NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 32: KERANJANG PENUH KATA MAAF DAN

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 32: KERANJANG PENUH KATA MAAF DAN KETULUSAN HATI

Akhirnya, semua permasalahan yang sempat memanas dan menimbulkan keributan pagi itu selesai sudah. Bu Lusi dan suaminya memohon maaf dengan tulus, mengakui kesalahan besar mereka telah menuduh dan memfitnah Ria tanpa bukti.

"Maafkan kami ya Nak, Bu Maria... Kami sadar sekarang, pendidikan tinggi itu harusnya berguna untuk kebaikan semua, bukan untuk menyombongkan diri atau menghina orang lain. Kami sadar, di atas langit masih ada langit lagi. Kami janji, gak akan ada lagi halangan atau gangguan, kami minta maaf sekali lagi," kata Bu Lusi dengan hati yang sudah tenang dan sadar diri.

Tak ketinggalan, Bu Yayik dan Pak Agus juga turut meminta maaf berkali-kali. Mereka merasa ikut bersalah karena kedatangan mereka dan masalah Bastian malah bikin rumah Ria jadi rusuh dan kedatangan masalah. Tapi bagi Ria, semua kejadian itu sudah biasa, sudah jadi makanan sehari-hari hatinya menerima ujian.

Bu Yayik mendekati Ria sambil memegang tangannya lembut.

"Nak Ria... Ibu minta maaf banget ya... Jangan marah sama kami ya Nak... Tolonglah terus mengajari Bastian ya Nak, tolong ya..."

Ria menatap Bu Yayik sambil tersenyum polos dan sedikit bercanda.

"Ibu Yayik ini lho... Kenapa Ibu yang minta maaf terus? Kan yang salah dan marah-marah itu Bu Lusi, kok Ibu yang sibuk minta maaf terus sih? Lihat nih Bu, keranjang yang tadi Ria bawa mau ambil terong di belakang rumah aja, niatnya mau isi sayur, eh malah isinya penuh sama kata maaf dari Ibu semua hahaha..."

Seketika suasana yang tadinya serius berubah jadi riuh tawa semua orang yang ada di situ.

"Ha ha ha ha... Kamu ini ya... Ada aja kelakuanmu dan omonganmu ya dik ," kata Abang Arefin sambil menggeleng-geleng kepala gemas.

Ria malah makin semangat mengajak mereka.

"Bu Yayik... Mau masak terong gak nih? Atau mau bayam, kacang panjang, apa cabai? Kalau mau ambil, ayo ikut Ria ke belakang rumah aja, ambil sendiri sepuasnya!"

"Lho? Emang banyak tanamanmu Nak? Apa cukup buat kami ambil?" tanya Bu Yayik kaget.

"Insyaallah banyak kok Bu... Tanah di belakang rumah kami ini subur banget, apa aja tumbuhnya bagus," jawab Ria mantap.

Pak Agus pun langsung berkomentar sambil membayangkan masakan enak.

"Bu... Kalau terong ungu itu enak lho kalau dimasak balado, pedas-pedas gurih gitu. Enak sekali kayanya..."

"Boleh juga tuh Pak... Ayo kita lihat kebunnya sekalian," jawab Bu Yayik setuju.

Akhirnya mereka semua berjalan beriringan menuju kebun belakang rumah Ria. Bu Yayik, Pak Agus, Abang Ardiansyah, dan Abang Arefin ikut sama-sama penasaran. Begitu masuk ke area kebun, mata Pak Agus terbelalak kagum tak percaya. Di belakang rumah gubuk kecil itu, ternyata tersimpan kebun yang luar biasa subur dan rapi. Beraneka ragam tanaman tumbuh berbaris rapi: ada cabai rawit merah dan hijau yang buahnya lebat siap dipanen, ada cabai besar, terong ungu yang mengkilap, bayam, kacang panjang, dan singkong yang batangnya tinggi-tinggi. Semuanya terawat dengan sangat baik, bukti ketelatenan tangan Ria.

"Silakan Bu... Pak... Mau ambil sayur apa saja silakan, ambil yang sudah tua atau yang sudah besar ya, biar yang kecil-kecilnya masih bisa tumbuh lagi," kata Ria ramah.

Bu Yayik pun langsung memetik terong ungu yang besar-besar, lalu memetik cabai rawit merah yang masih sangat segar dan alami, tanpa pupuk kimia sama sekali.

Pak Agus menunjuk ke arah rumpun singkong yang daunnya lebat.

"Nak Ardiansyah... Boleh gak Bapak minta daun singkongnya nih? Kelihatannya empuk dan enak banget buat sayur, segar sekali," pinta Pak Agus.

"Eh silakan Pak... Kapan pun Bapak butuh atau mau ambil, ambil aja Pak, gak usah sungkan. Di sini banyak sekali," jawab Abang Ardiansyah santai.

Setelah keranjang dan tangan mereka cukup penuh dengan hasil bumi, mereka pun berpamitan pulang.

"Bu Maria, Hamza, Arefin, Ardiansyah, dan Nak Ria... Terimakasih banyak ya. Kami datang tadi gak bawa apa-apa, eh pulangnya tangan penuh dibawain rezeki dari kebun kalian. Terimakasih banyak ya," kata Pak Agus senang sekali.

"Ha ha ha... Bisa aja Bapak ini. Iya sama-sama Pak, Bu... Sama-sama," jawab Abang Hamza tertawa.

Pak Agus menoleh ke arah anaknya. "Bastian... Ayah sama Mama mau pulang dulu ya. Kamu mau ikut pulang atau mau main-main dulu di sini?"

"Ayah... Mama... Bastian mau main dulu di sini ya, mau main sama Demas sama Bagas ya... Nanti pulang sendiri aja ya," jawab Bastian minta izin.

"Baiklah... Tapi jangan nakal ya nak, jangan bikin susah Kak Ria," pesan Bu Yayik.

Setelah tamu-tamu itu pulang, suasana kembali tenang. Bunda pun mengingatkan anak-anaknya.

"Nah... Abang-abang semua, ayo sarapan dulu. Udah siang banget ini. Nanti pada mau berangkat kerja ke kebun kopi kan? Makan dulu biar kuat kerjanya," kata Bunda lembut.

"Iya Bun... Ayo sarapan," jawab mereka serentak.

Ria pun ikut duduk makan bersama keluarga. "Hadeh... Ria jadi kesiangan nih Bun, pagi tadi kan ada keributan tadi. Padahal kalau gak ada apa-apa, pagi-pagi pasti udah jadi berita heboh di kampung, pasti jadi bahan pembicaraan di setiap rumah, apalagi yang punya radio atau tv pasti jadi berita utama hahaha..."

"Ya Allah anak ini... Mulutnya ya ampun, bikin orang mau marah aja jadi gak jadi marah terus," kata Abang Hamza geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

Di sela-sela makan, Ria bertanya pada Bastian yang duduk diam.

"Bastian... Kamu udah sarapan belum? Tadi dari rumah belum makan kan?"

"Heee... Belum Kak. Tadi Mama baru mau ke warung belanja sayur, eh dipanggil Abang Arefin terus langsung ke sini, jadi belum sempat masak," jawab Bastian polos.

"Oalah... Ya sudah, mau gak ikut sarapan di rumah Kakak aja? Yuk... Tapi ingat ya, lauknya cuma sederhana: ada sayur daun singkong, ada sambal goreng, sama sayur bening bayam aja. Gimana mau gak? Sederhana aja lho," tawar Ria ramah.

"Mau Kak! Boleh banget!" jawab Bastian semangat.

Akhirnya mereka makan bersama dengan nikmat luar biasa. Di tengah asyiknya mengunyah dan mengobrol, tiba-tiba Bastian bersuara lantang sambil menambah nasi lagi.

"Kak Ria... Boleh gak Bastian tambah nasi lagi? Enak banget lho masakan rumah Kakak! Apalagi daun singkongnya, dimasak gurih gini enak banget Kak. Kalau Mama masak daun singkong cuma disantan aja, gak seenak ini," puji Bastian polos.

"Ha ha ha... Boleh dong... Ayo silakan tambah lagi nasi sama lauknya ya, ambil sepuasnya," jawab Ria senang.

Ria bergumam pelan dalam hatinya: "Inilah nikmatnya hidup... Kalau kita bisa menikmati apa yang ada dan apa yang sederhana, rasanya akan lebih nikmat daripada makan daging mewah sekalipun. Semuanya terasa enak kalau hati kita bersyukur."

 

Hari-hari terus berlalu silih berganti, sampai tibalah saat yang dinanti sekaligus mendebarkan hati. Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru. Hari Senin pagi, suasana desa jadi ramai sekali. Ada yang sibuk bersiap berangkat kerja, ada anak-anak yang sibuk memakai seragam baru, dan ada juga yang bersiap ke sekolah.

Ria pun sudah siap di sudut rumah, mengenakan seragam sekolahnya lengkap dengan jilbab putihnya. Warna seragam dan jilbab itu sebenarnya sudah tidak putih bersih lagi, sudah agak kusam dan pudar karena terlalu lama dipakai bertahun-tahun, belum sempat diganti yang baru. Tapi bagi Ria, itu bukan masalah besar. Yang penting rapi, bersih, dan sopan, itu saja sudah cukup baginya.

Setelah selesai sarapan, Ria menghampiri Bunda yang sedang membereskan meja makan.

"Bun... Ria berangkat dulu ya... Doakan Ria ya Bun, biar semua lancar, gak ada hambatan apa-apa di sekolah nanti ya Bun..."

Bunda mengusap kepala Ria dengan penuh kasih sayang dan doa tulus.

"Tentunya Nak... Setiap langkah kaki anak Bunda, semua selalu Bunda doakan. Ke mana pun kalian pergi, Bunda selalu kirim doa yang terbaik buat kalian semua," jawab Bunda lembut.

"Assalamualaikum Bunda... Assalamualaikum Abang semua..." pamit Ria.

"Dik... Tunggu sebentar... Apa Abang ikut anterin ke sekolah gak? Abang takut nanti Ria dijahilin atau diejek sama teman sekelasmu lho Dik," tanya Abang Hamza khawatir.

Ria tersenyum tenang menggeleng.

"Maaf ya Bang... Mungkin hari ini Ria pulang lebih awal aja. Kan biasanya hari pertama masuk sekolah belum ada pelajaran yang berat-berat kok Bang. Tenang aja... Semua akan Ria serahkan sama Allah aja nanti."

Di sepanjang jalan menuju sekolah, langkah Ria terasa ringan namun hatinya sudah bersiap menerima apa saja yang akan datang. "Dicaci, dikatai, diejek, dihina... itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi Ria ya Allah. Semoga suatu saat nanti Allah membuka hati mereka, menyadarkan mereka akan kesalahannya, dan mengubah hati mereka jadi lebih baik lagi," gumam Ria dalam hatinya dengan penuh ketabahan dan ketulusan yang luar biasa.

Langkah kaki kecil itu terus melangkah maju, siap menghadapi dunia luar yang keras, dengan bekal iman yang kuat dan hati yang seluas samudera.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!