NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belanja Keperluan

Saat akhirnya mereka tiba di pasar, langkah Wu Zetian dan Ningning hampir bersamaan terhenti. Hiruk-pikuk suara manusia, teriakan pedagang, denting logam, serta aroma makanan bercampur menjadi satu. Namun sebelum semua itu benar-benar mereka nikmati, tenggorokan keduanya terasa kering luar biasa setelah perjalanan panjang.

“Akhirnya sampai…” Ningning menghela napas panjang sambil mengusap keringat di pelipisnya.

Wu Zetian sendiri merasakan dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya. Tubuhnya terasa ringan namun lemah, seolah tenaga yang tersisa tinggal sedikit. Ia segera merogoh kantong kain di pinggangnya dan mengeluarkan kantong air.

“Minumlah dulu,” ucapnya sambil menyerahkan kantong itu pada Ningning.

Mereka bergantian meneguk air dengan rakus. Cairan dingin itu mengalir di tenggorokan, perlahan meredakan rasa haus dan panas yang menyengat. Wu Zetian memejamkan mata sejenak, merasakan tubuhnya sedikit lebih baik meski kelemahan masih menggerogoti dari dalam.

Setelah itu, Ningning tampak kembali bersemangat. Ia menarik lengan Zetian dengan ringan, senyum kecil terbit di wajahnya.

“Aku tahu tempat jual beli barang bekas,” katanya. “Ikut aku.”

Mereka menyusuri lorong pasar yang lebih sempit. Di sana, kios-kios kecil berjajar rapat. Barang-barang lama namun masih layak pakai ditata rapi—perabot kayu, kain, perhiasan sederhana, hingga peralatan rumah tangga.

Transaksi berlangsung lebih lancar dari yang Wu Zetian perkirakan. Beberapa pedagang langsung tertarik dengan barang-barangnya. Meski ia membawa sedikit barang, kualitasnya jauh di atas rata-rata. Tak heran, tawaran harga yang datang pun cukup tinggi.

Setelah semua barang berpindah tangan, Wu Zetian menggenggam kantong uang di telapak tangannya. Beratnya terasa nyata, membuatnya sedikit tertegun.

“Tiga ratus koin emas,” gumamnya pelan, seolah tak percaya.

Jumlah itu bukan kecil, namun ia tahu uang ini harus digunakan dengan sangat bijak. Ini adalah modal hidup dirinya kedepannya.

Tujuan pertama mereka adalah toko pakaian. Toko itu cukup besar, dengan kain-kain tergantung rapi di dinding. Wu Zetian memilih pakaian dengan hati-hati. Ia tidak mencari yang indah atau mahal, hanya yang hangat, kuat, dan nyaman.

Tiga pasang pakaian sederhana ia pilih untuk dirinya sendiri. Dua pasang lainnya untuk Kakek Zhou dengan bahan lembut dan cukup tebal untuk malam dingin.

Setelah membayar, Wu Zetian menghitung kembali uangnya. Seratus koin emas menghilang dari kantongnya. Namun ia sama sekali tidak menyesal.

Keluar dari toko pakaian, aroma makanan hangat dari rumah makan di seberang jalan langsung menarik perhatian mereka. Perut Wu Zetian yang sejak tadi kosong karena perjalanan yang jauh tiba-tiba bergejolak.

“Aku lapar,” ucapnya spontan sambil menarik tangan Ningning. “Ayo kita ke sana.”

Tanpa menunggu jawaban, ia sudah melangkah masuk ke rumah makan sederhana itu. Ruangannya tidak besar, tapi bersih dan hangat. Wu Zetian langsung memesan pada pelayan.

“Dua porsi pangsit di sini,” katanya, lalu menambahkan, “dan satu bungkus untuk dibawa pulang.”

Ningning terkejut dan refleks menarik lengan Zetian.

“Zetian, biar aku saja yang bayar.”

Wu Zetian menoleh. Sorot matanya lembut, namun ada ketegasan yang tak bisa dibantah.

“Tidak,” katanya pelan. “Kamu sudah menemaniku berjalan sejauh ini."

“Tapi aku—”

“Tidak ada tapi,” potong Zetian sambil tersenyum tipis. “Anggap saja ini hadiah terima kasihku.”

Ningning terdiam. Ia sebenarnya membawa uang sendiri dari hasil kerjanya sebagai kepala pelayan di kekaisaran Dinasti Tang. Namun melihat sikap Zetian, ia tak sanggup menolak. Akhirnya ia hanya menghela napas pasrah.

Mereka pun makan bersama. Kuah pangsit yang hangat mengalir ke dalam perut, memberi sedikit tenaga pada tubuh Wu Zetian. Ia menikmati setiap suap dengan tenang, meski di balik wajah datarnya, rasa lemah masih terus menghantui.

Wu Zetian membayar tiga puluh koin emas.

Melihat caranya memperlakukan orang lain, tanpa perhitungan, hati Ningning terasa hangat. Ia semakin yakin bahwa perempuan di hadapannya ini sangat tulus.

Setelah makan, mereka singgah di sebuah toko obat yang terletak di sudut pasar. Rak-rak kayu penuh dengan botol dan laci kecil berlabel tulisan halus. Aroma obat yang khas langsung memenuhi hidung.

Seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan senyum ramah.

“Selamat datang.”

Ningning melangkah maju lebih dulu.

“Paman, temanku ini terlihat tidak sehat. Bisa tolong diperiksa?”

Pemilik toko mengangguk paham. Pandangannya menyapu tubuh Wu Zetian dengan tajam namun profesional. Wajah yang terlalu pucat, mata yang tampak redup, tubuh kurus dengan lebam samar di balik kulit—semua itu tidak luput dari perhatiannya.

“Boleh aku periksa denyut nadimu, Nona?” tanyanya.

Wu Zetian mengulurkan tangannya tanpa ragu.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Ekspresi paman itu perlahan berubah serius.

“Di dalam tubuhmu terdapat banyak racun, Nona.”

Ningning terperanjat.

“Racun?!”

Wu Zetian refleks menutup mulutnya, berpura-pura terkejut.

“Racun…? Apa maksudnya?”

Paman itu menghela napas pelan.

“Racun ini sudah lama mengendap. Tidak mematikan secara langsung, tapi perlahan melemahkan tubuhmu. Jika dibiarkan, kondisimu akan semakin buruk.”

Ningning menatap Zetian dengan mata berkaca-kaca.

“Zetian… bagaimana bisa…”

Wu Zetian menunduk, jemarinya sedikit gemetar.

“Aku… aku juga baru tahu.”

Kebohongan kecil itu keluar dengan mulus, meski di dalam hatinya, ia sudah lama mencurigai penyebab kelemahannya sendiri.

Paman itu lalu menyiapkan beberapa ramuan.

“Minum ini secara teratur. Selain itu, seringlah bergerak. Berkeringat akan membantu mengeluarkan racun dari tubuhmu.”

Wu Zetian mengangguk.

“Terima kasih, Paman.”

Ia membayar obat-obatan itu sebanyak tujuh puluh koin emas lalu membungkuk sopan sebelum pergi. Obat di dunia ini memang mahal, dan ia tahu itu.

Kini uangnya tersisa seratus koin emas.

Mereka melanjutkan belanja kebutuhan hidup. Beras, sayuran, minyak, ayam potong, tepung, penyedap rasa, serta berbagai bumbu dapur. Wu Zetian juga membeli peralatan masak seperti wajan, panci, dan spatula. Enam puluh koin emas pun habis.

Setelah itu, mereka menuju toko bibit. Kangkung, sawi, cabai rawit, cabai keriting, serta bibit mangga, jambu kristal, jeruk, anggur, dan buah naga. Semuanya dibeli dengan dua puluh koin emas.

Kini uang Wu Zetian tersisa dua puluh koin emas.

“Apa masih cukup?” tanya Ningning ragu.

Zetian tersenyum kecil.

“Lebih dari cukup.”

Mereka pun melangkah keluar dari pasar dengan meneteng semua kantong belanjaannya hari ini.

“Terima kasih sudah menemaniku hari ini,” ucap Zetian tulus.

Ningning tersenyum balik.

“Aku yang seharusnya berterima kasih.”

Namun sebelum benar-benar meninggalkan pasar, langkah Zetian terhenti. Matanya tertuju pada seorang ibu dan anak laki-laki kecil yang duduk di rerumputan. Wajah mereka pucat, tubuhnya tampak lemas karena belum makan.

Tanpa berpikir panjang, Zetian menghampiri mereka dan menyerahkan kantong kecil di tangannya.

“Ibu, ambillah,” katanya lembut. “Ini untuk kalian.”

Ibu itu menatapnya dengan mata terbelalak.

“Ini… untuk kami?”

Zetian mengangguk.

Air mata langsung mengalir di wajah sang ibu.

“Terima kasih… terima kasih banyak, Nona. Karena kebaikan Nona, anak saya bisa makan hari ini.”

“Sama-sama, Ibu,” balas Zetian ramah sambil tersenyum kecil, lalu pamit untuk pergi.

Ia tidak tahu dan tidak menyadari bahwa sejak saat itu, takdirnya mulai bergerak ke arah yang sama sekali berbeda.

---

Yuhuuuu~

Hari ini Author cuma bisa up 2 eps dulu yaa.

Jangan lupa beri dukungan dengan like, komen, subscribe, dan vote karya-karya Author💖

Terima kasih orang baik💛

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!