NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:541
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 6 - CH 32 : TAMU TAK DIUNDANG

Perjalanan sejauh lima ratus meter dari batas area persawahan menuju rumah ibu Bara terasa seperti siksaan tanpa akhir.

Bara berjalan gontai, separuh tubuhnya bertumpu pada pundak Mang Ojak yang terus merapalkan selawat tanpa putus. Di belakang mereka, Lintang dipapah oleh dua orang ibu-ibu tetangga yang ikut menyusul dengan wajah cemas. Gadis itu tidak lagi menangis histeris; air matanya sudah mengering, menyisakan tatapan kosong dan tubuh yang bergetar hebat layaknya orang yang terserang hipotermia.

Bara menatap ke depan dengan pandangan nanar. Cahaya obor bambu dan senter yang dibawa oleh belasan warga desa menyorot jalanan tanah berbatu, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari mengerikan di sekeliling mereka.

Otak Bara yang terbiasa bekerja layaknya mesin hitung yang presisi, kini mengalami error total.

Tiga jam. Mereka hilang selama tiga jam di dalam hutan bambu kuning itu. Padahal dalam ingatan dan persepsi fisik Bara, mereka hanya berlari belasan menit. Bagaimana mungkin waktu bisa terdistorsi sedemikian rupa? Teori relativitas macam apa yang bisa menjelaskan hal ini?

Dan yang paling menghancurkan sisa-sisa kewarasannya adalah ingatan tentang siluet jangkung membungkuk dengan langkah menyeret yang merangkak keluar dari Goa Suro. Makhluk itu... aroma melati busuk itu... itu bukan ilusi optik. Lintang juga melihat dan menciumnya.

"Alhamdulillah... Gusti Allah... Anakku!"

Sebuah jeritan pilu memecah lamunan Bara saat rombongan mereka akhirnya memasuki pekarangan rumah bercat krem tersebut.

Ibu Bara, yang sedari tadi duduk lemas di teras rumah dengan ditemani Bude Sumi, langsung bangkit berdiri dan berlari menyongsong anak laki-lakinya. Wanita paruh baya itu menabrak tubuh Bara, memeluknya sangat erat sambil menangis sejadi-jadinya.

"Bara... kamu ke mana aja, Le? Ya Allah, Ibu kira Ibu bakal kehilangan kamu juga kayak Dinda..." tangis ibunya pecah, membenamkan wajahnya di dada Bara yang basah oleh keringat dan lumpur.

Mendengar nama Dinda disebut, pertahanan emosional Bara nyaris runtuh. Dia membalas pelukan ibunya dengan tangan gemetar, menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Bara nggak apa-apa, Bu. Bara di sini. Bara aman."

Bara melirik ke arah Lintang yang kini sudah didudukkan di atas lincak (bambu berbalai) di teras rumah. Gadis itu diselimuti kain jarik oleh Bude Sumi dan disodori segelas teh hangat, tapi tangannya terlalu gemetar untuk memegang gelas kaca tersebut.

"Mang Ojak," panggil Bara parau. "Bawa Lintang masuk. Kasih dia minum yang anget. Badannya dingin banget."

Namun, sebelum Mang Ojak sempat memapah Lintang, seorang pria sepuh dengan peci putih dan pakaian koko sederhana melangkah membelah kerumunan warga di halaman. Itu adalah Mbah Yai Harun, tokoh agama sekaligus sesepuh desa yang paling dihormati. Di tangannya, beliau membawa sebuah baskom kaleng berisi air yang dipenuhi taburan bunga setaman dan irisan jeruk purut.

"Jangan dibawa masuk dulu ke dalam rumah," cegah Mbah Yai Harun, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang mutlak. "Mereka berdua masih kotor. 'Baunya' masih nempel. Kalau langsung masuk, yang ngikutin dari hutan bambu bisa ikut masuk menempati sudut rumah."

Bara, yang biasanya akan mendebat dan menyebut hal semacam ini sebagai takhayul irasional, kali ini memilih diam seribu bahasa. Logikanya sudah kalah telak oleh teror Goa Suro.

Mbah Yai Harun meletakkan baskom itu di lantai teras. Beliau menatap Bara dan Lintang secara bergantian dengan pandangan prihatin yang mendalam. "Duduk kalian berdua di pinggir teras. Luruskan kakinya ke tanah."

Bara menuruti perintah itu tanpa protes. Dia duduk di sebelah Lintang yang masih syok berat.

Mbah Yai Harun mulai merapalkan doa-doa dalam bahasa Arab yang sangat fasih, diselingi dengan bacaan ayat suci Al-Quran yang melantun pelan dan menenangkan. Suasana di pekarangan rumah itu mendadak hening. Warga desa yang berkerumun ikut menundukkan kepala, beberapa turut mengamini doa sang sesepuh.

Selesai berdoa, Mbah Yai Harun mengambil air dari dalam baskom tersebut menggunakan kedua tangannya, lalu membasuhkannya ke wajah Bara secara tiba-tiba.

BYUR. Bara terkesiap. Air itu terasa luar biasa dingin, sedingin es yang baru dikeluarkan dari freezer, padahal air itu hanya berasal dari sumur biasa. Aroma jeruk purut dan bunga setaman seketika memenuhi rongga hidungnya, mengusir sisa-sisa wangi melati busuk yang entah mengapa masih menempel samar di memorinya.

Selanjutnya, Mbah Yai Harun membasuh wajah Lintang. Gadis itu tersentak pelan, lalu tiba-tiba saja menangis sesenggukan, seolah beban gaib yang menekan dadanya selama berjam-jam baru saja diangkat paksa.

Sang sesepuh kemudian membasuh kedua kaki Bara dan Lintang dari lutut hingga ke ujung jari, membersihkan sisa-sisa lumpur hutan bambu kuning yang menempel. Lumpur itu luruh ke tanah, berwarna kehitaman dan berbau agak anyir.

"Alhamdulillah," ucap Mbah Yai Harun, mengusap wajahnya sendiri. Beliau menatap Bara lekat-lekat. "Kalian berdua sangat beruntung, Nak Bara. Makhluk di Goa Suro itu tidak suka diusik. Kalian sudah disembunyikan di dimensi mereka. Tiga jam di alam manusia, mungkin hanya terasa belasan menit di alam mereka. Kalau tadi kalian tidak tersandung dan mendengar suara azan Maghrib... kalian mungkin tidak akan pernah menemukan jalan keluar selamanya."

Bara menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya kembali meremang. "Makhluk... makhluk apa itu sebenarnya, Mbah Yai? Tingginya nggak normal... dan jalannya menyeret..."

Mendengar deskripsi Bara, raut wajah Mbah Yai Harun berubah sedikit tegang, begitu pula dengan warga desa yang mendengarnya. Beberapa ibu-ibu bahkan refleks mengusap dada dan melangkah mundur.

"Itu Mbah Petruk," jawab Mbah Yai Harun dengan suara lirih. "Bukan tokoh pewayangan yang kalian kenal, tapi entitas gaib penjaga hutan bambu dan Goa Suro. Wujudnya memang tinggi besar, hitam, dan berjalan pincang menyeret kaki kirinya karena dulu kakinya dipaku bumi oleh sesepuh desa pertama agar dia tidak bisa keluar dari area hutan."

Bara memejamkan matanya, meremas celana pendeknya kuat-kuat. Semua penjelasan irasional ini membuat otaknya ingin meledak, tapi dia tidak bisa menyangkal apa yang dilihat matanya sendiri.

"Dia marah karena wilayahnya dimasuki orang asing tanpa permisi menjelang waktu surup," lanjut Mbah Yai Harun. "Tapi insya Allah, malam ini kalian sudah dibersihkan. Sisa air di baskom ini nanti dipakai untuk mengepel teras dan menyiram sekeliling rumah, agar 'dia' tidak bisa melacak jejak kalian ke mari. Malam ini, jangan ada yang tidur sendiri-sendiri. Kumpul di ruang tengah. Bacakan ayat suci."

Bara mengangguk kaku. "Terima kasih, Mbah Yai. Bara... Bara minta maaf udah ngerepotin satu desa."

"Sudah, sekarang bawa masuk temanmu. Bersihkan diri, sholat, dan istirahat," pungkas sang Kiai.

Warga desa perlahan mulai membubarkan diri setelah memastikan Bara dan Lintang selamat. Mang Ojak dan ibu Bara memapah Lintang masuk ke dalam rumah. Bara menyusul di belakang, mengunci pintu kayu jati itu rapat-rapat, memastikan slot kuncinya terpasang sempurna.

Malam semakin larut. Jarum jam dinding di ruang TV menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

Sesuai instruksi Mbah Yai Harun, tidak ada yang berani tidur terpisah. Kasur lipat milik ibunya digelar lebar di ruang TV. Ibu Bara dan Lintang tidur di atas kasur tersebut. Lintang tidur membelakangi TV, memeluk guling erat-erat dengan mata terpejam rapat, meski dari napasnya yang tidak teratur, Bara tahu gadis itu belum tertidur pulas.

Mang Ojak sudah mendengkur halus di atas karpet lantai tak jauh dari kasur, kelelahan setelah berlarian panik menyusuri batas desa.

Hanya Bara yang masih terjaga. Sang koki tiran itu duduk bersandar pada dinding di sudut ruangan, kedua kakinya ditekuk, sementara tangannya menggenggam tasbih kayu peninggalan almarhum ayahnya. Matanya memerah karena kelelahan, tapi otaknya menolak untuk shutdown.

Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan akar beringin dan lubang hitam menganga itu kembali berputar di kepalanya bagaikan slideshow mimpi buruk.

Udara malam di desa terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Suara jangkrik yang tadinya bersahut-sahutan di pekarangan rumah, perlahan-lahan mulai menghilang, tergantikan oleh keheningan absolut yang membuat telinga berdenging.

Bara melirik ke arah jendela nako di ruang tamu yang gordennya sudah ditutup rapat. Angin malam sesekali bertiup menembus celah kaca, membuat kain gorden berwarna krem itu bergerak pelan.

“Gue harus tenang. Logika, Bara. Pake logika lu. Kita udah di rumah. Ada warga. Ada Mang Ojak. Mbah Yai juga udah bersihin rumah ini. Nggak bakal ada apa-apa,” Bara terus mensugesti dirinya sendiri, mencoba memanggil kembali mental baja ala bos kapitalisnya yang hilang.

Dia menghela napas panjang, menundukkan kepalanya bertumpu pada lutut. Rasa lelah yang luar biasa akhirnya mulai menarik kesadarannya ke ambang batas tidur.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan selama lima menit.

Srek... Srek... Mata Bara langsung terbuka lebar. Jantungnya yang baru saja rileks, kini berdetak gila-gilaan menghantam tulang rusuknya.

Suara itu sangat pelan, nyaris tak terdengar jika suasana rumah tidak sehening ini. Suara gesekan langkah kaki dari arah luar rumah. Tepatnya, dari arah pekarangan samping, perlahan bergerak menuju teras depan.

Bara menahan napasnya. Dia melirik ke arah Lintang dan Mang Ojak; keduanya masih tertidur, tidak mendengar apa-apa.

Sreg... Sreg... Langkah itu semakin jelas. Terdengar seperti seseorang yang berjalan dengan satu kaki diseret secara paksa melintasi lantai semen teras. Berhenti tepat di depan pintu utama rumah.

Bara perlahan bangkit berdiri tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Keringat dingin sebesar biji jagung kembali mengalir dari pelipisnya. Otot rahangnya menegang. Tangan kanannya refleks meraba meja kecil di dekatnya, mencari benda tumpul apa saja untuk dijadikan senjata, dan berakhir menggenggam sebuah asbak kaca yang cukup berat.

Keheningan kembali menyelimuti rumah. Tidak ada suara ketukan pintu. Tidak ada panggilan.

Hanya ada keheningan.

Bara menelan ludah. “Mungkin cuma anjing liar. Atau kucing tetangga. Lo terlalu paranoid, Bar,” batinnya mencoba mencari pembenaran paling rasional.

Dia menghela napas lega, bersiap untuk kembali duduk.

Namun, tepat pada detik itu juga, suhu di dalam ruang TV mendadak anjlok drastis. Embun dingin terbentuk di kaca jendela nako. Dan dari celah-celah ventilasi di atas pintu utama, berhembus sebuah angin pelan yang masuk ke dalam rumah.

Angin yang membawa aroma pekat dan memuakkan.

Wangi bunga melati, dan anyir darah.

Tubuh Bara membeku seketika. Matanya membelalak ngeri menatap ke arah gorden jendela nako yang berada tepat di sebelah pintu utama.

Cahaya lampu jalanan dari luar menembus celah gorden, menciptakan sebuah bayangan besar yang tercetak sangat jelas di atas kain krem tersebut.

Bayangan seseorang yang berdiri tepat di depan jendela rumahnya.

Bukan bayangan manusia biasa. Bayangan itu membungkuk aneh, dengan pundak yang sangat tinggi hingga menutupi seluruh bingkai jendela atas.

Lalu, sebuah jari berukuran panjang dan kurus tak wajar, dengan kuku yang terlihat tajam dari balik bayangan, perlahan menyentuh kaca jendela dari luar.

Sreeek... Kuku itu menggores kaca perlahan dari atas ke bawah, menciptakan bunyi ngilu yang menyayat telinga, seolah makhluk itu sedang memberi tahu Bara dengan sangat jelas...

Bahwa dia tidak peduli pada batas air doa apa pun, dan dia sudah datang untuk menjemput mangsanya yang lepas.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!