NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:581
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 JANTUNG TIDAK AMAN

Senyum Rubyy tipis terukir di bibirnya. Dalam hati, ia merasa sangat bangga dan salut kepada Gretta. Sahabatnya itu, yang biasanya pemalu dan sering ragu, hari ini berani berdiri tegap mengakui kesalahannya di hadapan Bu Yena yang terkenal galak. Mengambil napas lega, Ruby pun melangkah menjauh, kembali menuju ruang kelas.

Sementara itu, di dalam ruangan laboratorium yang kini sunyi dan masih menyisakan aroma hangus, Gretta baru saja melangkah masuk. Pandangannya langsung menyapu sekeliling ruangan yang berantakan sebelum akhirnya tertuju pada sebuah lemari kayu tua penyimpan peralatan kebersihan di sudut ruangan.

Ckiiit...

Suara engsel lemari yang sedikit berkarat itu memecah keheningan. Bunyi itu seketika membuat Gian menghentikan aktivitasnya. Pemuda yang sedang berjongkok mengumpulkan serpihan kaca gelas beker ke dalam kantong plastik tebal itu langsung menoleh ke arah pintu. Matanya sedikit melebar melihat kehadiran Gretta.

"Gree? Kenapa kamu masih di sini? Kenapa tidak ikut teman-teman masuk ke kelas?" tanya Gian dengan dahi berkerut bingung.

Gretta menelan ludah, tangannya kini sudah menggenggam gagang sapu erat-erat. "Emmm... tidak. Kejadian tadi itu murni salahku, bukan kesalahanmu. Jadi, sudah sepantasnya aku juga harus berada di sini dan ikut bertanggung jawab," ujar Gretta lalu berjalan melangkah mendekat ke arah Gian.

Mendengar itu, Gian buru-buru berdiri. "Tidak, Gree. Ini tetap salahku karena aku ketua kelompok dan tidak mengawasi kalian dengan benar," sela Gian cepat, berusaha menepis rasa bersalah gadis itu.

"Tidak! Pokoknya ini tetap salahku, Gian!" seru Gretta setengah kesal. Kepalanya yang keras kepala mulai mendominasi. Ia melangkah cepat ke arah meja praktikum mereka untuk segera membantu membersihkan sisa-sisa bubuk pemadam yang berserakan.

Gian menghela napas panjang, sadar bahwa mendebat Gretta saat ini adalah hal yang sia-sia. "Oh, ya sudahlah jika kamu memang memaksa," jawab Gian akhirnya menyerah.

Kini, Gretta sudah berada tepat di sampingnya. Mereka berdiri berdekatan, bekerja sama dalam diam. Gretta dengan telaten menyapu sisa-sisa bubuk putih dan serpihan kecil ke dalam pengki, sementara Gian memunguti sisa pecahan yang lebih besar. Suasana di antara mereka terasa aneh, sebuah perpaduan antara kecanggungan dan ketenangan yang sulit ditebak.

Waktu berlalu begitu cepat hingga sayup-sayup terdengar bunyi bel istirahat berdering dari arah gedung utama. Kekacauan di atas meja telah bersih sempurna. Kini, tugas mereka hanya tinggal satu: mengepel lantai keramik laboratorium yang kotor oleh jejak sepatu dan noda air.

Gian baru saja kembali dari wastafel belakang, menenteng sebuah ember berisi air yang telah dicampur dengan cairan pewangi lantai beraroma pinus. Di saat yang bersamaan, Gretta sudah memegang tongkat pel basah, bersiap untuk membersihkan lantai.

"Biar aku saja yang mengepelnya, Gian. Kamu sudah membersihkan pecahan kaca tadi," ujar Gretta sambil memosisikan kain pel ke lantai.

Namun, sebelum Gretta sempat menggerakkannya, tangan Gian sudah lebih dulu menahan bagian tengah gagang pel tersebut. "Sudahlah, Gree. Kamu duduk saja di kursi sana. Biar aku yang selesaikan bagian mengepel ini," balas Gian dengan nada dingin yang khas, berusaha merebut tongkat itu dari tangan Gretta.

"Tidak mau! Biar aku saja. Kamu sudah cukup banyak membantu dan melindungiku tadi," balas Gretta tidak mau mengalah. Tangannya mencengkeram gagang pel itu semakin erat.

"Ngotot banget sih jadi cewek," gerutu Gian kesal. Tangannya ikut menarik gagang pel itu ke arahnya.

"Biarin!" sungut Gretta.

Tarik-menarik yang kekanakan pun terjadi. Keduanya sama-sama keras kepala, menarik tongkat pel itu maju-mundur seperti sedang melakukan tarik tambang. Tanpa sadar, dalam salah satu tarikan kuat, kaki Gretta melangkah mundur secara serampangan.

Brak!

Ujung sepatu Gretta menendang keras ember berisi air pel di belakangnya. Air beraroma pinus yang licin itu tumpah membasahi lantai keramik. Gretta kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset di atas genangan air sabun.

"Kyaaa!"

Dalam refleks yang tak terelakkan saat tubuhnya jatuh ke belakang, kedua tangan Gretta mencengkeram kerah seragam Gian dengan kuat. Gian yang tidak siap menerima tarikan mendadak itu ikut terhuyung ke depan.

Bruk!

Keduanya jatuh menghantam lantai keramik. Udara seakan terhempas keluar dari paru-paru mereka. Namun, alih-alih merasakan sakit yang luar biasa, Gretta justru merasakan napas hangat menerpa wajahnya. Saat ia membuka mata, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Posisi mereka saat ini sangat di luar dugaan. Gian jatuh menindih tubuh Gretta, dengan kedua belah tangannya menahan beban tubuhnya sendiri di sisi kiri dan kanan kepala gadis itu agar tidak benar-benar meremukkan Gretta. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat fatal, hanya terpaut beberapa sentimeter. Hidung mereka nyaris bersentuhan.

Keheningan menyergap. Keduanya terpaku, saling menatap lekat ke dalam manik mata satu sama lain. Waktu seolah berhenti berputar.

Ternyata... dia seimut ini jika dilihat dari jarak sedekat ini, batin Gian tanpa sadar. Matanya tak bisa lepas dari sepasang bola mata cokelat terang milik Gretta yang kini membulat sempurna karena kaget.

Di bawah tatapan intens itu, napas Gretta menjadi tidak beraturan. Tenang, Gree... ada apa denganmu? Kenapa jantungku berdegup kencang begini? batin Gretta panik dengan pipi yang memerah.

Tanpa mereka sadari, adegan itu di lihat oleh dua cewek Di luar laboratorium, tepat di balik jendela kaca buram. Yaitu Ruby dan Nana menempelkan wajah serta kedua telapak tangan mereka di kaca jendela, mengintip ke dalam ruangan bagaikan detektif amatir.

"Wah... pemandangan yang sangat menegangkan," gumam Ruby tanpa mengalihkan pandangannya, tersenyum jahil melihat posisi kedua temannya di lantai.

"Benar sekali, ini adalah pemandangan luar biasa yang tidak akan datang dua kali," bisik Nana menimpali, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan melihat bibit-bibit romansa mekar di hadapannya.

Namun, momen emas itu hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

"HEEEI! Pemandangan apa yang kalian berdua maksud?!"

Teriakan melengking Reo yang tiba-tiba muncul dari koridor meledak bak petir di siang bolong. Suara teriakannya mengejutkan Ruby dan Nana, tetapi juga menembus celah ventilasi laboratorium, menggema langsung ke telinga dua insan yang sedang berdebar di dalam sana.

Gian tersentak hebat, kesadarannya ditarik paksa kembali ke realita. Dengan wajah yang mendadak memerah, ia buru-buru bangkit berdiri. Ia lalu mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar, menarik lengan Gretta untuk membantunya ikut berdiri.

Di luar jendela, kekacauan kecil tengah terjadi.

"Ihh! Apa sih kamu?! Pake teriak-teriak segala! Kan jadinya tontonan kita berdurasi singkat dong!" pekik Nana kesal, mendaratkan pukulan ringan di lengan Reo.

Reo yang kebingungan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, maaf... aku kan tidak sengaja. Habisnya kalian ngapain nempel di kaca begitu?" sahut Reo cengengesan tanpa rasa bersalah.

Sementara itu, di dalam ruangan, atmosfer berubah menjadi luar biasa canggung. Udara terasa panas dan tebal. Gretta menundukkan wajahnya dalam-dalam, berharap lantai laboratorium bisa terbuka dan menelannya saat ini juga. Pipinya sudah semerah tomat rebus.

"B-biar aku saja yang mengepel lantai ini," ujar Gretta terbata-bata. Ia buru-buru mengambil tongkat pel yang tergeletak, memunggunginya Gian, dan mulai mengepel dengan gerakan cepat yang sedikit tidak beraturan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.

Gian menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. "Y-ya sudah... kalau begitu, aku akan membersihkan meja yang di sebelah sana," gumam Gian dengan suara serak, grogi. Ia melangkah ke arah meja yang sebenarnya sudah bersih, hanya memutar-mutar lap kain di atas permukaan porselen tanpa tujuan yang jelas.

Dari luar, Nana yang menyadari bahwa mereka telah ketahuan segera bertindak. "Udah, udah, ayo cepat pergi dari sini! Jangan ganggu mereka berdua lagi," ujar Nana panik.

Ruby mengangguk setuju dan langsung menarik kerah seragam Reo. Mereka bertiga berjalan berjongkok, mengendap-endap di bawah ambang jendela agar tidak terlihat dari dalam. Padahal, dari sudut matanya, Gian sudah sangat jelas melihat ujung kepala mereka yang bergerak menjauh seperti rombongan ninja amatir.

Anak-anak itu benar-benar mengganggu saja, rutuk Gian dalam hati, menghela napas panjang.

Dua puluh menit berlalu dengan penuh kecanggungan dan kebisuan, hingga akhirnya lantai laboratorium kembali kering dan bersih. Pekerjaan mereka selesai. Keduanya kini berdiri berdampingan di depan pintu luar laboratorium.

Gretta meremas ujung rok seragamnya, masih merasa malu jika mengingat kejadian jatuhnya tadi. Ia memberanikan diri mendongak menatap Gian.

"Makasih ya, Gian... karena sudah membantuku membereskan semuanya," ujar Gretta dengan suara lembut dan wajah yang sedikit merona.

Gian terbatuk kecil, memalingkan wajahnya ke arah lapangan. Namun, Gretta bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kedua ujung telinga pemuda itu memerah padam seperti kepiting rebus.

"H-ha? Iya... iya sama-sama. Ya sudah, aku kembali ke kelas dulu yah," balas Gian cepat, mengalihkan pembicaraan karena tidak sanggup menahan rasa salah tingkahnya.

Tanpa menunggu balasan, Gian langsung memutar tubuh dan mengambil langkah lebar menyusuri koridor. Ia berjalan cepat, seolah sedang dikejar sesuatu. Gretta tersenyum kecil melihat tingkah laku pemuda es itu. Ia pun mempercepat langkahnya, mengikuti bayangan Gian dari belakang menuju ruang kelas dua-C, membawa serta debaran aneh yang masih tertinggal di dalam dadanya.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!