Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
"UUHHUUKKK!"
Batuk Tama masih tersisa ketika gelas air itu akhirnya ia turunkan dari bibirnya. Dadanya naik turun, sementara Bu Diana menatapnya dengan ekspresi polos—seolah tidak merasa baru saja melempar bom kecil di ruangan itu.
Dita berdiri kaku di samping kursi roda.
Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah sampai ke telinga.
“Bu… jangan begitu,” katanya pelan, hampir seperti berbisik.
Bu Diana malah semakin semangat. Matanya berbinar nakal.
“Lho kenapa? Aku kan cuma bilang cocok.”
“Bu Diana…” Dita menunduk sedikit, mencoba tersenyum canggung. “Dokter Eros itu atasan saya. Kalau beliau dengar, nanti malah salah paham.”
“Justru bagus kalau dia dengar!” sahut Bu Diana cepat. "Lagian ini tuh enggak salah paham, Dita."
Dita membelalakkan mata.
“Bu Diana...”
“Biar sekalian nanti dia bisa pedekate,” lanjut Bu Diana santai, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Tama yang baru saja berhenti batuk langsung menoleh tajam.
“Ma!”
Bu Diana melirik anaknya.
“Apa?”
“Jangan sembarangan menjodohkan orang begitu. Enggak usah didengarin, Dit.”
Dita menunduk makin dalam. Tangannya menggenggam tablet kecil yang ia bawa, seolah itu penyelamat dari rasa malu.
“Tidak apa-apa, Tuan Tama,” katanya pelan.
Namun Bu Diana sudah terlanjur bersemangat. "Tuh, Dita bilang enggak apa kok, Tam. Kamu enggak usah sewotlah."
"Ya ampun, Ma..." Tama mengusap wajahnya.
“Coba kamu pikir, Dit,” kata bu Diana sambil menghitung dengan jari. “Dokter Eros itu muda, pekerjaannya jelas, sopan, ramah… ganteng pula.”
Tama memijat pelipisnya. “Ma…”
“Terus kamu juga baik, sabar, pintar,” lanjut Bu Diana tanpa peduli. “Setiap hari merawat orang tua seperti saya dengan telaten. Cocok sekali.”
Dita menggeleng cepat.“Bu, memang pekerjaan kami harus ramah dan sabar pada semua orang.”
"Hmm, kamu masih malu-malu, ya Dit?" bu Diana menggoda.
"bukan begitu, bu." Dita mengelak.“Kalau dokter Eros tahu, nanti beliau bisa salah paham.”
Bu Diana malah tertawa kecil.
“Kalau salah paham berarti dia juga kepikiran.”
Tama langsung memotong.
“Ma, sudahlah.” Nada suaranya kali ini tegas. “Kalau Dita tidak nyaman, jangan dipaksa.”
Bu Diana mendengus.“Lho, kenapa sih, kamu Tam? Enggak usah ikut campurlah.”
“Bukan ikut campur, ma,” kilah Tama, "mama cuma bikin Dita merasa nggak nyaman."
“Dasar kamu ini,” gerutu Bu Diana sambil melipat tangan. “Mama cuma ingin Dita punya pasangan yang baik.”
Tama menatap ibunya datar.“Biarkan Dita yang memilih sendiri.”
Bu Diana memutar bola matanya.“Ah, kamu mah Tam, enggak asik.”
Dita akhirnya tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Bu Diana tersemangat.”
Namun Bu Diana masih belum sepenuhnya menyerah.
“Ya sudah, nanti saja. Tapi aku tetap merasa kalian cocok.”
Tama tidak menjawab.
Ia hanya meneguk sisa air di gelasnya.
Namun entah kenapa, kata-kata ibunya barusan masih bergaung di kepalanya.
Cocok.
Tama tanpa sadar melirik Dita.
Perawat itu sedang merapikan alat terapi, wajahnya kembali tenang seperti biasa.
Bayangan lain tiba-tiba muncul di benaknya.
Koridor tadi siang.
Dita berdiri dekat dengan dokter Eros.
Mereka berbicara serius.
Sesekali tertawa kecil.
Tama menggeleng pelan.
Apa sih yang kamu pikirkan? batinnya.
Ia mengalihkan pandangan ke jendela.
Tidak seharusnya ia memikirkan hal seperti itu.
****
Malamnya, rumah terasa jauh lebih tenang.
Bu Diana sudah tidur setelah sesi terapi sore.
Lampu di koridor redup.
Tama duduk di ruang kerjanya dengan beberapa berkas terbuka di meja.
Ia menekan tombol interkom kecil.
“Dita, bisa ke ruang kerja saya sebentar?”
“Baik, Pak.”
Beberapa menit kemudian pintu diketuk.
“Masuk.”
Dita muncul di ambang pintu.
“Tuan memanggil saya?”
“Iya, silakan duduk.”
Dita duduk di kursi seberang meja.
Tama menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Bagaimana perkembangan Mama sebenarnya?”
Dita langsung menjawab profesional.
“Perkembangannya sangat baik, Tuan. Refleks kaki sudah mulai kembali. Kalau terapi konsisten, kemungkinan besar Bu Diana bisa berjalan dalam beberapa bulan.”
Tama mengangguk pelan.
“Kalau begitu… aku serahkan proses terapinya sepenuhnya pada kamu.”
Dita terlihat sedikit terkejut.“Sepenuhnya?”
“Iya.”
Tama menatapnya serius.“Aku percaya pada kemampuanmu.”
Sejenak ruangan itu hening.
Dita akhirnya tersenyum kecil.
“Terima kasih, Tuan.”
Tama lalu menghela napas.
“Dan… aku juga ingin minta maaf.”
Dita mengerutkan kening.
“Maaf?”
“Soal Mama tadi.”
Dita langsung mengerti.
“Oh… itu.”
“Jangan terlalu dipikirkan,” lanjut Tama. “Mama memang punya kebiasaan menjodohkan orang.”
Dita tertawa kecil.
“Saya tahu.”
Tama mengangkat alis.“Kamu tahu?” lalu ia ingat sesuatu."Ahh, iya. Dulu Mama aja jodohin kita ya, Dit."
Dita menahan tawa.
“Ya… itu memang Mama.”
Suasana jadi sedikit lebih santai.
Tama menatap Dita beberapa detik.
“Tapi… soal hubungan… aku rasa, kamu juga pasti berpikir dua kali. Kamu pernah dihianati.”
Dita terdiam sejenak. Matanya menunduk.
“Iya.”
Tama memganggukkan kepalanya, seperti sudah menyenggol masa lalu Dita.
"saya tidak terlalu memikirkannya, Tuan."
Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang samar di baliknya.
Tama menatapnya lebih lama. “Aku rasa itu cukup berat. Kamu pasti trauma.”
Dita tersenyum tipis.
“Sudah lama, Tuan.”
Tama menyandarkan punggungnya lagi.
“Orang yang dikhianati biasanya butuh waktu lama untuk pulih. Itu yang aku tau.”
Dita menatapnya sekilas. Seolah merasa kalimat itu bukan hanya untuk dirinya.
Dan benar saja.
Tama menatap meja.
“Aku juga pernah mengalaminya.”
Dita tidak menyela.
“Hubungan ku dengan Selina… berakhir karena pengkhianatan.”
Nama itu keluar pelan. Seolah masih meninggalkan jejak pahit.
Dita menunggu.
Namun Tama tidak melanjutkan.
Ia hanya menghela napas pendek.
“Aku tidak ingin membicarakannya lebih jauh.”
Dita mengangguk mengerti.
Beberapa detik ruangan itu hening.
Akhirnya Tama berkata pelan.
“Jadi… kalau boleh memberi saran…”
Dita menatapnya.
“Jangan terlalu cepat dekat dengan seseorang.” Nada suara Tama tenang. “Tunggu sampai luka itu benar-benar sembuh.”
Dita mengangguk pelan.
“Saya mengerti.”
Ia lalu berdiri.
“Kalau begitu saya pamit, Tuan.”
Tama ikut berdiri sedikit.
“Terima kasih, Dita.”
“Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Pintu tertutup pelan setelah Dita keluar.
Tama berdiri lama di depan meja.
Pikirannya terasa aneh malam itu.
***
Beberapa hari kemudian.
Siang itu mobil Tama berhenti di depan rumah. Sengaja dia ingin makan siang di rumah, skalian melihat keadaan mamanya. Begitu masuk ke ruang tamu, langkahnya langsung berhenti.
Di sana, seseorang duduk di sofa. Tama mengenali sosok itu seketika.
Dokter Eros.
Pria itu berdiri begitu melihat Tama. “Selamat siang, Mas Tama.”
Tama mengerutkan kening.“Dokter?”
“Saya datang sebentar.”
Tama menoleh ke arah dalam. "Apa terjadi sesuatu sama Mama? Aku tidak merasa memanggil. Apa... Jadwal konsultasi?"
Dokter Eros tersenyum.“Bu Diana yang meminta saya datang.”
Perasaan aneh langsung muncul di dada Tama.
Curiga.
Ia berjalan lebih jauh ke dalam rumah.
Dan benar saja.
Di ujung koridor, suara Bu Diana terdengar ceria.
“Dokter Eros, nanti Dita juga sebentar lagi keluar dari kamarnya.”
Tama berhenti di tempat.
Alisnya perlahan terangkat.
Jangan-jangan…
"Ada apa ini, Ma?"
"Oh, hari ini dokter Eros lagi off. Jadi aku suruh datang kemari. O iya, Tama. Kamu kok pulang?"
"Aku mau makan siang di rumah. Lagian... Kantor lagi senggang."
"oh, kebetulan... Kamu bisa temani Mama."
"Temani Mama?" alis Tama berkerut lagi. "Dita kemana?"
"Oh, Dita biar keluar makan siang sama Dokter Eros."
"Apa!?" seketika, wajah Tama berubah... Sepertinya, bu Diana serius untuk menjodohkan Dita dengan dokternya.