Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — Jarak
"Kau tidak akan masuk lagi ke dalam.”
Pintu klinik bahkan belum terbuka sepenuhnya ketika Alice mengucapkan kalimat itu dari balik celah pintu. Suaranya tidak tinggi, namun mengandung ketegasan yang menciptakan pembatas yang lebih kuat daripada dinding beton mana pun.
Leon berdiri membeku di ambang pintu. Tangannya yang baru saja hendak mengetuk pintu tertahan di udara. Ia menatap Alice, yang kini menatapnya dengan pandangan yang jauh lebih dingin daripada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
“Aku tidak datang untuk membuat masalah, Alice,” Leon berkata dengan nada suara yang paling tenang yang bisa ia kelola.
Alice menyilangkan tangan di depan dadanya, tetap menahan pintu agar tidak terbuka lebar. “Kau selalu bilang begitu setiap kali kau datang, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Kau membawa aura peperangan ke tempat yang seharusnya menjadi suaka bagi orang sakit.”
Leon menatap ke dalam klinik melalui celah bahu Alice. Ruangan itu tampak sunyi. Aroma antiseptik yang khas tetap ada di sana, bercampur dengan aroma kopi yang sudah mendingin di atas meja. Semuanya tampak normal, sebuah dunia kecil yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan kekerasan yang Leon jalani setiap hari.
“Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja setelah... pria tadi pergi,” Leon mencoba menjelaskan.
Alice mengangkat alisnya, ada gurat kekecewaan yang mendalam di wajahnya. “Dengan cara mendobrak pintuku lagi seperti seorang preman? Kau membuat pasien-pasienku yang lain ketakutan, Leon. Kau hampir membuat anak kecil yang sedang menunggu tadi menangis karena caramu masuk ke sini.”
Leon terdiam. Kata-kata itu menusuknya lebih dalam daripada peluru kaliber mana pun. “Aku minta maaf. Itu bukan maksudku.”
Alice menghela napas panjang, tatapannya tidak lagi marah, namun jelas ada jarak baru yang tercipta di antara mereka. Sebuah jarak yang dibangun oleh ketidakpercayaan. “Klinik ini bukan markas rahasiamu, Leon. Dan aku bukan bagian dari permainan apa pun yang sedang kau jalani.”
Leon menundukkan kepalanya sedikit. “Aku tahu.”
“Orang-orang datang ke sini untuk mencari kesembuhan, bukan untuk melihat dua pria bersenjata saling menatap seolah-olah mereka akan meledakkan seluruh blok ini,” Alice melanjutkan dengan nada yang lebih pelan namun tetap tajam.
Leon berbisik, suaranya terdengar sangat tulus di tengah kesunyian gang. “Itu tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji.”
Alice menatap Leon selama beberapa detik, mencari kebohongan di matanya. Setelah merasa cukup, ia akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar, namun tubuhnya tetap menghalangi jalan masuk. “Kalau begitu, jangan berdiri di depan pintuku seperti seorang penjaga bayaran. Kau menarik perhatian yang salah.”
Leon sedikit memiringkan kepalanya, bingung dengan pilihan kata Alice. “Penjaga?”
Alice menunjuk ke arah ujung gang dengan dagunya. “Kau sudah berdiri di sana, di ujung gang itu, selama hampir sepanjang pagi. Kau pikir aku tidak tahu? Kau membuat orang-orang di distrik ini mulai bertanya-tanya dan merasa tidak nyaman.”
Leon tidak menyangkalnya. Ia memang berada di sana, memastikan tidak ada unit Helix yang mendekat. “Biarkan saja mereka bertanya. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.”
Alice menggelengkan kepalanya pelan, tampak lelah dengan segala misteri yang dibawa Leon. “Kau benar-benar orang yang aneh, Leon. Terkadang kau terlihat seperti pria yang tersesat, tapi di waktu lain kau terlihat seperti seseorang yang siap menghancurkan apa pun.”
Leon hampir saja tersenyum, namun otot wajahnya terlalu kaku untuk melakukannya. “Banyak orang yang mengatakan hal serupa.”
“Kalau kau tidak sedang terluka, atau kau tidak membawa pasien yang butuh bantuan, tolong jangan datang ke klinik ini,” Alice berkata dengan nada yang bersifat final.
Leon menatap mata Alice untuk terakhir kalinya sebelum pintu itu menutup. “Baiklah. Aku mengerti.”
Alice menatap Leon sebentar lagi, seolah ingin mengatakan sesuatu namun memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Ia kemudian menutup pintu kayu itu dengan perlahan.
Klik.
Suara kunci yang diputar bergema di telinga Leon. Ia berdiri diam di depan pintu itu selama beberapa detik, merasakan kehampaan yang aneh di dadanya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju motor hitamnya yang terparkir di bawah bayangan gedung.
Suara Gray muncul kembali di earpiece beberapa detik setelah Leon menyalakan mesin. “Bagaimana hasilnya? Apa 'suaka' itu sudah menolakmu?”
Leon memacu motornya perlahan keluar dari gang, menjauh dari Klinik Arden. “Dia tidak ingin aku berada di dekatnya. Aku hanya pembawa masalah baginya.”
Gray menjawab dengan nada datar yang profesional. “Aku tidak terjejut. Kau adalah bayangan, Leon. Dan cahaya tidak pernah cocok berdampingan dengan bayangan.”
“Aku tetap akan mengawasi dari kejauhan,” tegas Leon.
Gray tidak mencoba menghentikannya kali ini. Ada hal yang lebih mendesak daripada pertengkaran mereka. “Ada sesuatu yang perlu kau dengar. Helix baru saja memperbarui data di jaringan gelap.”
Leon bertanya pendek, matanya tetap waspada memantau spion. “Apa?”
“Kontraknya berubah,” Gray terdengar sedang mengetik dengan sangat cepat. “Hadiah untuk eksekusi Alice Arden naik menjadi sepuluh juta dollar.”
Leon tidak terkejut, namun ia bisa merasakan tensi di udara semakin berat. “Mereka sangat ingin dia mati.”
“Helix menaikkan hadiahnya pagi ini karena mereka mulai tidak sabar dengan kegagalanmu,” Gray melanjutkan. “Dan itu bukan satu-satunya masalah.”
Leon memutar motornya ke jalan utama yang lebih ramai. “Apalagi?”
“Setidaknya tujuh pemburu bayaran kelas atas sudah mengambil kontrak itu secara resmi dalam satu jam terakhir. Mereka adalah orang-orang yang tidak peduli pada reputasi Phantom.”
Leon mendesis pelan. “Mereka hanya akan datang untuk mati.”
Gray tidak menanggapi kesombongan Leon. Sebaliknya, ia berkata dengan nada yang jauh lebih serius. “Leon, Rook masih berada di Valmere. Dan aku kehilangan jejak sinyal sensornya.”
Leon menghentikan motornya di sebuah lampu merah yang panjang. “Dia tidak akan pergi jauh. Predator seperti dia selalu bersembunyi di dekat mangsanya.”
Beberapa kilometer dari sana, di sebuah kafe lantai dua yang kumuh namun strategis, Rook duduk di meja luar. Helmnya diletakkan di atas meja di samping secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Dari posisinya, ia memiliki pandangan yang jelas ke arah Klinik Arden melalui teropong digital kecil.
Rook menyesap kopinya perlahan, matanya yang dingin mengamati setiap pergerakan di gang itu. Seorang pelayan kafe mendekat, bertanya dengan suara gemetar, “Apakah kopinya sesuai dengan selera Anda, Tuan?”
Rook tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat sang pelayan merasa ingin segera pergi. “Kopinya nikmat. Tapi pemandangan di bawah sana jauh lebih menarik.”
Pelayan itu tidak mengerti dan hanya tertawa canggung sebelum berlalu pergi. Rook terus menatap ke arah klinik, gumamannya hampir tidak terdengar di tengah kebisingan jalanan. “Jarang sekali aku melihat seorang pembunuh legendaris seperti Phantom jatuh cinta pada targetnya sendiri. Ini akan menjadi tragedi yang sangat indah untuk disaksikan.”
Rook menaruh cangkirnya kembali ke meja. Ia melihat Alice keluar sejenak untuk membuang kantong sampah ke tong besar di depan klinik. Pria itu mengeluarkan ponsel terenkripsi dari saku jaketnya, mengetik satu pesan singkat ke pusat komando Helix.
Target terkonfirmasi. Phantom telah beralih pihak. Memulai fase eliminasi kedua.
Ia menekan tombol kirim, lalu tersenyum dingin.
Di sisi lain kota, di dalam gedung pencakar langit Helix yang megah, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal membaca pesan itu di layar tabletnya. Ia berdiri di depan jendela kaca yang memperlihatkan seluruh Valmere di bawah kakinya. Di belakang mejanya, logo spiral Helix yang berwarna hitam legam terpampang besar di dinding.
“Jadi, sang legenda benar-benar sudah melemah,” gumam pria itu.
Seorang asisten wanita yang berdiri di belakangnya mengangguk. “Sepertinya begitu, Tuan. Phantom lebih memilih melindungi dokter itu daripada mengambil sepuluh juta dollar.”
Pria itu berbalik, wajahnya tanpa ekspresi namun matanya berkilat penuh kebencian. “Jika Phantom tidak mau menyelesaikan kontraknya, maka kita akan membiarkan seluruh serigala di Valmere melakukannya.”
Wanita itu bertanya pelan. “Termasuk Rook?”
Pria itu tersenyum lebar, senyuman yang menandakan bencana. “Terutama Rook. Berikan koordinat pasti Alice Arden kepada siapa pun yang memegang kontrak. Malam ini, Distrik 6 harus dibersihkan dari hantu-hantu masa lalu.”