"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Langkahku baru terhenti saat paru-paruku terasa mau pecah. Aku sampai di taman kecil pinggir jalan yang sepi. Gerimis mulai turun, menyatu dengan air mata yang sejak tadi kutahan agar tidak tumpah di depan mereka.
Ponselku bergetar hebat di saku. Nama Ayu muncul di layar. Aku menatap nama itu dengan tatapan kosong. Apakah dia akan menelepon untuk menenangkan, atau justru untuk menambah daftar pengkhianatan?
"Halo," suaraku serak, nyaris hilang.
"Fis? Lo di mana? Kaila barusan telepon gue, katanya lo kabur dari kostan Fita. Fis, dengerin gue..."
"Lo tahu, Yu?" potongku tajam. "Lo tahu soal Guntur dan Fita?"
Hening di seberang sana. Keheningan yang sama dengan yang diberikan Kaila tadi. Dadaku sesak. "Jadi bener... cuma gue yang nggak tahu? Selama ini kalian kumpul, ketawa-tawa di belakang gue, sementara gue curhat soal Guntur ke Fita kayak orang gila?"
"Nggak gitu, Fis! Alif yang minta kita diem dulu. Dia bilang Guntur mau ngomong sendiri ke lo, tapi dia bingung cari waktu yang pas," bela Ayu dengan suara gemetar.
"Bingung cari waktu? Atau asyik cari kesempatan?" aku tertawa sinis, tawa yang terdengar menyakitkan di telingaku sendiri. "Bilang sama Alif, makasih udah jadi 'jembatan' yang bagus buat bikin gue jatuh ke jurang."
Aku mematikan sambungan secara sepihak. Aku merasa dikuliti. Semua orang yang kuanggap pelindung ternyata adalah penonton yang paling setia menikmati kehancuranku.
Tiba-tiba, sebuah motor berhenti tepat di depanku. Bukan motor Guntur. Itu motor Alif. Dia turun dengan wajah panik, helmnya bahkan belum dilepas sempurna.
"Afisa, dengerin dulu. Ini nggak sesederhana yang lo liat," ucap Alif sambil melangkah mendekat.
Aku mundur selangkah, menatapnya penuh kebencian. "Jangan deket-deket. Gue nggak butuh penjelasan dari orang yang bantuin temannya buat deketin temen gue di balik punggung temannya sendiri."
"Guntur nggak ngedeketin Fita , Fis! Dia baru deket sama Fita setelah dia bener-bener mutusin buat selesai sama lo!" teriak Alif frustrasi.
"Tapi Fita itu temen gue, Lif! Dan lo... lo temen yang udah gue anggap sebagai sahabat gue!" teriakku lebih kencang, suaraku bergema di antara rintik hujan. "Kalian semua jahat. Kalian biarin gue kelihatan bodoh di depan cowok yang bahkan nggak punya hati buat jujur ke gue ,kalau dia emang nggak ada perasaan apapun ke gue harusnya bilang dari awal lif,gue bakal mundur nggak kayak orang bodoh sok-sokan mau Ngeruntuhin tembok es nya guntur ."
Alif terdiam, kepalanya tertunduk. Di bawah langit yang makin gelap, aku menyadari satu hal pahit: bukan hanya Guntur yang kehilanganku hari ini, tapi aku yang kehilangan seluruh duniaku.
Aku berbalik, meninggalkan Alif yang masih mematung. Aku tidak butuh motor siapa pun untuk pulang. Aku lebih baik basah kuyup ditelan hujan daripada harus naik ke kendaraan milik orang-orang yang sudah mematikan rasa percayaku.
Malam ini, aku tidak akan membalas pesan pria-pria asing itu untuk membunuh sepi. Malam ini, aku akan membiarkan sepi itu membunuhku pelan-pelan, sampai tidak ada lagi bagian dari diriku yang bisa disakiti.
Gerbang rumah yang biasanya terasa seperti pelabuhan tenang, sore ini tampak seperti mulut gua yang dingin. Aku menyeret kakiku yang berat, membiarkan air sisa hujan menetes dari ujung seragamku, meninggalkan jejak basah di teras.
Begitu pintu terbuka, Bunda sudah berdiri di sana. Beliau tidak memegang omelan karena aku pulang telat atau karena baju yang basah kuyup. Bunda hanya diam. Tatapannya runtuh saat melihat mataku yang bengkak dan kosong.
"Afisa..." suara Bunda lembut, tapi justru itu yang membuat pertahananku hancur berkeping-keping.
Aku tidak sanggup bicara. Aku hanya berdiri mematung di depan pintu, membiarkan genangan air terbentuk di bawah kakiku. Bunda mendekat, tanpa ragu memeluk tubuhku yang dingin dan menggigil. Wangi minyak telon dan detergen dari daster Bunda yang biasa menenangkan, kini malah membuat dadaku semakin sesak.
"Bunda... Fis bodoh banget ya?" bisikku parau di pundaknya.
Bunda tidak menjawab dengan kata-kata. Beliau hanya mengusap punggungku, menyalurkan kehangatan yang tidak kutemukan di luar sana. "Ganti baju dulu, Nak. Nanti sakit. Bunda udah buatin teh hangat."
Aku menurut seperti robot. Di dalam kamar, aku menatap cermin. Bayangan di depanku bukan lagi Afisa yang ceria, bukan Afisa yang ambisius meruntuhkan tembok es Guntur. Di sana hanya ada seorang gadis malang yang baru saja sadar bahwa tembok itu tidak pernah runtuh, melainkan pintu rahasianya memang hanya dibuka untuk orang lain.
Aku merebahkan diri di kasur tanpa menyentuh teh dari Bunda. Tiba-tiba, ponselku bergetar lagi. Sebuah notifikasi pesan masuk. Bukan dari Kaila, Ayu, atau Alif.
Itu dari Guntur.
Hanya satu kalimat pendek, sedingin es yang selalu ia agungkan:
"Fis, maaf. Gue nggak bermaksud bikin lo tahu dengan cara kayak tadi."
Tanganku gemetar hebat. Maaf? Setelah semua tawa yang kulihat di kostan Fita? Setelah sebulan mereka menyembunyikan ini di belakangku? Kata-kata itu terasa seperti ludah di wajahku.
Aku baru saja akan melempar ponselku ke dinding ketika sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamarku. Suara Ayah terdengar dari balik pintu, berat dan penuh selidik. "Fis, ada Alif di depan. Dia bilang mau minta maaf, tapi Ayah suruh dia tunggu di luar pagar karena kamu lagi nggak mau diganggu. Kamu mau Ayah suruh dia pulang?"
Aku menatap langit-langit kamar yang temaram. Di luar rumah ada Alif yang merasa bersalah, di dalam ponsel ada Guntur yang mengirim maaf tanpa dosa, dan di sekolah besok... ada Fita yang harus kuhadapi.
"Suruh dia pulang, Yah," jawabku dingin. "Afisa nggak kenal sama siapa pun lagi hari ini."
Malam itu, aku belajar satu hal: pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh, tapi dari mereka yang tahu persis di mana letak luka kita dan memilih untuk menaburkan garam di atasnya.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2