Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Gantungan kunci Menara Eiffel yang tadinya tersimpan aman di dalam tas selempang cokelat itu kini menusuk telapak tangan Felysha Anindhita. Ia meremas logam kecil itu kuat-kuat, membiarkan ujungnya yang tajam memberikan rasa sakit fisik yang nyata agar ia tidak pingsan karena rasa takut yang meluap. Di bawah lampu jalan yang cahayanya bergetar karena tegangan listrik yang tidak stabil, Felysha menelan ludah yang terasa pahit. Cairan hangat di lehernya sudah mulai mengering, meninggalkan sensasi lengket dan perih yang semakin tajam saat ia mencoba menggerakkan kepalanya.
Pria di bangku taman itu masih menunduk ke arah ponselnya. Cahaya dari layar perangkat itu menerangi wajahnya dari bawah, menciptakan bayangan tegas di sekitar rahang dan tulang pipinya. Felysha melangkah satu demi satu, sol sepatu botnya yang berdebu tidak lagi bersuara kencang di atas aspal. Ia berhenti sekitar tiga meter dari bangku tersebut. Ia ingin bicara, namun kerongkongannya seolah tersumbat oleh gumpalan kedinginan yang tidak mau turun.
Tangan kiri Felysha terangkat, perlahan menyentuh bagian lehernya yang terluka. Ia merasakan ujung jemarinya basah kembali. Ia menarik tangannya, menatap sisa warna merah di kulitnya yang pucat di bawah sinar lampu kuning.
Pria itu bergerak. Ia mematikan layar ponselnya, lalu mengangkat kepalanya pelan. Topi baseball yang ia kenakan sedikit menutupi matanya, namun Felysha bisa merasakan tatapan pria itu kini terkunci padanya. Ada jeda panjang di antara mereka. Suara angin musim gugur yang membawa daun-daun kering terdengar seperti bisikan di antara pepohonan yang meranggas.
"Nona?"
Suara pria itu terdengar rendah, namun sangat jelas. Ia berdiri dari bangku taman dengan gerakan yang sangat tenang. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket denimnya yang sudah pudar warnanya. Saat ia melangkah satu langkah mendekat, Felysha secara otomatis mundur satu langkah. Bahunya menegang, dan napasnya yang pendek-pendek keluar sebagai uap putih di udara malam.
"Kamu terluka," pria itu berkata lagi. Kali ini ia menunjuk ke arah leher Felysha dengan gerakan jari yang tidak mengancam. "Apa yang terjadi?"
Felysha membuka mulutnya, namun hanya suara embusan napas yang keluar. Ia mencoba membasahi bibirnya yang pecah-pecah karena kedinginan. Ia kembali meremas gantungan kunci di tangannya.
"Ada... ada yang ambil tas saya," bisik Felysha. Suaranya bergetar hebat, nyaris hilang ditelan bunyi deru mobil dari kejauhan.
Pria itu mengerutkan kening. Ia tidak langsung menghampiri Felysha, seolah memberi ruang agar gadis itu tidak semakin panik. Ia mengedarkan pandangannya ke arah gang gelap tempat Felysha baru saja berlari keluar.
"Tadi? Baru saja?"
Felysha mengangguk cepat. Air mata yang sempat tertahan di pelupuk matanya kembali jatuh, meninggalkan jejak panas di pipinya yang dingin. Ia menunjuk ke arah gang itu dengan tangan yang gemetar. "Dia lari ke sana. Pakai jaket gelap. Dia dorong saya."
Pria itu menghela napas pendek. Ia berjalan ke tepi trotoar, menatap ke arah gang yang dimaksud Felysha selama beberapa detik. Ia kemudian berbalik, menatap Felysha dengan pandangan yang lebih lembut. Ia merogoh saku jaketnya, bukan mengambil ponsel, melainkan selembar saputangan bersih yang ia lipat rapi.
"Tekan lehermu pakai ini," ia menyodorkan saputangan itu dengan tangan kanan. "Darahnya masih keluar."
Felysha ragu-ragu sesaat. Ia menatap saputangan itu, lalu menatap wajah pria di depannya. Pria itu tampak tidak lebih tua darinya, mungkin hanya selisih beberapa tahun. Matanya tenang, tidak ada aura predator yang ia rasakan dari pencopet tadi. Felysha maju selangkah, mengambil saputangan itu dengan ujung jarinya. Aroma sabun cuci yang ringan dan bersih tercium dari kain itu.
"Terima kasih," gumam Felysha. Ia menempelkan saputangan itu ke lehernya. Rasa perih kembali menyengat, membuatnya sedikit meringis dan memejamkan mata.
"Aku Mahesa," pria itu memperkenalkan diri. Ia tidak menawarkan jabat tangan, menyadari kondisi Felysha yang masih syok. "Aku juga orang Indonesia. Kamu sendirian di sini?"
Mendengar bahasa Indonesia keluar dari mulut pria itu, pertahanan Felysha sedikit runtuh. Ia merasa ada secuil rasa akrab di tengah kota yang baru saja melukainya. Bahunya yang tadi naik menegang, perlahan-lahan mulai turun.
"Felysha," jawabnya lirih. "Saya... saya tinggal di dekat sini. Tadi cuma mau jalan-jalan."
Mahesa mengangguk-angguk. Ia merapatkan jaket denimnya. "Jalanan ini memang sepi kalau sudah lewat jam sepuluh. Harusnya jangan lewat gang yang lampunya mati. Copet di Paris suka nunggu di tempat seperti itu."
Felysha hanya menunduk, menatap ujung sepatunya yang kini terasa sangat berat. Ia teringat paspornya yang hilang, kunci apartemennya, dan bayangan Julian yang pasti akan meledak jika tahu kejadian ini. Ia merasa dunianya kembali menyempit, namun kali ini ada satu orang asing yang berdiri di dekatnya.
"Tas kamu... ada barang berharga di dalamnya?" Mahesa bertanya sambil memutar tubuhnya, menatap kembali ke arah gang gelap.
"Paspor saya. Kunci rumah. Semuanya ada di sana," Felysha merasa ingin menangis lagi saat menyebutkan paspor. "Saya nggak tahu harus gimana kalau paspornya nggak ketemu."
Mahesa diam selama beberapa saat. Ia kemudian membetulkan posisi topinya, menarik napas panjang yang terdengar mantap. Ia menoleh pada Felysha, matanya menyisir penampilan Felysha dari atas ke bawah sejenak sebelum kembali ke wajahnya.
"Kita coba cari," ucap Mahesa tiba-tiba. "Biasanya kalau mereka sudah ambil uang atau barang elektronik, tasnya dibuang di tong sampah atau di balik semak-semak dekat sini. Mereka nggak mau bawa tasnya terlalu jauh karena itu barang bukti."
Felysha mengangkat wajahnya. "Cari? Tapi dia lari cepat banget."
"Kita sisir gang itu pelan-pelan," Mahesa memberikan instruksi dengan nada yang tenang, seolah ia sudah sering menghadapi situasi seperti ini. "Jangan lari. Kita jalan saja. Kamu masih kuat jalan, kan?"
Felysha mengangguk. Ia menekan saputangan Mahesa lebih kuat ke lehernya. Ia merasa tidak punya pilihan lain. Kembali ke apartemen tanpa kunci pun ia tidak bisa masuk. Mahesa mulai melangkah perlahan menuju arah gang gelap tadi, namun ia berhenti dan menoleh, menunggu Felysha agar berjalan di sampingnya.
Langkah kaki mereka kini beriringan di atas trotoar yang sunyi. Felysha merasa ada jarak aman yang tetap dijaga oleh Mahesa, sekitar setengah meter di antara mereka. Ia memperhatikan profil samping wajah Mahesa yang diterangi lampu jalan secara bergantian. Ada ketenangan yang aneh pada pria ini, sesuatu yang membuat rasa panik Felysha sedikit mereda, meskipun ketakutan akan kehilangan barang-barangnya tetap ada di sana.
Mereka sampai di mulut gang. Felysha terhenti sejenak, menatap kegelapan di depannya dengan rasa trauma yang masih segar. Ia teringat dorongan keras pria tadi. Ia merasakan punggungnya yang masih berdenyut nyeri akibat menghantam dinding batu.
"Tetap di dekatku," Mahesa berkata tanpa menoleh. Ia mengeluarkan ponselnya lagi, menyalakan fitur senter yang cukup terang. Cahaya putih dari ponsel itu membelah kegelapan gang, memperlihatkan tumpukan kotak kayu dan aspal yang tidak rata.
Felysha melangkah masuk ke dalam gang, kali ini di samping Mahesa. Ia mencium aroma tembakau yang samar dari jaket pria itu. Setiap bunyi gesekan kaki mereka dengan tanah terasa sangat keras di telinganya. Ia terus menatap ke arah semak-semak dan sudut-sudut gelap yang disinari oleh lampu ponsel Mahesa.
Di dalam hatinya, Felysha mulai berdoa. Ia tidak peduli dengan uangnya. Ia hanya ingin paspor dan foto ayahnya kembali. Ia menatap punggung Mahesa yang bergerak lincah menyinari setiap celah bangunan. Ia tidak tahu siapa Mahesa sebenarnya, atau mengapa pria ini begitu baik menolongnya tengah malam begini. Namun untuk saat ini, Mahesa adalah satu-satunya pegangannya di tengah malam Paris yang kejam.