NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeprism4n Laia

Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.

Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.

Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.

Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Dendam Satrio Untuk Keluarga Prasetio

Tiaras tersenyum senang ketika dia melihat Rubah itu pergi dengan penuh rasa kekesalan, kemudian dia berjalan kearah nakas untuk mengambil satu gelas minuman, karena dia merasa haus meladeni sikap Chika Siregar barusan.

Sementara di tempat lain, Satrio sedang berada di dalam sebuah markas besar, dia sedang berbicara dengan seorang pria botak yang lengannya telah di penuhi dengan tattoo serigala yang membuat pria itu menjadi menyeramkan.

Pria itu adalah Efan Laiya, dia adalah pemimpin geng serigala hitam yang merupakan geng terbesar di kota medan, mereka sangat tekenal dengan kekejaman dan ketelitian dalam melakukan sebuah misi.

“saya mau anak itu hilang bang! Karena ini merupakan dendam lama yang harus mereka bayarkan” Ucap Satrio dengan sangat geram, matanya sampai memerah ketika dia mengingat akan kejadian itu.

“Masalah itu gampang! Ada harga ada uang, kan begitu, dan lagi! Saya harus tau sebab kau mau menghabisi keluarga anak itu?” Tanya Efan dengan sangat teliti, dia menatap satrio dengan tatapan yang sangat tajam.

“Heemm” satrio menarik napasnya dalam, kemudian dia berdiri dengan sangat berwibawa “Ayah saya dan Ibu saya mati karena melindungi keluarga mereka, sementara saya tidak mereka hiraukan sama sekali” tegasnya lagi.

‘Ohhh, ceritanya seperti itu! Serahkan semuanya sama bang Efan Laiya, pasti semuanya beres! Tapi ingat kau harus membayar uang mukanya dulu, wajib 45%” ucap efan dengan sangat entengnya.

Satrio menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap kearah Efan Laiya “kirimkan sama saya nomor rekeningmu, biarkan saya TF melalui Aplkasi Mobile BR” jawabanya dengan serius.

“heemm, kalian tunggu hari mainnya, kalian semua harus menanggungnya!” geram Satrio dalam hatinya, kemudian dia langsung menghilang dari markas itu ketika sudah mentransfer uang muka.

“jangan lupa kau kirimkan informasi detail tentang bocah itu ya, biar anak buahku segera bertindak” teriak Efan Laiya ketika dia melihat Satrio yang mulai pergi menjauh, namun satrio hanya mengangkat tangan kanannya ke atas langit dan mengacungkan jempolnya pertanda dia setuju.

“Kita ada Misi baru ya teman teman, kalian harus siap siap! Kita tinggal menunggu perintah saja” ucap Efan Laiya sangat tegas dengan para bawahannya.

“Oke Siap Ketua!” sahut semua orang orang yang berada di dalam markas tersebut.

Embun sudah kembali kerumah sakit, dia melihat sang mertua sedang duduk membaca Novel Romantis tentang kehidupan, Tiaras kemudian mengangkat wajahnya ketika embun sudah membukakan pintu kamar itu.

“Nak! Kamu sudah kembali” ucapnya singkat sambil dia menutup aplikasi novelnya itu.

“Ia nyonya” sahut embun dengan sikap sopannya yang tidak pernah berubah.

Mendengar jawaban dari embun, Tiaras menggelengkan kepalanya sambil dia memicingkan bibirnya sedikit kesal, kemudian dia mendekati embun dan meraih tangan mulus gadis itu.

“nak! Jangan lagi kamu panggil sebutan itu, sekarang kamu panggil saya Ibu, ya” ujar Tiaras dengan lembut sambil dia tersenyum kepada embun.

Mendengar perkataan dari sang nyonya, embun menjadi kikuk dia tidak bisa berkata kata untuk menjawab, dia hanya menunduk merasa malu.

“Maaf nyonya! Saya tidak bisa memanggil dengan sebutan seperti itu, bukankah saya hanya..” namun sebelum embun melontarkan semua kata katanya, dengan cepat jari Tiaras menutup mulut mungil embun.

“Siisst! Kamu jangan berkata seperti itu, saya tidak pernah menganggap kamu seperti itu, saya hanya bisa menerima seorang menantu! Yaitu kamu, apakah kamu paham, jadi mulai sekarang kamu tidak perlu sungkan kepada saya, kamu harus memanggilku IBU sama seperti Rido memanggil saya” ucap Tiaras langsung memotong perkataan embun solai.

‘Ta, tapi nyo” sanggah embun, namun langsung ditepis oleh Tiaras “tidak ada tapi tapian! Oke” ucap Tiaras langsung mencubit pipi tembem embun.

Tiaras meraih tangan embun dan mendudukanya di kursi di samping ranjang Rido, kemudian dia menghela napasnya dan berkata “Sekarang kamu adalah istri sahnya, jadi kamu harus merawat suamimu dengan baik, kamu pasti sudah tau apa yang harus dilakukan oleh seorang istri ketika suaminya sedang dalam keadaan sakit”.

Mendengar arahan dan bimbingan dari mertuanya, walau hanya sebagai mertua kontrak namun embun merasa bersyukur, dengan perhatian Tiaras padanya sudah lebih dari cukup. Embun menganggukkan kepalanya sambil dia menyentuh tangan Rido yang masih kaku diatas ranjanga pasien.

“Semoga saja ada keajaiban, supaya dia bisa bangkit kembali seperti dahulu” lirih embun dengan nada sedih, walaupun ucapannya sangat kecil namun bisa di dengar oleh Tiaras, yang membuat Tiara menjadi sangat senang dan bahagia.

“Sepertinya, kami tidak salah menilai, anak ini memang benar benar sangat baik, dia tidak membenci Rido sama sekali, padahal selama ini Rido sudah sangat berkelakuan dingin padanya” gumam Tiaras di dalam hatinya.

“Nak! Ibu pamit dulu, ya karena badan ibu sepertinya lengket karena keringat, karena sudah seharian disini” ucap Tiaras kepada embun sambil dia mengibaskan kerah bajunya.

“Baik bu, biarkan juga saya mengelap badan bang Rido” jawab embun dengan lembut, sambil dia membenarkan bantal yang berada disamping Rido.

Dengan tersenyum Tiaras meninggalkan rumah sakit dengan perasaan legah, dia tidak perlu khawatir lagi dengan perawatan Rido, karena sekarang dia sudah memiliki menantu yang mengurus.

Embun mengelap badan Rido, setelah dia tinggal sendirian di dalam kamar itu, namun tiba tiba saja jari jempol Rido bergerak, dan tidak lama kemudian matanya ikutan terbuka namun masih sayu.

Embun masih belum menyadari Rido yang sudah sadar dari komanya, Karena sekarang embun sedang sibuk membersihkan gelas dispenser.

Rido melirik kesamping, dia merasakan ada siluet seseorang yang sedang berdiri membelakanginya, kemudian dia menajamkan penglihatannya dan dia sedikit bingung dengan keberadaan sang gadis disampingnya.

Rido memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, namun karena rasa sakit dikepalanya terasa mau pecah akhirnya dia kembali pingsan.

Tanpa embun sadari dengan kejadian barusan, dia meraih paperbag yang dia bawa dari rumah tadi, kemudian dia mengeluarkan rantang makanan.

“Kalau seandainya kamu sudah sadar, pasti makanan ini untukmu tapi entah kamu suka ataukah tidak, Heh!” desah embun dengan menyendok makanan itu didalam mulutnya.

Setelah selesai melakukan ritual makannya, embun meraih buku majalah yang ada di nakas, namun karena itu merupakan majalah yang sudah lama, sehingga minat pembacanya menjadi kurang tertarik. Embun melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, sehingga matanya sudah mulai sayu, dan tanpa sadar dia menguap dan menyandarkan kepalanya disamping ranjang pasien.

Pagi menyambut matahari yang terbit dari ufuk barat, dunia sudah mulai sibuk dengan aktifitas para manusianya, ada yang pergi membagikan makanan bergizi gratis, dan ada juga yang mau meminta donator untuk membantu saudara saudara kita yang mengalami musibah.

Mata Rido kembali terbuka dengan badannya yang ikutan bergerak, namun tangannya tidak bisa ia gerakan dan kemudian dia merasakan tangannya kebas karena tertimpa suatu barang bagus.

Rido melirik kesamping dia melihat embun yang sedang nyenyak dalam tidurnya, entah dia sekarang dalam dunia ilusi mana karena pasti dia sekarang sedang bermimpi indah, nyatanya dia sekarang ngigau.

“Aiih, dia memang tampan sih, tapi dia itu bagaikan es kutup, dingin banget, apalagi sekarang dia menjadi suamiku, aeehh kacau kacau” serunya yang sedang tidur terlelap.

Melihat kelakuan wanita itu, Rido hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, dia masih belum mengerti kalau mimpi itu tertuju pada dirinya sendiri.

Rido menggerakan tangannya dengan pelan, dia tidak ingin menganggu mimpi gadis itu yang masih terbang di kahyangan langit ketujuh.

1
Nida Rania
suka karakter embun
Tiary91 gaho
Waahh.. ceritanya mantap jiwa
Tiary91 gaho
Mantap Aku Suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!