Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI-HARI BERSAMA SHANKS
Seminggu berlalu sejak kedatangan Red Hair Pirates di Foosha Village.
Mereka memutuskan tinggal lebih lama—kata Shanks, mereka butuh istirahat setelah tiga bulan berlayar nonstop di Grand Line. Kapal mereka juga butuh perbaikan kecil.
Luffy tidak pernah melepas topi jerami sejak hari itu. Dia pakai kemana-mana—saat makan, saat tidur, bahkan saat mandi sampai Dadan harus paksa lepas.
"Ini topi dari Shanks! Luffy harus jaga baik-baik!" dia selalu bilang begitu setiap kali seseorang komentar.
Aku dan Sabo sering bertemu dengan kru Shanks di desa. Mereka ramah—tidak seperti bajak laut kebanyakan yang arogan atau agresif. Lebih seperti petualang yang mencari kebebasan daripada penjahat yang cari masalah.
"Ace! Sabo! Kemari!" Shanks memanggil kami dari depan Partei Bar siang itu.
Kami mendekat. Di sampingnya berdiri pria tinggi dengan senapan di punggung dan ekspresi serius—Yasopp, penembak jitu terbaik kru Shanks.
"Kalian mau lihat sesuatu yang menarik?" Shanks bertanya dengan senyum misterius.
"Tergantung apa yang menarik menurut kapten bajak laut," aku menjawab hati-hati.
"Latihan Haki tingkat lanjut. Aku dengar kalian sudah bisa Observation dan Armament dasar. Mau lihat level yang lebih tinggi?"
Mata kami langsung berbinar. Kesempatan belajar dari salah satu bajak laut terkuat di dunia? Ini tidak boleh dilewatkan.
"Tentu! Kami mau!"
"Bagus! Ikut aku ke pantai. Yasopp, Lucky Roux, Benn—kalian juga ikut!"
Kami berjalan bersama ke pantai yang sepi. Disana, tiga kru inti Shanks sudah menunggu—Benn Beckman dengan senapan dan rokok di mulut, Lucky Roux dengan daging di tangan seperti biasa, dan Yasopp yang tadi dipanggil.
"Baiklah, pelajaran dimulai," Shanks berdiri di tengah dengan tangan terlipat di dada. "Kalian sudah tahu Haki dasar. Observation untuk rasakan presence. Armament untuk pertahanan dan serangan. Betul?"
Kami mengangguk.
"Tapi itu baru permukaan. Haki punya level jauh lebih dalam. Dan hari ini aku akan tunjukkan."
Dia mengangkat tangan kanan. Warna hitam pekat menyelimuti—Armament Haki Hardening yang sudah kami kenal.
"Ini Hardening. Kalian sudah bisa ini kan?"
"Ya, tapi belum sempurna. Cuma bisa maintain beberapa menit," aku menjawab jujur.
"Normal untuk pemula. Tapi lihat ini—"
Warna hitam di tangannya mulai berubah. Menjadi lebih gelap. Lebih solid. Dan yang paling mengerikan—mulai memancarkan aura merah seperti petir kecil.
"Ini Advanced Armament Haki. Ada dua level. Level pertama—Internal Destruction. Aku bisa hancurkan sesuatu dari dalam tanpa sentuh permukaannya."
Dia mengangkat batu besar di pantai. Tidak ada yang terjadi dari luar. Tapi tiba-tiba—
CRACK!
Batu itu retak dari dalam dan hancur jadi debu.
"Dengan ini, aku bisa tembus pertahanan sekuat apapun. Bahkan pertahanan Logia."
Mataku melebar. Itu artinya serangan seperti itu bisa tembus pertahanan apiku yang biasanya intangible.
"Level kedua—Emission. Aku bisa lepaskan Haki sebagai gelombang kekuatan tanpa perlu kontak fisik."
Dia mengarahkan tangan ke arah laut—lima meter dari air.
"HAKI BLAST!"
Gelombang invisible keluar dari tangannya. Air laut meledak seperti ada bom—menciptakan kolom air setinggi sepuluh meter.
Kekuatan luar biasa tanpa sentuhan sama sekali.
"Itu... bisa diajarkan?" Sabo bertanya dengan mata berbinar.
"Bisa. Tapi butuh latihan bertahun-tahun. Dan bakat alam yang bagus. Kalian berdua punya potensi—tapi jangan berharap bisa kuasai dalam seminggu atau sebulan."
"Kami mau belajar! Ajari kami!" aku dan Sabo berkata bersamaan.
Shanks tertawa. "Aku suka semangat kalian! Baiklah! Satu minggu ke depan—sebelum kami berlayar lagi—aku akan ajari kalian dasar Advanced Armament!"
Dia menunjuk Benn Beckman. "Benn akan bantu juga. Dia master Armament Haki level tertinggi di kru kami."
Benn mengangguk sambil buang asap rokok. "Siap-siap kerja keras, bocah. Aku tidak pelan-pelan."
"Dan aku—" Yasopp melangkah maju. "—akan ajari Observation Haki tingkat lanjut. Future Sight. Kemampuan melihat beberapa detik ke masa depan."
Sabo langsung excited. "Melihat masa depan?! Itu mungkin?!"
"Mungkin. Tapi sangat sulit. Bahkan di kru kami, cuma aku dan kapten yang bisa. Tapi kau—" dia menunjuk Sabo. "—punya bakat Observation yang luar biasa untuk anak seusiamu. Dengan latihan yang benar, mungkin kau bisa."
"Lalu Lucky Roux—" Shanks menunjuk pria gemuk yang sedang makan daging. "—akan ajari kalian stamina dan endurance training. Dia mungkin kelihatan gemuk tapi dia bisa berlari nonstop tiga hari tiga malam tanpa istirahat."
Lucky Roux menyeringai lebar. "Siap-siap lari sampai kaki copot!"
Ini kesempatan emas. Dilatih langsung oleh kru Yonko level.
"Kami siap! Kapan mulai?!" aku bertanya bersemangat.
"Sekarang."
Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada pemanasan.
Shanks langsung maju dan—
WHAM!
Tinju tanpa Haki menghantam perutku. Aku terlempar lima meter dan jatuh dengan napas tercekat.
"Pelajaran pertama—refleks. Kalian harus bisa react bahkan saat lengah total."
Dia menyerang Sabo berikutnya—kick cepat ke arah kepala.
Sabo sempat dodge dengan Observation Haki—tapi masih kena sedikit dan jatuh berguling.
"Lumayan. Tapi masih terlalu lambat."
Shanks berdiri dengan tangan di belakang punggung. "Selama seminggu ini, kalian akan diserang kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja dari kru kami. Tidak ada waktu aman. Bahkan saat tidur, kalian harus waspada."
"Itu... latihan atau siksaan?" aku mengeluh sambil berdiri dengan susah payah.
"Keduanya! Gwahahaha!" Shanks tertawa persis seperti Garp.
Kenapa semua guru kami sadis?!
"Benn, Yasopp, Lucky Roux—kalian tahu apa yang harus dilakukan. Mulai sekarang!"
Ketiga orang itu menyeringai bersamaan—senyum predator.
Kami tahu seminggu ke depan akan jadi neraka.
Hari pertama adalah yang terburuk.
Kami diserang total dua puluh tiga kali. Di pagi hari saat bangun tidur—Yasopp sudah menunggu di luar jendela dengan senapan kosong yang dia tembakkan ke arah kami. Di siang hari saat makan—Lucky Roux tiba-tiba muncul dari belakang dan dorong piring kami sampai jatuh. Di sore hari saat latihan rutin—Benn Beckman muncul entah dari mana dan serang dengan Haki penuh.
"KENAPA KALIAN ADA DIMANA-MANA?!" Sabo berteriak frustrasi setelah diserang untuk keenam kalinya dalam satu jam.
"Karena musuh sungguhan tidak kasih jadwal kapan mereka menyerang!" Benn menjawab sambil merokok santai. "Kalau kalian tidak siap setiap saat, kalian akan mati di Grand Line."
Logika kejam tapi benar.
Malam hari, saat kami hampir tertidur—
CRASH!
Jendela pecah. Yasopp loncat masuk dengan kick terbang.
Aku reflex roll dari kasur—kick melewati dengan jarak sejengkal.
Sabo sudah bangun dan block dengan pipa besi yang selalu dia taruh di samping kasur sekarang.
"Bagus! Refleks kalian membaik!" Yasopp memuji sambil backflip keluar dari jendela yang rusak.
"JENDELA KAMI!" kami berteriak bersamaan.
"Besok akan kami perbaiki! Selamat tidur!" suaranya terdengar dari luar sambil tertawa.
"Aku benci mereka..." Sabo mengeluh sambil berbaring lagi.
"Tapi kita jadi lebih waspada," aku harus mengakui. "Sekarang bahkan saat tidur, Observation Haki kita tetap aktif sedikit."
"Ya... tapi capek sekali..."
Kami tertidur dengan satu mata terbuka—secara harfiah.
Hari ketiga, latihan menjadi lebih spesifik.
Shanks mengajak kami ke hutan dalam.
"Hari ini aku akan ajari Internal Destruction. Tapi kalian harus pahami konsepnya dulu."
Dia mengambil dua buah melon besar dari tas. Menaruh di atas batu.
"Armament Haki biasa—kau pukul dari luar. Pertahanan luar rusak." Dia pukul melon pertama dengan tangan dilapisi Hardening—melon pecah dari luar dengan jelas.
"Tapi Internal Destruction—kau alirkan Haki MELEWATI permukaan, langsung ke dalam." Dia letakkan tangan di melon kedua—tidak pukul, hanya sentuh pelan.
Lima detik kemudian, melon itu hancur dari dalam—kulit luar masih utuh tapi isinya jadi bubur.
"Lihat perbedaannya? Dengan ini, kau bisa hancurkan organ dalam musuh tanpa perlu tembus pertahanan luar. Sangat efektif melawan musuh dengan pertahanan kuat atau Logia user."
Aku menelan ludah. Itu sangat mematikan.
"Untuk melakukan ini, kalian harus ubah 'flow' Haki. Biasanya Haki mengeras di permukaan tubuh kalian. Tapi untuk Internal Destruction, kalian harus alirkan Haki KELUAR dari tubuh, melewati target, lalu ledakkan dari dalam."
Kedengarannya rumit sekali.
"Coba kalian. Ambil batu kecil. Fokuskan Haki ke tangan kalian. Tapi jangan keraskan di permukaan—bayangkan Haki mengalir seperti air, keluar dari tangan, masuk ke dalam batu, lalu meledak."
Aku mengambil batu seukuran kepalan tangan. Fokus. Alirkan energi spiritual ke tangan kanan.
Biasanya, energi akan mengeras di permukaan tangan—membentuk lapisan pelindung. Tapi sekarang aku harus melawan instink itu. Harus biarkan energi mengalir keluar.
Sangat sulit. Seperti mencoba menulis dengan tangan yang bukan dominan.
Lima menit pertama—tidak ada yang terjadi. Sepuluh menit—masih tidak ada. Lima belas menit—
CRACK!
Batu retak sedikit dari dalam.
"BERHASIL!" aku berteriak excited meski retaknya cuma sedikit.
"Bagus untuk percobaan pertama! Terus latihan sampai bisa hancurkan batu sebesar kepala dalam satu sentuhan!"
Sabo juga mulai mencoba. Dia lebih lama—hampir tiga puluh menit—tapi akhirnya berhasil buat retakan kecil juga.
"Kalian berdua punya potensi. Terus latihan setiap hari. Beberapa bulan lagi mungkin bisa kuasai dengan sempurna."
"Beberapa bulan?!" kami protes.
"Aku butuh dua tahun untuk kuasai ini pertama kali. Kalian bisa dalam beberapa bulan sudah sangat cepat."
Perbandingan yang membuat kami tidak bisa protes lagi.
Hari kelima, Yasopp memanggil Sabo ke pantai untuk latihan khusus Observation Haki.
Aku ikut untuk nonton—penasaran bagaimana Future Sight diajarkan.
"Observation Haki biasa—kau rasakan presence di masa sekarang. Lokasi musuh, gerakan musuh, niat musuh. Semua real time," Yasopp menjelaskan sambil memutar koin di jari. "Tapi Future Sight—kau rasakan presence di masa depan. Beberapa detik ke depan. Kau tahu kemana musuh akan bergerak sebelum mereka bergerak."
Dia tiba-tiba lempar koin ke udara dan tarik senapan—tembak tanpa bidik.
BANG!
Koin jatuh dengan lubang tepat di tengah.
"Aku tidak bidik. Aku tahu dimana koin akan berada sebelum sampai situ. Itulah Future Sight."
Sabo menatap kagum. "Bagaimana caranya?"
"Pertama, Observation Haki-mu harus sudah sangat tajam. Kau harus bisa rasakan presence dalam radius besar dengan detail tinggi. Kau sudah bisa ini."
"Kedua, kau harus bisa fokus sangat dalam—sampai waktu terasa melambat. Dalam keadaan itu, otakmu bisa proses informasi lebih cepat dan prediksi kemungkinan masa depan."
"Ketiga—dan ini paling sulit—kau harus lepaskan ego dan kesadaran diri. Jangan mikir 'aku mau lihat masa depan'. Biarkan Haki mengalir natural dan menunjukkan sendiri."
Terdengar seperti meditasi tingkat tinggi.
"Sekarang coba. Tutup mata. Aktifkan Observation Haki maksimal. Rasakan semua presence di sekitarmu—ombak, angin, burung, serangga, semua. Lalu coba rasakan tidak hanya DIMANA mereka sekarang, tapi KEMANA mereka akan bergerak."
Sabo menutup mata. Napasnya pelan dan teratur—tanda dia fokus penuh.
Aku juga tutup mata—ikut mencoba meski ini bukan latihanku.
Presence di sekitar mulai terasa jelas. Ombak yang menghantam pantai dengan ritme teratur. Angin yang bertiup dari timur. Burung yang terbang di atas—
Tunggu. Ada yang aneh.
Aku bisa 'merasakan' burung akan belok kiri sebelum dia benar-benar belok.
Buka mata—burung benar-benar belok kiri tepat seperti yang kurasakan tadi.
Itu... Future Sight? Atau cuma kebetulan?
"Ace, kau juga merasakan sesuatu?" Yasopp bertanya dengan senyum tahu.
"Aku... rasa tahu burung akan belok sebelum dia belok. Tapi mungkin cuma kebetulan—"
"Bukan kebetulan. Itu awal dari Future Sight. Meski cuma sejengkal—cuma satu detik ke depan—itu sudah Future Sight level paling dasar."
Jantungku berdegup excited. Aku bisa mulai merasakan Future Sight juga?!
"Kalian berdua berbakat. Terus latihan ini setiap hari. Coba prediksi gerakan kecil—daun jatuh, ombak datang, burung terbang. Semakin sering, semakin tajam prediksimu."
Kami mengangguk bersemangat.
Hari ketujuh—hari terakhir sebelum Red Hair Pirates berlayar lagi.
Shanks mengumpulkan kami di pantai saat matahari terbenam.
"Seminggu yang produktif. Kalian berkembang lebih cepat dari yang kukira. Ace—Internal Destruction-mu sudah bisa hancurkan batu sebesar kepala meski belum sempurna. Sabo—Future Sight-mu mulai muncul meski masih cuma satu atau dua detik."
"Tapi ini baru awal. Kalian butuh bertahun-tahun latihan untuk benar-benar master. Jangan berhenti."
Dia mengambil dua surat kecil dari saku dan kasih pada kami.
"Ini Vivre Card kami. Kalau suatu hari kalian masuk Grand Line dan butuh bantuan—atau cuma mau ketemu—ikuti kertas ini. Dia akan tunjukkan jalan ke kapal kami."
Vivre Card. Kertas ajaib yang terbuat dari kuku orang dan selalu menunjuk ke arah pemiliknya.
"Terima kasih, Shanks," aku menerima dengan hati-hati. "Untuk semua yang sudah diajarkan."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku cuma kasih sedikit panduan. Kalian yang akan jalan sendiri dari sini."
Dia berbalik menatap laut dimana kapalnya sudah siap berlayar.
"Oh ya, satu lagi." Dia menatap kami dengan serius. "Jaga Luffy. Bocah itu istimewa. Suatu hari, dia akan guncangkan dunia. Aku yakin itu."
"Kami akan jaga dia. Apapun yang terjadi," aku berjanji.
Shanks tersenyum puas. "Bagus. Sampai jumpa lagi, Ace, Sabo. Di Grand Line nanti."
Dia berjalan ke kapal. Kru-nya sudah berkumpul di deck.
"OI LUFFY!" Shanks berteriak ke arah desa dimana Luffy sedang bermain.
Luffy berlari ke pantai dengan topi jerami di kepala—mata berkaca-kaca.
"Shanks... kau mau pergi?"
"Ya. Tapi aku akan kembali suatu hari. Dan saat itu, kau harus sudah jadi bajak laut hebat. Kembalikan topi ini padaku sebagai bajak laut hebat!"
"LUFFY JANJI!" Luffy menangis tapi tetap tersenyum. "Luffy akan jadi Raja Bajak Laut dan kembalikan topi ini!"
"Aku tunggu hari itu!"
Kapal mulai berlayar. Shanks dan kru-nya melambaikan tangan dari deck.
Kami bertiga—aku, Sabo, dan Luffy—berdiri di pantai melambaikan balik sampai kapal menghilang di cakrawala.
"Suatu hari... kami akan bertemu lagi di Grand Line," aku bergumam pelan.
"Dan saat itu, kami akan lebih kuat," Sabo menambahkan.
"Dan Luffy akan jadi Raja Bajak Laut!" Luffy berseru dengan mata berapi-api.
Kami tertawa bersama.
Seminggu dengan Red Hair Pirates berakhir.
Tapi pelajaran yang kami dapat akan bertahan selamanya.
Dan Vivre Card di sakuku adalah pengingat—suatu hari, kami akan berlayar di laut yang sama dengan mereka.
Sebagai bajak laut.
Sebagai orang bebas.
Sebagai saudara yang tidak bisa dipisahkan.