NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Hening

Ratapan roda kereta di atas rel besi menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di antara mereka malam itu. Senja telah sepenuhnya tenggelam di cakrawala, digantikan oleh jubah malam yang mulai membentang luas. Cahaya lampu kota di luar jendela berpendar bergantian, melemparkan siluet bayangan yang menari-nari di dalam gerbong yang sepi, menciptakan ilusi ruang yang hanya milik mereka berdua.

Di sudut kursi itu, Gian dan Gretta duduk berdampingan. Jarak di antara mereka begitu tipis—bahkan setiap kali kereta berguncang pelan melewati tikungan, lengan mereka akan saling bersentuhan, menyalurkan kehangatan yang samar namun mendebarkan. Atmosfer di antara mereka terasa begitu padat oleh kecanggungan yang tak kasat mata, membuat udara malam yang dingin mendadak terasa hangat dan menyesakkan bagi Gretta.

Gretta meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Pandangannya terpaku pada sepasang tangannya yang gemetar kecil, mencoba sekuat tenaga mengalihkan fokus dari debaran jantungnya. Baginya, kehadiran Gian di sisinya saat ini terasa seperti sebuah keajaiban yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Perlahan, ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara malam, berusaha menenangkan gemuruh di dalam dadanya sebelum memberanikan diri membuka suara.

"Terima kasih, Gian... sudah membantuku tadi," bisik Gretta.

Suaranya begitu lirih, nyaris tenggelam oleh deru mesin kereta, sementara kepalanya tetap tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya.

Gian menoleh. "Apa bisa kamu mengatakannya sambil melihat ke arahku?" ujar Gian. Nadanya terdengar berat, namun ada kelembutan yang tersembunyi di balik ketegasannya yang biasanya dingin.

Gretta bergeming, masih terlalu takut untuk menatap mata Gian.

Melihat tidak ada respons, Gian menghela napas lagi. Kali ini, ia bergeser sedikit lebih dekat, mengikis sisa jarak yang ada di antara mereka hingga aroma maskulin khas tubuhnya tercium samar oleh Gretta.

"Lihat aku seperti ini," gumam Gian pelan.

Tanpa peringatan, tangan kekar Gian bergerak naik. Dengan gerakan yang teramat lembut—seolah takut akan memecahkan porselen yang rapuh—ia meraih sisi kepala Gretta. Telapak tangannya yang hangat menangkup rahang gadis itu, menyalurkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kuduk Gretta meremang. Dengan perlahan namun pasti, Gian menuntut wajah Gretta agar terangkat, memaksanya untuk menatap lurus ke arahnya.

Saat manik mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti berputar. Riuh rendah suara kereta mendadak senyap, menyisakan keheningan magis yang mengunci keduanya dalam tatapan yang mendalam. Manik mata Gian yang biasanya sedingin es dan tak tersentuh, kini memancarkan kilau yang begitu pekat, mencerminkan seluruh kerentanan dan ketakutan Gretta di dalamnya. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa sekian sentimeter; Gretta bahkan bisa merasakan embusan napas hangat Gian yang menerpa kulit wajahnya.

Kesadaran akan kedekatan yang begitu intim ini menghantam keduanya secara bersamaan. Jantung mereka berdegup dalam ritme yang sama, cepat, keras, dan tak beraturan. Detik berikutnya, jalinan tatapan yang membakar itu terputus sepihak. Seperti tersengat sesuatu yang tak terlihat, keduanya langsung memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dengan gerakan yang sangat kikuk. Rona merah yang hebat kini menjalar pasrah, menghiasi pipi hingga ke ujung telinga mereka yang memanas hebat.

Gian berdeham pelan, berusaha mengusir kecanggungan yang tiba-tiba mencekik tenggorokannya. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap lurus ke luar jendela kaca, berpura-pura sangat tertarik pada kegelapan malam yang pekat di luar sana untuk menyembunyikan salah tingkahnya.

"Maaf..." gumam Gian, suaranya sedikit serak sebelum ia berdeham lagi untuk menstabilkan suaranya. "Tapi lain kali... belajar untuk lebih berani jika kamu digituin lagi. Jangan hanya diam dan membiarkan dirimu ditindas."

Gretta menggigit bibir bawahnya, merasakan kehangatan yang aneh menjalar dan mekar di relung hatinya. Di balik kata-kata ketat itu, ia tahu ada rasa kepedulian yang begitu besar. Ia mengangguk pelan, meski Gian tidak sedang menatapnya.

"Iya, aku akan mencobanya," sahut Gretta gugup. Keheningan kembali merayap, namun rasa penasaran yang membuncah di dalam dada Gretta mendadak mengalahkan rasa takutnya. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, ia menoleh sedikit ke arah Gian. "Tapi... kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal... yang aku tahu selama ini, kamu sangat anti dengan wanita."

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, jujur, polos, dan telanjang, memecah kesunyian gerbong malam.

Gian terdiam seketika. Gerakan tangannya yang menopang dagu perlahan turun. Kereta melaju semakin cepat menembus kegelapan, seolah membawa mereka berlari dari dunia luar menuju sebuah dimensi yang hanya diciptakan khusus untuk mereka berdua.

Perlahan, Gian memutar tubuhnya kembali menghadap Gretta. Sifat dingin dan dinding pertahanan tebal yang biasanya ia bangun dengan kokoh runtuh sepenuhnya dalam sekejap. Tatapan matanya melunak, berganti menjadi sebuah binar hangat, teduh, dan penuh rasa sayang yang mendalam. Ia menatap Gretta seolah gadis di hadapannya adalah satu-satunya hal paling berharga yang ada di semesta ini.

"Karena aku menyukaimu," lirik Gian dengan tatapan yang begitu dingin, mengunci seluruh indra dan kesadaran Gretta.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!