Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kilau Sedan Mewah di Gang Sempit
Keputusan strategis akhirnya telah diambil dengan pertimbangan yang sangat matang. Dari empat barisan kendaraan super premium kelas dunia yang saat ini terparkir rapi dan mengkilap di dalam dimensi inventori rahasia milik Sistem Mengajar Mutlak, pilihan Arvand Pratama akhirnya jatuh pada BMW 7 Series (Luxury Sedan). Bagi seorang pria muda yang beberapa jam lalu status sosial ekonominya masih berada di kasta terendah dalam hierarki guru honorer nasional, mengendarai sebuah hypercar sekelas Bugatti Chiron melewati gang-gang sempit pemukiman padat penduduk kota adalah tindakan nekat yang setara dengan memicu kerusuhan massa atau mengundang kepungan puluhan vlogger otomotif dadakan.
Sementara itu, BMW 7 Series menawarkan kombinasi fungsional yang sangat pas untuk situasinya saat ini: kemewahan eksekutif yang senyap, kenyamanan kursi pijat elektrik yang mampu mengendurkan ketegangan urat saraf punggungnya, dan yang paling penting dari semuanya adalah lapisan kaca film tebal bin gelap gulita yang mampu melindungi wajah herannya dari tatapan penuh selidik para tetangga sekitar gang.
Wusss...
Dengan satu jentikan jari gaib di dalam ruang benaknya saat ia melangkah keluar dari area luar gerbang SMA Cakrawala Bangsa, sepeda motor bebek tua miliknya yang bermesin kasar dan sering mogok itu langsung menghilang secara instan. Motor itu berpindah ke dalam garasi dimensi sistem untuk dipensiunkan dalam waktu yang belum ditentukan. Sebagai gantinya, sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik dengan siluet bodi yang sangat panjang, anggun, dan memancarkan aura kekayaan aristokrat modern mendadak materialistis di sebuah sudut jalan pinggiran yang sepi dari jangkauan kamera pengawas.
Arvand melangkah mendekati mahakarya otomotif asal Jerman tersebut dengan jantung yang berdegup kencang, hampir tidak percaya bahwa benda bernilai miliaran ini adalah miliknya sekarang. Begitu telapak tangannya yang agak kasar menyentuh gagang pintu, sensor digital mobil langsung mengenali sidik jarinya sebagai pemilik sah mutlak. Pintu kemudi terbuka dengan suara desisan hidrolik yang sangat halus, begitu senyap bagai desisan angin malam.
Begitu ia mendudukkan bokongnya di atas jok kulit Merino berkualitas premium yang langsung menyesuaikan bentuk kontur tubuhnya secara otomatis, Arvand menghela napas panjang-panjang. Aroma kabin mobil baru yang sangat mahal dan elegan langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, mengusir sisa-sisa aroma minyak angin murah dan debu jalanan kota yang sejak pagi menempel di kemeja kain usangnya.
"Astaga... ini benar-benar gila. Suspensi mobil ini bahkan terasa jauh lebih empuk dan nyaman daripada kasur busa tipis di kamar kontrakanku yang sudah melotot itu," gumam Arvand sambil membelai kemudi berlapis kulit premium dengan tatapan tak percaya yang berbinar-binar.
Ia menekan tombol Engine Start dengan ujung jarinya. Mesin twin-turbo berperforma tinggi di balik kap depan menyala dengan sebuah raungan halus yang sangat diredam oleh sistem kekedapan kabin tingkat tinggi. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Arvand memacu sedan mewah berharga miliaran rupiah itu membelah kepadatan jalanan kota, bergerak mantap menuju ke sebuah kawasan pemukiman padat yang menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya yang memprihatinkan selama ini: sebuah rumah kos dua lantai dengan cat dinding hijau lumut yang sudah mengelupas di sana-sini.
Plang papan nama di depan gerbang besi yang sudah berkarat menua itu bergoyang pelan ditiup angin sore, menampilkan sebuah tulisan dari cat semprot hitam yang cukup nyentrik dan mengundang tawa sekaligus kengerian bagi siapa saja yang lewat: "Kost Sekali Nunggak Viral". Sebuah nama ikonik yang lahir dari kebijakan ekstrem sang pemilik kos paruh baya, yang terkenal tidak segan-segan mengunggah foto wajah beserta nama lengkap para penghuni kos ke grup Facebook komunitas warga sekitar jika mereka berani terlambat membayar uang sewa bulanan lebih dari tiga hari.
Krieeek... Ciiiit!
Kedatangan sebuah mobil BMW 7 Series yang berukuran sangat bongsor dan panjang di depan gerbang besi tua itu seketika memicu kepanikan massal berskala kecil di kalangan ibu-ibu komplek yang sedang asyik ngerumpi di depan warung kelontong seberang jalan. Beberapa anak kecil yang sedang asyik bermain kelereng di atas tanah kering langsung menghentikan aktivitas mereka secara total, menatap tanpa berkedip ke arah bodi mobil hitam yang begitu mengkilap hingga bisa digunakan untuk berkaca dengan sangat jelas.
Arvand keluar dari dalam kabin kemudi mewah tersebut sambil menenteng tas belacu usangnya dengan santai. Kontras visual yang sangat ekstrem antara mobil mewah seharga miliaran rupiah dengan tas kain robek di tangannya benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya di sepanjang gang akan mengalami korsleting logika stadium lanjut. Namun, Arvand sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang lain. Ia melangkah masuk ke dalam halaman kos dengan sebuah senyuman lebar yang terus terkembang manis di wajahnya. Langkah kakinya langsung bergerak menuju ke arah sebuah meja kayu panjang di dekat dapur umum lantai dasar, tempat di mana seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan daster motif batik merah sedang asyik menumbuk cabai dengan bertenaga di dalam cobek batu besar.
Dialah Mbok Sum. Sang penguasa mutlak wilayah, hakim tertinggi kedisiplinan, sekaligus bendahara tanpa ampun di lingkungan Kos Sekali Nunggak Viral.
"Mbok Sum! Selamat sore menjelang malam bagi sang penguasa tertinggi tanah dan bangunan kosan keramat ini!" seru Arvand dengan nada suara yang kelewat ceria, sengaja meletakkan tas belacu usangnya di atas meja kayu dengan bunyi prak yang cukup mantap untuk menarik perhatian.
Mbok Sum menghentikan gerakan ulekan batunya secara mendadak. Ia mendongak, menatap Arvand dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan penuh selidik yang sangat tajam, khas seorang penagih utang profesional yang tidak bisa dikelabui.
"Eh, si Jaka Sembung bawa golok, lu! Tumben bener lu, Vand, sore-sore jam segini udah pulang ke kosan? Biasanya jam segini lu masih luntang-lantung di sekolah nyari lemburan periksa kertas tugas murid demi dapet uang goceng buat beli bensin. Terus itu... di depan gerbang ada mobil gede hitam mulus punya siapa terparkir? Jangan bilang lu habis terlibat sindikat curanmor internasional atau jadi komplotan begal kelas kakap ya?!"
Arvand tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan acak yang sangat kreatif dari ibu kosnya itu. Ia merogoh saku celana kainnya, mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah jebol di bagian sudut bawah, lalu menarik sekeranjang lembaran uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih sangat baru, wangi, dan kaku—hasil dari penarikan tunai instan dari sistem melalui mesin ATM di pinggir jalan raya besar tadi. Ia meletakkan segepok uang tunai tersebut tepat di samping cobek batu milik Mbok Sum.
"Ini uang sewa kamar bulan ini, ditambah tunggakan WiFi kosan bulan lalu yang sempat tersendat, plus bonus uang lelah karena Mbok selama ini sering repot nampung paket kiriman buku saya. Lunas dan tuntas ya, Mbok! Tolong nama dan foto wajah saya dihapus dari daftar hitam penunggak di mading depan komplek!" ucap Arvand dengan gaya sombong yang jenaka penuh canda.
Mata Mbok Sum langsung berbinar-binar terang melihat warna merah menyala dari lembaran uang seratus ribuan yang bertumpuk tersebut. Dengan kecepatan tangan yang melampaui refleks seorang atlet bulu tangkis tingkat nasional, Mbok Sum langsung menyambar uang itu dan menghitungnya dengan jari-jari tangannya yang sangat lincah dan berpengalaman.
"Waduh... tumben bener lu banyak duit! Ini duit asli kan, Vand? Kagak pake tumbal pesugihan babi ngepet atau miara tuyul kan lu? Oke, urusan sewa kamar lu bulan ini dinyatakan clear dan bersih. Nama lu aman dari daftar viral minggu ini."
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥