Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ares Winston
Di dalam sebuah kamar luas yang seolah ditelan oleh kegelapan pekat, atmosfer terasa begitu dingin dan mencekik. Hanya ada sedikit cahaya remang yang gagal menyapu bayang-bayang di setiap sudut ruangan.
Di tengah kesunyian itu, Ares Winston bersandar lesu di atas ranjang besarnya. Tubuhnya yang atletis dengan otot-otot perut yang tegas—tampak seperti pahatan kotak-kotak yang sempurna—terpampang jelas karena ia bertelanjang dada. Namun, pemandangan itu kontras dengan rona kulitnya yang pucat pasi, hampir menyerupai mayat hidup yang tak tersentuh matahari.
Pada lengannya yang kokoh, terdapat luka goresan panjang yang masih segar, sisa-sisa perlawanan dari seorang penyusup misterius yang berhasil menyelinap masuk ke dalam teritorinya. Namun bukannya mengalir keluar atau berhenti setelah ditekan, cairan merah pekat itu justru perlahan mengeras dan membeku, seolah-olah suhu di dalam nadinya telah menyentuh titik nol.
Ares hanya bisa menatap penyakit itu dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya menghela nafas panjang yang terasa berat, menyiratkan kelelahan yang lebih dari sekadar fisik.
"Dingin... bahkan kematian pun tampaknya enggan menyentuhku dengan cara yang biasa." Ares menghela napas panjang, suaranya berat dan bergema di ruangan yang sunyi.
Albert melangkah masuk dengan langkah kaki yang terukur, membungkuk hormat di kegelapan.
"Lapor, Tuan Muda. Tikus kecil yang berani mengusik ketenangan Anda sudah berada dalam genggaman kami. Ia tidak sempat melarikan diri lebih jauh dari gerbang belakang."
Ares menoleh perlahan, matanya berkilat tajam di balik bayangan. "Katakan padaku, Albert... apa yang mendorong seorang amatir mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menggores kulitku? Apa motif di balik keberanian yang sia-sia ini?"
Albert menunduk lebih dalam, suaranya merendah. "Sesuai dengan firasat Anda, Tuan. Benang merahnya mengarah ke paviliun utara. Wanita itu kembali bermain dengan pion-pion murahannya. Tampaknya, kesabaran bukan lagi bagian dari rencananya."
Sudut bibir Ares terangkat, membentuk senyuman miris yang penuh ironi. "Wanita itu... ambisinya jauh lebih besar daripada akal sehatnya. Dia begitu terobsesi ingin menyingkirkan batu penghalang ini demi memuluskan jalan bagi putra kesayangannya menuju takhta Winston."
Ares menyentuh darahnya yang membeku dengan ujung jari, lalu menekannya hingga pecah. "Dia lupa satu hal, Albert. Untuk membunuh seorang monster, dia butuh sesuatu yang lebih tajam dari sekadar belati perak. Aku bukan pria yang akan membiarkan kekuasaan ku jatuh hanya karena luka kecil yang membeku ini. Katakan padanya melalui utusan itu... Winston tidak diwariskan kepada mereka yang pengecut."
Ares terdiam sejenak, mematung menatap kegelapan di sudut kamar sebelum kembali menatap Albert dengan intensitas yang lebih tinggi. "Cukup soal tikus itu. Bagaimana dengan penyelidikan mengenai wanita yang lima tahun lalu menaiki ranjangku? Kau sudah menemukan di mana dia bersembunyi?"
Albert menunduk semakin dalam, raut wajahnya penuh sesal. "Maaf, Tuan Muda... itu... saya masih belum menemukan jejaknya secara pasti. Malam itu hujan sangat deras, dan semua rekaman CCTV di sekitar hotel telah dihapus secara profesional sebelum kita sempat mengamankannya."
Ares berdiri dengan tubuh yang tampak lemah namun memancarkan aura mengintimidasi, langkahnya gontai menuju jendela. "Cari wanita itu sampai ke ujung dunia sekalipun, Albert! Di malam terkutuk itu, akulah yang merampas mahkota kehormatannya tanpa belas kasihan. Jika dugaanku benar... jika rahimnya mengandung benihku..."
Ares menyentuh kaca jendela yang seketika mengembun karena suhu tubuhnya yang aneh. "Anak itu... dia akan mewarisi penyakit kutukan ini. Darah yang membeku, jantung yang mendingin. Aku tidak akan membiarkan darah dagingku menderita sendirian di luar sana, atau lebih buruk lagi, ditemukan oleh musuh-musuhku sebelum aku sempat melindunginya."
"Siapa pun dirimu, di mana pun kau bersembunyi... aku bersumpah akan menemukanmu. Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku, dan jika benar kau melahirkan anakku, aku tidak akan membiarkan dunia ini menyentuh kalian sesenti pun."
•
•
Pagi itu, atmosfer di kediaman Lergan terasa mencekam, seolah udara di setiap sudut ruangan membeku secara tiba-tiba. Claire, yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, melangkah menuju dapur dengan rambut yang masih lembap, namun langkahnya terhenti seketika saat pandangannya beradu dengan sosok yang sangat ia kenal—Amber, sang nyonya besar sekaligus ibu dari Julian.
Di ruang tengah, Amber tidak duduk sendirian--- Julian berada tepat di sampingnya dengan gurat wajah yang sulit dibaca.
Claire berhenti sejenak, menatap Amber dengan tatapan dingin. "Wanita ini? Bukankah dia yang selalu mengontrol hidup Julian? Apa yang dia lakukan di sini sepagi ini?" batin Claire sembari melangkah menuju dapur, namun langkahnya terhenti oleh suara tajam Amber.
Amber meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan yang sengaja dikeraskan. "Jam segini kau baru menampakkan batang hidungmu? Ckck, luar biasa. Kau memilih masuk ke dalam keluarga ini melalui kelicikanmu, Claire. Setidaknya, milikilah rasa malu untuk mematuhi peraturan dasar keluarga ini. Kedisiplinan adalah harga mati di keluarga Lergan."
Claire berbalik pelan, menatap Amber dengan ekspresi datar yang tidak terbaca. "Apa pedulimu? Ini rumah suamiku, dan aku istrinya. Jam berapa aku bangun bukan urusan yang perlu masuk dalam agenda rapat pagimu, Nyonya Amber."
Cangkir teh di tangan Amber bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya pada wanita yang biasanya selalu menunduk ketakutan di hadapannya. "Apa kau bilang? Kau berani menjawabku seperti itu?"
Julian mengepalkan tangan di samping ibunya, wajahnya memerah menahan amarah. "CLAIRE! JAGA BICARAMU PADA IBUKU! Di mana sopan santun yang selama ini kau pamerkan?"
Claire memutar bola mata dengan malas, menyandarkan tubuhnya di pilar ruangan. "Dia ibumu, Julian. Bukan ibuku. Jadi jangan harap aku akan memberikan sujud sembah yang sama seperti yang kau lakukan setiap hari."
Amber berdiri dengan penuh kemurkaan, suaranya meninggi hingga menggema di langit-langit ruangan "Kau! Dasar wanita kampungan tidak tahu diuntung! Kau menjebak putraku dengan obat murahanmu itu hanya agar kau bisa tidur dengannya dan mengandung benihnya. Kau merangkak masuk ke keluarga Lergan menggunakan anak yang ada di rahimmu sebagai tiket masuk! Jaga bicaramu atau aku akan memastikan kau diusir dari sini dan meminta Julian menceraikanmu saat ini juga!"
Claire maju selangkah, justru tersenyum tipis yang tampak sangat meremehkan. "Kau pikir aku takut? Silakan, usir aku. Cereraikan aku. Tapi ingat satu hal, Nyonya Besar... itu bukan akhir dari kehancuran ku."
Julian membentak lebih keras, mendekat ke arah Claire dengan tatapan tajam."CLAIRE! CUKUP! HORMATI IBUKU! Aku tidak tahu apa yang merasukimu, tapi kau sudah keterlaluan. Perubahanmu ini benar-benar memuakkan!"
Claire menatap langsung ke mata Julian tanpa rasa takut sedikit pun. "Yang memuakkan adalah kenyataan bahwa kau selalu bersembunyi di balik ketiak ibumu, Julian. Jika kau ingin aku menghormatinya, mulailah dengan mengajari ibumu cara menghargai nyonya di rumah ini."
Ketegangan itu mendadak pecah saat dua pasang kaki kecil berlari pelan mendekat. Michel dan Mikael muncul, berdiri mematung menatap Amber. Dari kejauhan mereka mendengar suara keributan-- karena rasa penasaran, akhirnya mereka ingin memastikan apa yang terjadi.
"Eh... Oma Monsthel cedang apa di cini?" Michel bertanya dengan suara cadelnya yang polos. Ia memiringkan kepala, menatap wajah Amber yang sedang emosi. "Menulut buku Cuplatman yang Mihel baca, Oma-oma ndak boleh malah-malah, nanti muka na tambah keliput telus cepat mati."
Mikael yang berdiri di samping saudaranya hanya bisa membatin, "Buku mana lagi itu? Sejak kapan Superman bahas keriput wajah?"
Amber ternganga, kehilangan kata-kata karena dihina secara tidak langsung oleh cucunya sendiri, sementara Claire hampir saja tertawa melihat ekspresi syok di wajah mertuanya itu.
Amber meledak, amarahnya kini beralih pada cucunya sendiri. "BERANI KAMU MENYUMPAHI OMA CEPAT MATI?! Dasar anak-anak tidak dididik! Claire, lihat apa yang kau ajarkan pada mereka!"
Michel mengedipkan mata dengan tenang. "Ndak nyumpahin loh, Oma. Michel cuma jadi olang jujul juga. Kata Oma baik, kita halus jujul, ndak boleh emocian?"
Claire tersenyum tipis, kali ini senyumnya penuh kemenangan. "Dengar itu, Nyonya Amber? Bahkan anak kecil pun tahu mana yang jujur dan mana yang hanya sekadar drama pagi hari."
" Macak ikan di dalam kuali, ada tikus makan tomat. Oma kan cudah cepuh cekali. Halusnya banyak belibadah bial celamat."
Seketika, hening.
Amber membeku di tempatnya, mulutnya menganga lebar karena syok disebut "sepuh" dan disuruh segera beribadah. Sementara Julian melongo, tidak percaya anak sekecil Michel bisa melontarkan sindiran setajam itu di depan wajah ibunya.
Claire? Dia hanya menahan senyum puas, merasa pahlawan kecilnya baru saja memberikan skakmat yang paling manis.
Mikael menatap saudaranya dengan kagum. "Sepertinya aku juga harus belajar pantun dari Kang Sule atau nonton komedi lebih banyak," batin Mikael. " Nggak perlu main cakar-cakaran, cukup dengan kata manis tapi tajam, harga diri nenek sihir ini langsung rontok... kena mental nggak tuh."
Wajah Amber memerah padam, napasnya memburu. "CUKUP! Aku datang ke sini bukan untuk berdebat dengan anak kecil atau wanita yang tidak tahu diri sepertimu! Besok akan ada pertemuan besar di kediaman utama. Datanglah, dan aku harap kau tidak akan mempermalukan nama besar Lergan dengan perilaku udikmu itu!" Amber menyambar tas nya, meninggalkan ruangan dengan rahang mengeras menahan emosi.
Setelah Amber pergi dengan langkah menghentak, Claire terdiam. Pikirannya melayang pada kilasan ingatan yang tiba-tiba muncul—alur cerita dari drama Antagonis yang ia tonton.
Claire berbisik lirih. "Perjamuan makan malam itu... Jadi, ini adalah awal dari jebakan yang sebenarnya."
•
•
•
BERSAMBUNG