Dalam kehidupan sebelumnya, Vanylla Anderson adalah legenda di dunia teknologi. Ia seorang jenius yang berdiri di puncak, ditakuti sekaligus dihormati oleh banyak orang.
Namun ketika membuka mata untuk kedua kalinya, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis yang dianggap tidak berguna.
Namanya Vanylla Kennedy. Putri keluarga konglomerat yang dikenal bodoh, malas belajar, dan sering menjadi bahan ejekan di kalangan keluarga kaya.
Lebih buruk lagi, sebuah rahasia besar baru saja terungkap. Vanylla Kennedy ternyata bukan anak kandung keluarga Kennedy. Bayi yang tertukar delapan belas tahun lalu akhirnya ditemukan.
Putri asli keluarga itu, Emilly, kembali dengan kecantikan, kecerdasan, dan reputasi yang sempurna.
Sementara Vanylla hanya dianggap sebagai putri pengganti palsu yang memalukan. Ia dihina, diusir, dan dibuang dari keluarga yang dulu ia sebut rumah.
Namun sayangnya. Gadis yang mereka hina itu bukan lagi Vanylla yang dulu.
Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengemis Tua
Setelah Vanylla meninggalkan rumah itu, Julia segera menyuruh pelayannya membeli semua bahan obat yang tertulis di resep.
Kemudian dia menelepon ibu mertuanya, Beatrice, untuk menyampaikan kabar baik. Begitu mendengar berita itu, Beatrice langsung bergegas datang.
“Julia, Thomas benar-benar bisa disembuhkan? Dokternya di mana? Aku ingin bertemu dengannya!”
Beatrice datang bersama keponakannya, Giggie.
Orang tua Giggie sudah meninggal sejak dia masih kecil, jadi dia dibesarkan oleh Beatrice. Kebetulan Beatrice dan suaminya, Gonzalez, tidak memiliki anak perempuan, sehingga selama bertahun-tahun mereka memperlakukannya seperti anak kandung.
Julia menjawab, “Nona Anderson sudah pulang. Tapi dia akan datang lagi seminggu lagi.”
Beatrice masih ragu. “Apakah Nona Anderson benar-benar yakin bisa menyembuhkan Thomas?”
Setelah begitu banyak dokter gagal, Beatrice tentu sangat cemas. Saat itu Julia menyuruh pelayan membawa sebuah toples kaca.
“Tolong lihat ini.”
Di dalam toples itu terdapat cairan berwarna merah seperti darah.
Di dalamnya terlihat makhluk kecil seperti benang transparan yang menggeliat.
Giggie tertegun sesaat. Sekilas cahaya aneh melintas di matanya, lalu segera menghilang. Dia langsung memegang tangan Julia dengan takut.
“Kak Julia! Itu apa? Seram sekali!”
Beatrice juga terkejut. Bulu kuduknya langsung berdiri.
Julia menjelaskan, “Ini parasit dari tubuh Thomas. Selama ini kita salah. Thomas bukan sakit biasa. Dia terinfeksi parasit. Nona Anderson bilang parasit ini sangat licik dan tidak bisa dideteksi oleh alat medis biasa.”
Giggie sedikit menyipitkan mata. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, siapa sebenarnya Nona Anderson ini. Beatrice masih tidak percaya.
“Maksudmu… cacing ini keluar dari tubuh Thomas?”
Julia mengangguk. Wajah Beatrice langsung pucat.
Melihat cacing-cacing itu saja sudah menakutkan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan putranya selama ini.
Melihat reaksi Beatrice, Julia segera berkata, “Ma, jangan terlalu khawatir. Sekarang penyebab penyakitnya sudah ditemukan. Nona Anderson pasti bisa menyembuhkan Thomas.”
Giggie juga menenangkan. "Iya, Tante. Jangan terlalu cemas. Kak Thomas pasti akan sembuh.”
***
Setelah pulang, Vanylla menyalakan HPnya.
Dia menghapus akun WA lamanya dan semua akun media sosial lainnya. Kemudian dia membuat akun baru.
Malamnya dia pergi bekerja seperti biasa.
Michael duduk di dekat meja kasir mengerjakan PR.
Begitu melihat Vanylla datang, dia langsung menyapa.
“Kamu datang.”
“Iya.”
Tak lama kemudian, Michael melihat HP di tangan Vanylla.
“Kamu beli HP?”
“Iya. Baru beli hari ini.”
“Mau tukeran Nomer? aku scan QR code kamu.”
Vanylla sempat ragu sebentar, lalu menyerahkan HPnya.
“Boleh.”
“Aku sudah add.”
Tak lama kemudian muncul notifikasi.
‘Permintaan pertemanan diterima.’
Foto profil Vanylla adalah bunga kecil yang tidak dikenal.
Nama akunnya adalah kalimat puisi.
Rumah adalah tempat hati berada.
Michael sedikit mengernyit.
Vanylla bahkan belum lulus sekolah. Apa dia benar-benar mengerti arti kalimat itu?
Kalau tidak mengerti, berarti dia hanya sok tahu.
Sok pintar.
Benar-benar munafik. Tidak heran ibunya tidak menyukainya.
Michael mengerutkan kening lagi, lalu mematikan HPnya dan kembali mengerjakan PR.
***
Sekitar pukul tujuh malam, seorang nenek datang mengemis di kedai. Pakainya lusuh. Rambutnya putih semua.
Dia berjalan pelan sambil membawa tongkat dengan punggung membungkuk.
Sekarang terlalu banyak penipu, jadi semua orang pura-pura tidak melihatnya.
Namun ketika Vanylla melihat wanita tua itu, matanya langsung terasa panas. Dia seperti melihat bayangan neneknya di dunia lain.
Di kehidupan sebelumnya, orang tua Vanylla meninggal saat dia masih kecil. Dia dibesarkan oleh seorang nenek yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Kalau bukan karena nenek itu, dia mungkin sudah mati sejak lama. Namun neneknya meninggal saat Vanylla berusia sepuluh tahun.
Meski Vanylla kemudian menjadi tokoh besar di dunia teknologi dan terkenal di seluruh dunia, dia tidak pernah sempat memberi neneknya kehidupan yang layak. Itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Vanylla berjalan mendekati wanita tua itu sambil tersenyum. “Nek, silakan duduk di sini. Mau makan apa?”
Wanita tua itu menatap Vanylla dengan canggung. “Nak… aku…”
Saat itu Monie Chan keluar dari dalam.
Dia langsung berkata dengan tidak senang, “Apa yang kamu lakukan, Vanylla? Kenapa kamu bawa orang seperti ini masuk? Warungku bukan tempat amal!”
Apa Vanylla pikir dia pemilik warung ini?
Apa dia mau mentraktir pengemis makan gratis di sini?
Benar-benar tidak tahu malu!
Vanylla mengangkat kepala sedikit.
“Tenang aja. aku yang bayar.”
Bayar?
Monie Chan mengerutkan kening. Kemudian dia langsung mengerti. Vanylla sengaja melakukannya.
Dia ingin menunjukkan sisi baiknya di depan Michael dengan menolong pengemis supaya anaknya tertarik padanya. Benar-benar licik.
Dia harus segera memberi tahu anaknya supaya tidak tertipu gadis ini.
Monie Chan langsung masuk ke dalam. Sementara itu Vanylla memberikan menu kepada nenek itu.
“Nek, lihat dulu mau makan apa.”
Nenek itu terkejut. “Nak… kamu benar-benar mau traktir aku makan?”
“Iya.”
“Kalau begitu aku pesan ya!”
Nenek itu langsung memesan beberapa makanan, termasuk semangkuk mie lobster. “Semua ini boleh?”
“Boleh. Silakan tunggu sebentar.”
Tidak lama kemudian Vanylla datang membawa makanan yang dipesan.
Nenek itu makan sambil sesekali melirik Vanylla. Tatapannya penuh kepuasan. Gadis ini benar-benar baik. Cantik, suaranya juga lembut.
Setelah selesai makan, nenek itu menyeka mulutnya lalu memanggil Vanylla. “Nak, sini sebentar.”
Vanylla berjalan mendekat. “Ada yang bisa aku bantu, Nek?”
Nenek itu mendorong mangkuk kosongnya. “Aku sudah selesai makan. Aku agak haus. Bisa ambilin aku air?”
“Tentu.”
Vanylla mengambilkan segelas air. Nenek itu meminumnya lalu bersendawa kecil.
“Aku… aku juga mau minum cola. Boleh?”
Dia mengira Vanylla akan kesal karena permintaannya terlalu banyak. Namun Vanylla tetap tersenyum.
“Boleh.”
Vanylla membeli cola untuknya.
“Di dalamnya ada es. Minumnya pelan-pelan ya.”
Nenek itu mengangguk lalu menghabiskan cola dengan cepat.
“Nak, siapa nama kamu?”
“Nama aku Vanylla..”
“Gimana kalau aku panggil kamu Vannie? Dan panggil aku Nenek Damascus.”
Vanylla tertawa. “Baik, Nenek Damascus.”
“Bagus! Anak baik!” kata Granny Damascus sambil tertawa senang. “Sudah malam. Aku harus pulang. Vannie, kita ketemu lagi besok.”
“Baik. Sampai besok.”
Setelah mengantar Nenek Damascus pergi, Vanylla kembali membantu di dapur.
Namun baru saja dia hendak pergi, tiga orang masuk ke warung.
Emilly.
Selena.
Sonia.
Melihat pakaian mereka yang mewah, Monie Chan segera menyambut.
“Silakan masuk.”
Ini pertama kalinya Emilly datang ke warung pinggir jalan sejak kembali ke keluarga kaya. Dia mengerutkan kening dengan jijik. Menurutnya hanya orang kelas bawah yang makan di tempat seperti ini.
Mereka menemukan meja kosong lalu duduk.
Emilly berkata, “Di sini ada pelayan bernama Vanylla?”
“Ada,” jawab Monie Chan.
Selena langsung berkata, “Suruh Vanylla yang melayani kami.”
Monie Chan menjawab, “Maaf. Dia sedang mengerjakan tugas lain.”
Saat itu Emilly dengan santai mengeluarkan setumpuk uang dari dompetnya.
“Ini tip buat pelayan.”
Mata Monie Chan langsung berbinar. Dia segera mengambil uang itu.
“Tunggu sebentar. aku akan langsung memanggil dia.”
Monie Chan bergegas menghampiri Vanylla sambil tersenyum.
“Vanylla, hentikan dulu pekerjaanmu. Masuk ke dalam dan layani tamu.”
“Hah?” Vanylla sedikit terkejut.
Monie Chan menjelaskan, “Ada satu meja tamu yang khusus minta kamu yang melayani. Kamu kenal mereka?”
Dalam hati Monie Chan merasa itu tidak mungkin. Dengan latar belakang keluarga Vanylla, mustahil dia mengenal tamu-tamu seperti itu.
Dia tadi sudah memperhatikan mereka dengan saksama. Yang paling cantik di antara mereka memakai pakaian bermerek mahal yang biasanya hanya terlihat di televisi.
Kaos yang dipakai saja harganya lebih dari seribu yuan.
Kalau Vanylla benar-benar kenal orang seperti itu, dia tidak mungkin bekerja di sini.
Vanylla sedikit mengerutkan kening lalu mengikuti Monie Chan kembali ke dalam. Monie Chan menunjuk dengan dagunya.
“Di sana, meja tiga perempuan itu. Layani mereka baik-baik.”
Setelah melihat dengan jelas siapa orangnya, Vanylla berjalan mendekat sambil membawa menu tanpa perubahan ekspresi.
“Mau pesan apa?” Dia hanya menjalankan tugasnya.
Kalau tiga orang ini datang untuk mencari masalah, dia akan menghadapinya sesuai situasi.
Lagipula, sepanjang hidupnya Vanylla tidak pernah takut pada siapa pun. Mendengar suara yang familiar, sudut bibir Emilly melengkung sinis.
Dia mengangkat kepala. Namun detik berikutnya ekspresinya membeku.
Itu... Vanylla?
Sejak kapan Vanylla yang dulu jelek berubah menjadi seperti ini?
Emilly awalnya mengira akan melihat Vanylla yang lusuh dan menyedihkan. Ternyata justru sebaliknya.
Bagaimana bisa?
Bagaimana perempuan itu bisa terlihat begitu cantik?
Apakah dia operasi plastik?
Kenapa dia bahkan terlihat lebih cantik daripada Emilly sendiri?
Ekspresi Emilly langsung berubah. Rasa iri di hatinya meledak. Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya. Dia tidak bisa membiarkan siapa pun melampaui dirinya.
Sonia dan Selena juga tercengang. Bukankah kemarin Vanylla mengambil uang mereka dan mengatakan akan membeli kosmetik?
Kenapa hari ini dia tidak memakai riasan sama sekali?
“Vanylla, kenapa kamu tidak pakai makeup hari ini? Dengan wajah jelekmu begitu kamu bisa menakuti orang!”
Sonia bertanya dengan wajah kesal. “Makeup?”
Vanylla sedikit mengerutkan alis dan berpura-pura bingung. “Maksudmu apa? Dan... aku kenal kalian?”
Melihat wajah Vanylla yang tampak polos, Sonia dan Selena bahkan sempat ragu apakah orang yang mereka temui kemarin benar-benar dia.
Ada apa dengan dia?
Sonia langsung berdiri dengan marah dan menunjuk Vanylla.
“Jangan pura-pura, Vanylla! Kamu jelas sudah mengambil uang kami!”
Vanylla tersenyum tipis. “Kalau kalian belum mau pesan, aku masih ada pekerjaan lain.”
Selena menahan emosinya dengan susah payah. Dia menatap Vanylla.
“Aku pesan semua makanan yang ada di menu.”
“Kalian tahu kalian bertiga belum tentu bisa menghabiskannya?” kata Vanylla mengingatkan.
Selena menyipitkan mata. “Siapa pelanggan di sini? Kami atau kamu? Kamu tahu gak pelanggan itu selalu benar? Kami yang pesan. Tugas kamu cuma menyajikan! Kamu cuma pelayan kecil, masih berani mempertanyakan pelanggan?”
Selama ini Emilly tidak berkata apa-apa.
Saat ini dia berusaha keras menekan kemarahan dan kecemburuan di dalam hatinya. Dia tidak boleh kehilangan kendali.
“Kalau begitu, mohon tunggu sebentar.” Vanylla membawa menu itu ke dapur.