Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Ular Hitam
Suara musik dan tawa para bangsawan masih memenuhi aula utama. Tidak seorang pun menyadari bahwa di balik kemegahan Festival Musim Semi, sebuah bayangan perlahan bergerak di dalam istana. Bayangan yang telah lama menunggu kesempatan yang pernah membunuh Arcelia.
"Apa kau yakin?" tanya Arcelia pelan.
Ia tetap mempertahankan ekspresi tenang agar tidak menarik perhatian siapa pun. Namun di dalam pikirannya, kewaspadaan telah meningkat.
Auriel mengangguk serius. "Aku tidak mungkin salah."
Rubah kecil itu jarang menunjukkan ekspresi seperti ini, biasanya ia cerewet kadang kekanak-kanakan. Sering kali lebih sibuk memikirkan makanan daripada hal penting.
Tetapi saat menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan Arkanel atau energi gelap Auriel selalu berubah menjadi sosok penjaga kuno yang sebenarnya.
"Energi itu lemah." lanjut Auriel. "Seolah sengaja disembunyikan tapi tetap aku merasakan hawa keberadaanya."
Arcelia menatap ke arah koridor yang dimaksud. Lorong itu menuju bagian dalam istana. Area yang tidak bisa dimasuki sembarang tamu.
"Black Serpent?" Tanya Arcelia kepara Auriel.
Auriel menggerakkan ekornya pelan. "Mungkin." katanya. "Mungkin juga sesuatu yang lebih besar." sambungnya.
Jawaban itu tidak membuat Arcelia merasa lebih tenang. Ia memutuskan untuk tidak bertindak gegabah karena ini adalah istana kekaisaran tempat paling aman di seluruh Astrael atau setidaknya seharusnya begitu.
Jika benar ada anggota Black Serpent di sini, berarti organisasi itu telah menyusup jauh lebih dalam daripada yang ia duga. Dan itu berbahaya, sangat berbahaya.
"Untuk sekarang kita mengamati saja." kata Arcelia.
"Aku setuju." jawab Auriel. "Lagipula kau tidak mungkin berlari masuk ke area terlarang. Itu cara tercepat untuk ditangkap atau dipermalukan." kata Auriel sedikit mengejek.
"Terima kasih atas dukungannya." jawab Arcelia datar.
"Sama-sama." kata Auriel dengan bangga.
Arcelia menghela napas, setidaknya suasana sedikit lebih ringan. Namun sebelum mereka dapat melakukan apa pun seseorang kembali menghampiri.
"Lady Arcelia."
Arcelia menoleh dan menemukan Noah Veridian berdiri beberapa langkah darinya. Pemuda itu tampak santai seperti biasa tetapi matanya terlihat lebih tajam seolah sedang mengamati sesuatu.
"Ada masalah?" tanya Arcelia.
Noah tersenyum kecil. "Pertanyaan itu seharusnya datang dariku."
Arcelia mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Kau terlihat seperti seseorang yang baru menemukan rahasia negara." jawab Noah sambil tertawa namun dalam ucapannya tidak mengandung lelucon.
Auriel langsung berbisik. "Aku suka pria ini."
"Dia terlalu memperhatikan secara detail." bisik Arcelia.
"Justru itu menarik."
"huuuftt..." Arcelia mengabaikan komentar tersebut.
Noah menyandarkan tubuhnya pada pilar marmer. "Tenang saja. Aku tidak akan memaksa, tapi jika suatu hari nanti kau membutuhkan informasi, aku cukup berguna."
Untuk sesaat Arcelia terdiam karena ia masih belum sepenuhnya mengenal Noah. Namun semakin lama mengamatinya, semakin jelas bahwa pemuda ini jauh lebih cerdas daripada yang diperlihatkannya.
Mungkin... lebih berguna daripada yang ia kira.
"Aku akan mengingatnya." jawab Arcelia.
Noah tersenyum puas. "Jawaban yang bagus."
Tak jauh dari sana, di balkon lantai dua Pangeran Kael Astrael kembali memperhatikan aula namun kali ini fokusnya bukan pada Arcelia melainkan Noah.
"Veridian." gumamnya.
Salah satu keluarga yang terkenal karena jaringan informasi mereka. Dan keluarga yang cukup merepotkan jika menjadi musuh.
Tap..
Tap..
Tap..
Suara langkah kaki terdengar mendekat, seorang ksatria kekaisaran membungkuk hormat. "Yang Mulia."
"Laporkan." perintah Pangeran Kael singkat.
"Belum ditemukan pergerakan mencurigakan."
Pangeran Kael menatap aula kemudian menghela napas kecil. "Itu justru yang membuatku khawatir."
Jika Black Serpent benar-benar bergerak, mereka tidak akan bertindak secara terang-terangan.
Mereka adalah ular yang menyerang dari bayangan. Dan sering kali ketika seseorang menyadari keberadaan mereka sudah terlambat.
Di sisi lain... Di salah satu lorong terdalam istana. Seorang pria berjubah hitam berjalan perlahan. Langkahnya nyaris tanpa suara dan di tangannya terdapat sebuah kotak kecil.
Kotak yang sama seperti sebelumnya, Ia berhenti di depan pintu tua yang jarang digunakan. Kemudian membuka kotak tersebut, di dalamnya terdapat batu kristal hitam sebesar ibu jari.
Kristal itu berdenyut pelan, seolah hidup pria itu tersenyum. "Lama tidak bertemu." bisiknya.
Tidak ada seorang pun yang menjawab, namun bayangan di sekitar ruangan tampak bergerak sesaat. Seakan sesuatu sedang terbangun.
Sementara itu.. di aula utama.
Festival mulai memasuki bagian paling santai. Beberapa tamu menari, beberapa menikmati makanan. Sebagian lagi berkumpul dalam kelompok kecil.
Arcelia sedang berbicara dengan Serena ketika suara pengumuman terdengar.
"Para tamu yang terhormat." Seorang pelayan istana melangkah ke tengah aula. "Malam ini keluarga kekaisaran mengundang seluruh tamu untuk menikmati taman musim semi istana."
Suasana langsung menjadi lebih hidup. Taman musim semi istana terkenal di seluruh kekaisaran. Biasanya tidak dibuka untuk umum dan keindahannya hampir setara dengan legenda.
Serena langsung bersinar. "Ayo kita pergi!"
"Tentu saja kau ingin pergi." kata Noah.
"Itu taman bunga. Dan,."
"Kau menyukai apa pun yang berwarna cerah." kata Noah cepat bahkan sebelum Serene menyelesaikan ucapannya.
"Itu tidak salah." Serena sama sekali tidak merasa malu.
Arcelia pun tidak keberatan, lagipula berada di luar aula mungkin memberinya kesempatan mengamati lingkungan dengan lebih baik. Mungkin juga bisa menemukan sumber energi yang dirasakan Auriel.
Rombongan tamu mulai bergerak menuju taman. Begitu keluar dari aula, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar menakjubkan.
Ribuan bunga musim semi bermekaran di bawah cahaya lampu kristal. Air mancur marmer memantulkan cahaya seperti perak cair. Jalan setapak batu putih membelah taman yang luas. Suasana terasa hampir seperti mimpi. Bahkan Arcelia harus mengakui keindahannya.
"Wow." gumam Serena. Untuk pertama kalinya malam itu, gadis itu terdiam.
Noah menatap langit. "Aku tidak percaya aku hidup cukup lama untuk melihat Serena kehilangan kata-kata."
"Aku masih bisa bicara."
"Syukurlah."
"Jangan mengecewakanku seperti itu." Serena langsung memukul lengannya.
Namun saat mereka berjalan lebih jauh ke dalam taman Auriel kembali membeku. Kali ini jauh lebih cepat dan jauh lebih jelas. Ekornya menegang bahkan bulu di tengkuknya berdiri matanya membesar.
"Auriel?" bisik Arcelia.
Rubah kecil itu menoleh perlahan dengan wajahnya terlihat pucat. Jika seekor rubah bisa terlihat pucat pertanda ada sesuatu yang menakutkan.
"Energinya." kata Auriel. "Sekarang aku bisa merasakannya dengan jelas."
"Dari mana?" tanya Arcelia.
Auriel menatap ke arah bagian terdalam taman. Ke sebuah paviliun tua yang berdiri di bawah pohon-pohon besar.
Dan saat itulah untuk sepersekian detik Arcelia melihat sesuatu. Siluet hitam, berdiri di antara bayangan yang mengawasi mereka kemudian menghilang seolah tidak pernah ada.
Dug..
Dug..
Dug..
Jantung Arcelia berdegup lebih keras, karena instingnya berteriak satu hal. Mereka tidak sendirian. Dan seseorang... sedang mengawasi dirinya sejak tadi.