NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Evelyn menginjak rem mobilnya tepat di depan lobi rumah sakit. Suara mesin yang sebelumnya meraung pelan kini terhenti ketika ia memutar kunci dan mematikannya. Napasnya masih sedikit memburu setelah perjalanan yang penuh ketegangan. Tangannya sempat menggenggam kemudi beberapa detik, seolah menenangkan diri sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil dan keluar dengan tergesa.

Udara malam yang dingin menyambutnya, tetapi Evelyn bahkan tidak sempat merasakannya. Fokusnya hanya tertuju pada pria yang terbaring tak sadarkan diri di kursi belakang mobilnya.

Dengan langkah cepat ia berlari beberapa meter menuju pintu lobi rumah sakit sambil berteriak keras.

"Tolong! Ada pasien gawat darurat!" teriak Evelyn lantang, suaranya menggema di area depan rumah sakit yang saat itu tidak terlalu ramai.

Seorang penjaga keamanan yang berdiri di dekat pintu kaca otomatis langsung menoleh. Melihat sosok Evelyn, dokter bedah di rumah sakitnya keluar dari dalam mobil, ia segera menghampiri dengan wajah serius.

"Ada apa, Dok?" tanyanya cepat.

Evelyn menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir tepat di depan lobi.

"Pasiennya ada di dalam mobilku. Cepat ambil kursi roda atau brangkar!" perintahnya tegas tanpa membuang waktu.

Penjaga itu mengangguk cepat dan hendak berbalik, namun sebelum ia melangkah lebih jauh, seorang perawat sudah muncul dari dalam rumah sakit sambil mendorong sebuah brangkar. Rupanya teriakan Evelyn tadi cukup keras hingga menarik perhatian beberapa staf medis di dalam.

"Di mana pasiennya, Dok?" tanya perawat itu sambil menghentikan brangkar di dekat mereka.

"Di mobil," jawab Evelyn singkat sambil langsung berjalan kembali menuju kendaraan miliknya.

Pintu depan mobil segera dibuka. Lampu kabin menyala, memperlihatkan sosok pria asing yang terbaring lemah di kursi samping kemudi. Kemejanya sudah basah oleh darah yang merembes dari luka di perutnya. Warna merah gelap itu bahkan sudah menodai jok mobil Evelyn.

Perawat yang melihat kondisi itu langsung menarik napas terkejut.

"Ya Tuhan…"

"Tolong pegang bahunya," kata Evelyn cepat, nadanya kembali berubah menjadi dingin dan profesional seperti seorang dokter yang sudah terbiasa menghadapi kondisi darurat.

Penjaga keamanan ikut membantu dari sisi lain, sementara dua perawat tambahan yang baru datang segera mengambil posisi untuk mengangkat tubuh pria itu.

"Pelan-pelan… satu, dua, tiga!" ujar Evelyn memberi aba-aba.

Dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh pria tersebut dari kursi mobil. Tubuhnya terasa berat dan lemas, hampir tak memberikan reaksi sama sekali. Kepalanya terkulai, sementara napasnya terdengar sangat lemah.

Begitu tubuhnya berhasil dipindahkan ke atas brangkar, Evelyn langsung memeriksa kondisi lukanya dengan cepat. Tangannya menekan area sekitar perut pria itu untuk menahan aliran darah yang masih terus keluar.

"Luka tusuk di bagian perut," ucap Evelyn cepat kepada para perawat yang mengelilinginya.

Ia menatap luka tersebut dengan serius. Darah yang keluar cukup banyak, bahkan sudah menembus lapisan kain yang ia gunakan untuk menekan luka tadi.

"Pasien kehilangan banyak darah. Kita harus segera membawanya ke IGD," lanjutnya dengan nada tegas.

Para perawat langsung mengangguk. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka mulai mendorong brangkar itu dengan cepat menuju pintu masuk rumah sakit.

Pintu kaca otomatis terbuka ketika mereka mendekat. Roda brangkar berderak cepat di lantai marmer yang licin, suara langkah kaki para perawat bergema di lorong rumah sakit yang terang oleh lampu putih.

Evelyn berjalan di samping brangkar sambil terus menekan luka pria itu agar perdarahannya tidak semakin parah. Wajahnya kembali menunjukkan ekspresi fokus khas seorang dokter yang sedang berada di situasi darurat.

Beberapa staf medis yang berada di koridor menoleh ketika melihat rombongan itu lewat dengan tergesa.

"Siapkan ruang IGD!" seru salah satu perawat kepada rekannya yang berdiri di meja perawat.

Brangkar itu terus melaju cepat melewati lorong hingga akhirnya mereka sampai di depan ruang Instalasi Gawat Darurat.

Sementara itu, Evelyn masih berdiri di samping brangkar, napasnya sedikit berat, tetapi matanya tetap tertuju pada pasien yang baru saja ia bawa masuk.

Pintu ruang IGD terbuka lebar. Brangkar yang membawa pria misterius itu meluncur cepat memasuki ruang IGD. Lampu putih yang terang menyinari setiap sudut ruangan, sementara beberapa tenaga medis yang berjaga langsung bersiaga ketika melihat Evelyn masuk bersama pasien dengan kondisi kritis.

“Pasien laki-laki, luka tusuk di abdomen, kehilangan banyak darah,” ucap Evelyn cepat begitu brangkar berhenti di salah satu ranjang tindakan.

Beberapa perawat segera bergerak tanpa banyak bertanya. Salah satu dari mereka langsung memasang alat monitor di dada pasien, sementara yang lain menyiapkan peralatan medis di meja instrumen.

Bip… bip… bip…

Suara monitor jantung mulai terdengar, menampilkan detak yang masih ada namun lemah.

Evelyn menarik sarung tangan medis dengan gerakan cepat. Wajahnya kembali tenang dan fokus seperti biasa, seolah rasa panik tadi benar-benar menghilang begitu ia memasuki ruang kerja seorang dokter.

“Tekanan darah?” tanyanya singkat.

“Delapan puluh per lima puluh, Dok. Nadi lemah,” jawab salah satu perawat setelah melihat alat pengukur.

Evelyn mengangguk pelan. Kondisi itu menandakan pasien sudah kehilangan banyak darah.

“Pasang dua jalur infus. Siapkan cairan Ringer Laktat,” perintahnya tegas.

“Iya, Dok.”

Seorang perawat segera menusukkan jarum infus ke lengan pria itu, sementara yang lain menggantungkan kantong cairan di tiang infus.

Evelyn kemudian mengambil gunting medis dan dengan hati-hati memotong kemeja pasien yang sudah dipenuhi darah. Kain yang menempel di luka perlahan terbuka, memperlihatkan luka tusuk yang cukup dalam di bagian perut sebelah kiri.

Darah masih merembes keluar dari sana.

Salah satu perawat yang melihatnya sedikit menahan napas.

“Lukanya cukup dalam, Dok…”

“Aku tahu,” jawab Evelyn singkat.

Ia mengambil kain kasa steril lalu menekan area sekitar luka untuk menghentikan perdarahan sementara.

“Bersihkan lukanya,” ucapnya.

Perawat di sampingnya langsung menyiramkan cairan saline steril pada luka tersebut. Darah yang menempel mulai larut dan mengalir turun ke alas ranjang.

Evelyn memperhatikan dengan seksama, memastikan tidak ada benda asing yang tertinggal di dalam luka.

“Siapkan anestesi lokal dan alat jahit luka,” lanjutnya.

Beberapa alat segera disodorkan ke tangannya. Tangannya bergerak cekatan, menunjukkan bahwa ia sudah sangat terbiasa melakukan prosedur seperti ini.

Pertama-tama dokter anestesi menyuntikkan anestesi lokal di sekitar luka untuk mengurangi rasa sakit ketika pasien nanti sadar.

Meski pria itu masih tidak sadarkan diri, prosedur tetap harus dilakukan sesuai standar medis.

Setelah itu Evelyn mulai memeriksa kedalaman luka menggunakan pinset medis.

“Untungnya tidak mengenai organ vital secara langsung,” gumamnya pelan setelah melakukan pemeriksaan singkat.

Ia kemudian mulai menjahit jaringan luka dengan hati-hati. Jarum bedah bergerak masuk dan keluar dari kulit pasien dengan ritme teratur.

Satu jahitan…

dua jahitan…

tiga jahitan…

Sementara itu, perawat lain kembali melaporkan kondisi pasien. “Dok, tekanan darah masih rendah.”

Evelyn mengangkat pandangannya sejenak. “Cek golongan darahnya. Kita mungkin perlu transfusi.”

Perawat itu segera mengambil sampel darah dari pasien dan berlari menuju laboratorium di IGD.

Beberapa menit kemudian ia kembali.

“Golongan darah O, Dok.”

Evelyn langsung mengambil keputusan.

“Siapkan transfusi darah O. Cepat.”

Perawat lain segera menuju lemari pendingin penyimpanan darah. Tidak lama kemudian kantong darah sudah tergantung di tiang infus kedua dan mulai mengalir masuk ke tubuh pasien melalui selang transparan.

Evelyn melanjutkan jahitan terakhirnya sebelum akhirnya memotong benang dengan gunting kecil.

Ia lalu menutup luka tersebut dengan perban steril.

“Pantau tekanan darah dan detak jantungnya,” ucapnya sambil melepas sarung tangan.

Beberapa detik berlalu, suara monitor jantung masih berdetak stabil meski belum sepenuhnya normal.

Bip… bip… bip…

Salah satu perawat kembali melihat layar alat medis.

“Tekanan darah mulai naik, Dok. Sembilan puluh per enam puluh.”

Evelyn menghela napas pelan. Ketegangan yang sejak tadi menempel di bahunya sedikit berkurang.

“Terus pantau kondisinya,” katanya.

Ia menatap pria yang terbaring lemah di atas ranjang itu. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit kebiruan karena kehilangan banyak darah, namun napasnya kini mulai lebih stabil.

Evelyn menyilangkan tangannya di dada, masih memperhatikan pasien tersebut dengan tatapan serius.

Sampai sekarang ia masih tidak tahu siapa pria ini…bagaimana ia bisa terluka? dan kenapa tiba-tiba muncul di mobilnya tadi?

Namun satu hal yang pasti, pria misterius itu baru saja lolos dari kematian malam ini.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!