Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sang Arsitek Kegelapan
Bau anyir darah dan bensin yang menyengat adalah hal terakhir yang Maya ingat sebelum kegelapan total menelannya. Ketika ia membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah dinginnya lantai semen yang menusuk kulit. Tangannya terikat ke belakang pada sebuah tiang besi, dan gaun pengantinnya yang indah kini hanya berupa kain compang-camping yang kotor.
Maya mengerang, kepalanya berdenyut hebat. Ia mencoba melihat sekeliling. Ruangan itu luas, seperti sebuah gudang tua dengan langit-langit tinggi. Di depannya, sebuah lampu gantung bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.
"Sudah bangun, Nona Dirgantara? Atau harus kupanggil Nona Sefnawati saja?"
Suara itu lembut, namun sangat berwibawa. Maya mendongak. Di bawah cahaya lampu, berdirilah seorang pria tua yang tampak sangat elegan. Rambutnya putih rapi, mengenakan setelan jas abu-abu tanpa cela. Di tangannya, ia memutar-mutar kunci kuno milik Maya.
Maya terbelalak. "Kakek... Kakek Richard?"
Richard Dirgantara. Ayah dari Hendra dan mendiang ayah Arlan. Pria yang selama ini dikabarkan sedang sakit parah di Swiss dan tidak bisa menghadiri pernikahan mereka.
Richard tersenyum, namun matanya sedingin es. "Hendra itu bodoh, Maya. Dia terlalu emosional, terlalu kasar. Dia mengira dengan membakar rumah atau menculikmu, dia bisa mendapatkan Proyek Merapi. Padahal, rahasia terbesar selalu disimpan oleh orang yang paling tidak dicurigai."
"Kakek... Kakek yang merencanakan semua ini? Kematian ayah Arlan? Penjara ayahku?" suara Maya bergetar hebat.
"Kematian putraku sendiri adalah kerugian bisnis yang besar, Maya. Tapi dia terlalu idealis. Dia ingin membocorkan Proyek Merapi ke publik. Dia ingin menghancurkan imperium yang aku bangun selama lima puluh tahun," Richard mendekat, ujung sepatunya yang mengilap menyentuh jari kaki Maya yang tanpa alas. "Dan ayahmu... dia adalah kurir yang terlalu setia. Dia menyimpan kunci ini sampai mati."
"Arlan tidak akan membiarkanmu melakukan ini!" teriak Maya.
Richard tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Arlan? Cucu kesayanganku itu sekarang mungkin sedang meregang nyawa di dasar jurang. Dan jika dia selamat pun, dia tidak akan berani melawanku. Dia tahu siapa yang melatihnya menjadi pembunuh."
Sementara itu, di pinggir jurang yang gelap, sebuah tangan berdarah mencengkeram akar pohon yang kuat. Arlan merangkak keluar dari reruntuhan mobil dengan sisa tenaganya. Tulang rusuknya terasa patah, dan wajahnya tertutup debu serta darah, tapi matanya memancarkan api kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Asistennya, yang terlempar keluar saat mobil terguling, mencoba bangkit sambil memegang bahunya yang dislokasi.
"Bos... mereka membawa Mbak Maya," bisiknya lemah.
Arlan tidak menjawab. Ia meraih sebuah alat pelacak kecil yang tersembunyi di dalam jam tangannya—alat yang diam-diam ia pasang di jahitan gaun pengantin Maya pagi tadi. Titik merah di layar jam tangannya berkedip di sebuah lokasi yang sangat ia kenali: Gudang Tua di Pelabuhan Tanjung Priok.
"Siapkan tim unit bayangan," suara Arlan dingin, hampir tidak manusiawi. "Hubungi mereka sekarang. Katakan bahwa 'Iblis Tua' sudah keluar dari sarangnya."
"Tapi Bos, kondisi Anda—"
"Aku tidak butuh kondisi yang baik untuk membantai mereka, Yudha," Arlan menyambar sebuah senjata dari bawah kursi mobil yang hancur. "Aku hanya butuh mereka tahu bahwa aku lebih berbahaya daripada ayahku."
Kembali ke gudang, Richard mulai membuka sebuah brankas rahasia yang tertanam di lantai semen menggunakan kunci kuno Maya. Begitu pintu brankas terbuka, di dalamnya terdapat sebuah koper logam berwarna hitam.
"Akhirnya," gumam Richard. "Data satelit dan koordinat gudang senjata bawah tanah Proyek Merapi."
Maya melihat kesempatan. Ikatan di tangannya sedikit melonggar karena ia terus menggeseknya pada bagian tajam tiang besi sejak tadi. "Kakek pikir Kakek bisa menang? Arlan tahu segalanya. Dia tidak akan pernah memaafkanmu."
Richard berbalik, menatap Maya dengan kebencian. "Maka aku akan memastikan Arlan tidak punya siapa pun untuk dimaafkan."
Richard memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menodongkan senjata ke kepala Maya. Maya memejamkan mata, bersiap untuk yang terburuk.
DOR!
Suara tembakan meledak, tapi bukan dari arah penodong Maya. Lampu gudang tiba-tiba pecah berantakan, membuat ruangan menjadi gelap gulita. Suara langkah kaki yang cepat dan gesit terdengar di antara tumpukan peti.
"Siapa di sana?!" teriak Richard panik.
"Seseorang yang kau ajari untuk tidak pernah meninggalkan saksi hidup, Kakek," suara Arlan bergema dari arah kegelapan, dingin dan menusuk.
Arlan muncul dari bayangan seperti hantu. Ia memegang dua senjata, bergerak dengan kecepatan yang mustahil bagi orang yang baru saja mengalami kecelakaan hebat. Dalam hitungan detik, tiga anak buah Richard tumbang dengan peluru tepat di dahi mereka.
Arlan berdiri di depan Maya, melindunginya dengan tubuhnya yang penuh luka, sementara senjatanya terarah tepat ke jantung kakeknya sendiri.
"Selamatkan dia, atau aku akan membakar seluruh imperiummu malam ini juga, Richard," desis Arlan.