Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: SINKRONISASI BERDARAH
07:14:05
Vero membuka mata.
Detik pertama: Fokus.
Detik kedua: Bergerak.
Dia tidak membuang waktu untuk menoleh. Dia langsung berdiri, menyambar lengan Sarah yang baru saja hendak mengetik di laptopnya.
"Ikut aku," perintah Vero, menarik wanita itu berdiri paksa.
"Hei! Lepas—"
"Triad Industries. Project Omega. Bosmu menelepon sekarang. Jangan angkat," Vero memuntahkan informasi itu sambil menyeret Sarah menyusuri lorong. "Kita akan menyerang pria di Gerbong 4. Aku butuh kau mengambil ponselnya dan meretas server bom di kereta sebelah. Kau satu-satunya yang bisa."
Sarah terhuyung-huyung mengikuti langkah lebar Vero. "Kau gila! Siapa kau?!"
"Aku pelatihmu. Di kehidupan yang lalu," jawab Vero tanpa menoleh.
Mereka sampai di ujung gerbong. Vero menyambar gunting dari ibu perajut—sudah menjadi refleks otot sekarang—dan menendang pintu penyambung.
07:15:30.
Pria Jaket Hitam di Gerbong 4 baru saja melihat jam tangannya.
Vero tidak memberinya kesempatan untuk bernapas.
"Sarah, ambil tas itu!" teriak Vero sambil menunjuk tas ransel sembarang milik penumpang.
Vero menerjang Pria Jaket Hitam itu dengan lutut terbang.
BUAGH!
Hantaman itu telak mengenai dada. Pria itu terpental, kepalanya membentur kaca jendela hingga retak.
Vero langsung menindihnya. Gunting di tangan kanan menancap di bahu kiri pria itu—melumpuhkan lengan pisau.
"ARGHHH!"
Vero tidak berhenti. Dia memukul wajah pria itu bertubi-tubi dengan tangan kiri. Satu. Dua. Tiga. Hingga hidungnya patah dan matanya bengkak menutup.
Vero meraih tangan kanan pria itu, mematahkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Krek. Krek.
"Maaf," bisik Vero dingin. "Aku butuh kau tidak berdaya."
Pria itu lemas, mengerang setengah sadar.
Vero merogoh saku pria itu, mengambil ponsel militer, dan melemparnya ke Sarah yang berdiri mematung di pintu gerbong dengan wajah pucat pasi.
"Tangkap!"
Sarah menangkap ponsel itu dengan tangan gemetar.
Vero merogoh pinggang belakang pria itu, menarik pistol Glock 19, dan mengokangnya.
Dia berjalan ke arah Sarah, lalu menyodorkan gagang pistol itu ke tangan wanita itu.
Sarah mundur selangkah. "Aku... aku nggak bisa pegang pistol."
"Kau bisa," kata Vero tajam, menatap mata Sarah. "Pegang dengan dua tangan. Jangan taruh telunjuk di pelatuk kecuali kau mau menembak. Arahkan ke dia kalau dia bergerak."
Vero menunjuk Pria Jaket Hitam yang sudah babak belur di lantai.
"Dia masih hidup. Dia berbahaya. Gunakan jempol kanannya untuk buka kunci ponsel itu. Hubungkan ke laptopmu. Cari menu 'Override'. Kau punya waktu 40 menit."
"Lalu kau mau ke mana?" suara Sarah bergetar hebat. Dia memegang pistol itu seperti memegang ular berbisa.
Vero menunjuk pintu gerbong yang sudah dia buka paksa tuas daruratnya. Angin menderu masuk. Kereta Kargo oranye terlihat melaju di sebelah.
"Aku punya janji dengan bom yang lebih besar," kata Vero.
Dia menatap Sarah satu detik lebih lama. "Aku percaya padamu, Sarah. Lakukan seperti yang kau tulis di beritamu: Tanpa ampun."
Tanpa menunggu jawaban, Vero berbalik dan melompat keluar dari kereta yang melaju kencang.
PERSPEKTIF SARAH
07:18:00
Sarah berdiri mematung melihat pria asing itu menghilang di telan celah antar kereta.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.
Ini gila. Ini mimpi buruk.
"Ughhh..."
Suara erangan dari lantai menyadarkannya.
Pria Jaket Hitam itu bergerak. Meski wajahnya hancur dan bahunya tertancap gunting, dia mencoba bangun. Matanya—yang satu bengkak tertutup, yang satu lagi merah nyalang—menatap Sarah.
"Berikan... ponselku..." desis pria itu. Dia mencoba merangkak.
Sarah memekik, mundur selangkah. Dia mengangkat Glock 19 itu dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Berat. Dingin.
"Ja-jangan bergerak!" teriak Sarah. Suaranya pecah.
Pria itu menyeringai darah. Dia melihat ketakutan Sarah. Dia tahu Sarah bukan pembunuh.
Pria itu mencabut gunting dari bahunya dengan teriakan tertahan, lalu menggenggam gunting itu seperti pisau.
"Kau tidak punya nyali, Nona Manis," ejek pria itu, mulai bangkit berdiri.
Sarah mengingat kata-kata Vero. Tanpa ampun.
Pria asing tadi—Vero—mempercayainya. Entah kenapa, tatapan mata Vero tadi terasa begitu familiar, seolah mereka sudah saling kenal bertahun-tahun.
Sarah menarik napas panjang.
Klik. (Suara otak jurnalisnya mengambil alih).
Ini bukan pembunuhan. Ini bertahan hidup.
Sarah tidak menembak. Dia belum berani.
Tapi dia menendang wajah pria itu—tepat di hidung yang sudah patah—dengan ujung sepatu ketsnya sekuat tenaga.
"ARGH!" Pria itu jatuh terjengkang lagi, pingsan karena rasa sakit yang meledak di kepalanya.
Sarah segera berlutut di samping tubuh pria itu yang tidak sadarkan diri. Dia menarik tangan kanan pria itu, menempelkan jempolnya ke sensor ponsel.
Bip. ACCESS GRANTED.
"Oke," bisik Sarah pada dirinya sendiri, air mata ketakutan mengalir di pipinya tapi tangannya bergerak stabil. "Oke. Mari kita retas bajingan ini."
Dia berlari kembali ke kursinya, menghubungkan ponsel ke laptop, dan mulai mengetik.
PERSPEKTIF VERO
07:25:00
Vero mendarat di atap gerbong kargo dengan pendaratan yang jauh lebih mulus daripada sebelumnya. Muscle memory mulai terbentuk.
Dia tidak perlu menelepon Sarah untuk navigasi. Dia sudah hafal petanya.
Gerbong 15. Atap licin. Hati-hati.
Gerbong 13. Lokasi target.
Vero berlari rendah di atas atap gerbong, melawan angin. Bahunya tidak sakit karena di loop ini dia belum tertembak. Dia dalam kondisi fisik prima 100%.
Tapi dia tidak punya senjata api. Dia memberikan satu-satunya pistol kepada Sarah.
Yang dia miliki hanyalah pengetahuan.
Vero sampai di Gerbong 14. Dia mengintip ke depan.
Dua penjaga dengan senapan serbu duduk di sana, di dekat ventilasi Gerbong 13. Posisi sama. Rutinitas sama.
Mereka akan menoleh ke kiri dalam 10 detik untuk menyalakan rokok.
Vero menunggu.
Sepuluh. Sembilan... Tiga. Dua. Satu.
Salah satu penjaga memantik korek api, menangkupkan tangan melindungi api dari angin. Temannya menoleh, meminta api.
Pandangan mereka teralihkan.
Vero melesat keluar dari persembunyian.
Dia tidak menembak. Dia berlari sprint senyap di atas karet peredam atap gerbong.
Jarak 30 meter. 20 meter. 10 meter.
Penjaga yang memegang korek mendengar langkah kaki. Dia menoleh.
"Hah?"
Terlambat.
Vero menerjang dengan tendangan terbang (dropkick) yang menghantam dada penjaga itu, melemparnya jatuh dari atap kereta kargo sebelum dia sempat meraih senapannya.
Penjaga kedua kaget, mencoba mengarahkan laras senapannya.
Vero sudah berada dalam jangkauan tangan (close quarter). Dia menepis laras senapan itu ke atas.
Dor! Dor! Tembakan nyasar ke langit.
Vero memukul tenggorokan penjaga itu dengan sisi telapak tangan. Penjaga itu tersedak.
Vero merebut senapan serbu itu, memutarnya, dan memukulkan popornya ke wajah si penjaga.
Brak!
Penjaga itu ambruk pingsan.
"Maaf, tidak ada waktu untuk drama tembak-menembak," gumam Vero.
Dia memeriksa senapan itu. HK416. Senjata bagus. Penuh peluru.
Dia mengambil satu granat tangan dari sabuk penjaga yang pingsan itu.
Vero membuka palka (hatch) menuju ke dalam kontainer.
Dia tahu apa yang menunggunya di bawah.
Elite Mercenary. Si Prajurit Super dengan baju besi.
Vero tidak akan turun ke sana untuk berduel. Itu bodoh.
Dia menarik pin granat itu.
"Makan ini," bisik Vero.
Dia menjatuhkan granat itu ke dalam lubang palka, lalu menutup pintunya dan menindihnya dengan tubuhnya.
BLAM!
Suara ledakan teredam terdengar dari dalam kontainer. Pintu palka bergetar hebat di bawah perut Vero. Asap keluar dari sela-sela pintu.
Vero menunggu lima detik.
Hening.
Dia membuka pintu palka lagi. Asap mengepul keluar.
Dia mengarahkan senapan HK416 ke bawah, menyalakan senter yang terpasang di larasnya.
Di bawah sana, prajurit elit itu tergeletak di dekat rak C-4. Rompi anti-pelurunya utuh, tapi ledakan granat di ruang tertutup (concussive force) pasti telah menghancurkan organ dalamnya atau minimal membuatnya gegar otak berat.
Vero turun. Dia mendarat di lantai kontainer, senjata siap tembak.
Prajurit itu tidak bergerak. Darah keluar dari telinganya.
"Ancaman fisik dinetralisir," lapor Vero pada dirinya sendiri.
Dia berbalik menatap konsol utama.
Layar monitor itu menyala biru di tengah kepulan asap sisa ledakan.
T-MINUS: 00:34:10
Vero mengeluarkan ponselnya (ponsel pribadinya yang retak). Dia menelepon Sarah.
Sinyal di dalam sini buruk, dia harus mendekatkan ponsel ke celah ventilasi yang rusak akibat ledakan.
"Sarah! Masuk!"
Terdengar suara kresek-kresek, lalu suara Sarah yang panik.
"Vero! Aku masuk! Aku di sistem! Tapi banyak firewall!"
"Abaikan firewall data! Langsung ke Root Access!" perintah Vero. "Cari menu 'Emergency Override'. Aku berdiri di depan tombol fisik sekarang."
Vero menatap tombol merah besar di samping layar monitor. Tombol itu tertutup kotak kaca yang dikunci dengan gembok elektronik.
"Ketemu!" teriak Sarah. "Sistem meminta otorisasi ganda. Aku harus memasukkan perintah dari sini, dan kau harus menekan tombol itu dalam jendela waktu 5 detik setelah aku tekan Enter."
"Aku siap," kata Vero. Dia memecahkan kotak kaca pelindung tombol itu dengan popor senapan. Prang!
"Tunggu," kata Sarah. "Ada kode verifikasi... Triad Alpha-9. Tunggu, sedang kubypass..."
Vero melihat layar monitor di depannya.
Tiba-tiba, tulisan di layar berubah.
WARNING: EXTERNAL INTRUSION DETECTED.
COUNTER-MEASURE ACTIVATED.
Vero merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Sarah! Cepat!"
Suara mekanik terdengar dari sudut ruangan.
Bukan dari prajurit yang mati. Tapi dari langit-langit.
Automated Turret (Senapan Otomatis) turun dari panel tersembunyi. Kamera sensornya menyala merah, memindai target.
Itu mengarah ke Vero.
"Sialan," umpat Vero. Dia melompat berlindung di balik meja konsol logam.
TATATATATATA!
Peluru kaliber besar menghantam meja tempat Vero berlindung, menciptakan percikan api dan suara bising yang memekakkan telinga.
"Apa itu?! Suara apa itu?!" jerit Sarah di telepon.
"Sistem keamanan otomatis! Aku ditembaki!" teriak Vero. "Bypass kodenya sekarang atau aku jadi daging cincang!"
"Lima detik! Beri aku lima detik!"
Vero meringkuk. Meja logam itu mulai penyok. Turret itu tidak akan berhenti sampai dia mati.
Dia harus menekan tombol itu. Tombol itu ada di atas meja. Di garis tembak.
Dia harus keluar dari perlindungan untuk menekannya.
"Ini akan sakit," batin Vero.
"SEKARANG!" teriak Sarah. "AKU TEKAN ENTER DALAM 3... 2... 1!"
Layar monitor berubah menjadi hijau.
OVERRIDE READY. PRESS RESET.
Vero tidak berpikir. Dia berdiri.
Turret itu langsung mengunci posisinya.
Vero membanting tangannya ke tombol merah besar itu.
TATATATA—
Vero merasakan dua peluru menembus paha dan perut sampingnya. Tubuhnya terpelanting jatuh.
Tapi tangannya... tangannya merasakan sentuhan tombol plastik itu tertekan ke bawah sampai mentok.
BEEP.
Suara tembakan berhenti.
Suara dengung mesin bom berhenti.
Layar monitor menampilkan teks statis:
SYSTEM RESET COMPLETE.
COUNTDOWN ABORTED.
SAFE MODE ENGAGED.
Vero tergeletak di lantai, darah menggenang di bawah tubuhnya. Dia menatap langit-langit kontainer. Turret itu kembali melipat masuk ke sarangnya.
"Sarah..." bisik Vero ke ponsel yang tergeletak di samping kepalanya. "Sarah...?"
"Vero! Indikatornya hijau! Kita berhasil! Oh Tuhan, kita berhasil!" Suara Sarah terdengar menangis lega. "Kau di sana? Vero?"
Vero tersenyum lemah. Pandangannya mulai gelap.
"Ya... berhasil..."
Dia memejamkan mata.
Akhirnya. Selesai.
Dia bisa istirahat. Dia bisa tidur tanpa harus bangun jam 7 pagi lagi.
Vero membiarkan kegelapan merenggutnya, kali ini dengan damai. Bukan kematian loop. Tapi kematian pahlawan.
...
...
...
Sentakan kasar.
Vero membuka mata.
Napasnya tertahan. Jantungnya berdegup kencang.
Dia melihat langit-langit gerbong logam yang kusam.
"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir Stasiun Pusat..."
Vero membeku.
Darahnya terasa sedingin es.
Dia menoleh perlahan ke jam tangannya.
07:16:05.
"Tidak..." bisik Vero. Suaranya pecah. "TIDAK!"
Dia menjerit. Jeritan panjang yang penuh keputusasaan murni.
Wanita tua di sebelahnya menjatuhkan keranjangnya karena kaget.
Kenapa?
Kenapa dia kembali?
Bomnya sudah mati! Sarah sudah meretasnya! Dia sudah menekan tombolnya!
Kenapa Loop-nya belum berakhir?
Kecuali...
Kecuali masih ada sesuatu yang dia lewatkan.
Sesuatu yang bukan bom.
Vero menatap tangan yang gemetar.
Waktu start sudah lewat jauh.
Dan dia baru sadar, "kemenangan" tadi hanyalah ilusi.
Ada variabel ketiga.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔