Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deadline, rahasia, dan nasi goreng kambing
Senin pagi adalah musuh bebuyutan bagi siapa pun yang baru saja menghabiskan akhir pekan di pasar malam. Di selasar fakultas yang aromanya campuran antara pembersih lantai dan sisa parfum mahasiswa, Dewi Laras berjalan dengan langkah terseret. Matanya sedikit sembab karena semalam dia nekat begadang demi menyelesaikan revisi bab satu yang sempat dia abaikan.
"Ras, lo kelihatan kayak hantu penunggu perpus yang kurang sajen," tegur Eno Surya yang tiba-tiba muncul dari balik pilar, sukses bikin Laras jantungan.
"No, gue mohon, jangan mulai pagi-pagi," keluh Laras sambil memijat keningnya. "Gue cuma tidur tiga jam. Si Bagas mana? Katanya mau balikin jaket gue?"
"Bagas lagi ada urusan sama asisten dosen. Kayaknya dia mau nyogok pakai bakwan biar dapet nilai A," canda Eno asal bunyi. "Tapi eh, lo ngerasa nggak sih kalau si Gia akhir-akhir ini aneh?"
Laras berhenti melangkah. "Aneh gimana? Dia kan emang udah aneh dari dulu, dingin kayak kulkas dua pintu."
"Nggak, ini beda. Tadi di kelas, dia cuma diem doang. Biasanya kan dia yang paling rajin ngebantai argumen dosen kalau materinya nggak masuk akal. Tadi dia malah melamun, sampai pulpennya jatuh aja dia nggak sadar," bisik Eno dengan nada yang tumben-tumbenan serius.
Belum sempat Laras menjawab, mereka sampai di meja tongkrongan biasa. Di sana sudah ada Rhea Amara yang sedang asyik membolak-balik majalah fashion (yang entah dapet dari mana) dan Juna Pratama yang lagi-lagi sibuk dengan tumpukan kertasnya. Di pojok meja, Gia Kirana duduk terdiam, memandangi layar ponselnya yang gelap.
"Pagi, kawan-kawan seperjuangan!" sapa Laras sambil duduk di samping Gia. "Gi, lo oke? Eno bilang lo tadi melamun di kelas."
Gia sedikit tersentak, lalu dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Gue oke. Cuma kurang tidur aja. Tugas Pak Bambang emang nggak ngotak."
"Bohong," batin Laras. Dia tahu Gia. Gia bukan tipe orang yang bakal "kalah" cuma gara-gara tugas dosen. Ada sesuatu di balik tatapan matanya yang biasanya tajam tapi sekarang terlihat redup.
Tak lama kemudian, Bagas Putra datang dengan napas sedikit terengah. Dia membawa bungkusan plastik berisi nasi goreng kambing yang aromanya langsung memicu kelaparan massal di meja itu.
"Nih, sarapan. Gue tahu kalian pasti belum pada makan," kata Bagas sambil meletakkan bungkusan itu di tengah meja. Dia lalu menoleh ke Laras dan menyodorkan jaket denim yang sudah rapi dan wangi parfum laundry. "Jaket lo, Ras. Makasih ya, udah menyelamatkan kehormatan gue dari hawa dingin pasar malam."
"Makasih, Gas," jawab Laras pelan, hatinya kembali menghangat.
"Eh, mumpung semua lagi di sini, gimana kalau nanti malam kita makan besar di tempat Bang Kumis? Gue yang traktir!" seru Bagas tiba-tiba.
"Tumben lo dapet warisan?" tanya Juna sambil curiga.
"Nggak, gue cuma dapet bonus dari proyek asisten dosen kemarin. Itung-itung ngerayain kita yang masih waras sampai semester lima," jawab Bagas sambil nyengir.
Semua bersorak setuju, kecuali Gia. Dia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa dipaksakan.
Malam harinya, di warung nasi goreng Bang Kumis yang legendaris, suasana seharusnya meriah. Eno sibuk adu argumen sama Rhea soal siapa yang paling banyak makan kerupuk, sementara Juna sibuk menjelaskan teori konspirasi terbaru yang dia baca di internet. Tapi Laras terus memperhatikan Gia.
Gia terus-menerus mengecek ponselnya. Sampai akhirnya, ponsel itu bergetar. Gia membacanya, dan sedetik kemudian wajahnya berubah pucat pasi.
"Guys, gue... gue harus balik duluan ya," kata Gia sambil berdiri terburu-buru.
"Loh, kan makanannya belum habis, Gi?" tanya Rhea heran.
"Ada urusan keluarga mendadak. Sori ya," suara Gia sedikit bergetar. Dia langsung menyambar tasnya dan pergi sebelum ada yang sempat bertanya lebih lanjut.
Suasana meja yang tadinya ramai mendadak jadi sunyi. Mereka semua saling pandang. Bahkan Eno pun berhenti melawak.
"Gue rasa... ada yang nggak beres sama Gia," gumam Bagas, suaranya rendah.
"Lo bener, Gas. Gue nggak pernah lihat Gia sepucat itu sejak kita pertama kali kenal di bawah topi caping dulu," tambah Laras cemas.
Di bawah lampu jalan yang remang-remang, mereka berlima menyadari satu hal: musim semi dalam persahabatan mereka mungkin akan segera berakhir. Ada awan mendung yang mulai mendekat, dan kali ini, mungkin lelucon Eno tidak akan cukup kuat untuk mengusirnya.
Laras menatap ke arah Gia pergi, lalu beralih ke Bagas. Bagas hanya mengangguk pelan, seolah berjanji bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama. Tapi rahasia tetaplah rahasia; ia adalah bom waktu yang hanya menunggu detik yang tepat untuk meledak.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...