Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2:Orang yang dianggap teman
Kepergian Amani dihidupku bukan hanya memberiku rasa kehilangan seorang teman,bagiku itu adalah pelajaran pertamaku tentang sebuah pengkhianatan atas waktu yang telah kami habiskan bersama dulu. Berdiri di tengah kelas baru ini, aku merasa seperti titik kecil yang pudar di atas kanvas yang berwarna-warni. Semua orang tampak memiliki tujuan, semua orang memiliki kelompok, sementara aku berdiri di sana kaku, asing, dan merasa seperti katak dalam cangkang yang hanya bisa menatap kegelapan dinding pemisah.
Aku merasa tidak berguna. Setiap langkah yang kuambil menuju sekolah terasa berat, seolah-olah tanah yang kupijak mencoba menelanku. Namun, di tengah kesunyian itu, ada sepasang mata yang terus mengikuti gerakanku.
"Hanie, apa kau baik-baik saja? Kulihat kau tampak sedih."
Suara itu lembut, namun cukup tegas untuk memecah lamunanku. Aku mendongak. Di depanku berdiri Syasya. Aku tahu namanya karena hampir setengah kelas sering memanggilnya untuk meminta bantuan atau sekadar bercanda. Ia memiliki aura yang sangat terbuka, tipe orang yang bahkan bisa membuat orang asing merasa seperti sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.
"Aku baik-baik saja," jawabku sesopan mungkin, meskipun sebenarnya aku ingin berteriak bahwa aku sedang kacau.
Syasya tidak bergerak. Sebaliknya, ia menatapku lebih dalam, seolah-olah ia bisa melihat lapisan luka yang kusembunyikan di balik wajahku yang datar.
"Tidak perlu bersembunyi. Aku tahu kau dekat dengan Amani di sekolah dasar, kan? Ada yang bilang kau sekelas dengannya, sangat dekat." Syasya menarik kursi tanpa izin, lalu duduk di sebelahku dengan gerakan yang sangat santai. "Tapi tidak apa-apa, kau temanku. Aku tidak punya teman dekat yang benar-benar sepemikiran dan dekat denganku."
Mendengar kata-kata itu, hatiku yang membeku mulai mencair. Rasanya seperti menemukan ranting pohon ketika aku hampir tenggelam di sungai yang deras. Setelah ditinggalkan oleh seseorang yang kuanggap sebagai teman selamanya, kehadiran Syasya adalah penyelamat.
Sejak hari itu, duniaku berputar di sekitar Syasya. Kami menjadi sangat dekat, bahkan orang-orang di asrama mulai memanggil kami "belangkas" karena di mana pun dia berada, di situ aku ada. Syasya adalah penghuni asrama, sama sepertiku. Meskipun kamar kami berada di sayap yang berbeda, jarak terasa tidak berarti.
Setiap sore, kami akan bertemu di ruang sholat asrama. Kami tidak hanya datang untuk sholat, tetapi kami juga menjadi sukarelawan sebagai Panitia Surau. Di sana, di antara aroma mukena yang baru dicuci dan keheningan ruang sholat, kami menghabiskan waktu berjam-jam. Kami membersihkan karpet, mengatur Al-Quran, dan berbagi rahasia kecil.
"Hanie, kurasa kau satu-satunya yang mengerti aku. Yang lain melihatku ramah, tapi sebenarnya aku seorang introvert sepertimu," bisik Syasya suatu hari sambil melipat sajadah.
Aku tersenyum bangga. Aku merasa istimewa karena aku satu-satunya orang yang diizinkan melihat sisi "asli" dari Syasya yang populer. Kami melakukan hampir semuanya bersama-sama. Makan di kantin, berjalan ke kelas, bahkan mencuci pakaian di ruang cuci asrama. Kehadirannya mengisi kekosongan yang ditinggalkan Amani.
Namun, perlahan tapi pasti, suasana mulai berubah ketika Hilya muncul.
Kemunculan Hilya dan 'Pemindaian' yang Menakutkan
Hilya adalah sosok yang berbeda. Dia lebih tajam, lebih banyak bicara, dan entah bagaimana, dia memiliki pengaruh yang kuat pada Syasya. Tiba-tiba, lingkaran pertemanan kami yang tadinya hanya berdua, menjadi bertiga.
"Duduklah bersamaku dan Hilya. Akan menyenangkan jika terjadi sesuatu, kami bisa membantumu menghadapi anak laki-laki di kelas ini yang suka menindas," kata Syasya suatu pagi, menarikku ke dalam kelompok mereka.
Aku tersenyum tipis. Ada rasa lega karena mereka ingin melindungiku, tetapi di sudut terdalam hatiku, ada perasaan cemas yang mulai tumbuh. Aku mulai memperhatikan pola pada Syasya. Dia suka bercerita, tetapi dia juga memiliki kebiasaan aneh: dia suka mengawasiku.
Terkadang, saat kami bertiga duduk, aku bisa merasakan tatapan Syasya 'memantau' penampilanku, cara bicaraku, bahkan reaksiku terhadap lelucon Hilya. Seolah-olah dia sedang melakukan pemindaian menyeluruh, mencoba membedah kepalaku dan mencari tahu di mana letak kelemahanku.
"Hanie, kenapa hijab mu kelihatan aneh hari ini? Itu tidak pantas," tegur Syasya dengan nada yang terdengar seperti nasihat dari seorang teman, tetapi matanya dingin. "Lain kali, biarkan aku atau Hilya membantumu memperbaikinya. Kami teman dekat, kami tidak ingin melihatmu terlihat aneh di depan orang lain."
Aku hanya diam. Apakah ini bentuk kasih sayang atau cara untuk perlahan-lahan menghancurkan kepercayaan diriku?
Pengingat di Balik Cermin
Seringkali, di tengah percakapan mereka yang berisik, aku akan meraba saku bajuku. Ada cermin kecil di sana yang selalu kubawa.Setiap hari dikala aku sendirian.