NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Yang Berbeda

Esok hari di atas 'singgasana' tidurnya—sofa panjang hitam beludru.

"Ugh...Huh!" Dena terlonjak panik sembari meraba-raba apa yang dapat disentuhnya.

Saat pagi itu penglihatannya tiba-tiba merasa hampa ketika semua mendadak terlihat gelap.

"Buta?!"

Namun tak lama kemudian...

Begitu sadar akan sesuatu yang terasa seperti agak ganjil, Dena langsung berhenti meraba kemudian nyengir.

"Anjir!"

Karena ternyata eh ternyata, apa yang terjadi bukannya buta, melainkan selimutnya aja yang naiknya ketinggian—sampai-sampai seluruh wajahnya ketutupan.

Makanya, pas Dena kebangun mendadak gara-gara mimpinya yang kelewat absurd, ia jadi gelagapan takutnya nggak bisa ngeliat.

"Ih, amit-amit!" bergidiknya.

Lalu gadis itu bangun sambil merentangkan kedua tangannya ke atas, kemudian ke samping secara bergantian.

Kucek-kucek mata lalu celingukan ke sana-sini. Dan yah, apa yang dilihatnya pagi ini—berbeda dari biasanya.

Yang palingan setiap bangun, pemandangan yang Dena lihat cuma dinding-dinding kamar kosnya yang mengelupas, serta langit-langitnya yang bolong.

Itu keadaan di kamar kosnya.

Sekarang—tergantikan oleh pemandangan kamar mewah yang bersih dan rapi.

"Oh iya..."

Setelah sempat tertegun, Dena tiba-tiba manyun.

"Kan udah jadi istri."

Dena menghela napas panjang, lalu meraih ponsel untuk melihat waktu.

Ternyata waktu masih menunjukkan pukul lima kurang sebelas menit.

Dena mencicit.

"Heu! kirain gue bangun kesiangan," ujarnya lega.

"Ini mah ayam aja belum bangun!" ujarnya sembari kembali berebah manja di atas sofa, sambil mengingat-ingat mimpinya yang rasanya kok aneh betul.

Ganjil...

"Tadi gue mimpi apa sih?" Dena mengelus-elus dagu hingga ingatannya kembali muncul.

Ingatan mimpinya barusan.

"Dikejar-kejar tangan buntung, ketangkep, terus idung gue dicolok!" rangkumnya bengong.

"Hah?"

"Entahlah!" Dena mengangkat bahu.

"Cuma mimpi juga," gumam Dena sembari membuka kolom chat.

Satu nama tersemat diurutan paling atas.

Dyo...

Tapi, Dena mengerinyit menatapnya.

Tumben banget pagi ini Dyo nggak ngirim pesan apapun, padahal biasanya udah spam chat.

"Apa Dyo masih tidur ya?" pikir Dena tak lama seraya berlalunya waktu.

Dan ketika waktu telah tepat menunjukkan pukul lima, Dena kemudian berdiri sambil melipat selimutnya rapi-rapi.

Yah, setidaknya hal itu harus mulai ia biasakan dari sekarang, supaya pemandangan rapi di kamar itu tidak terganggu.

Lalu setelah Dena meletakkan selimut itu pada sandaran sofa, ia menoleh ke arah ranjang di tengah-tengah ruangan itu.

Ruangan yang masih sedikit gelap, saat hanya diterangi cahaya lampu tidur berbentuk apalah itu—pokoknya aneh.

Gadis itu melotot lebar-lebar setelah menyadari Alvaro ternyata masih tidur.

"Hm! Dasar ya para cowok!" gerutunya.

"Udah yang di sono nggak ngucapin selamat pagi! Yang di sini masih juga belum bangun!"

Sambil Dena mendekat ke arahnya, melenggang santai, erat memeluk dada.

Kamar itu rasanya terlalu dingin, dan dinginnya nggak main-main.

Dan setibanya Dena di samping ranjang, ia lalu berkacak pinggang sebentar.

Menarik napas panjang, lalu membangunkan Alvaro.

"Om!" Pertama masih lirih.

"Om Varo!" panggilnya lagi sedikit keras, berulang-ulang.

"Bangun, Om..."

Tapi, Alvaro nggak bangun, padahal lengannya udah Dena tepuk-tepuk juga, digoyang-goyang bahkan.

"Ini orang mati rasa apa ya?"

Dena jadi manyun.

"Bangun, Om!"

"keburu terang!"

"Keburu ketinggalan waktu salat juga!" cerocos Dena. Niatnya sih cuma mau ngingetin Alvaro untuk menunaikan apa yang seharusnya dilakukan sebagai umat muslim.

Tapi, laki-laki itu tidak memberi respon apapun.

Dena ya langsung kesal, lalu dengan sengaja ia menarik napas panjang-panjang.

Kemudian berteriak.

"WOIII!"

Nah, karena Dena teriaknya rada kencengan dikit, Alvaro akhirnya menggeliat juga.

Alvaro melirik sinis, "Apa?" ketusnya serak, khas suara orang yang baru banget melek.

Sementara Dena langsung nyengir, takut banget kena omel.

"Bangun, Om," sahutnya buang muka.

Ini udah pagi tauk!" kata Dena sembari melirik sekitar mencari-cari saklar lampu buat dinyalakan biar kamar itu lebih terangan dikit. Eh, saklarnya malah nggak ketemu.

"Pagi?" Alvaro spontan duduk, lalu melihat-lihat sekeliling sambil masih nguap-nguap.

"Masih gelap begini lo bilang pagi?" Alvaro yang kesal kemudian meringkuk untuk tidur lagi.

"Hih! Kenapa tidur lagi sih?" Dena spontan menggoyang-goyang paha Alvaro.

"Bangun, Om!"

"Gue masih ngantuk!"

"Masa udah jam segini masih ngantuk?"

"Jam berapa?" tanya Alvaro malas-malasan.

"Jam lima."

"Oh, masih jam lima..." Alvaro tetap santai.

"Bangunin gue jam enam!" pintanya.

Dena langsung melotot, "Heh! Kenapa jam enam?!"

"Memangnya Om nggak mau salat dulu?" sergahnya.

Alvaro tak acuh.

"Hih...ayo, keburu telat!" paksa Dena.

"Gue udah salat," tolak Alvaro.

"Udah?"

Alvaro ngangguk-ngangguk.

"Kapan?"

"Pas lebaran tahun lalu," jawabnya.

Dena menghela napas panjang, lalu pergi gitu aja ninggalin Alvaro—nyesel juga udah ngajak-ngajak.

Taunya tuh laki emang nggak pernah salat.

"Nyebelin!"

...***...

Satu jam kemudian.

Setelah Dena selesai melangsungkan ritual mandinya.

Ia lalu muncul dari balik pintu dengan handuk kimono warna putih gading, sambil mengelap rambutnya yang mengkilap habis dikeramasin.

Sementara Alvaro yang akhirnya terbangun dengan sendirinya, bersandar di dinding sebelah pintu—wajahnya masam membesengut.

"Apa Om?!" sinis Dena spontan.

"Lo habis ngapain?" tanya Alvaro bersedekap dada.

Dena mengerinyit, "Habis ngapain?"

"Ya mandi lah! emang Om pikir saya ngapain?" dengusnya.

"Mandi?"

"Iyaa, kenapa?"

"Lama!" sungut Alvaro sembari memaksa Dena menyingkir, lalu menyerobot masuk ke dalam kamar mandi.

"Masuk angin gue sukurin lo!" imbuhnya mendengus-dengus seraya menutup pintu dengan keras.

Brak!

"Apa sih! Nggak jelas!"

Malas peduli dengan Alvaro yang keliatannya kesel gara-gara ia mandinya kelamaan.

Dena lebih memilih untuk segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Namun, tak lama dari itu Dena tiba-tiba berhenti, sesaat sebelum ia masuk ke ruangan ganti.

Ia teringat sesuatu.

"Seragam gue?"

Dena baru ingat, seragamnya ternyata masih di kos, sedangkan sekarang...

Dirinya di rumah Alvaro.

Dan...

"Ah, ya ampun!" Dena jadi bingung.

"Gimana dong?"

...***...

Sampai akhirnya ketika Alvaro selesai mandi dan hanya menghabiskan setengah waktu saat sebelumnya Dena berendam.

Gadis itu rupanya masih meringkuk di pojokan kamar, sambil ngusap-usap dengkul menatap lantai.

"Lo ngapain di situ..."

"Bertelur?" tanya Alvaro terheran-heran.

Dena mendongak, menatap suaminya itu seperti minta dikasihani.

"Lagi bingung, Om," jawabnya pelan.

"Bingung kenapa?"

Dena terdiam sesaat.

"Om, boleh nggak kalau hari ini saya nggak sekolah," cicitnya kemudian.

"Bolos?" Alvaro langsung menatapnya curiga, pasti istrinya ini cuma males pergi sekolah.

Dena mengangguk.

"Gara-gara udah nikah?"

"In bukan!"

"Terus?"

Dena menghela napas, "Seragam saya, Om...masih ketinggalan di kos," ujarnya.

"Masak iya saya sekolah nggak pakai seragam," lanjut Dena masih sambil meringkuk di pojokan menatap sedih ke suaminya.

"Oh."

Mendengar alasan Dena ternyata itu, Alvaro kemudian melangkah masuk ke dalam walk-in-closet, seolah tak peduli pada istrinya.

Namun, tak lama setelah Alvaro berganti pakaian. Ia keluar sambil membawa setelan seragam sekolah untuk Dena.

"Pakai!" ujarnya datar seraya menyodorkannya.

Sedangkan Dena langsung melotot lebar-lebar, menatap seragam itu sambil membaca nama yang tertera.

"Audrea D P..."

Dena mengerinyit.

"Loh? Ini kan seragam saya!" ujarnya bingung sambil buru-buru mengambilnya dari tangan Alvaro.

"Kok bisa di sini?"

Dena membaliknya untuk mengecek label ukuran.

Tertera ukuran 'small'

Itu ukurannya.

"Ini Om ambil dari kos saya ya?!" tanya Dena mendadak curiga.

"Ih! Nggak boleh tauk main nyelonong masuk ke kamar orang!" dengusnya tanpa jeda padahal Alvaro belum menjawab apa-apa.

Alvaro mendengus sudah sembarangan dituduh, "Lo pikir gue sekurang kerjaan itu?!"

"Lah, terus seragam ini—"

"Baru!" tukas Alvaro.

"Hah?" Dena mendadak diam.

Lalu mengecek kembali kondisi seragam itu dengan lebih teliti. Dan seperti yang Alvaro bilang tadi, seragam itu memang baru.

"Om beli?"

"Iya."

"Seragam ini?"

Alvaro menatapnya datar.

"Sekolahnya!"

Hening.

Dena tiba-tiba membeku, lalu nyengir.

"Oh iya ..."

"Maaf, saya lupa," kikiknya.

"Ck! Nggak usah nyengir! Cepetan siap-siap!" decak Alvaro.

Lalu laki-laki itu mendorong pelan tubuh istrinya agar segera masuk ke ruang ganti.

"Gue tunggu!"

"Tapi, jangan lama-lama dan nggak usah dandan berlebihan...lo udah cantik, yang penting rapi!" pesan Alvaro sesaat sebelum menutup pintu.

Glek!

......***......

Setelah keluar dari lift dan tiba di lantai dasar.

Dena melangkah pelan sambil curi-curi pandang menatap segala kemewahan yang terlihat di seantero jagat rumah itu.

Dena kagum terhadapnya.

Sementara di sebelah Dena agak di depan dikit, dengan tubuhnya yang terbalut setelan formal—Alvaro melangkah dengan gagahnya.

Selayaknya seorang CEO yang terkenal menjunjung tinggi nilai sebuah kerapian.

Bahkan, ketika di lift yang sebelumnya mereka berdiri di dalamnya. Alvaro sempat berkomentar banyak tentang bagaimana cara Dena berpenampilan. Menurutnya itu masih kurang rapi.

"Besok kalau masih acak-acakan begini, lo tidur di kandang aja!" dengus Alvaro sewaktu tadi.

Dan tadinya Dena juga tidak menanggapi apa-apa, cuma mengangguk sekali lalu melengos.

Tapi gadis itu seperti menahan dongkol.

Di kandang! Memangnya gue kambing, pikirnya.

Saat itu juga beberapa orang pelayan yang sedang bekerja langsung berhenti sejenak, tatkala Tuan dan Nona mereka lewat.

Untuk menyapa, sekaligus untuk memberi hormat kepada Alvaro dan Dena.

"Selamat pagi, Tuan..."

"Nona..."

Dena tersentak kecil, lagi-lagi dipanggil 'Nona' membuatnya agak gimana, seperti nggak pantes.

Sedangkan Alvaro sontak berhenti melangkah, begitu pun Dena yang udah pasti ikut-ikutan.

"Ya?" Alvaro menatap satu orang pelayan yang mendekat ke arahnya.

"Tuan Alvaro, Nona Dena, sarapannya sudah siap..." ucap pelayan perempuan dengan seragam yang agak berbeda dari kebanyakan, sambil menunjuk sopan ke arah pintu kaca di sisi ruangan tengah.

Perempuan itu—Anisa, kepala pelayan di rumah Alvaro.

"Di paviliun," tambahnya lalu tersenyum santun.

"Di sana?" Alvaro seperti agak terkejut mendengarnya, tumben?

Anisa mengangguk.

"Kenapa nggak di ruang makan?"

"Permintaan Nyonya, Tuan," jawabnya.

"Oh."

Alvaro mengangguk saja, lalu menggandeng lengan istrinya tanpa banyak berkomentar.

"Kita sarapan di sana," ujarnya.

Dan begitu pintu kaca terbuka, sekaligus dengan tirainya yang lembut menggantung.

Di sebaliknya berdiri bangunan megah bergaya modern, tempat di mana mereka akan sarapan pagi itu.

Di paviliun tengah...yang di kanan dan kirinya terdapat taman bunga bermacam warna, dan satu jembatan kaca di atasnya, menghubungkan rumah itu dengan rumah di sebelah.

Dena mengerinyit, tak lama setelah memperhatikan lebih detail.

"Itu rumah siapa, kok nyambung?" batinnya.

Dan yang bikin Dena lebih penasaran lagi, kenapa sejak semalam ia tidak melihat Mama Nita sekaligus Mika di rumah.

Kayak, mereka ini sengaja banget ninggalin dia sendirian di rumah hanya dengan Alvaro.

Namun, di paviliun tengah Dena akhirnya melihat mereka.

Mama Nita dengan secangkir teh di tangannya, sementara Mika sedang duduk sambil bersilang kaki, seperti sedang menunggu.

Dan begitu Mika menyadari kakak dan kakak iparnya itu datang, ia langsung menoleh sambil manyun.

"Huh!" dengusnya.

"Kalian lama banget sih?" protes Mika.

Alvaro langsung melirik tajam ke arah adiknya, "Kenapa?"

Lirikan tajam itu bikin Mika langsung ciut nyalinya.

"Masalah?" gertak Alvaro.

Mika menelan ludah, "Ya masalah, kan gue udah lapar, Kak..."

"Lapar ya makan!" ketus Alvaro.

"Iya, tapi kan nunggu kalian turun dulu!" sahut Mika.

"Ada yang nyuruh!"

Mika langsung melengos, agaknya sudah mulai kesal menanggapi kakaknya.

"Apa sih Kak! Diem ah!"

Dan lebih tertarik untuk menyapa Dena yang sejak tadi terlihat canggung.

"Nyonya Alvaro..." sapanya jahil.

Dena tersenyum kecut mendengarnya.

"Sini!" Mika melambaikan jari.

"Ck! Ah... Jangan manggil gue gitu dong!" dengusnya sambil mendekat.

"Terus panggil apa dong?" Mika naik-naikin alisnya.

"Panggil Dena aja!"

"Oh oke deh. Dena, gue boleh nanya?"

"Nanya?"

Mika ngangguk-ngangguk.

"Boleh, mau nanya apa?" kata Dena.

"Tapi harus dijawab jujur ya," ujar Mika sebelum itu.

Sementara Alvaro yang sudah curiga adiknya itu pasti akan menanyakan sesuatu yang aneh, bersiap-siap mengambil sepotong roti di atas piring.

Mika tersenyum jahil.

"Semalam ... lo sama kakak gue ngapain aja, Den?" tanya Mika frontal.

Tapi, belum sempat mulutnya itu terkatup, Alvaro sudah lebih dulu menjejalnya pake roti tawar.

"Mau tau aja urusan rumah tangga orang!" sungut Alvaro sembari menyeret Dena agar menjauh dari Mika yang kalau ngomong suka semaunya.

"Gue kan ... cuma nahnya khak!" sahut Mika mulutnya penuh roti, sambil ngunyah ngomongnya jadi nggak jelas.

Alvaro mencebik malas, "Kenapa nanya-nanya! Lo mau tau?"

Mika ngangguk-ngangguk, agaknya sih dia memang penasaran.

"Nikah makanya!" cibir Alvaro.

"Biar tau sendiri!"

Mika langsung kicep. Sedangkan Mama Nita cuma bisa geleng-geleng kepala.

Hah! Lagi-lagi mereka ini... Akur sehari aja apa nggak bisa? Heran perempuan itu.

"Duduk," kata Alvaro menatap ke arah tempat duduk istrinya.

Dena sih nurut untuk duduk, masih sambil agak canggung, ia sekaligus melempar senyum ke arah Mama Nita.

"Pagi, Tante," sapanya manis.

Eh...

Mama Nita langsung cemberut.

Dena jadi tegang.

"Kok Tante sih ... " katanya pelan, lalu melembut. "Mama dong,"

Dena langsung nyengir kikuk.

"Eh, maaf..." Ia menunduk.

"Belum terbiasa, Ma."

Mama Nita mengangguk saja, memaklumi menantunya yang masih dalam kondisi menyesuaikan diri.

"Ya udah nggak apa-apa," balasnya hangat.

"Tapi, mulai sekarang dibiasain ya sayang," suara itu kian melembut, nggak salah perempuan itu memang dikenal sebagai sosok ibu yang begitu penyayang.

"Kan sekarang kamu udah jadi menantu Mama."

Dena mengangguk.

"Jadi, jangan panggil Tante lagi ya."

Dena tersenyum tipis, "Iya, Ma. "

...***...

Beberapa menit kemudian.

Satu hal yang sebelumnya teramat jarang terjadi di keluarga Yubel—semenjak sang ayah meninggal.

Mulai sekarang, setelah anggota keluarga mereka bertambah satu yaitu Dena sebagai menantu.

Mama Nita tiba-tiba pingin setiap harinya mereka kembali makan secara bersama-sama, di tempat ini, di paviliun tengah.

Dan sekarang mereka sedang makan, menikmati bermacam hidangan mewah, termasuk Dena yang biasanya paling cuma makan mie mentah.

"Mika," bisik Dena sembari perlahan menikmati sarapannya.

Mika yang lagi meneguk segelas susunya pun menoleh. "Kenapa, Den?"

"Dari kemarin sore, lo sama Mama pergi kemana sih?" tanya Dena agak kesal.

"Tega banget ninggalin gue berdua doang sama Om Varo!" dengusnya pelan.

Mika mengerinyit, "Pergi apa?"

"Gue nggak kemana-mana kok, gue cuma nonton doang di rumah," jawab Mika ikut-ikutan berbisik.

"Kalau Mama?"

"Ya sama," kata Mika.

"Di rumah juga?"

"Ya di rumah dong, masak di kebon!"

Hening...

"Masak sih?"

"Lah, dibilangin!" Mika lalu menatap mamanya. "Iya kan, Ma?"

"Apa yang iya?"

"Semalam kita nggak pergi kemana-mana kan?" tanyanya langsung biar Dena percaya.

"Enggak, memangnya kenapa sayang?" tanya balik Mama Nita.

"Ini Dena nanya, dia pikir semalem kita pergi, gara-gara Dena merasa cuma ditinggal berdua sama kakak," ujarnya.

Dena sempat ingin protes karena Mika mulutnya comel, tapi ya udahlah. Udah terlanjur dicomelin juga.

Mama Nita mengerinyit, lalu paham. Ah, ini pasti kerjaan Alvaro.

Laki-laki itu pasti tidak memberi tahu Dena, kalau ia dan Mika tidak tinggal di rumah itu, tapi di rumah sebelah.

Yang begitu mama Nita menoleh menatapnya. Alvaro langsung tersedak gara-gara kelepasan tertawa.

"Varo!"

"Kamu belum ngomong ke istri kamu ya, kalau Mama sama Mika tinggal di rumah sebelah?" sergahnya.

"Rumah di sebelah?" Dena mengerinyit tipis, lalu menoleh ke sana-sini, hingga matanya terpaku ke arah rumah di sebelah kanannya.

"Itu rumah mertua gue?" batin Dena menatap mansion yang tak kalah mewahnya dengan mansion Alvaro.

Dena jadi menelan ludah.

"Buset!"

"Satu keluarga aja ... rumahnya dua?!"

Hening...

Alvaro mengangguk sambil minum, meneguknya lalu menatap Mama Nita.

"Kenapa Dena nggak kamu kasih tau?" tanya si Mama.

"Sengaja, Ma."

"Biar Dena nggak tau," kata Alvaro.

"Ah kamu... memangnya kenapa kalau istri kamu tau?" heran Mama Nita.

"Karena kalau Dena tau itu rumah Mama, pasti dia ngotot pingin tinggal di sana!" ujar Alvaro yang membuktikan jika rumah itu memang milik mamanya.

"Varo nggak mau!" tegasnya.

Sementara, Dena jadi tersedak, lalu buru-buru minum.

Dena spontan ngomong.

"Jadi beneran, itu rumah Mama?!"

Semuanya langsung bengong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!