bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09.TEKNIK BEBEK LUMPUH DAN MATA DI BALIK KABUT
Suara langkah kuda memecah keheningan pagi di depan penginapan Arka. Sir Gareth, dengan zirah perak yang memantulkan cahaya matahari tidak sudi turun dari kudanya. Ia memandang rendah pintu kayu yang reyot itu seolah-olah debu dari sana bisa menodai kehormatannya.
"Waktunya berangkat, Petualang!" suara Gareth menggelegar, penuh dengan otoritas yang dipaksakan. "Jangan biarkan Kerajaan menunggu hanya karena kalian sibuk mengemasi barang-barang rongsokan kalian!"
Pintu terbuka dengan derit panjang. Arka keluar sambil menggaruk perutnya yang tertutup kemeja kusam, diikuti oleh Jiro, Kael, dan Elara. Di tangan mereka, tergenggam pedang besi berkarat, busur kayu lapuk, dan staf kayu tanpa permata mana, persis seperti sekelompok pengemis yang mencoba menjadi pahlawan.
Gareth tertawa sinis, tawanya kering dan menghina. "Benar-benar menyedihkan. Kalian akan menghadap Dewan Ksatria Suci dengan besi tua itu? Sebaiknya kalian gunakan itu untuk menggali kuburan kalian sendiri jika gagal nanti."
Arka hanya tersenyum bodoh, menepuk pundak Jiro yang tangannya sudah mengepal hingga kuku jarinya memutih. "Tenang, Sir Gareth. Kami ini petualang hemat. Jika besi ini cukup tajam untuk memotong roti, maka ia cukup tajam untuk monster, kan?"
...
Sepanjang perjalanan menuju Lembah Kabut, Gareth sengaja memacu kuda perang putihnya dengan kecepatan penuh. Ia ingin melihat rombongan Arka tertinggal, merangkak di debu jalanan sambil memohon padanya untuk melambat.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Arka telah menyuntikkan mana halus ke empat ekor kuda kurus yang mereka sewa. Untuk menjaga penyamaran, Arka memanipulasi tubuh kuda-kuda itu mulut mereka berbusa, nafas mereka terdengar seperti mesin rusak, dan mata mereka melotot seolah akan copot.
"Lihat mereka!" Gareth membatin dengan puas saat menoleh ke belakang. "Kuda-kuda malang itu hampir mati demi mengejar kecepatanku. Dasar orang-orang miskin yang keras kepala."
Gareth tidak menyadari bahwa setiap kali otot kuda itu hampir robek, mana Arka memperbaikinya seketika. Mereka lari dengan kecepatan mustahil bagi kuda kurus, namun tetap terlihat seperti "sekarat". Arka sendiri tampak duduk miring di atas pelana, kepalanya terkantuk-kantuk jatuh ke depan, nyaris mencium leher kuda berkali-kali.
...
Memasuki Lembah Kabut, udara menjadi dingin dan tebal. Jarak pandang menyempit menjadi hanya lima meter. Tiba-tiba, bumi bergetar. Dua ekor Grizzly Stone raksasa (Level 45) muncul dari balik kabut. Kulit mereka yang seperti granit berkilau karena embun.
Sir Gareth menarik kendali kudanya ke belakang, menyilangkan tangan di depan zirahnya. "Nah, tunjukkan padaku 'bakat' yang dibicarakan Zenos!" teriaknya. "Aku tidak akan membantu. Jika kalian mati di sini, berarti kalian memang sampah yang harus dibersihkan dari daftar petualang."
"Ingat instruksiku," bisik Arka lewat telepati yang tajam. "Teknik Bebek Lumpuh. Serang dengan canggung, buat gerakan yang terlihat salah, tapi pastikan monster itu mati."
Jiro maju duluan. Ia mengangkat pedang berkaratnya dengan kuda-kuda yang sangat kaku, kaki yang terlalu lebar dan bahu yang terlalu tegang. Jiro membenci akting ini, harga dirinya sebagai murid Arka terluka, tapi ia patuh. Saat beruang itu menerjang, Jiro berpura-pura kehilangan keseimbangan.
"Waaaa! Ibuuuu!" teriak Jiro dengan nada yang sangat palsu (Arka meringis mendengarnya).
Saat Jiro 'tersungkur' ke depan, pedang besinya secara ajaib meluncur masuk tepat ke celah tipis di bawah ketiak beruang. Cras! Beruang itu melolong dan ambruk. Jiro berguling di tanah, pura-pura gemetar ketakutan padahal ia sedang mengatur nafas agar mananya tidak bocor.
Kael melepaskan panah dengan tarikan busur yang terlihat tidak bertenaga. Panah itu melesat melengkung tinggi, terlihat seperti bidikan orang mabuk. Namun, panah itu memotong serat dahan pohon besar di atas beruang kedua. KRAK! Dahan seberat ratusan kilogram itu jatuh tepat di kepala beruang, menghancurkan tengkoraknya seketika.
Sir Gareth menyipitkan mata. Ia terdiam sejenak. "Tunggu..." gumamnya. Sebagai ksatria tingkat menengah, instingnya mencium sesuatu yang janggal. "Dua kematian karena kebetulan yang sangat presisi?"
Ia hendak turun dari kuda untuk memeriksa bangkai itu, namun tepat di detik itu, Arka melakukan manuver pengalihan.
Bruk!
Arka jatuh dari kudanya dengan posisi wajah menghantam tumpukan semak berduri. "Aduh! Aduh! Pinggangku encok! Siapa yang mematikan lampunya?!" teriak Arka sambil meronta-ronta konyol di tanah.
Gareth mendengus jijik. Kecurigaannya langsung menguap, digantikan oleh rasa muak yang mendalam. "Tidak mungkin orang-orang bodoh ini menyembunyikan kekuatan. Lihatlah guru mereka, dia bahkan tidak bisa duduk tegak di pelana. Kebetulan tetaplah kebetulan."
...
Gareth memacu kudanya lagi, meninggalkan area pertempuran dengan sombong. Namun, di atas tebing kabut yang tinggi, seorang sosok berjubah hitam dengan lambang Burung Hantu Perak, Intelijen Rahasia Kerajaan menurunkan teropong sihirnya.
"Lapor ke Pusat," bisiknya ke kristal komunikasi. "Target Jiro menggunakan Inverse Momentum saat berpura-pura jatuh. Target Kael menghitung gravitasi dan kecepatan angin untuk mematahkan dahan pohon. Mereka bukan amatir. Mereka adalah ahli bela diri yang melakukan akting."
Sosok itu menjeda laporannya saat melihat Arka yang sedang bangkit dari semak-semak sambil membersihkan hidungnya yang "berdarah" (padahal itu hanya sihir ilusi warna).
"Dan soal Target Utama, Arka... dia adalah yang paling berbahaya. Dia menyadari keberadaanku sejak lima kilometer yang lalu. Dia sengaja jatuh hanya untuk memastikan ksatria sombong itu tidak melihat kebenaran."
"Ayo, cepat jalan!" teriak Gareth dari kejauhan. "Kalian benar-benar beruntung dewa sedang tidur dan menjaga nyawa kalian!"
Arka kembali naik ke kudanya, menepuk-nepuk debu di celananya. Ia melirik ke arah tebing tempat mata-mata itu bersembunyi selama satu detik sebuah lirikan yang membuat mata-mata di atas sana merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat.
"Biarkan mereka melapor," batin Arka sambil tersenyum tipis. "Semakin banyak yang menonton, semakin seru panggung yang akan kita buat di Markas Ksatria nanti."