NovelToon NovelToon
Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Marlyn_2309 Lyna

"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.

"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.

Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.

Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemuruh dari Masa Lalu

Lampu neon di selasar asrama putra berkedip ritmis, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam yang berusaha menggapai pintu kamar Rasyid.

Di dalam, udara terasa berat, dipenuhi aroma antiseptik dan sisa ketegangan yang belum tuntas. Dokter asrama, seorang pria paruh baya dengan kacamata retak di sudutnya, perlahan merapikan stetoskop. Ia menatap Rasyid yang berdiri mematung di sudut ruangan.

“Suhu tubuhnya mulai turun, tapi ini bukan sekadar demam biasa, Kyai,” ucap sang dokter pelan, suaranya sarat akan keprihatinan.

“Napasnya pendek, otot-ototnya kaku seolah ia sedang dalam kondisi fight-or-flight yang konstan. Ini gejala trauma berat... depresi yang teramat dalam. Sepertinya ada sesuatu yang menghantam jiwanya jauh sebelum luka di kakinya itu ada.”

Rasyid hanya terdiam. Pandangannya terpaku pada Shanum yang kini terlelap dengan bantuan obat penenang.

Wajah wanita itu tampak begitu kecil di atas bantal, seolah identitas ‘wanita klub’ yang angkuh itu hanyalah topeng rapuh yang kini pecah berkeping-keping.

Setelah dokter pamit, keheningan kembali menguasai. Rasyid merasa dadanya sesak. Setiap tarikan napas terasa seperti duri yang menyangkut di tenggorokan.

Ia teringat bagaimana ia membentak Shanum, menyebutnya ‘noda’, dan menatapnya dengan kebencian murni. Kini, melihat wanita itu meringkuk seperti anak kucing yang terancam, Rasyid merasa martabat sucinya justru menjadi beban yang memalukan.

Ia merasa berdosa. Bukan karena telah menikahi wanita ini, tapi karena ia telah menghakimi sebelum memahami.

Dengan langkah gontai, Rasyid meninggalkan kamar itu. Ia butuh udara. Ia butuh Tuhan.

Masjid pesantren yang megah itu tampak sunyi di bawah cahaya bulan yang pucat. Rasyid melangkah menuju mihrab, menjatuhkan dirinya dalam sujud yang panjang.

Di sana, di atas sajadah yang dingin, pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak awal ia tahan sebagai seorang Kyai, kini merembes membasahi kain tempat sujudnya. Ia memohon ampun atas kesombongan hatinya yang merasa paling benar.

“Rasyid...”

Sebuah suara lembut namun berwibawa memecah kesunyian. Rasyid bangkit dari sujudnya, mendapati Syekh Abdullah, guru besarnya sekaligus wali yang menikahkannya secara kilat, berdiri di belakangnya.

Surban putih Syekh Abdullah tampak bersinar lembut, kontras dengan kegelapan malam.

“Dadamu terasa sempit, Nak?” tanya Syekh Abdullah sambil duduk bersila di samping Rasyid.

Rasyid menunduk dalam. “Saya merasa sudah melampaui batas, Syekh. Saya menghakiminya dengan kemarahan... saya merasa harga diri saya diinjak-injak, hingga saya buta bahwa wanita itu sedang berteriak minta tolong.”

Syekh Abdullah tersenyum tipis, matanya menatap kejauhan. “Penyakit orang yang merasa ‘berilmu’ adalah merasa memiliki hak untuk menentukan siapa yang berhak masuk surga dan siapa yang pantas di neraka.

Kamu terburu-buru, Rasyid. Kamu melihat lumpur di bajunya, tapi kamu lupa bahwa berlian yang jatuh ke dalam kubangan sekalipun tetaplah berlian. Kamu hanya melihat noda itu sebagai ancaman bagi namamu, bukan sebagai luka bagi jiwanya.”

Nasihat itu menghujam jantung Rasyid. Ia tersadar bahwa selama ini ia hanya mencintai reputasinya, bukan menjalankan amanah Tuhan untuk melindungi kaum yang lemah.

“Kembalilah,” perintah Syekh Abdullah lembut. “Lihatlah dia bukan sebagai ‘noda’, tapi sebagai amanah yang dikirim Tuhan ke kamarmu untuk kamu selamatkan.”

Rasyid kembali ke kamar dengan hati yang lebih ringan, namun penuh tekad. Kebenciannya memang belum sepenuhnya hilang, namun rasa iba mulai mengambil ruang yang lebih besar.

Saat ia memasuki kamar, suasana masih tenang hingga sebuah benda di atas meja rias bergetar hebat. Ponsel milik Shanum.

Layarnya menyala terang, menampilkan nomor yang tidak dikenal. Rasyid ragu sejenak, namun getaran itu tak kunjung berhenti. Ia mengangkatnya.

“Halo...?” suara Rasyid rendah dan dingin.

Hening sejenak di ujung sana, lalu tawa parau yang menjijikkan meledak. “Oh, jadi ini ‘suami’ barunya si cantik? Dengar, katakan pada Shanum, masa liburannya sudah habis.

Pesanan besar dari Turki sudah masuk. Mereka tidak mau tahu dia sudah menikah atau mati, mereka mau ‘barang berharga’ mereka kembali.”

Rasyid mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. “Dia bukan barang. Jangan pernah hubungi nomor ini lagi.”

“Tunggu, Kyai kecil!” suara di seberang sana menegang. “Kau tidak tahu apa yang kau pegang. Shanum itu aset jutaan Dollar.”

“Garis keturunannya dari Turki itu emas murni bagi mereka yang tahu cara menikmatinya, berikan Shanum kepada kami maka kami akan memberikan imbalan besar padamu.”

“Jika kau tidak menyerahkannya, mereka akan meratakan tempat kumuhmu itu untuk menjemputnya!”

Rasyid langsung mematikan sambungan. Jantungnya berdegup kencang. Ancaman itu nyata. Ia segera keluar dan memanggil Zaki yang rupanya sedang berjaga di dekat selasar.

“Zaki, masuk,” perintah Rasyid tegas.

Di dalam kamar, Rasyid menceritakan ancaman telepon tadi. Wajah Zaki yang biasanya tenang kini berubah menjadi tegang. Ia menarik napas panjang sebelum membuka sebuah amplop kecil yang ia bawa.

“Kyai... saya sudah menemukan sedikit informasi dari kenalan saya di dunia bawah,” Zaki memulai dengan suara yang diredam.

“Shanum bukan sekadar wanita klub biasa. Di rumah bordil kelas atas itu, dia adalah primadona. Bukan karena dia suka, tapi karena dia dijual sejak remaja. Dia memiliki darah bangsawan Turki, itu sebabnya dia memiliki nilai tawar yang sangat tinggi bagi kolektor kelas atas.”

Rasyid merasa mual mendengar kata ‘kolektor’.

“Dan malam di hotel itu...” Zaki menjeda, menatap Rasyid dengan tatapan prihatin.

“Dia sebenarnya dijadwalkan untuk melayani seorang pria yang mereka panggil ‘Si Bajak Laut’. Pria itu dikenal sangat tempramental, kasar, dan memiliki kelainan seksual. Dia sering memperlakukan wanita sewaan seperti hewan, bahkan memberikan mereka kepada seluruh antek-anteknya secara bergantian.”

Rasyid memejamkan mata, bayangan Shanum yang meronta-ronta di dalam dekapan pria-pria kasar itu membuat darahnya mendidih.

“Malam itu, mereka memberinya dosis obat perangsang yang sangat tinggi—dosis yang bisa membunuh jantung wanita normal—agar dia tetap ‘hidup’ meski disiksa berjam-jam.

Tapi entah bagaimana, Shanum berhasil lari. Dia melompat dari balkon lantai bawah dan masuk ke kamar Kyai yang tidak terkunci karena Kyai sedang sujud.”

Rasyid menatap Shanum yang masih terlelap. Kini semuanya masuk akal. Ketakutannya, keringat dinginnya, tangis histerisnya saat disentuh... itu bukan karena dia ‘liar’, tapi karena jiwanya sedang berusaha melarikan diri dari neraka yang hampir melahapnya.

“Dia bukan menjebakku, Zaki...” bisik Rasyid, suaranya parau. “Dia sedang menyelamatkan nyawanya sendiri.”

Rasyid menyadari bahwa pernikahan ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah skenario Tuhan untuk menyembunyikan seorang wanita yang sedang diburu oleh iblis dunia malam.

Namun, ia juga sadar, selama Shanum ada di pesantren ini, badai yang lebih besar akan segera datang menerjang gerbang mereka.

“Zaki, perketat penjagaan. Jangan biarkan siapapun yang tidak kita kenal masuk ke area asrama wanita,” perintah Rasyid, matanya kini memancarkan keberanian yang berbeda.

“Dia bukan lagi sekadar noda bagiku. Dia adalah orang yang sedang meminta perlindungan di rumah Tuhan... dan aku tidak akan membiarkan ‘bajak laut’ itu menyentuhnya lagi.”

Di atas ranjang, Shanum bergerak sedikit. Dalam tidurnya, ia kembali bergumam lembut dalam bahasa Turki yang puitis, sebuah doa yang hanya dimengerti oleh Tuhan dan masa lalu yang berusaha ia lupakan.

Rasyid duduk di kursi samping ranjang, menjaga wanita yang kini ia sadari memiliki harga diri yang jauh lebih mahal daripada jutaan dollar yang ditawarkan dunia malam.

1
Dwiwinarni
saya suka karya author ini sangat menarik dari luar biasa....
Dwiwinarni: lanjut kakak😃
total 4 replies
Dwiwinarni
kebusukan najwa terbongkar juga, bidadari palsu🤭
Dwiwinarni
cantik iya wajahnya tapi hatinya tidak🤭
Dwiwinarni
rasyid jaga baik2 shanum banyak mengincarnya...
Dwiwinarni
ternyata shanum seorang putri dari turkey
Dwiwinarni
akhirnya muncul juga tuan bajak laut...
Dwiwinarni
masih jadi misterius simbol2 ditubuh shanum...
Dwiwinarni
shanum telah jatuh cinta sama mas kyai...
Dwiwinarni
mas kyai tidak fokus shanum tiba-tiba menciumnya🤭
Dwiwinarni
meraka hanya bisa menghakimi shanum aja...
Dwiwinarni
jahat banget saudaranya rasyid...
Dwiwinarni
cie-cie mas kyai bisa cemburu juga ya🤭
Dwiwinarni
mas kyai dah mulai bersikap baik...
Dwiwinarni
Mereka datang untuk menjemputmu shanum😃
Lyynn: bisa jadi tuhh
total 1 replies
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarangan mungkin anak horang kaya...
Dwiwinarni: wkwkwkwk🤣🤣🤣
total 2 replies
Dwiwinarni
kasian bingit nasibmu malang bingit shanum...
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarang kayaknya...
Dwiwinarni
Bagus rasyid sangat gercap menyelidiki Siapakah dalangnya, yg membuat shanum mabuk berat sampai nyasar kekamar rasyid..
Dwiwinarni
ibunya rasyid lagi berjuang antara hidup dan mati, rasyid menyalahkan shanum...
Dwiwinarni: pasti kakak semuanya terkejut...
total 2 replies
Dwiwinarni
Shanum kamu sudah terikat pernikahan sama rasyid...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!