Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasrat Seno
"Ojo melu-melu! Iki urusanku karo bocah kuwi!" Suara itu bukan datang dari mulut manusia, melainkan gema parau yang merayap langsung ke dalam gendang telinga Mbah Sanur. Udara di sekitarnya mendadak membeku, sementara cekikan tak kasat mata itu semakin kuat hingga tulang lehernya berderak.
Mbah Sanur terengah, wajahnya membiru. Di bawah kakinya yang menggantung, bayangan hitam perlahan mendongak. Matanya yang merah menyala menatap tajam, menembus sukma sang dukun.
"Emanen nyawamu! Ojo sepisan-pisan mrene maneh! Minggato, opo kowe pengen nyawamu tak jupuk sisan ing kene?" Lalu tubuh Mbah Sanur dihempaskan ke tanah dengan dentuman keras, meninggalkannya terkapar di tengah kegelapan malam.
Mbah Sanur terjerembap di atas tanah, dia berusaha meraup oksigen yang seolah hilang dari udara di sekelilingnya. Kedua tangannya yang keriput mencengkeram lehernya sendiri, merasakan bekas cekikan yang terasa panas. Rasa sakitnya begitu nyata, seakan tulang tenggorokannya hampir remuk.
Matanya yang berair menatap nanar ke arah kegelapan, namun bayangan itu telah lenyap. Hanya menyisakan sisa bau melati busuk dan ancaman mati yang masih berdengung di telinganya. Dengan sisa tenaga, ia terbatuk-batuk mengeluarkan lendir hitam yang anyir, menyadari bahwa lawan yang ia hadapi kali ini bukanlah sekadar hantu penasaran, melainkan dendam yang telah menyatu dengan iblis.
Mbah Sanur benar-benar terdesak!
"Eh, sudah dengar belum? Semalam ada tamu di rumah Pak Sugeng," bisik salah satu warga, memancing perhatian para lelaki yang sedang menyesap kopi di warung Bu Rati.
"Tamu siapa? Ya biasalah kalau kedatangan tamu, mungkin keluarganya dari kota."
Si pembuka bicara mendekat, suaranya mengecil namun penuh penekanan. "Bukan! Itu lho, Mbah Sanur. Dukun sakti dari desa seberang yang jarang mau keluar rumah kalau bukan urusan nyawa.
Suasana warung mendadak hening.
"Memangnya kenapa dengan Pak Sugeng sampai harus mengundang dukun sakti kerumahnya?" Tanya salah satu pelanggan warung itu.
"Kabarnya Seno sedang sakit keras."
"Sakit keras bagaimana?" sahut seorang pemuda di pojok warung, sangsi.
"Nah, itu dia masalahnya! Sakitnya bukan sakit medis. Katanya, sudah dua Minggu ini dia tidak keluar rumah. Bahkan, sebelum kedatangan dukun sakti itu, Ustadz Sakari juga datang untuk mengobati Seno."
Gelas kopi yang dipegang pelanggan lain tertahan di udara.
"Jangan-jangan kena tulah? Desa kita ini lagi tidak beres sejak... ya, sejak kejadian di sawah itu."
Suasana warung yang tadinya hangat mendadak mencekam.
"Iya, kejadian di sawah yang merenggut tiga nyawa dalam waktu yang berdekatan itu seperti petaka bagi desa kita," sahut seorang lelaki tua dengan suara parau. Ia meletakkan lintingan bakunya, matanya menatap kosong ke arah jalanan desa yang mulai berkabut.
"Semuanya mati dengan cara yang tidak wajar."
Para pelanggan warung itu terdiam, bulu kuduk mereka meremang serentak.
"Ah, sudah. Jangan dibahas lagi. Merinding kalau diingat-ingat," tukas Bu Rati sambil buru-buru menyeka meja dengan kain lusuh.
"Seno..." Suara itu lembut, mengalun seperti melodi yang merayu pendengaran.
Suasana kamar yang pengap mendadak berubah sejuk, jendela kamar yang tadinya tertutup rapat mendadak terbuka. Seno terbangun dengan napas teratur.
Saat dia membuka matanya dia melihat di ambang pintu yang remang-remang, berdiri sosok ramping dengan gaun putih yang melambai ditiup angin malam.
Seno mengerjapkan matanya, jiwanya seakan tersedot oleh pesona sosok itu. "Aning... itu kau?" bisiknya dengan suara serak.
"Iya, Seno. Ini aku..." jawab Aning sambil tersenyum manis. Wajahnya terlihat sangat cantik, kulitnya putih bersih, jauh dari bayangan mengerikan yang menghantuinya semalam. Ia melangkah mendekat, gerakannya anggun dan ringan tanpa suara langkah kaki.
Aning duduk di tepi dipan, jemarinya yang dingin menyentuh pipi Seno dengan lembut.
"Ayo, kesini, Kita lanjutkan yang belum selesai, aku merindukanmu, Seno..."
Tatapan mata Aning begitu dalam, menghipnotis Seno hingga pemuda itu mulai bangkit tanpa sadar.
Seno bergerak maju seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Hasrat yang terkubur mendadak bangkit, dipicu oleh aroma melati yang kini memenuhi indra penciumannya.
Dia merengkuh tubuh Aning yang terasa dingin namun halus, lalu mulai membenamkan wajahnya, mencium leher gadis itu dengan rakus seolah ingin menuntaskan dahaganya.
"Ning... kamu cantik sekali malam ini," bisik Seno dengan napas memburu di sela-sela ciumannya.
Seno melepaskan pelukannya sejenak, menatap mata Aning yang tampak sayu dan menggoda. Ada penyesalan yang mendalam dalam nada bicaranya. "Seharusnya dulu kamu terima cintaku, Ning. Jangan malah menghindar terus. Kalau saja kamu mau jadi milikku, aku pasti akan menjagamu dengan baik."
Seno kembali mendekapnya, dia tidak menyadari bahwa kulit Aning yang tadinya halus perlahan-lahan mulai berubah menjadi pucat pasi.
"Aku sayang kamu, Ning, sungguh," gumam Seno lagi, menutup matanya rapat-rapat saat ia kembali menciumi leher itu.
Seno benar-benar buta oleh nafsu yang membara, kehilangan akal sehatnya di bawah pengaruh hipnotis arwah tersebut. Ia terus membenamkan wajahnya, menghisap dan mencumbu setiap jengkal leher jenjang Aning yang terasa dingin membeku. Baginya, ini adalah kemenangan yang tertunda, momen untuk memiliki Aning sepenuhnya tanpa perlawanan.
Ia tidak memedulikan rasa anyir yang mulai merembes di sela bibirnya, Seno justru semakin rakus, mendekap tubuh kaku itu kian erat, seolah-olah sedang memeluk kekasih sejatinya.
Di matanya, Aning masihlah gadis cantik yang ia puja, padahal di hadapannya, maut sedang menganga lebar menanti saat yang tepat untuk Merenggut nyawanya.