Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Rantai Pengikat
Puluhan sosok putih itu berdiri kaku di bawah rimbunnya pohon bambu. Ada yang mukanya rata, ada yang kepalanya miring, semuanya menghadap ke arah Della, Geri, dan Sasha.
Suasana Sukaraja yang tadinya sunyi, kini penuh dengan suara bisikan pelan yang tumpang tindih.
"Badé kamana, Neng? Pan nembé ogé dongkap... (Mau ke mana, Neng? Kan baru juga sampai...)" Suara itu berasal dari seorang kakek tua bungkuk yang berdiri paling depan, memegang tongkat kayu yang dililit rambut manusia.
"Ger, Sha, tutup mata kalian. Jangan dengerin," bisik Della. Tangannya yang menggenggam Busi Merah terasa makin panas, tapi anehnya, Kunci Tulang yang menancap di motor justru terasa sedingin es.
Della teringat amanat Buyutnya. Ia mengambil segenggam Tanah Merah dari bungkusan kain mori, lalu menaburkannya di atas spakbor depan dan kedua spion Scoopy-nya.
"Ieu wilayah Buyut Tan! Sim kuring turunanana, nyuhunkeun widang pikeun ngalangkung! (Ini wilayah Buyut Tan! Saya keturunannya, minta jalan untuk lewat!)" Della berteriak dengan suara yang tiba-tiba berat, seperti suara laki-laki tua.
Seketika, tanah yang ditaburkan itu bercahaya kemerahan. Della menarik gas sedalam-dalamnya.
WUUUUUSSSSH!
Scoopy itu melesat. Saat motor melewati barisan makhluk halus itu, tanah merah tadi menciptakan "benteng" cahaya yang membakar setiap sosok yang mencoba mendekat. Makhluk-makhluk itu menjerit, suaranya seperti dahan bambu yang patah serentak.
"Del! Di belakang! Liat spion!" Sasha menjerit histeris.
Della melirik spion kiri.
Di sana, ia melihat sosok Sinden Tanpa Wajah yang tadi mereka temui di jalan, kini sedang terbang mengejar motor mereka. Rambutnya yang panjang melayang-layang dan mulai membelit knalpot motor.
Laju motor mendadak berat. Mesinnya mengerang, seolah-olah sedang menarik beban berton-ton.
"Geri! Pake kunci inggris loe! Pukul rantainya!" teriak Della.
Geri melihat ke arah knalpot. Ternyata bukan cuma rambut, tapi ada Rantai Gaib berwarna hitam yang keluar dari tanah, melilit ban belakang motor. Geri menghantamkan kunci inggrisnya ke arah rantai itu sambil merapal doa sebisanya.
TANG!
Bukan suara logam, tapi suara jeritan wanita yang keluar saat kunci inggris itu menghantam rantai. Darah hitam muncrat mengenai jaket Geri.
"Edan! Getihna bau hangru pisan! (Gila! Darahnya bau amis banget!)" umpat Geri sambil terus memukul.
Tiba-tiba, motor mereka berhenti mendadak di tengah jembatan tua yang melintasi sungai kecil. Kabut di sana sangat tebal, sampai lampu depan motor pun nggak tembus.
Di ujung jembatan, berdiri seorang pria tinggi besar mengenakan pakaian pangsi hitam. Wajahnya tidak terlihat, tapi ia memegang sebuah Golok Besar yang mengeluarkan aura merah gelap.
"Saur saha manéh bisa mawa motor ieu kaluar? (Kata siapa kamu bisa bawa motor ini keluar?)" Pria itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat jembatan kayu itu bergetar. "Motor ieu sajenna duriat urang... (Motor ini sesajen cintanya saya...)"
Della tersentak. Jadi, motor Scoopy ini bukan cuma warisan, tapi dulu adalah bagian dari "perjanjian" atau sesajen antara keluarga Tan dengan penghulu gaib di daerah ini?
"Ger, pegang stang! Biar gue yang hadapin dia!" Della turun dari motor.
Della mengangkat Busi Merah tinggi-tinggi. Mata kirinya (Mata batin) mendadak melihat benang-benang hitam yang menghubungkan pria pangsi itu dengan mesin motornya. Tanpa rasa takut, Della menusukkan Kunci Tulang ke arah salah satu benang itu.
JEDAAAARRRR!
Kilatan petir menyambar di langit Sukaraja yang gelap, padahal tidak ada hujan. Pria pangsi itu terpental, namun sebelum menghilang, ia sempat mencengkeram lengan Della dan membisikkan sesuatu:
"Tanya bapa manéh... saha sabenerna Bibi Mei... (Tanya bapak kamu... siapa sebenarnya Bibi Mei...)"
Sosok itu hilang menjadi asap. Kabut perlahan menipis. Della segera naik ke motor, jantungnya berdegup kencang. Rahasia tentang Bibi Mei ternyata jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan.
Mereka berhasil keluar dari gerbang Sukaraja tepat saat adzan subuh mulai berkumandang dari kejauhan. Begitu roda motor menyentuh jalan raya utama, mesin Scoopy yang tadinya berat langsung terasa ringan kembali.
Namun, saat Della melihat ke telapak tangannya, bekas luka putih itu kini berubah warna menjadi ungu gelap, dan di kulit lengannya ada bekas cengkeraman tangan pria pangsi tadi yang membentuk tulisan: "Bibi Mei \= Tumbal."
Sasha pingsan lagi di pelukan Geri karena terlalu syok.
Della memacu motornya tanpa menoleh lagi ke belakang. Suara adzan subuh yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan seolah menjadi pelindung alami yang membubarkan sisa-sisa kabut hitam di Sukaraja.
Namun, meski mereka sudah berada di jalan raya yang mulai diterangi lampu merkuri, hawa dingin di tengkuk Della tidak juga hilang.
Geri menghentikan motornya di depan sebuah ruko kosong begitu mereka masuk ke wilayah kota. Ia segera membantu Sasha yang masih lemas. Wajah Sasha benar-benar pucat, bibirnya biru seperti orang kedinginan.
"Del... tangan loe," bisik Geri sambil menunjuk lengan Della.
Della melihat tangannya, Bekas cengkraman pria berbaju pangsi tadi bukan cuma memar, tapi membentuk gurat-gurat hitam yang menonjol seperti urat nadi yang dipaksa keluar. Tulisan "Bibi Mei \= Tumbal" itu berdenyut, mengeluarkan rasa perih yang luar biasa setiap kali jantung Della berdetak.
"Kita harus balik ke rumah. Gue nggak kuat lagi, Ger," suara Della parau.
Mereka sampai di rumah Della saat fajar menyingsing.
Begitu motor Scoopy itu masuk ke dalam garasi, mesinnya mendadak mati dengan suara desis yang panjang. Della turun dengan kaki yang gemetar, namun saat ia hendak melangkah masuk ke rumah, ia mencium bau amis yang sangat menyengat dari arah motornya.
"Astaga... Del, liat itu!" Sasha yang sudah mulai sadar menunjuk ke arah tangki bensin.
Dari tutup tangki bensin yang tertutup rapat, merembes cairan berwarna merah kental. Itu bukan bensin, bukan juga oli. Cairan itu mengalir jatuh ke lantai semen garasi, membentuk genangan darah segar.
Della memberanikan diri membuka tutup tangki tersebut. Begitu tutupnya terbuka, sebuah tangan kecil tangan bayi yang pucat nyaris menyembul keluar dari dalam lubang tangki sebelum akhirnya tenggelam kembali ke dalam cairan merah itu.
"Ulah dibuka... ulah dibuka... (Jangan dibuka... jangan dibuka...)" bisikan itu terdengar dari dalam mesin motor.
Della masuk ke dalam rumah dengan mendobrak pintu kamar ayahnya. Ayahnya, yang biasanya terlihat tenang, kini duduk di tepi tempat tidur sambil memegang sebuah foto tua yang sudah kusam. Di foto itu, ada seorang wanita cantik bermata sipit mengenakan kebaya pengantin Sunda, bersanding dengan seorang pria yang wajahnya sengaja dicoret hitam.
"Pa... siapa Bibi Mei?" tanya Della langsung. Suaranya dingin, matanya yang terpengaruh "mata batin" buyutnya menatap tajam ke arah sang ayah.
Ayahnya mendongak. Wajahnya tampak tua sepuluh tahun dalam semalam. "Della... Papa sudah bilang, jangan pernah bawa motor itu ke Sukaraja."
"Dia bukan cuma saudara, kan? Dia tumbal yang dikorbankan Buyut supaya usaha keluarga kita lancar di Pelabuhan Ratu?" Della mengejar, suaranya naik satu oktaf.
Ayahnya menarik napas panjang, suaranya bergetar. "Bibi Mei itu... sebenarnya bukan orang luar, Del. Dia adalah kakak perempuan tertua di keluarga kita yang sengaja 'dihilangkan' namanya. Dia dijadikan pameungkeut (pengikat) agar semua sial di keluarga Tan pindah ke motor itu. Siapa pun yang pake motor itu, dia bakal dapet keberuntungan, tapi dia harus berbagi nyawa sama Mei."
Tiba-tiba, kaca jendela kamar ayah Della bergetar hebat.
Duk! Duk! Duk!
Sesosok wanita dengan rambut yang menempel di kaca basah dan penuh lumpur muncul dari balik kegelapan luar. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambut, tapi tangannya yang hanya tinggal tulang mulai menggores kaca jendela hingga mengeluarkan suara ngik-ngik yang menyakitkan telinga.
"Manéh geus apal... (Kamu sudah tahu...)" suara wanita itu terdengar lirih namun penuh dendam.
"Pa! Dia di sana!" Sasha menjerit dari ruang tengah.
Seketika, lampu rumah padam. Dalam kegelapan total, Della bisa melihat dengan jelas melalui mata batinnya: sosok Bibi Mei bukan berada di luar jendela, tapi dia sedang merangkak di langit-langit kamar, tepat di atas kepala ayahnya, dengan lidah yang menjulur panjang hingga menyentuh pundak sang ayah.
"Lumpat, Del! Bawa Busi Merahna! Manéhna ménta ganti! (Lari, Del! Bawa Busi Merahnya! Dia minta ganti!)" teriak ayahnya sambil mendorong Della keluar kamar.