Menceritakan tentang 2 gadis bersaudara dimana dia adalah seorang anak yang di hidupi oleh pengusaha yang sangat kaya raya dan setiap pesaing kalah bisnis dari orang tua nya selalu saja mereka ingin selalu menjatuh kan orang tua Cahya dan Megy....
" Cahya kamu janji ya, akan membalaskan kedua orang tua kita" kata Megy sembari mengelap air mata adik nya yang menetes di pipi.
"Oke, gue janji kak, lu juga janji ya, kak? Ucap Cahya sembari berhenti menangis.
Cahya sekarang usiamu muda, kamu bisa ikut ke medan perang! Di sana kamu bisa mempelajari ahli beladiri apa saja? Kata Megy dengan serius.
Baiklah kak, gue akan pergi dulu! Titip ayah ya? Ucap Cahya.
Apakah orang tua nya akan jatuh atas segala yang dilakukan penjahat..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebit S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pertikaian.
Megy dan Cahya yang sudah tersulut amarah karena melihat kondisi ayahnya yang sangat parah akibat siksaan dari Edwin Kurniawan.
Dengan mengepalkan tangannya lalu, Cahya berkata."siapa yang menc*mb*k, bokap gue?"
Lalu Cahya menatap semua anak buah Edwin Kurniawan dengan sangat tajam dan saat Cahya melihat mereka anak buah dan Edwin Kurniawan terdiam melihat keberanian dan kharisma Cahya.
Cahya melihat anak buah Edwin Kurniawan tidak jauh dari nya lalu dengan sangat cepat dan tanpa di duga oleh para anak buah Edwin Kurniawan Cahya langsung menghantamkan pukulan yang telak kepada Bawahan Edwin Kurniawan.
"Kraaak...Bak..buk..bak..buk...plak...gedebuk... Aaaaaah.. "Jerit anak Buah Edwin Kurniawan.
Lalu para bawahan Edwin Kurniawan langsung gemetar dan tercengang melihat tindakan Cahya tanpa ampun sedikit pun.
Karena belum ada yang menjawab pertanyaannya Cahya kemudian langsung segera meraih pergelangan tangan anak Buah Edwin Kurniawan bernama Julian.
"Bak...buk... Kraaaaak... "
Suara tulang tangan julian langsung patah akibat di pelintir Cahya.
Kemudian dengan dingin Cahya menatap kearah Anak buah Edwin Kurniawan.
Diatas Gedung ini ada 200 orang yang sedang berkumpul di atap gedung tetapi tidak ada yang berani bertindak ketika melihat Cahya dengan cepat mengambil tindakan.
Setelah melintir tangan Julian Cahya segera membanting Julian. "Gedebuk."
Lalu Cahya langsung menginjak punggung Julian yang baru saja dihempaskan kelantai debu yang ada dilantai atap gedung itu terangkat menunjukkan betapa kuatnya bantingan Cahya itu.
"Gue, nggak akan mengulangi pertanyaan gue, kalau kalian anggak ada yang buka mulut, terima sendiri konsekuensinya saat gue udah marah?" Kata Cahya.
Kemudian tanpa di duga setelah mendengarkan apa yang di ucapkan Cahya Edwin sedang duduk dikursi segera bertepuk tangan.
"Proook....proook..proook.. lumayan?" Ucap Edwin Kurniawan.
Saat mendengarkan tepuk tangan dari Edwin Kurniawan.
Dan mendengar suara dari ejekan Edwin Kurniawan seolah-olah tidak menganggap Cahya sama sekali.
"Proook-proook... Proook-proook..." Edwin Kurniawan bertepuk tangan dengan cepat kemudian muncul seorang pria yang berbadan besar 2 orang bernama Jayadi dan Junaedi.
Dengan tersenyum dingin, Edwin Kurniawan Berkata."kalian urus wanita jalang dua ini, jangan kalian bunuh langsung tapi cukup kalian lumpuhkan aja, apa kalian mengerti?"
Lalu Jayadi dan Junaedi segera mengangguk kemudian langsung membunyikan tangannya sebagai pertanda kalau mereka sudah gatal tidak bertarung.
Setelah membunyikan kepalan tangannya Jayadi dan Junaedi segera mendekati Cahya.
"Hehe, gadis bodoh! Lu harusnya nikmati aja di dapur, di kasur, dan memasak menghidangkan makanan untuk suami! Kenapa lu malah sok'-sok' an di sini, berurusan dengan Bos Edwin?" Kata Jayadi yang menatap tajam dengan wajah sangarnya.
Dengan tersenyum mendengar ucapan dari Jayadi Cahya langsung melihat ke Jayadi dan Junaedi lalu, Ia berkata."begitu kah?"
Setelah berbicara Cahya segera melesat kearah Jayadi kemudian langsung menghantamkan tendangan nya kearah Jayadi sembari melompat.
Namun, setelah mendekati Jayadi dan hampir mengenai Jayadi.
Jayadi segera mencengkram kaki Cahya yang hampir mengenai lalu Jayadi langsung membanting kemudian melemparkan Cahya hingga menghantam dinding.
"Nyalimu, gue akui? Tapi sayang kemampuanmu itu, nggak ada apa-apanya dihadapan gue?" Kata Jayadi dengan sombong sembari mengejek Cahya.
"Cahyaaaaaaaaaa." Jerit Megy yang khawatir melihat adiknya.
Cahya lalu melihat ke Megy kemudian menggelengkan kepala nya kepada Megy kemudian Cahya tersenyum sembari berdiri membersihkan debu yang menempel di bajunya.
Cahya dengan tersenyum langsung mengacungkan jempol Oke lalu membaliknya menandakan kalau Jayadi belum ada apa-apanya.
"Apa hanya segitu kemampuan lu? Lumayanlah, bisa menakuti anak kecil?" Kata Cahya segera menatap Jayadi dan Junaedi sembari berhenti tersenyum.
Dengan melihat Cahya mengejek para anak buahnya Edwin Kurniawan berkeringat dingin dan berpikir keras dari mana kepercayaan diri Cahya.
Tidak lama kemudian Jayadi dan Junaedi segera mengambil tindakan untuk menyerang Cahya karena sudah tersulut Emosi akibat diremehkan oleh Cahya.
Junaedi segera menyerang Cahya dengan memukul lalu Jayadi menggunakan tendangan kearah kepala Cahya.
Junaedi yang menggunakan pukulan segera di ajak Cahya beradu pukulan lalu mengeluarkan gelombang kejut membuat tangan Junaedi menjadi pat*h hingga hancur seperti.
"Apa..." Teriak Anak Buah Edwin Kurniawan yang lainnya tercengang menyaksikan pukulan Cahya.
Sementara Cahya segera menangkap kaki Jayadi yang mengarah ke Cahya.
Dan setelah hampir mengenai kepala nya Cahya dengan cepat langsung menahan kaki Jayadi dengan kaki nya yang jenjang.
Kemudian langsung menggunakan kaki serta tangan menghantam ke arah tulang rusuk Jayadi hingga menyebabkan Jayadi terhempas dan terdorong mundur kearah Anak Buah Edwin Kurniawan yang sedang berdiri di sekitar sana.
Hingga menyebabkan luka kepada anak buah Edwin yang terkena hempasan tubuh Jayadi.
"Braaaaaak... Uhuk...uhuk.."
Jayadi terbatuk setelah terkena tendangan dan pukulan Cahya.
"Bagaimana? Masih bisa berdiri, hah?" Kata Cahya sembari menatap tajam.
Lalu Jayadi dan Junaedi segera berdiri menatap ke arah Cahya yang menatap kearah mereka dengan tajam tanpa ada senyuman sedikitpun dari Cahya.
Tidak tahu kenapa mereka berdua merasakan ketakutan saat melihat Cahya menatap mereka dengan tajam tanpa ada senyuman. Mereka berdua menjadi gentar melihat sorot mata Cahya.
"Kenapa wanita ini kuat banget! Nggak mungkin ini pasti karena dia menyerang dengan diam-diam sampai-sampai, gue jadi lengah terhadap serangannya!" Gumam Jayadi kepada dirinya sendiri.
Setelah mereka berdua berdiri Jayadi dan Junaedi langsung segera menyerang kearah Cahya dengan cepat tetapi dipandangan Cahya mereka sangat lambat.
Sembari menggelengkan kepala Cahya berkata."terlalu lambat."
Lalu Cahya segera menuju kearah Jayadi dan Junaedi yang bersama-sama maju ke arah Cahya.
Jayadi memukul ditahan oleh Cahya kemudian Junaedi menendang ditahan oleh kaki Cahya.
Lalu Cahya segera memukul tulang rusuk Jayadi kemudian lansung menghantam kepala Jayadi hingga menjadi kabut dar*h.
"Craaaaashh..."
Kepala Jayadi hancur bagaikan balon yang meletus dan darah menciprat kemana-mana hingga mengenai Anak Buah Edwin Kurniawan hingga membuat mereka yang tercengang langsung tersadar setelah terkena dari kepala Jayadi yang meletus bagaikan balon.
Kemudian Cahya segera menyerang Junaedi yang sibuk menendang.
Lalu Cahya langsung mencengkram tangan Junaedi yang hendak memukul Wajah Cahya.
Junaedi tangannya yang dicengkeram oleh Cahya berusaha untuk melepaskan dari cengkeraman Cahya tetapi tidak bisa menarik kembali tangannya yang di pegang oleh Cahya.
"Kenapa? Nggak bisa ya?" Kata Cahya menatap Junaedi berusaha melepaskan tangannya yang dicengkeram oleh Cahya.
Kemudian Cahya segera melancarkan pukulan ke tulang rusuk Junaedi hingga membuatnya muntah dar*h.
"Aaaaaah.. uhuk..uhuk.. "
Jerit Junaedi yang kesakitan. Dan tidak sampai disana Cahya segera melancarkan tendangan bertubi-tubi keperut Junaedi.
Lalu langsung memukul dada Junaedi hingga pukulan Cahya menembus dada Junaedi dan Cahya membanting Junaedi didepan Edwin Kurniawan yang duduk dikursi dengan santai.
"Proook...proook..proook... Lumayan! Namun sayang anak buah ku masih ada yang lebih dari mereka." Kata Edwin Kurniawan tersenyum dingin menatap tajam kearah Cahya
ini seperti isi teks yang langsung up tapi mungkin lupa di edit lagi tanpa di kroscek
padahal isi ceritanya cukup oke