Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Argh, ampun! Lepaskan, bocah!" Sean menjerit ketika rambutnya ditarik tanpa ampun oleh keponakannya sendiri.
Tubuhnya yang tinggi kini setengah membungkuk, mengikuti tarikan kecil nan penuh emosi itu.
Beberapa menit sebelumnya, Sean memang sudah meminta maaf dan berniat berdamai. Namun, seperti biasa, egonya kembali menguasai. Ia mengancam akan menghabisi Luca jika Queen tidak menuruti kemauannya.
Ancaman itulah yang menyulut amarah Queen.
Queen murka. Ia tidak mau Luca kenapa-napa. Baginya, Luca adalah satu-satunya orang yang masih mampu membuatnya merasa aman. Maka, tanpa ragu, ia melampiaskan seluruh kekesalannya pada Sean.
"Tidak mau! Queen benci paman jahat! Paman minta maaf hanya di bibir saja. Hati paman tetap busuk!" seru Queen dengan mata membara.
Sean meringis. Kulit kepalanya terasa seperti akan terlepas. Perih dan panas bercampur jadi satu. Sungguh, ini pertama kalinya ia diperlakukan tidak hormat seperti ini oleh seorang anak kecil. Harga dirinya terasa jatuh, sejatuh-jatuhnya.
Pintu kamar mendadak terbuka.
"Oh my God! Sean, apa yang terjadi disini?" Hyera menganga melihat pemandangan di depannya. Kamar berantakan, Sean setengah berlutut dengan wajah memerah bahkan sampai menitikkan air mata dan Queen berdiri di belakangnya sambil menjambak rambut kakaknya itu.
"Hyera, bantu aku! Singkirkan bocah sialan ini dari atas kepalaku!" teriak Sean frustasi.
Hyera hendak melangkah maju, namun Queen menoleh tajam.
"Kalau Bibi berani mendekat, Queen tidak akan mengakui Bibi. Queen anggap Bibi sama jahatnya dengan Paman!" ancamnya dengan mata menyipit penuh peringatan.
Hyera terdiam. Ia menatap Sean, lalu menatap Queen. Situasi itu begitu absurd sampai ia sendiri bingung harus berpihak pada siapa.
"Dengarkan aku saja, jangan dia!" bentak Sean.
"Tidak boleh! Bibi harus dengarkan Queen!" balas Queen tak kalah keras.
Mereka malah beradu mulut, tak ada yang mau mengalah sedikit pun. Suasana semakin ricuh. Hyera hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan kesal.
Akhirnya, perempuan itu menghela napas panjang. "Kalian berdua sama-sama keras kepala," gumamnya sebelum berbalik dan keluar kamar.
"Adik kurang ajar! Bantu aku, Hyera!" teriak Sean tak percaya saat melihat adiknya benar-benar pergi.
Queen mendengus. "Lihat? Bibi sangat tidak mendukungmu, Paman jahat!"
"Apa maumu, hah?!" Sean mulai kehabisan kesabaran.
"Queen mau pulang!"
"Tapi ini rumahmu!" seru Sean tak mengerti.
"Ini penjara, bukan rumah Queen," jawab gadis kecil itu dengan suara bergetar, namun tegas. "Rumah itu seharusnya diisi dengan kehangatan, bukan ambisi! Queen tidak suka berlama-lama tinggal di sini!"
Deg.
Sean terdiam.
Ucapan polos itu menghantam dadanya lebih keras daripada jambakan tadi. Rumah seharusnya memiliki kehangatan. Bukan dingin dan terasa seperti bangunan tak bernyawa.
Sekilas, Sean teringat masa lalu. Dulu, kedua orang tua mereka begitu menyayangi kakaknya, juga dirinya dan Hyera. Rumah ini selalu penuh tawa. Makan malam bersama. Candaan ringan. Pelukan hangat.
Namun semuanya berubah sejak kedua orang tua Queen meninggal dalam kecelakaan tragis itu.
Sejak saat itu, kehangatan perlahan menghilang. Sean berubah. Ia menjadi dingin, keras, dan dipenuhi ambisi. Bukan karena ia tak peduli. Justru karena ia peduli. Ia masih menyelidiki pelaku di balik kecelakaan tersebut. Ia belum menyerah. Namun kegagalannya menemukan jawaban membuatnya frustasi. Frustrasi itu menjelma menjadi obsesi.
"Paman… Paman tidak apa-apa?" tanya Queen pelan.
Jiwa Alana, menatap dalam mata Sean yang kini kosong, entah pikirannya melayang ke mana.
"Bukan urusanmu!" ketus Sean, kembali mengenakan topeng dinginnya. "Kalau kau ingin menjambakku, memukulku, atau apa pun… lakukan saja agar kau bisa merasa rumah ini hangat lagi!"
Ia memejamkan mata, pasrah. Tangannya terkulai di sisi tubuh. Tidak melawan.
Queen melepaskan jambakannya perlahan. Ia bingung. Ia marah, tapi juga tidak mengerti mengapa melihat Sean seperti itu membuat dadanya ikut terasa sesak.
"Kenapa? Kau butuh kehangatan, bukan?" tanya Sean lirih tanpa membuka mata.
"Queen butuh Luca," jawabnya cepat. "Hanya Luca yang bisa menghangatkan Queen."
Sean berdecak pelan. Nama itu lagi.
Sejak kecelakaan tersebut, ia memang berubah. Ia sadar itu. Ia menjadi murung, tertutup, dan gila ambisi. Ia membangun dinding tinggi di sekeliling hatinya. Ia pikir itu cara terbaik untuk melindungi sisa keluarga yang ia punya.
Namun rupanya, dinding itu justru membuat Queen merasa terpenjara.
"Aku akan membiarkanmu kembali pada Luca," ucap Sean akhirnya.
Queen mendongak cepat. "Benarkah?"
"Asal kau berjanji satu hal padaku."
"Apa?" tanya Queen waspada.
Sean membuka matanya dan menatap lurus gadis kecil itu. Untuk pertama kalinya, tidak ada kemarahan di sana. Hanya kelelahan.
"Berikan aku kehangatan."
"Hah?" Queen melongo. Pikiran dewasanya mulai berkelana kemana-mana.
Sean tersenyum tipis, senyum rapuh yang hampir tak terlihat.
"Ajari aku bagaimana caranya membuat rumah ini hangat lagi," ucap Sean.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌