NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pengawal

Terjerat Cinta Sang Pengawal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Buna_Ama

Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.

Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.

Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE DUA PULUH

"Nona, silahkan". Bastian membukakan pintu mobil samping kemudi untuk Siena. Tapi, gadis itu hanya diam berdiri, tapi sorot matanya menatap Bastian malas.

Melihat itu, Dena dan yang lainnya hanya saling lirik dan senggol.

“Na..” bisik Dena seraya menyenggol pelan lengan Siena, berharap sahabatnya itu paham kode.

Siena mendengus pelan, namun tetap tidak bergerak. Ia justru menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Bastian dengan ekspresi menantang.

“Bas, aku bisa membuka pintu mobil sendiri,” ujar Siena datar.

Bastian tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sebentar menatap Siena, tenang namun tegas, seolah sudah mulai terbiasa menghadapi sikap gadis itu.

“Tentu anda bisa, Nona,” sahutnya akhirnya. “Namun selama saya bertugas, itu tetap menjadi tanggung jawab saya.”

Nada suaranya rendah, sopan, tapi sama sekali tidak memberi ruang untuk perdebatan.

Livia menahan senyum, sementara Rani berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana.

“Siena, kapan kalian selesai adu mulut? kami juga ingin pulang.” Ujar Livia mencoba menengahi

Siena melirik kesal, tetapi akhirnya menyerah. Ia masuk ke kursi penumpang depan.

Setelah memastikan Siena duduk dengan nyaman, Bastian menutup pintu perlahan lalu beralih ke arah Dena, Rani, dan Livia.

“Kalian silahkan duduk di belakang,” ucap Bastian singkat sambil membuka pintu kursi baris kedua.

Ketiganya saling pandang sebentar sebelum akhirnya naik ke dalam mobil. Rani masuk lebih dulu, disusul Dena, lalu Livia yang masih sempat berbisik pelan, “Serius sekali bodyguard Siena".

"Huss". Tegur Dena lirih

Pintu mobil tertutup satu per satu.

Bastian segera berjalan memutari setengah badan mobil menuju kursi pengemudi. Sebelum masuk, ia sempat mengedarkan pandangan cepat ke area tempat dimana Darian tadi melangkah pergi lalu beralih menatap kearah luar pagar rumah sakit.

Keningnya sedikit mengernyit saat melihat sebuah mobil sedan hitam yang sangat amat dia kenali. Itu adalah mobil para anak buahnya.

Mata tajam Bastian memicing kearah mobil itu, memberikan isyarat agar mereka segera pergi. Agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Setelah itu, ia bergegas melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil. Sebelum, menyalakan mesinnya Bastian melirik sebentar pada Siena.

Gadis itu selalu saja seperti itu, tidak pernah memasang seatbelt dengan benar.

"Nona, kenakan seatbelt anda". Kata Bastian datar

"Ck! Jarak rumah sakit dan rumah tidak terlalu jauh, Bas". Siena menjawab sambil memutar bola matanya malas.

Bastian tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya tetap berada di setir, namun tatapannya beralih penuh pada Siena. Tenang, datar, tapi cukup membuat suasana di dalam mobil mendadak hening.

“Keselamatan tidak diukur dari jauh atau dekatnya jarak, Nona,” ucapnya rendah. “Silakan kenakan seatbelt.”

Nada suaranya tidak meninggi, tetapi jelas tidak bisa ditawar.

Siena mendecih pelan. Ia sengaja menoleh ke arah jendela, seolah mengabaikan perintah itu.

Dari kursi belakang, Rani dan Dena saling pandang.

“Na… pakai saja,” bisik Dena hati-hati. “Kita juga mau sampai rumah dengan damai.”

Livia bahkan menahan tawa kecil. “Aku baru pertama lihat orang kalah berdebat hanya karena seatbelt.”

Siena langsung menoleh tajam ke belakang. “Kalian di pihak siapa sih?”

“Di pihak keselamatan,” jawab Livia santai.

Hening beberapa detik.

Bastian masih menunggu. Tidak mendesak, tidak mengulang perintahnya. Ia hanya diam dan justru itu yang membuat tekanan terasa lebih kuat.

Akhirnya Siena mendengus kesal, lalu menarik sabuk pengaman dengan gerakan sedikit kasar.

klik!

“Puas?” gumam Siena pelan penuh kekesalan.

Barulah Bastian menyalakan mesin mobilnya.

Sudut bibirnya hampir terangkat, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat.

“Terima kasih, Nona.”

Mobil pun perlahan keluar dari area parkir rumah sakit, meninggalkan suasana tegang yang perlahan berubah menjadi keheningan nyaman, meski Siena masih sesekali melirik kesal ke arah pria yang duduk disampingnya, yang justru terlihat jauh lebih tenang sekarang.

Jalanan siang terlihat cukup padat, kendaraan berlalu lalang di bawah langit yang mulai redup tertutup awan.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Hanya suara pendingin udara dan musik instrumental pelan dari radio yang mengisi kabin mobil.

Siena menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap keluar jendela. Gedung-gedung kota berlalu cepat di matanya, namun pikirannya justru kembali pada percakapan mereka beberapa saat lalu di ruang rawat.

Tanpa sadar, ia melirik ke samping.

Bastian mengemudi dengan fokus penuh. Rahangnya tegas, kedua tangannya mantap di setir, sorot matanya lurus ke depan—tenang, terkendali, seolah tidak ada hal di dunia ini yang mampu mengganggu konsentrasinya.

Pria itu selalu seperti itu.

Sulit ditebak.

Hingga suara Livia terdengar memecah keheningan.

"Na, apa Evan tau kamu dirawat dirumah sakit?" ujar Livia bertanya dengan begitu polos nya

Dena dan Rani yang mendengar itu sontak langsung menolehkan kepalanya bersamaan menatap Livia dengan mata yang melotot.

"Liv..." bisik Rani, tangannya mencubit pelan lengan Livia

"aahh sakit Ran, kenapa mencubitku?" ringis Livia seraya mengusap-usap lengannya yang dicubit oleh Rani.

Siena menghela nafas pelan lalu menoleh menghadap kebelakang.

“Tidak,” jawabnya singkat. “Aku belum memberi tahu Evan.”

Nada suaranya terdengar biasa saja, namun cukup untuk membuat suasana di dalam mobil berubah sedikit canggung.

Livia mengangguk kecil, seolah tidak menyadari ketegangan yang tiba-tiba muncul. “Kupikir dia pasti panik kalau tahu.”

Dena langsung melirik cepat ke arah kursi depan melalui kaca spion tengah. Tatapannya sekilas bertemu dengan mata Bastian.

Dan saat itu juga, ia menangkap sesuatu.

Rahang pria itu mengeras.

Hanya sebentar. Sangat halus. Namun cukup jelas bagi seseorang yang memperhatikan.

Rani ikut menyadarinya. Ia menegakkan duduknya sedikit, lalu pura-pura sibuk melihat ponsel.

Sementara itu, Siena kembali bersandar. “Tidak perlu membuatnya khawatir. Lukaku juga tidak separah itu.”

“Hm,” sahut Livia ringan. “Tapi dia kan—”

Kalimatnya terpotong ketika mobil tiba-tiba...

BRAKKK!!!

"Aahhh".

Dena, Livia, dan Rani menjerit terkejut. Bahkan tubuh Siena hampir terpelanting kedepan menghantam dashboard mobil, tapi dengan sigap Bastian langsung menahannya.

Kakinya dengan cepat menginjak pedal rem.

"Sial!" Umpat Bastian lirih, ia menoleh menatap kebelakang.

Sebuah mobil jeep hitam yang menabrak mereka dari belakang.

"Ada apa ini?" ujar Dena seraya memegangi dahinya yang terbentur sandaran kursi kemudi.

"Sakit sekali". Ringis Livia juga Rani, mereka juga sama-sama terbentur kecil.

"Nona anda tidak apa-apa?" tanya Bastian dengan raut wajah yang begitu khawatir.

Siena menggeleng, "Tidak".

"Kalian tunggu disini, saya akan cek keluar". Kata Bastian dengan tegas, ia kemudian segera turun dari dalam mobil.

"Kalian tidak apa-apa kan ?" ujar Siena

"Tidak apa-apa, mungkin hanya sedikit benjol". Rani yang menjawab

"Siapa yang berani menabrak mobil kita?!" tukas Livia kesal

Siena menggeleng, "entahlah, Bastian baru melihatnya".

"Na.. Lihat, Bastian berkelahi. Dia diserang... Cepat telepon polisi".

.

.

.

Haii temen-temen jangan lupa dukungannya yaa... Like, vote dan komen.... Terimakasih ♥️🫶🏻

Makasih yang udah setia nunggu 🌹

1
vnablu
wahh apakah jodohnya Han juga akan muncul di cerita ini buna??...aku setuju banget kalau emang iyaa😄😄😄
Buna_Ama 🌺: mau request siapa jodohnya han 😅
total 1 replies
vnablu
ayooo Buna minimal kasihh visual lahh biar nggak kepo aku nya😌😌
Buna_Ama 🌺: besok yaa kapan2 buna kasih visual 🫶
total 1 replies
vnablu
kurang ajar kamu bas🤭😭
Buna_Ama 🌺: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
💝F&N💝
mana up nya hari ini
Buna_Ama 🌺: bentar yaa.. nunggu lulus review 🙏🫶
total 1 replies
vnablu
lanjut bunaa semangat terus 😄😄
Naufal Affiq
lanjut kak
💝F&N💝
soo sweet bingit, kak
ayo lanjut lagi

secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date

ok👍👍👍
Buna_Ama 🌺: terimakasih 🥰🫶🫶
total 1 replies
vnablu
hukumnya cium ak Bas🤭😭
Buna_Ama 🌺: heii antriii, buna duluan yaa 😌🤣
total 1 replies
Naufal Affiq
oh bastian kau yang terbaik untuk siena,buat siena jatuh cinta sama mu bas,aku mendukungmu
Buna_Ama 🌺: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Naufal Affiq
lanjut buna
Buna_Ama 🌺: beberapa hari ini buna up nya cuma satu bab dulu aja ya. di rl lagi sibuk 🙏🙏🫶
total 1 replies
💝F&N💝
ayo lanjut lagi yg banyak
tetap semangat yaaaaa
vnablu
ciee yang udah mulai dekat 😄😄🤭
vnablu
kamu pikirr Bastian 🐶 menggonggong 😭
Buna_Ama 🌺: 🤣🤣🤣🤣😭😭😭
total 1 replies
Naufal Affiq
memang yang terbaik kau seina,babang tampan sudah menunggu mu
Buna_Ama 🌺: siena bukan seina😭
total 1 replies
💝F&N💝
good👍👍
lanjut
vnablu
ayoo Bas sebaiknya jujur takutnya nanti Siena salah paham nanti ngira kamu itu mata mata 🤭🤭
vnablu
kira" apa yang penting yaa Emmm 🤔🤔 curiga ak Van sma kamu apa kamu adaa wanita lain di belakang Siena😄😄
💝F&N💝
up lagi dooooooong
Buna_Ama 🌺: sabar ya nunggu lulus review dulu 🙏
total 1 replies
vnablu
kalauuu rindu bilang lahh😄😄
Eliermswati
lnjut q tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!