NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melepaskannya

Semalam Nowi tidur dengan gelisah di sofa apartemen Agnia sambil mengingat semua keputusan buruk yang pernah diambilnya. Pagi ini ia terbangun dengan kaget karena sahabatnya itu membuat minuman sehat sejak matahari baru mulai terbit.

Nowi menekan bantal ke kepalanya, berharap blender bising itu segera berhenti bekerja. Agnia menuangkan minuman itu ke dalam mangkuk, menambahkan irisan pisang di atasnya, lalu menaburkan beberapa jenis biji-bijian.

Sahabatnya itu memang penuh kejutan. Ia boleh mabuk berat semalam, namun rutinitas minuman sehat pagi hari tidak boleh terlewatkan. Agnia menyebutnya keseimbangan hidup. Menurut Nowi, hal itu hanya kegilaan semata.

“Terus… rencana kamu hari ini apa?” tanya Agnia.

Nowi mengerang pelan, menundukkan kepala di antara kedua telapak tangan sambil menarik napas panjang berkali-kali untuk menahan air mata.

Ibunya pernah mengajarkan saat usia delapan belas tahun, jangan sampai kehilangan jati diri hanya demi laki-laki. Nowi bahkan berjanji tidak akan hancur jika suatu saat dikhianati. Kini ia sadar, dirinya telah melanggar semua nasihat itu. Rasanya sangat menyakitkan. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri dan juga pada ibunya. Nowi bersumpah hal serupa tidak akan terjadi lagi. Ia harus kuat, itu satu-satunya jalan keluar.

Nowi mengenal Oktavian setahun lalu saat melamar pekerjaan sebagai Chef di restoran milik keluarga laki-laki itu. Oktavian terus mendekatinya, dan tanpa sadar Nowi tertarik pada gaya hidup mewah yang dijalankannya.

Oktavian memiliki penampilan yang sangat menarik. Rambutnya selalu rapi dan tubuhnya atletis, hampir terlihat sempurna. Namun yang paling membuat Nowi nyaman, cara pendekatan Oktavian tidak membuatnya merasa tertekan atau terkekang.

Oktavian cukup gigih hingga Nowi merasa dihargai. Sekarang jika dipikir kembali, sikap acuh Oktavian selama ini mungkin disebabkan karena ia sibuk berselingkuh dengan barista yang akhirnya ketahuan.

Perut Nowi terasa mual hanya dengan membayangkan hal itu. Untungnya, Nowi selalu meminta Oktavian menggunakan pengaman saat berhubungan.

“Kamu pasti bisa, sayang,” kata Agnia lembut. “Inget sekuat apa diri kamu. Jangan mau diinjak-injak.”

Nowi mandi lalu mengenakan pakaian pinjaman dari Agnia, yaitu sweter krem longgar yang jatuh di satu bahu dan celana leping pinggang tinggi. Ia memakai sepatu bot yang dipakainya semalam, lalu berdiri di depan cermin untuk mengumpulkan keberanian dalam dirinya. Ia bisa melewati situasi ini dan harus tetap tegar.

Gedung tempat tinggal Oktavian berada di kawasan elit kota Surabaya. Dari sana, pemandangan kota dan laut terlihat jelas. Bangunannya mewah dengan desain modern dan elegan, yang jelas dibangun menggunakan harta kekayaan orang tuanya.

Nowi menggunakan kartu akses untuk masuk ke dalam lift. Kulitnya terasa tidak nyaman seiring gerakan lift yang naik menuju lantai tempat Oktavian tinggal.

Tangannya saling menggenggam erat. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

Nowi berusaha menenangkan diri sebelum membuka pintu apartemen secara perlahan. Ia tidak mau melihat adegan tidak senonoh lagi antara Oktavian dengan perempuan lain, apa pun yang terjadi.

“Nowi? Itu kamu?”

Nowi masuk ke ruang tamu tepat saat Oktavian keluar dari kamar. Ia hanya mengenakan celana panjang, tidak memakai alas kaki, dan masih memegang alat cukur listrik di tangannya. Tentu saja. Wajah tampannya harus selalu terlihat mulus dan sempurna.

Rasa mual naik lagi ke tenggorokan saat Nowi teringat kulit laki-laki itu yang pernah bersentuhan dengannya. Apa sebenarnya yang dulu ia lihat dari laki-laki ini?

Seluruh perasaannya hilang begitu saja. Rasanya ia tidak pernah mencintai Oktavian sama sekali.

“Aku tahu kamu pasti bakal balik lagi ke aku, sayang.”

Sayang?

Nowi hampir tertawa mendengar panggilan itu. Oktavian mulai mendekat, namun Nowi segera mengangkat tangan untuk menghentikannya.

“Jangan. Astaga, jangan deket-deket, Oktavian. aku ke sini cuma mau ambil barang barang aku aja.”

“Kamu nggak mungkin serius, Nowi. Jangan bikin ribut. Kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik.”

“Bikin ribut gimana maksudnya?” Nowi menatap tajam. “Karena aku mergokin kamu tidur sama orang lain? Udah berapa lama kamu selingkuh? Ah, sudahlah, nggak usah jawab, aku nggak mau tahu.”

Ekspresi wajah Oktavian sudah menjawab semuanya. Selama ini Nowi merasa pandai membaca watak orang, namun ternyata ia melewatkan banyak tanda bahaya dari laki-laki ini.

“Biarin aku ambil barang-barang aku, habis itu aku pergi.”

Nowi mengambil dua tas ransel lalu berjalan menuju kamar utama. Sepanjang waktu, Oktavian hanya diam dan mengamatinya. Tatapan laki-laki itu membuat kulit Nowi merinding karena rasa tidak nyaman. Nowi membuka laci lemari dan memasukkan pakaian dalam ke dalam tas. Ia memastikan mengambil alat bantu seks yang tersembunyi di bawah tumpukan pakaian, lalu masuk ke ruang ganti untuk mengambil pakaian yang digantung.

Ia mengambil semua pakaian secara sembarangan tanpa memperhatikan kerapian. Yang penting seluruh barang terbawa dan ia tidak perlu datang ke tempat ini lagi.

Saat kembali ke kamar, Oktavian duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan bertumpu di depan tubuhnya. Nowi tidak menghiraukannya lalu segera masuk ke kamar mandi.

Namun suara langkah kaki di belakangnya membuat otot lehernya menegang. Rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh tulang punggung saat Oktavian mendekat. Satu tangannya berada di pinggul Nowi, sedangkan tangan lainnya menyentuh bahu yang tidak tertutup pakaian.

Nowi segera menepis tangan itu. Namun tubuh Oktavian berada di belakangnya, sehingga ia terjebak di depan wastafel. Tubuh laki-laki itu terlalu dekat hingga pinggulnya terhimpit tepian meja. Jantung Nowi berdegup sangat kencang. Rasa takut dan panik menyerbu masuk bersamaan.

Ia menutup mata sejenak lalu menarik napas panjang untuk tetap menjaga ketenangan diri.

“Jangan sentuh aku, Oktavian.”

“Kamu cinta sama aku, dan kamu tahu itu,” kata Oktavian pelan. “Jangan bikin ini susah. Kita selesaikan masalahnya terus balik sperti biasa. kamu milik aku. Kita cocok karena sama-sama punya kebebasan masing-masing. Kita bisa baikan, semuanya balik kayak dulu. Jangan pura-pura kamu nggak suka waktu aku sentuh kamu.”

Berbalik menghadap laki-laki arogan itu, Nowi mendorong dada Oktavian sekuat tenaga hingga jarak terbentuk di antara mereka. Entah ini disebut keberanian, ketakutan, atau kebodohan, yang pasti ia sudah sangat muak.

“Aku suka itu? aku suka?” suara Nowi meninggi dengan nada mengejek. “Aaaah. Ohhh, Oktavian! Iya! Iya! Ahh…”

Ia berpura-pura mengerang lalu melihat wajah Oktavian berubah dari penuh percaya diri menjadi marah besar.

“Denger ya bajingan?” ujarnya dingin. “Kamu nggak pernah bikin aku puas, nggak pernah satu kali pun. aku malah nunggu kamu masuk kamar mandi baru puasin diri aku sendiri, setiap kali. Dan barista yang kamu tiduri itu juga cuma pura-pura, mukanya kelihatan bosen banget, goblok.”

Nowi mendengus pelan, dadanya naik turun cepat.

“ Sekarang minggir, aku mau beresin barang barang terus pergi dari sini.”

Ia memasukkan barang sembarangan ke dalam tas lalu bergegas keluar dari kamar mandi.

“Dasar pelacur! kamu nggak bakal ninggalin aku!” teriak Oktavian dari belakang.

“Iya, iya, udah denger,” jawab Nowi sambil menoleh sebentar. “Persetan sama kamu.”

“Kamu pikir bisa pergi begitu aja? Mau ke mana, tidur di rumah Agnia?!” bentak Oktavian. “Jangan mimpi ada yang lebih baik dari aku. Nggak ada yang mau sama kamu!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!