Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pukul 4 subuh, alarm berbunyi dengan nyaring. Zira yang masih kelelahan setelah perjalanan panjang tetap terlelap, memeluk erat sang suami tanpa sadar. Di sisi lain, Nathan mulai terbangun. Matanya mengarah pada Zira yang tengah memeluknya erat. Astaghfirullah, batinnya terkejut. Ini adalah pertama kalinya mereka satu ranjang sejak pernikahan.
Nathan berusaha menenangkan pikirannya. "Ini istrimu, istri yang halal, bukan siapa-siapa," gumamnya dalam hati, mencoba meredam gejolak kecil yang muncul. Setelah menarik napas panjang, Nathan pun membangunkan Zira.
“Dek, ayo bangun. Waktunya sholat subuh,” ajaknya lembut.
Namun, dengan mata yang masih setengah terpejam, Zira merespons singkat, “Lima menit lagi ya,” sambil semakin mengeratkan pelukannya.
Nathan tersenyum, "Gak bisa, dek. Ayo bangun, sholat subuh sudah mau masuk," ucap Nathan, sambil membelai rambut Zira.
Zira menggung, "Hmm, 5 menit lagi, mas...," ucap Zira, sambil memelati Nathan.
Nathan tertawa, "Gak bisa, dek. Ayo bangun, nanti telambat sholatnya," ucap Nathan, sambil mencoba melepaskan pelukan Zira.
Zira akhirnya membuka mata, "Hmm, oke deh, mas...," ucap Zira, sambil duduk di atas ranjang.
Nathan tersenyum, "Ayo, dek. Bangun, kita sholat bareng," ucap Nathan, sambil membantu Zira bangun dari ranjang
Setelah itu, Nathan dan Zira beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan bersiap sholat subuh. Setelah selesai, mereka berdua menuju ke masjid pondok untuk sholat subuh berjamaah. Suasana pagi yang tenang dan sejuk membuat mereka semakin khusyuk dalam beribadah. Setelah sholat, Nathan dan Zira duduk sejenak di masjid, menikmati kebersamaan dan ketenangan pagi hari. "Mas, Zira senang bisa sholat subuh bareng kamu," ucap Zira, sambil memelati tangan Nathan. Nathan tersenyum, "mas juga senang, dek. Semoga kita bisa selalu sholat bareng dan menjaga hubungan kita," ucap Nathan, sambil membalas pelati Zira.
Setelah itu, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pondok sambil menikmati segarnya udara pagi. "Mas, Zira mau ke taman belakang pondok, yuk," ajak Zira sambil menggenggam tangan Nathan.
Nathan tersenyum lembut. "Ayo, Dek. Bang juga penasaran ada apa di sana," katanya, mengikuti Zira menuju taman belakang.
Taman itu begitu indah, dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran dan diiringi kicauan burung yang merdu. Mereka duduk di sebuah bangku taman, menikmati suasana alam yang tenang dan kehangatan kebersamaan. "Wah, bunganya cantik banget, Mas," ujar Zira seraya memandang sekeliling.
Nathan tersenyum lagi. "Iya, mas juga kaget lihat sebanyak ini. Padahal waktu di tinggal ke Jakarta dulu, bunganya belum sebanyak ini. Ini semua berkat Umi yang turun tangan langsung. Jadinya taman ini bisa secantik ini," jelas Nathan sambil membelai kepala Zira yang mengenakan kerudung instan.
"Umi hebat banget ya, Mas. Zira jadi pengin bisa seperti Umi," kata Zira dengan nada kagum.
"Kamu pasti bisa, Dek," balas Nathan meyakinkan. "Oh iya, Dek, jam 10 nanti mas ada acara kajian di komplek sebelah. Kamu mau ikut?"
"Boleh, Mas. Zira pengin ikut kajian itu," jawab Zira antusias
Pukul 10 pagi akhirnya tiba. Di rumah yang sederhana namun penuh kehangatan itu, Zira dan Nathan bersiap-siap untuk menghadiri acara kajian rutin yang menjadi bagian dari perjalanan spiritual mereka. Nathan, yang telah rapi dengan pakaian sopannya, duduk menunggu di ruang tamu dengan penuh kesabaran. Sementara itu, di kamar, Zira masih diliputi pergulatan batin yang begitu mendalam. Dia dihadapkan pada sebuah keputusan penting—apakah akan mengenakan cadar atau tidak.
Keputusan ini bukanlah perkara mudah baginya. Jika ia memutuskan untuk mengenakannya, Zira memahami bahwa konsekuensi besar siap menanti di luar sana. Masa lalunya mungkin akan kembali muncul ke permukaan, menghantui dirinya di mata publik. Diri Nana yang kelam di masa lampau seolah-olah akan bangkit kembali, membawa bayang-bayang yang selama ini mencoba ia buang jauh. Namun, di tengah keraguan itu, Zira akhirnya menguatkan hatinya. Ia menarik napas panjang dan membulatkan tekad.
“Bismillah,” bisiknya dalam hati, suaranya terdengar lirih tetapi penuh keyakinan. “Ini adalah pilihan terbaik untukku. Aku ingin menjadi istri yang sholehah, seorang pendamping yang bisa mendampingi suamiku menuju ridha-Nya.”
Dengan tekad yang kian mengakar kuat, Zira merapikan penampilannya sekali lagi sebelum keluar untuk menemui sang suami yang setia menunggunya. Saat Zira menuruni tangga, Nathan menatapnya dengan mata yang seketika berbinar takjub, seolah tak percaya dengan keindahan yang ia lihat. Penampilan Zira yang berbalut ketaatan membuat Nathan sesaat kehilangan kata-kata.
“Dek, kamu cantik banget,” ucap Nathan sambil tersenyum tulus, matanya tak lepas dari istrinya yang kini tampak berbeda namun begitu memesona.
Tak hanya Nathan, bahkan Umi Aisyah yang kebetulan melihat Zira turut terkejut sekaligus terpesona. “Subhanallah, Zira. Umi sampai pangling! Tadi Umi sempat berpikir kalau ini bukan kamu,” ujar Umi dengan nada penuh kekaguman dan rasa syukur.
Zira menunduk sedikit sembari tersenyum malu. Pujian itu membuat hatinya semakin mantap pada keputusan yang telah ia ambil. Dengan penuh keyakinan, ia lalu mengajak Nathan untuk segera berangkat menuju acara kajian. Hatinya kini terasa lebih tenang dan damai, siap menjalani babak baru dalam hidupnya dengan keikhlasan dan harapan akan keberkahan di masa depan.
Nathan memamerkan senyuman lembut, lalu berkata, "Mas benar-benar gak nyangka, dek. Kamu terlihat begitu cantik dan anggun hari ini." Perkataannya diucapkan dengan penuh kekaguman sembari matanya menatap lembut wajah Zira yang tertutup cadar. Ada sorot bangga yang tak bisa disembunyikan dari wajah Nathan.
Di sisi lain, Umi Aisyah ikut tersenyum penuh ketulusan. "Iya, Zira memang banyak berubah. Semoga penampilan dan kesungguhanmu ini selalu terjaga, Nak. Jadilah istri yang sholehah untuk Nathan," kata Umi Aisyah seraya menyentuhkan tangannya ke bahu Zira dengan penuh kasih sayang.
Zira membalas dengan senyuman malu-malu. "Insha Allah, Umi. Zira akan berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik untuk Mas Nathan," jawabnya sembari menatap Nathan dengan pandangan tulus, penuh rasa hormat dan cinta.
Nathan mengulurkan tangan mengajak Zira. "Kalau begitu, ayo, dek. Sudah waktunya kita pergi ke kajian," ajaknya dengan nada lembut namun tegas, sebelum mereka berdua melangkah keluar dari rumah.
Perjalanan menuju kajian itu terasa begitu damai. Wajah Zira yang tertutup cadar memancarkan pesona luar biasa, membuat banyak mata terpaku saat mereka tiba. Setiap orang yang melihat pasangan itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka, terutama pada Zira yang tampak begitu anggun berjalan di sisi Nathan. Namun, di tengah keramaian jamaah yang hadir, seorang wanita mendekati Zira dengan ekspresi wajah penuh tanya.
"Maaf, apakah benar kamu Nana?" tanya wanita itu dengan raut penasaran yang sulit disembunyikan. Pertanyaan itu seolah menggantung di udara, belum sempat dijawab Zira yang kini tampak sedikit ragu dan terpaku, seperti tengah bergulat dengan diri sendiri. Apakah ia siap untuk menghadapi kenyataan masa lalunya sebagai Nana?
Tak lama kemudian, wanita itu melanjutkan dengan suara riang, "Bolehkah aku meminta foto dengamu?" Zira akhirnya tersenyum kecil dan menjawab singkat namun ramah, "Silakan."
Usai berfoto bersama, wanita tadi masih menatap Zira sembari berkata, "Kemana saja kamu selama ini? Semua fans club kamu mencarimu terus-menerus. Mereka bahkan bertanya-tanya soal jadwal kegiatanmu ke asistennya, Maura." Nada suaranya menunjukkan antusiasme bercampur rasa penasaran. Namun, tatkala ia melihat sosok Nathan yang berdiri di samping Zira dalam diam tapi penuh wibawa, matanya membulat seakan mengungkapkan keterkejutan lain. "Eh, Gus Nathan?!" serunya dengan suara yang agak tertahan.
Zira menanggapi pertanyaan wanita itu dengan tenang namun tetap bijak. "Iya, ini suami saya." Kalimatnya mengalir lancar tanpa ada celah kebimbangan. Sesuatu yang mengejutkan bagi Nathan karena biasanya istrinya selalu mengelak identitasnya sebagai Nana. Namun kali ini, ia melihat sendiri bagaimana Zira dengan terbuka mengakui masa lalunya.
Nathan memilih untuk terdiam meskipun pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang bersarang di benaknya. Ia hanya memerhatikan dengan pandangan kosong namun tetap sabar menunggu penjelasan lebih lanjut dari sang istri. Sebagai istri yang paham betul kegelisahan suaminya, Zira segera menjelaskan dengan lembut, "Nanti aku akan jelasin semuanya ke Mas."
Tidak ingin memperpanjang percakapan di tempat itu, Zira pun berbicara kepada wanita tersebut sambil tersenyum kecil. "Maaf ya, sekarang saya dan suami harus masuk ke masjid dulu. Assalamualaikum," katanya sambil merangkul Nathan untuk melanjutkan langkah mereka.
"Waalaikumsalam, Ning Zira... Gus Nathan," balas wanita itu dengan nada terkejut dan kagum setelah melihat pasangan tersebut berjalan masuk ke dalam masjid. Wanita itu masih berdiri terpaku di tempatnya, dilingkupi perasaan syok bercampur haru akibat peristiwa tak terduga ini. Dalam hati kecilnya ia bergumam pelan seraya melangkahkan kaki masuk ke masjid untuk menghadiri kajian Gus Nathan. "Memang benar adanya... jodoh adalah cerminan diri sendiri."
Jamaah tersebut masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi, dia tidak bisa membayangkan bahwa Nana, idola nya, telah kembali ke publik dengan suami baru, Gus Nathan. Dia masih mencoba memproses informasi tersebut sambil berjalan masuk ke masjid.
Di dalam masjid, Zira dan Nathan duduk di barisan depan, Zira masih mencoba menenangkan diri, sementara Nathan masih terlihat bingung. "Mas, aku jelasin ya, nanti di rumah" ucap Zira, sambil memandang Nathan.
Nathan hanya mengangguk, masih mencoba memahami situasi tersebut.
Kajian kemudian dimulai, dan Nathan naik ke podium untuk memberikan ceramah. Zira mendengarkan dengan khusyuk, sambil memandang suaminya dengan bangga. Sebelum ceramah selesai Gus Nathan perkenalkan zira sebagai istrinya ke jamaah nya.
Suasana di dalam jamaah masjid tiba-tiba menjadi riuh ketika Gus Nathan berdiri di tengah para hadirin dan dengan lantang mengumumkan bahwa Zira adalah istrinya. Pernyataan tersebut membuat sebagian besar jamaah terkejut, terutama karena Zira sebelumnya dikenal sebagai Hafizah yang begitu dihormati di kalangan masyarakat. Banyak di antara mereka yang seolah sudah memahami alasan di balik misteri hilangnya Ning Nana selama ini, menduga bahwa semua itu terjadi demi mempersiapkan dirinya menjadi istri sholehah bagi Gus Nathan. Sebagian juga menyetujui pandangan bahwa Zira dan Gus Nathan adalah pasangan yang sangat serasi.
Di tengah segala perhatian yang tertuju kepadanya, Zira tetap tersenyum meski ada sedikit rasa malu yang terpancar dari wajahnya. Namun, di balik itu, kebahagiaan menyelimuti hatinya karena Gus Nathan memperkenalkan dirinya sebagai istri di depan khalayak ramai. Tiba-tiba, seorang jamaah mengangkat tangan, memberi isyarat ingin berbicara. Gus Nathan merespon dengan anggukan kepala, tanda memberi izin kepada jamaah tersebut untuk mengutarakan maksudnya.
"Gus," ujar sang jamaah setelah mendapat kesempatan berbicara, "maaf kalau boleh mengusulkan, apakah Ning Nana bisa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Kami sangat merindukan suaranya yang merdu setiap kali beliau membaca Al-Qur’an." Mendengar hal itu, Gus Nathan sejenak melemparkan pandangannya kepada Zira untuk mengetahui pendapatnya. Dengan senyuman lembut, Zira mengangguk, memberi persetujuan atas permintaan tersebut. "Baik, kalau begitu boleh," jawab Gus Nathan penuh kehangatan sebelum beralih kepada Zira sambil berkata, "Dek, ayo ke sini."
Dengan langkah perlahan namun mantap, Zira maju ke tempat Gus Nathan berada. Di hadapan jamaah masjid, dia mempersiapkan diri untuk memberikan dakwah sekaligus memenuhi permintaan mereka. Suasana menjadi hening dan khidmat saat Zira mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara indah yang penuh penghayatan. Kejernihan bacaannya menggetarkan hati banyak orang yang hadir hari itu. Sambil membaca, air mata perlahan menetes dari sudut matanya—bukan karena sedih, tetapi karena rasa haru dan rindu yang tak tertahankan. Dalam hatinya, dia mengenang momen-momen seperti ini, saat dia dulu sering memberikan lantunan ayat suci kepada jamaah dengan sepenuh jiwa. Momen itu terasa menjadi pengikat kembali hubungan spiritualnya dengan jamaah sekaligus menjadi simbol nyata dari awal kehidupan barunya bersama Gus Nathan.