lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 13
Dayung kayu itu beradu dengan permukaan air yang kini terasa lebih kental, seolah laut sendiri sedang berusaha melawan pergerakan mereka. Di belakang perahu, Jakarta tampak seperti organisme purba yang sedang bernapas—cahaya ungu itu berdenyut selaras dengan petir-petir statis yang menari di dalam awan sirkuit di atasnya.
"Jek, lihat ke bawah!" Rara berbisik dengan nada tertahan, jarinya menunjuk ke dasar perahu fiber mereka yang transparan.
Di bawah permukaan air yang gelap, ribuan ubur-ubur bercahaya mulai berkumpul. Mereka tidak menyerang, tapi mereka membentuk barisan panjang yang menyerupai kabel serat optik di bawah laut. Cahaya mereka berkedip-kedip, mengirimkan sinyal dari daratan menuju laut dalam.
"Mereka menggunakan jalur biologis untuk memetakan samudera," Maya berkata sambil menekan lukanya. "Jika mereka menemukan titik panas vulkanik di bawah sana, mereka akan mengambil energi bumi secara langsung. Kita tidak punya banyak waktu sebelum seluruh planet ini menjadi satu kesatuan saraf."
Jek berhenti mendayung sejenak, menatap kompas analog tua yang ia kalungkan di lehernya. Jarumnya berputar liar, tidak mampu menemukan kutub utara karena gangguan magnetik yang masif.
"Kita tidak akan ke pulau berpenghuni," Jek memutuskan. "Ada sebuah koordinat yang pernah terbaca oleh Sistem sebelum ia padam. Sebuah mercusuar tua di Karang Jamuang yang dibangun di atas endapan garam kristal purba. Tempat itu terlalu kering dan terlalu asin bagi pertumbuhan organik apa pun."
"Tapi Jek, kalau atmosfernya berubah, kita akan tetap terhirup oleh mereka," Rara mengingatkan, matanya menatap awan sirkuit yang kini mulai melepaskan serbuk sari bercahaya ke arah laut.
Jek merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan perak yang ia ambil dari laboratorium pribadi di rumahnya sebelum melarikan diri. "Ini adalah 'Anti-Dote' mentah yang belum sempat aku uji. Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk mengisolasi kesadaran kita dalam frekuensi statis. Jika kita meminumnya, kita akan menjadi 'titik buta' bagi mereka. Mereka tidak akan bisa melihat kita, mencium kita, atau meretas kita."
"Harganya?" tanya Maya tajam.
"Kita akan kehilangan koneksi emosional dengan dunia luar untuk sementara. Kita akan merasa... hampa. Seperti mesin tanpa perasaan," jawab Jek pelan. "Itu satu-satunya cara agar kita bisa masuk ke bunker di bawah mercusuar itu tanpa terdeteksi oleh jaringan udara mereka."
Tiba-tiba, suara ledakan air terdengar dari arah belakang. Seekor lumba-lumba melompat ke udara, namun tubuhnya tidak lagi mulus. Siripnya telah berubah menjadi bilah logam organik yang tajam, dan ia mengeluarkan suara pekikan digital yang menyakitkan telinga.
"Mereka sudah di sini!" teriak Maya.
Lumba-lumba itu mendarat di air dan mulai mengejar perahu mereka dengan kecepatan yang mustahil. Dari arah daratan, ratusan burung pemakan ikan dengan mata lensa kristal mulai menukik turun.
"Minum ini sekarang!" Jek menyerahkan botol itu kepada Rara dan Maya.
Saat cairan dingin dan pahit itu menyentuh lidahnya, Jek merasakan dunianya mendadak berubah menjadi hitam-putih. Rasa takutnya hilang. Rasa sayangnya pada Rara mendadak terasa seperti sekumpulan data statistik yang jauh. Ia tidak lagi merasa gemetar. Ia menjadi efisien. Sangat efisien.
Jek berdiri di atas perahu, mengambil tombak ikan besi dari bawah kursi. Matanya menatap lumba-lumba yang mendekat bukan dengan kemarahan, tapi dengan kalkulasi sudut serangan yang presisi.
"Target teridentifikasi," gumam Jek dengan suara yang datar dan tanpa emosi. "Memulai eliminasi hambatan."
Jek melempar tombak besi itu dengan presisi yang mengerikan. Senjata sederhana itu menembus sirip logam lumba-lumba yang terinfeksi, membuatnya terhempas ke samping. Tidak ada kepuasan di wajah Jek, hanya kalkulasi dingin bahwa ancaman telah berkurang sebesar 15%.
Rara dan Maya duduk mematung di atas perahu. Mata mereka terbuka lebar, namun pupilnya mengecil dan kaku. Cairan perak itu telah mematikan bagian otak yang memproses empati, mengubah mereka menjadi entitas logis murni.
"Jek," suara Rara terdengar seperti rekaman suara digital yang jernih namun hampa. "Suhu udara menurun. Tekanan barometrik menunjukkan badai elektromagnetik akan segera tiba. Durasi perjalanan menuju mercusuar: 18 menit 40 detik. Peluang bertahan hidup tanpa pelindung: 4%."
"Diterima," jawab Jek datar. Ia kembali mendayung dengan ritme yang sangat konstan, seolah otot-ototnya telah dikalibrasi oleh mesin kronometer.
Lumba-lumba lain muncul dari bawah air, mencoba menabrak perahu. Jek tidak menghindar. Ia justru menggunakan dayungnya untuk menekan kepala makhluk itu ke bawah air, memanfaatkan momentum massa lumba-lumba tersebut untuk mendorong perahu lebih cepat ke depan.
"Analisis," kata Jek tanpa menoleh.
Maya menatap tangannya. Luka parut kodenya masih berdenyut, tapi ia tidak lagi merasa sakit. "Jaringan Hijau mencoba mengirimkan sinyal perintah ke korteks serebral kita. Namun, karena kondisi 'hampa' ini, sinyal mereka dianggap sebagai kebisingan latar belakang. Kita tidak terlihat di radar kesadaran mereka."
"Terus bergerak," perintah Jek.
Di depan mereka, mercusuar Karang Jamuang mulai terlihat. Bangunan itu berdiri kokoh di atas tumpukan garam kristal yang memutih di bawah sinar rembulan yang pucat. Tidak ada tumbuhan di sana. Tanah itu terlalu beracun bagi kehidupan organik—bahkan bagi kehidupan yang telah "diretas" sekalipun.
Saat perahu menghantam tepian garam, Jek melompat turun. Kakinya menginjak kristal-kristal garam yang tajam, tapi ia tidak merasakan nyeri. Logikanya hanya mengatakan bahwa luka di kakinya harus segera dibersihkan nanti untuk mencegah infeksi sekunder.
"Ayo," ajak Jek.
Mereka berjalan menuju pintu besi mercusuar yang sudah berkarat. Di belakang mereka, predator-predator laut dan burung-burung digital berhenti di garis batas pantai yang asin. Mereka tampak bingung, seolah-olah mangsa yang mereka kejar mendadak menghilang dari realitas.
Jek memutar roda pengunci pintu mercusuar. Di dalamnya, udara terasa sangat kering dan berbau besi tua. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tangga spiral menuju ke bawah tanah—menuju bunker yang dibangun pada era perang dingin, yang murni menggunakan sirkuit tabung vakum dan kabel tembaga tebal.
"Sistem 'Anti-Dote' akan habis masa berlakunya dalam 30 menit," Maya memperingatkan, suaranya masih tanpa emosi. "Setelah itu, rasa sakit, takut, dan koneksi emosional akan kembali. Kita akan menjadi sasaran empuk bagi transmisi atmosfer mereka jika kita tidak segera menutup bunker ini dengan lapisan timah."
Jek menatap Rara. Rara menatap balik, namun tidak ada cinta di sana, hanya pengakuan bahwa Jek adalah unit fungsional yang diperlukan untuk kelangsungan hidup.
"Masuk ke bawah," kata Jek.
Saat mereka mulai menuruni tangga menuju kegelapan bunker, sebuah getaran hebat mengguncang seluruh mercusuar. Jek mendongak. Di puncak mercusuar, lampu raksasa yang sudah mati selama puluhan tahun tiba-tiba menyala sendiri—bukan dengan cahaya lampu biasa, melainkan dengan pendar ungu intens yang menembak langsung ke arah awan sirkuit di langit.
"Mercusuar ini..." Jek berhenti sejenak, logikanya bekerja cepat. "Ini bukan sekadar bangunan tua. Ini adalah pemancar cadangan yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan upload global."
"Jika kita menutup diri di bawah, pemancar ini akan membantu mereka menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan di tempat lain," kata Maya datar.
Jek berdiri di antara pintu bunker yang aman dan tangga menuju puncak mercusuar yang berbahaya. Logika murninya mengatakan ia harus menyelamatkan diri sendiri ke bawah. Namun, di balik dinding hampa di kepalanya, sisa-sisa "nurani" yang terkubur dalam-dalam mulai mencoba berontak melawan cairan perak tersebut.