"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 12 : Pergi!
White mengencangkan lilitannya, menandakan dia merasakan bahaya di sekitar Theo. Di sisi lain, Theo dapat merasakan sesuatu yang besar ada tepat di belakangnya.
Ghrrr!
"Theo! Awas!" Lucy dan Silas sontak berteriak saat merasakan hawa membunuh yang amat sangat besar.
Monster di belakang Theo segera menyerang, beruntung Theo bisa menghindari monster itu.
Lagi-lagi, Theo dikejutkan oleh monster anjing yang mirip dengan yang ia lawan kemarin.
"White!"
"Kak, White nggak bisa. Maaf kak, White cuma bisa bikin bisa itu seminggu sekali."
"Sial, ok dah gapapa White."
Duar!
Anjing itu menyerang, menerkam, dan mencakar Theo. Theo menghindari semua serangan dan terkaman anjing itu. Namun, Theo terkejut melihat sesuatu yang tidak ia kira.
"Kakak, kakak udah nemu botol? hihihihi, senangnya bisa membantu."
Muka anak yang ia tolong, ada di leher si anjing menyatu dengan sempurna.
"Hah?!" Theo segera terkejut, tapi ia langsung berlari ke arah kediamannya.
"Masuk Theo, biar kami tahan."
Theo masuk, lalu mencelupkan botol yang ia dapat ke gentong bir hitam yang sudah asam.
'Kalau aku nggak bisa dapet sekarang, setidaknya bisa dapet kemudian hari.'
Theo segera menyimpan beberapa peralatan, botol, dan segala hal yang sekiranya dapat membantu perjalanan mereka di hutan.
Boom!
Duar!
"Theo, keluar sekarangggg! Waktunya lari!"
Theo segera keluar, desa telah hancur. Rumah-rumah warga sudah remuk, bahkan banyak rumah warga yang terbakar.
"Ini saatnya, kita kabur sekarang." Theo segera digendong oleh Silas.
Silas dan Lucy bergegas melesat ke arah hutan di belakang rumah mereka. Langkah mereka terhenti di sebuah gua. Tidak besar, bahkan hanya muat satu orang di dalamnya.
Silas segera menutup pintu batu, lalu ia mendorong Theo dan Lucy untuk terus maju.
"Percepat langkah! Anjing itu mungkin sudah dekat."
"Hei, Kau menginjak kakiku!" Lucy berteriak kesakitan.
Mereka pergi terus maju ke depan, sampai akhirnya mereka melihat adanya cahaya di ujung lorong gua.
"Itu, segera kita naik ke kapal, lalu kita kabur ke kuil. Sekarang!" Silas memberi komando kepada kedua orang di depannya.
Theo segera berlari, ia kemudian menaiki kapal. Sedangkan, Silas dan Lucy segera mendorong kapal itu.
Tidak lupa, Theo membuka layar kapal itu dan menyesuaikannya dengan arah angin.
"Huah... Akhirnya kita bisa lepas dari daratan. Oiya Theo, kalo kamu mau tidur, tidur aja ya."
Silas menghela nafas dan segera mendayung membantu supaya mereka bisa cepat menuju lepas pantai.
"Sebentar ya." Theo segera menutup matanya dan masuk ke ruang jiwa.
"Hmmm, kalo nggak salah aku pernah ambil buah yang manis deh."
Theo segera mencari buah yang manis, lalu ia menghancurkannya dan memerasnya. Mengisi gelas bir yang kebetulan ia bawa.
"Sekarang, aku akan membuat ini dulu. Memang belum sempurna. Tapi setidaknya aku udah berusaha." Theo kemudian menuangkan sedikit bir asam ke dalam gelas bir yang ia bawa.
Kemudian Theo memejamkan matanya di dunia itu.
'Coba aku rasakan aliran di dunia ini.'
Theo memulai meditasinya, merasakan aliran waktu dan ruang di sekitarnya. Semua terasa seperti aliran air. Ketika Theo mencoba mempercepat aliran itu, maka daerah tertentu akan mengalami percepatan waktu.
Ketika ia mencoba menambah ukuran di aliran tertentu, maka beberapa daerah akan berubah dan memiliki ruang yang berbeda.
'Ooh, jadi ini inti dari sihir ruang waktu? Ok. Sayang sekali hanya bisa aku pakai di ruang jiwa.'
Theo kemudian mempercepat aliran waktu di bagian gelas bir. Membuatnya bisa melihat lapisan putih tipis tumbuh di gelasnya.
"Akhirnya berhasil."
Theo kemudian keluar dari ruang jiwa.
"Hei, kamu punya sihir ruang?" ucap Lucy dengan santai.
"Hah? Ma— maksudmu?"
Theo terlihat gelagapan dengan pertanyaan Lucy.
"Tenang saja, meski sihir adalah hal yang dilarang di ordo kami, kami tetap akan menghargai mu."
"Dilarang?"
Silas yang tadinya fokus mendengar sambil mendayung, menyerahkan dayungnya ke Theo dan mulai bercerita.
"Bagi kami, Berkah dari Solina disebut sebagai Mukjizat, lihat ini." Silas mengambil pisau, lalu ia menggores tangannya dengan pisau.
"Oh Dewi ku Solina, hamba menghadap engkau memohon akan berkat kesembuhan dari segala penyakit."
Tiba-tiba, luka goresan pisau itu menghilang.
"Lihat, inilah mukjizat. Sedangkan sihir, biasanya dianggap sebagai bagian dari penyimpanan dan perilaku ingin menyerupai dewa. Jadi kami dilarang bahkan kami juga melarang sihir."
"Mungkin kami naif, tapi sepertinya kamu nggak akan berbahaya toh?" Lucy menyambung omongan dari Silas membuat Theo menjadi agak tidak enak hati.
"Haaahh... Akhirnya ketahuan juga. Ya begitulah, aku punya sihir ruang waktu. Namun, aku hanya bisa menggunakannya di ruang jiwa."
"Dari mana sihirnya Theo?"
"Umm, tadinya aku punya ular zamrud dua. Terus satu mati dan kasih aku kekuatan ini."
"Oh iya, aku lupa. Kamu punya hubungan kontrak sama ular mu itu tuan dan bawahan kan?" Lucy melirik Theo, terutama bagian lehernya yang dililit oleh White.
"Hmm...
Aku kurang tau ya, tapi aku waktu itu berjanji bakal jadi sodara sih. Toh dia juga manggil aku kakak."
Lucy dan Silas secara mendadak menatap dalam ke arah Theo.
"Kamu? Diakui hewan?"
"Hah, memang kenapa sih? Kan normal aku menyayanginya."
"Mmm... Theo sini." Lucy mendekatkan mulutnya ke telinga Theo.
"Pantas kamu bisa berbicara sama ular putih itu. Kalo gitu kamu bisa sihirnya dia juga dong?"
"Nggak."
Theo kemudian berhenti mendayung, dan dia mulai mengembangkan layarnya dan memegang tali kendalinya.
Meskipun Theo tidak pernah naik kapal layar, Theo tau cara pakainya karena dulu ia pernah naik kapal layar modern bersama ayahnya.
"Woah, kamu hebat juga." Silas tersenyum sambil menepuk pundak Theo.
"Yeah, dia memang hebat." Lucy mengelus dada Theo, kemudian ia langsung pergi melihat laut.
"Ngomong-ngomong, tadi ada yang bawa minum?"
Krik...
Krik...
Krik...
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Silas, hanya ada pandangan dan lirikan mata yang saling berbalas.
"Ah aku lupa, kalo mau kalian bisa minum ini."
Theo mengulurkan tangannya yang seketika membentuk lingkaran sihir.
Sebuah gelas keluar dari tangan Theo, menyebarkan bau menyengat yang sangat intens.
"Hoek." Silas segera memuntahkan isi perutnya ke laut, sedangkan Lucy hanya menutup mulutnya.
Rupanya, Lucy jauh lebih tahan dibandingkan Silas terhadap bau minuman yang ada di tangan Theo.
"Apa itu? Kenapa bisa bau banget?" Lucy bertanya kepada Theo penasaran dengan minuman yang Theo bawa.
"Mmm, ini sebenernya namanya, 'Kombucha' aku yakin kalian nggak pernah liat. Yah dulu di duniaku ini cukup terkenal, apalagi katanya bisa bikin kulit makin cantik."
"Yang bener?" Lucy masih menatap tajam Theo, tapi di dalam hatinya terdapat gejolak kesenangan yang begitu besar.
"Ya." Theo menjawab pertanyaan Lucy dengan yakin. Memang tidak secara langsung menyebabkan kulit menjadi sehat, tapi Theo tau usus yang sehat akan membuat kulit sehat.
Lucy segera mengambil gelas Theo, lalu ia meneguk air di gelas itu sampai habis.
"Ugh, jujur rasanya nggak begitu buruk. Baunya itu loh, hii." Lucy segera terkapar setelah meminum air di gelas yang diberi Theo.
"Eh, ngomong-ngomong... Ngantuk ya. Hoahmmm..." Theo menguap, disusul oleh Silas yang kemudian tertidur.
Di saat mereka sedang tertidur, sesuatu yang terlihat sangat besar sedang mendekati kapal mereka.
...****************...
End Ch. 12 : Pergi!
makasih semuanya, mohon like, comment, dan favoritnya ya.
Semua kritik dan saran terbuka untuk kalian semua.
Makasih semuanya