Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Perampok bodoh
Cahaya bulan perak menyiram hamparan gandum yang melambai ditiup angin malam.
Di kejauhan, siluet megah Istana Naga mulai terlihat seperti monster raksasa yang sedang mendengkur.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi. Di jalan setapak yang sunyi, empat bayangan melesat dari balik pepohonan, mengepung Yan Bingchen dan kawan-kawannya dengan formasi yang rapi.
"Berhenti di sana, bocah kaya," suara serak memecah kesunyian.
Seorang pria bertubuh gempal dengan bekas luka melintang di wajahnya melangkah maju.
Matanya tertuju pada bungkusan kain di punggung Yan Bingchen yang memancarkan aura berat dan kuat. "Pusaka di punggungmu itu terlalu bagus untuk pengembara dekil sepertimu. Serahkan, dan mungkin aku akan membiarkan temanmu yang pincang dan anjing buduk itu hidup."
Tiga orang lainnya tertawa, menghunuskan pedang dan kapak yang berkilau di bawah rembulan.
Mereka adalah kelompok perampok yang sering memangsa pendatang baru yang terlihat lemah.
Yan Bingchen tidak bergerak. Matanya yang merah dan biru berkilat dingin, menatap mereka seolah-olah mereka adalah serangga yang berisik.
"Mo Ran, tutup matamu," bisik Yan Bingchen datar.
"Tapi Kak—"
"Tutup."
Mo Ran segera meringkuk di samping Si Hitam yang menggeram rendah, bulu tengkuknya berdiri tegak meski kakinya masih terbalut kain.
Pimpinan perampok itu mendengus, merasa terhina. "Sombong sekali! Habisi dia!"
Keempatnya menerjang secara bersamaan. Namun, bagi Yan Bingchen yang telah mencapai puncak pemahaman energinya, gerakan mereka terasa sangat lambat dan amatir.
Tanpa perlu bersusah payah, ia melepaskan bungkusan di punggungnya.
Pusaka tingkat tinggi itu menghantam tanah dengan dentuman yang menggetarkan permukaan bumi, menciptakan retakan kecil di bawah kakinya.
Ia tidak menggunakan senjata beratnya. Terlalu berlebihan untuk sampah seperti ini.
Tangan kanan Yan Bingchen menyala dengan api merah pekat, sementara tangan kirinya mengeluarkan uap dingin yang membekukan udara di sekelilingnya.
Saat perampok pertama mengayunkan kapak, Yan Bingchen hanya menggeser tubuhnya sedikit.
Dengan satu gerakan kilat, telapak tangan esnya menghantam dada pria itu.
KRAK.
Suara jantung yang membeku dan pecah terdengar jelas. Pria itu terpental, tubuhnya menjadi patung es dalam sekejap sebelum hantamannya ke tanah menghancurkannya menjadi butiran kristal merah.
Dua perampok lainnya tertegun, namun momentum mereka tak bisa berhenti. Yan Bingchen melesat di antara mereka.
Sebuah lingkaran api spiral meledak dari tubuhnya, membakar habis oksigen di sekitar mereka.
Dalam hitungan detik, kedua perampok itu tewas dengan paru-paru yang hangus, jatuh ke tanah tanpa sempat berteriak.
Tersisa sang pemimpin. Ia gemetar, senjatanya terjatuh ke tanah. Ia baru sadar bahwa ia baru saja memancing naga yang sedang tertidur. "A-ampun ... Tuan ... Saya tidak tahu kalau Anda adalah seorang ahli ..."
"Sudah terlambat untuk menyesal," ujar Yan Bingchen dingin.
Ia hanya menjentikkan jarinya. Sebuah tombak es yang dibalut api ungu melesat, menembus tenggorokan pria itu hingga tertancap ke pohon di belakangnya. Kematian instan yang sunyi.
Yan Bingchen menghela napas, menenangkan aliran energinya yang kini sudah menyatu sempurna dengan jiwanya.
Ia tidak lagi merasakan gejolak; yang ada hanyalah otoritas penuh atas setiap inci kekuatannya.
"Aman, Mo Ran. Bangunlah," panggilnya.
Mo Ran membuka matanya pelan-pelan, menelan ludah melihat empat mayat yang kini sudah tidak berbentuk lagi. "Wah ... Kak, kau benar-benar tidak memberi mereka nafas sama sekali."
"Dunia ini tidak mengenal belas kasihan bagi yang serakah," sahut Yan Bingchen. Ia mulai menggeledah mayat-mayat tersebut dengan tenang.
Hasil rampasannya cukup menggiurkan. Dari kantong-kantong perampok itu, ia menemukan:
Tiga kantong besar berisi kepingan emas dan permata (setidaknya 300 tael emas).
Beberapa botol ramuan pemulih tingkat menengah yang cukup untuk mengobati luka Si Hitam.
Sebuah peta rahasia menuju pasar gelap di pinggiran Istana Naga.
Dua cincin penyimpanan sederhana yang berisi persediaan makanan mewah dan pakaian sutra.
"Ambil emasnya, Mo Ran. Kita butuh modal untuk masuk ke kota," perintah Yan Bingchen sambil melemparkan kantong-kantong itu.
Mo Ran menangkapnya dengan mata berbinar, rasa takutnya seketika hilang digantikan oleh kegembiraan. "Eh? Ini banyak sekali! Kita kaya lagi, Kak! Si Hitam, lihat! Kita bisa makan daging rusa premium besok!"
Si Hitam mendengus puas, seolah menyetujui. Ia mendekat ke arah Yan Bingchen, menggosokkan kepalanya ke kaki tuannya sebagai tanda terima kasih.
Yan Bingchen membalasnya dengan usapan pelan, lalu kembali memikul pusaka beratnya yang kini terasa lebih ringan karena keadilan telah ditegakkan.
Mereka melanjutkan perjalanan di bawah kegelapan, meninggalkan jasad para perampok yang perlahan akan menjadi pupuk bagi tanah subur Ordo LONG.
Dengan kantong yang kembali penuh dan reputasi yang akan segera meledak, gerbang Istana Naga kini menyambut mereka dengan kemegahan yang menanti.