NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Runtuhnya Kekaisaran Dirgantara

Gema langkah kaki Adrian dan Renata yang meninggalkan ruang kerja Menteng seolah menjadi dentang lonceng kematian bagi kejayaan Tuan Besar Albert Dirgantara. Di dalam ruangan yang kini terasa seperti makam kuno itu, sang singa tua perlahan merosot ke kursi kebesarannya. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun menahan pasang surut amarah dan syok yang menghantam sistem saraf tuanya.

​"Bocah kurang ajar... Anak haram jadah!" raung Albert, menyapu bersih barang-barang di atas meja jatinya dengan tongkat perak hingga cangkir porselen, vas bunga, dan laptopnya hancur berantakan di atas lantai marmer.

​Namun, raungan itu tak lagi memiliki taji. Di luar sana, roda takdir yang digerakkan oleh Adrian dan Renata sudah berputar dengan kecepatan yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.

​Tepat pukul sepuluh pagi, badai yang sesungguhnya menghantam pusat roda ekonomi Jakarta. Begitu dokumen digital Mahardika Group terverifikasi oleh sistem otoritas bursa efek dan Biro Investigasi Federal, sebuah tombol darurat seolah ditekan.

​Di lantai perdagangan saham, papan elektronik raksasa yang menampilkan kode saham DRGT (Dirgantara Group) seketika berubah warna menjadi merah menyala. Angka-angka indeksnya terjun bebas tanpa ampun. Dalam waktu tiga puluh menit pertama, nilai valuasi perusahaan menyusut hingga tiga puluh persen, sebelum akhirnya menyentuh angka batas bawah—menguapkan dana ratusan triliun rupiah dalam hitungan detik. Kepanikan massal melanda para investor asing. Panggilan telepon dari berbagai penjuru dunia berdering tanpa henti di meja divisi humas, namun tidak ada satu pun yang bisa memberikan jawaban.

​Di lantai 50 gedung pusat Dirgantara Group, atmosfer berubah drastis menjadi layaknya sebuah pusat komando perang. Para dewan direksi dan kepala divisi berlarian di koridor dengan wajah pucat pasi, memegang tumpukan dokumen pembatalan kontrak sepihak dari para mitra bisnis.

​Adrian dan Renata melangkah masuk ke dalam ruang rapat utama dengan ketenangan yang kontras dengan kekacauan di sekeliling mereka. Adrian telah menanggalkan jas abu-abunya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung, memancarkan aura seorang jenderal yang siap bertarung di garis depan. Di sampingnya, Renata duduk dengan laptop yang terus menyala, menampilkan grafik likuiditas perusahaan yang merosot tajam.

​"Tuan Adrian! Ini gila!" seru salah satu direktur senior, berdiri dengan tubuh gemetar. "Otoritas bursa baru saja melakukan suspend (pembekuan) total pada perdagangan saham kita! Semua aset perusahaan di dalam negeri dikunci untuk proses penyelidikan kejahatan masa lalu Tuan Besar Albert! Kita akan kolaps dalam waktu dua puluh empat jam jika tidak ada suntikan dana segar!"

​Adrian meletakkan kedua telapak tangan tegapnya di atas meja marmer, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan yang membuat seluruh direksi seketika bungkam.

​"Tenang," satu kata dari Adrian bergema dengan otoritas yang mutlak. "Kehancuran ini memang harus terjadi. Dirgantara Group yang lama, yang dibangun di atas fondasi darah dan kelicikan Albert Dirgantara, hari ini resmi mati. Tapi saya tidak membawa kalian ke sini untuk ikut terkubur."

​Adrian melirik Renata, memberikan isyarat dengan anggukan kepala yang tegas.

​Renata menekan satu tombol di papan ketiknya, mengalihkan proyeksi layar utama di ruang rapat. "Perhatikan layar kalian," suara Renata terdengar jernih, dingin, dan penuh keyakinan. "Pembekuan aset oleh negara hanya berlaku untuk entitas hukum Dirgantara Group dan aset pribadi atas nama Albert Dirgantara. Melalui hak waris sah Mahardika Group yang baru saja dipulihkan oleh pengadilan internasional subuh tadi, ibuku Elena Mahardika telah mengalihkan seluruh likuiditas sisa kekayaan Mahardika sebesar lima puluh triliun rupiah ke dalam sebuah perusahaan cangkang baru bernama Phoenix Holding."

​Renata menatap para direksi satu per satu, jemarinya lincah menembus enkripsi keamanan perbankan internasional. "Mulai detik ini, Phoenix Holding akan mengambil alih paksa terhadap lima anak perusahaan strategis Dirgantara Group yang bersih dari kasus korporasi masa lalu. Kita memotong cabang yang busuk, dan menyelamatkan akar yang sehat."

​Mendengar penjelasan logis dan taktis dari Renata, kepanikan di wajah para direksi perlahan memudar, digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa. Wanita yang selama ini dianggap sebagai orang asing di dalam keluarga Dirgantara, ternyata adalah malaikat penyelamat yang membawa kunci masa depan mereka.

Selamat Hari Raya AidilAdha🙏♥️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!