapat mengambil keputusan, melihat kedua orangtuanya juga tak ingin berdiam diri di rumah.
"Baik Den, biar saya melanjutkan tugas jaga malam bersama teman saya" Balas Satpam itu ramah dan tak lupa menutup kembali gerbang setelah pemilik rumah melaju dengan cepat meninggalkan komplek tersebut.
Tangisan masih terdengar menyayat hati, Elgar dengan kecepatan tinggi mengendarai mobilnya.
Mereka telah tiba di rumah sakit dan Clarissa mendapatkan penanganan dokter. Rasa pilu kian menjadi dikala pakaian Clarissa disingkap dan menunjukkan ada banyak lebam yang tersembunyi sejak tadi.
Pakaiannya kini sudah berganti menjadi pakaian pasien. Mereka mendengarkan diagnosa dokter kian bertambah pilu.
"Kondisi cukup parah, pasien mengalami keretakan di lengan, kekurangan cairan dan besok pagi akan melakukan pengecekan menyeluruh" Dokter menjelaskan dengan rinci kemudian pamit undur diri.
Mereka bertiga kini duduk di kursi yang tersedia. Terjadi kebisuan sejenak, jarum jam yang terpampang didinding ruangan itu kini berada diangka dua dini hari.
"Bagaiman bisa kamu ketemu adikmu?, padahal baru tadi sore Mama meneleponnya" tangis wanita itu pecah lagi.
Elgar menceritakan semua dengan perasaan yang lebih tenang, menceritakan sejak awal melihat Clarissa yang hanya mematung di gerbang rumah. Hingga Clarissa jatuh pingsan dan belum sadar sampai detik ini.
"Tunggu...... Dimana Ethan…?"Pertanyaan itu kembali terngiang di benaknya.
Elgar menarik ponselnya yang baru tergelatak diatas meja lalu menekan panggilan telepon. Kedua orangtuanya hanya mengamati tanpa banyak bertanya.
"Sialan..." Suara lirih namun terdengar sangat kesal keluar dari bibir Elgar.
Papanya juga mencoba menghubungi namun nihil. Mereka tak ingin membuat kesimpulan bodoh atas kejadian buruk yang menimpa Clarissa. Tidak ingin menuduh Ethan, hanya saja pertanyaan yang sejak awal timbul adalah dimana suami yang seharusnya melindungi Clarissa?, Dimana Ethan yang seharusnya ikut mencari Clarissa jika tak ada disampingnya.
Mereka terjebak dengan pikiran masing-masing, bukan lelah karena menahan kantuk atau tidak bisa tidur di kasur yang empuk. Pikiran berat itu justru mengunci raga mereka hingga tak mampu harus mencari jawaban kemana.
Wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya, mendekat kearah putrinya yang masih terkulai lemah. Mengingat kembali pembicaraan mereka terakhir kali, dan beberapa jam berikutnya mendapati tubuhnya putrinya yang penuh luka.
Tidak ada satupun yang dapat menipu hati seorang ibu, yang merasakan kekosongan. Memberi aba-aba sebagai pertanda bahwa anak yang dilahirkannya sedang tidak baik-baik saja.
Hubungan darah tidak dapat dipisahkan sejauh manapun jarak mereka, karena darah yang mengalir itu dari nadi yang sangat akrab bahkan sejak awal kehidupannya dimulai.
Nadi yang bagai telepati memberikan pertanda meski ada rasa yang disembunyikan dengan kepura-puraan yang sangat epik.