NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Nenek Ramah

Walaupun aku tidur sangat larut, aku tetap bangun sebelum alarm berbunyi. Aku menekan tombol untuk membuka tirai lalu bangkit dari tempat tidur, merapikan jubah yang aku pakai sambil berjalan ke jendela.

Tuhan.

Aku melihat pemandangan matahari terbit di atas danau.

Aku baru sadar ada balkon di luar. Aku menemukan pintunya lalu membukanya. Saat pintu terbuka, angin dingin langsung menyentuh tubuhku. aku melangkah keluar dan menikmati pemandangan pohon-pohon tinggi yang mengelilingi halaman luas itu.

Ini pemandangan paling indah yang pernah aku lihat.

Aku duduk di salah satu kursi besi di dekat meja kecil bundar. aku menarik kaki aku ke atas supaya bisa menutupinya dengan jubah.

Sial, di sini jauh lebih dingin daripada di Malaysia.

Aku rasa pakaianku gak cukup hangat untuk menghadapi musim di Jakarta.

Sambil melihat pemandangan alam yang tenang dan para penjaga yang tersebar di sekitar properti, aku menarik napas dalam dan mencoba menata pikiranku.

Semua yang terjadi dalam dua puluh empat jam terakhir memenuhi kepalaku, dan sekali lagi aku mulai khawatir tentang masa depanku yang gak pasti.

Aku berharap Vloo akan memberiku beberapa jawaban hari ini.

Aku mendengar seseorang mengetuk pintu, tapi orang itu gak menunggu jawaban dan langsung mencoba membuka pintu.

Aku cepat berdiri dari kursi dan berlari membuka kunci pintu. Saat aku membuka pintu, beberapa penjaga masuk membawa barang-barangku lalu meletakkannya di depan tempat tidur.

Tanpa berkata apa-apa padaku, mereka langsung pergi.

Aku menutup pintu dan merasa lega karena barang-barangku akhirnya sampai.

Apa aku harus membongkar semuanya?

Aku gak tahu berapa lama aku akan tinggal di sini.

Nanti aku tanya Vloo saat bertemu dia.

Karena orang tuaku gak ada di sini untuk mengatur apa yang harus aku pakai, aku membuka tas sampai menemukan set pakaian dalam renda yang cocok dengan salah satu pakaian terhangatku.

Celana panjangnya model lebar yang terlihat stylish. Aku memadukannya dengan sweater kasmir.

Setelah berpakaian, aku memakai sepatu hak warna krem lalu mencari tas lain yang berisi perlengkapan makeupku. Senyum langsung muncul saat aku juga menemukan produk rambut dan perawatan kulitku.

Aku benar-benar lega melihat gak ada satu pun produk yang rusak saat para penjaga mengemasnya.

Syukurlah.

Aku pergi ke kamar mandi, menyisir rambut dan menggosok gigi sebelum memulai rutinitas perawatan kulit. Setelah selesai, aku duduk di depan meja rias dan mulai merias wajah dengan hati-hati.

Saat aku puas dengan hasilnya, aku merapikan tempat tidur lalu mencari charger HPku. Begitu aku menghubungkannya, terdengar ketukan lagi di pintu.

Aku cepat membuka pintu dan merasa lega saat melihat Vloo.

Dengan senyum sopan aku berkata, "Selamat pagi."

Dia hanya mengangguk lalu memberi isyarat ke lorong. "Sudah waktunya sarapan."

Aku keluar dari kamar lalu menutup pintu.

Kami mulai berjalan dan aku meliriknya dengan hati-hati. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Berapa lama aku akan tinggal di sini?"

"Sampai Cavell memutuskan," jawabnya pelan.

Merasa sedikit berani, aku bertanya lagi, "Kamu tahu apa rencana dia buat aku?"

"Kamu bakal tahu nanti."

Aku gak suka jawaban itu dan langsung mengerutkan dahi.

"Aku boleh pakai WiFi?"

"Aku kasih kata sandinya nanti."

Syukurlah.

"Aku boleh keluar dari kamar aku?"

"Boleh." Kami berhenti di atas tangga dan Vloo menatapku. "Jangan mendekati kamar pribadi dan kantor Cavell. Kamu juga gak boleh keluar dari properti tanpa izin."

Aku cepat mengangguk.

"Oke."

Kami menuruni tangga dan Vloo berkata, "Ada lift kalau kamu capek naik tangga."

Aku mengangguk lalu menarik napas dalam.

"Aku boleh ambil makanan sendiri?"

"Boleh. Aku bakal tunjukin dapurnya."

Saat kami sampai di lantai pertama, Vloo berkata, "Kamu bakal ketemu Mamanya Cavell dan Mamaku. Nyonya Rose buta. Jangan menyinggung kondisi itu."

"Oke."

Kami masuk ke dapur yang sangat modern. Vloo menghabiskan beberapa menit menjelaskan di mana semua barang berada. Tanpa aku sadari, aku mulai merasa lebih santai di dekat pria itu.

Seorang wanita dengan seragam hitam putih masuk ke dapur sambil membawa nampan kosong.

"Livinia," kata Vloo. "Ini Nona Anabell. Dia akan tinggal bersama kita untuk sementara."

"Senang bertemu dengan mu, Nona," katanya dengan sopan.

"Senang bertemu juga," jawabku.

Saat kami keluar dari dapur, aku menoleh ke Vloo.

"Terima kasih sudah menjawab pertanyaanku."

"Kamu bukan tahanan. Selama kamu gak membuat masalah, kamu bakal baik-baik saja."

Kata-katanya membuat kecemasan di perutku sedikit mereda. Mungkin semuanya gak seburuk yang aku bayangkan.

Saat kami masuk ke ruang makan yang elegan, mataku langsung berpindah dari dua wanita yang tampak berusia sekitar lima puluhan ke Cavell.

Mereka sudah duduk di meja.

Tatapanku berhenti pada wanita yang duduk di sebelah kiri Cavell. Betapa cantiknya dia. Sekarang aku tahu dari mana Cavell mendapatkan wajah tampannya.

Cavell duduk di ujung meja, sibuk memotong bacon menjadi potongan kecil.

Dia mendorong piring ke arah Mamanya. "Bacon ada di arah jam tiga dan pancake di jam sembilan."

Wanita itu mengangkat tangannya dan saat Cavell meletakkan tangannya di sana, dia mencium jari Cavell.

"Bagaimana perjalananmu? Nova dan Luke baik-baik aja?"

Vloo menarik kursi untukku. Aku duduk di depan Nyonya Persie sementara Vloo duduk di sebelah kanan Cavell.

Saat Cavell melepaskan tangan mamanya, matanya langsung tertuju padaku. "Kita punya tamu."

"Oh?" Alis Nyonya Rose terangkat sementara Nyonya Persie memandangku dengan rasa ingin tahu.

"Aku gak kasih izin Luke menikahi Cherry. Sebagai gantinya aku bawa dia ke Jakarta. Dia akan tinggal bersama kita untuk sementara."

Bibirku langsung membentuk senyum saat aku melihat kedua wanita itu.

"Senang bertemu dengan mu."

"Selamat datang," kata Nyonya Persie.

Tatapannya seakan menilai setiap inci dari diri aku. Nyonya Rose hanya mengangguk sedikit lalu kembali menoleh ke anaknya.

"Apa kata Luke tentang ini?"

"Tentu aja dia gak senang," kata Cavell sambil memotong pancake. "Aku gak sempat ketemu Nova, tapi aku yakin dia baik-baik aja."

"Astaga," desah Nyonya Rose. "Aku harus menelepon iparku dan menenangkan situasinya."

"Jangan lakuin itu," kata Cavell tegas.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!