Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Saling Menyalahkan
Gedung itu terlihat roboh membuat orang-orang yang berada di luar tampak kaget.
"Ayo selamatkan yang di dalam!" teriak Aska memberi perintah kepada anak buahnya yang kebetulan saat kejadian tersebut dia berada di luar.
Gedung tersebut tidak roboh secara langsung datar begitu saja, di bagian lobby-nya bahkan masih bisa orang berdiri dan membuat semua orang berlari untuk menyelamatkan orang-orang yang sudah sempat dibawa ke dalam rumah sakit tersebut.
Para tentara bergegas cepat, mereka harus pelan-pelan karena jika tidak gedung itu akan semakin roboh dan mungkin tidak bisa menyelamatkan yang lain.
Sementara Zivanna terjebak di dalam ruangan yang mana saat ini tingginya hanya sejengkal lagi di atas kepalanya.
Nafasnya naik turun di saat kakinya tertimpa sesuatu. Zivanna melihat tempat itu semakin gelap, mungkin karena bangunan di atasnya sudah menimpa, tetapi masi untung tidak seluruh tubuhnya tertimpa.
"Tolong....." Zivanna memanggil dengan suara yang begitu pelan.
Bagaimana tidak iya benar-benar terjebak dalam situasi yang gelap, sempit, pengap dan tidak ada orang di sana. Dengan posisi duduk dan bersandar pada dinding, tetapi sayang sekali kakinya tertimpa lemari yang membuatnya tidak bisa bergerak.
Situasi yang terjadi di ujung perbatasan akhirnya sampai ke kota. Para ke petinggi rumah sakit terlihat berkumpul dengan rapat dan termasuk Dikta juga berada di sana yang ikut bersama beberapa komisaris.
"Astagfirullah, bagaimana semua ini bisa terjadi," ucap Andra terlihat panik dengan apa yang telah terjadi di ujung perbatasan.
"Apa sudah ada telepon dari desa ujung perbatasan?" tanya Andra.
"Kami saat ini sedang menunggu panggilan telepon, mungkin karena cuaca buruk dengan hujan deras dan angin kencang membuat jaringan semakin terkendala," jawab salah satu pria yang juga memiliki posisi cukup tinggi di rumah sakit tersebut.
Dratt-dratt-drat.
Fokus mereka semua teralihkan pada bunyi telepon yang langsung diangkat oleh pria tersebut yang mungkin menjadi perwakilan untuk menerima informasi. Semua orang tampak tegang, ingin mengetahui bagaimana kondisi di ujung perbatasan setelah dilakukan evakuasi.
"Baiklah, terima kasih untuk informasinya dan terus berikan informasi kepada kami," ucap pria itu mengakhiri panggilan teleponnya.
"Bagaimana?" tanya Andara.
"Di saat kejadian robohnya rumah sakit, sempat ada beberapa pasien yang sudah berada di rumah sakit itu, ada beberapa warga yang belum dapat dievakuasi di dalam gedung tersebut saat membersihkan rumah sakit, setelah 8 jam evakuasi dilakukan para tentara di rumah sakit tersebut, dua anak-anak tewas, lalu 8 orang dewasa belum ditemukan dan termasuk salah satu Dokter yang bertugas untuk menjadi Dokter relawan," jelas pria tersebut menyampaikan informasi yang baru saja dia terima.
"Siapa dokternya?" tanya Dikta tampak begitu serius dengan tatapan matanya yang benar-benar penasaran pada Dokter yang dimaksudkan.
"Dokter Zivanna," jawab pria itu membuat Dikta kaget dan begitu juga dengan Andra.
"Apah!" Andra sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah dilakukan evakuasi selama 8 jam, dan tidak ditemukan Dokter Zivanna, karena bangunan yang roboh membuat para tentara kesulitan untuk mengevakuasi dan terlebih lagi cuaca buruk!" jelas pria tersebut memberi informasi dengan jelas.
"Siapkan helikopter sekarang juga, kirim beberapa Dokter dan juga perawat untuk menangani masalah yang ada di ujung perbatasan!" tegas Andra dengan cepat mengambil langkah dan bagaimana tidak jika putrinya telah menjadi korban.
Andra terlihat frustasi dan kemudian meninggalkan tempat itu. Dikta menyusul ayah mertuanya itu.
"Ya Allah bagaimana mungkin putriku menjadi korban di rumah sakit itu," Andra terlihat bingung dengan mata berkaca-kaca berjalan di koridor rumah sakit.
"Pa!" Dikta mengejar ayah mertuanya itu membuat langkah Andra terhenti.
"Papa akan pergi ke ujung perbatasan?" tanya Dikta.
"Ya, saya harus pergi untuk menyelamatkan Zivanna, Papa sekarang akan pulang dulu untuk memberitahu kabar ini kepada Mama kamu dan pasti ini akan menjadi kabar yang paling buruk, dia pasti sangat khawatir," ucap Andra.
"Saya juga akan ikut," ucap Andra.
"Ya, kamu memang harus ikut bagaimanapun Zivanna adalah istri kamu yang sudah menjadi korban," ucap Andra.
"Jangan lupa Dikta, kamu juga perintahkan kepada bagian tim penyelamat untuk menyiapkan alat berat, gedung itu harus dirobohkan untuk mengevakuasi orang-orang yang terjebak di dalamnya," ucap Andra tiba-tiba saja dengan cepat mengambil keputusan membuat Dikta mengerutkan dahi.
"Apa maksud Papa? Papa ingin merobohkan gedung itu menggunakan alat berat sementara masih ada beberapa orang di dalamnya dan termasuk Zivanna?" tanya Dikta.
"Bukankah itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan orang-orang yang ada di dalamnya," sahut Andra.
"Tidak! dengan menggunakan alat berat yang adanya rumah sakit akan semakin roboh, orang yang ada di dalamnya akan semakin tertimpa dan jangan lupa jika Zivanna ada di sana!" tegas Dikta menekankan dengan protes kepada ayah mertuanya itu.
"Dikta, saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan. Zivanna adalah putri saya dan sebagai seorang ayah, saya akan melakukan apapun untuk menyelamatkan putrinya!" tegas Andra.
"Apa yang Papa lakukan bukan untuk menyelamatkan Zivanna, tetapi justru memperburuk masalah dan membahayakan nyawa Zivanna, seharusnya Zivanna masih bisa diselamatkan dan digunakan alat berat untuk merobohkan gedung itu yang artinya orang-orang yang ada di dalamnya akan semakin tertimpa dan tidak akan ada penyelamatan!" tegas Dikta penuh penekanan.
"Saya bahkan sudah mengingatkan terlebih dahulu untuk tidak menggunakan rumah sakit itu sebagai tempat darurat, karena rumah sakit itu sempat terbengkalai pembangunannya, belum bisa dipastikan kekuatannya dan apalagi cuaca di ujung perbatasan tidak baik, yang mana setiap cuaca buruk maka akan ada angin kencang dan ini yang terjadi!" ucap Dikta menekankan suaranya.
Andra seperti merasa disalahkan membuatnya tiba-tiba saja mencengkram kerah baju Dikta dengan menatap Dikta tajam.
"Kamu menyalahkan saya atau terjadinya kerobohon rumah sakit di ujung perbatasan!" ucap Andra tidak terima dengan apa yang dikatakan Dikta.
"Bukan menyalahkan dan seharusnya menjadikan pelajaran atas keputusan yang diambil begitu cepat dan untuk tidak mengulangi untuk memanggil keputusan itu lagi!" tegas Dikta.
"Dikta, kamu sebaiknya kurangi porsi bicara kamu kepada saya, saya ini ayah mertua kamu, kamu jangan menggurui saya seolah-olah kamu yang benar, Zivanna adalah putri saya dan saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan untuknya!" tegas Andra.
"Tetapi Zivanna adalah istri saya, dan saya juga tahu apa yang terbaik untuknya!" tegas Dikta.
Hubungan yang terlihat di kacamata Zivanna selama ini bagaimana ayahnya seperti berpihak kepada Dikta ternyata tidak sama dengan pandangan lain di antara keduanya saling menatap tajam dan seperti ada persaingan yang tidak sepaham.
"Kamu yang telah mengirim Zivanna untuk menjadi Dokter relawan!" tegas Andra yang akhirnya melepaskan cengkraman kerah baju tersebut dengan kasar dan langsung berlalu dari hadapan Dikta.
Ternyata dia tidak ingin disalahkan sendirian. Ya jika bukan Dikta mengirim putrinya untuk menjadi Dokter relawan dan mungkin putrinya tidak akan menjadi korban.
Dikta menghela nafas, sungguh dia benar-benar frustasi dengan apa yang terjadi, matanya berkaca-kaca dan juga terlihat panik.
Dikta hanya berusaha untuk tenang dan berpikir positif jika istrinya pasti baik-baik saja. Mungkin saja Dikta juga merasa bersalah karena Zivanna ke rumah sakit tersebut. Tetapi mau bagaimana lagi, Zivanna sudah menjalankan tugasnya di tempat itu.
Bersambung.....