NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Aroma yang bertempur memenuhi kantin Kepolisian Seoul Pusat di jam istirahat siang: bau tajam tumis gochujang dari menu harian, wangi kopi instan kental yang terlalu banyak gula, dan sedikit aroma keringat serta kertas yang melekat pada seragam para petugas. Suasananya riuh rendah—dentang nampan, gelak tawa, bisikan tentang kasus, dan gemerisik koran—menjadi soundtrack yang konstan. Lisa menyusuri kerumunan dengan nampan plastik di tangan, di atasnya dua cup kopi panas yang uapnya menari-nari dalam sorot lampu neon.

Dia menuju meja paling sudut, tersembunyi sebagian oleh pilar beton besar yang menopang langit-langit. Sebuah oasis semu dari tatapan langsung. Dengan gerakan yang tampak biasa namun penuh kesadaran, ia menempatkan satu cup kopi di depannya, lalu dengan hati-hati yang sama, meletakkan cup kedua di seberang meja. Tepat di hadapan kursi kosong yang disandarkan ke tepi meja.

"Dingin sekali di sini." Gumamnya, hampir tidak terdengar, sambil membuka tutup cupnya. Uap hangat langsung menyentuh wajahnya.

"Aku yang membuatnya dingin, maaf." Sahut sebuah suara yang hanya bisa didengarnya, berasal dari kursi kosong itu.

Lalu, seolah-olah fokus kamera yang diatur secara perlahan, sosok Sam mulai terdefinisi. Dari kabur menjadi jelas. Ia duduk dengan santai, menyandarkan lengan di atas sandaran kursi plastik yang tidak membekas. Jaket denimnya yang lusuh terlihat asing di antara seragam-seragam khaki dan biru. Rambut kemerahannya menangkap cahaya dari lampu di atas, memberikan semburat tembaga yang membuatnya terlihat sedikit tidak nyata, seperti gambar yang disisipkan terlalu sempurna ke dalam foto. Sam mencondongkan tubuh, menatap cup kopi di depannya dengan ekspresi lucu, campuran terima kasih dan lelucon.

"Ini untuk apa? Aku tidak punya tenggorokan yang berfungsi." Bisiknya. Bibirnya bergerak, tapi suara itu hanya bergema di dalam kepala Lisa.

Lisa tidak langsung menatapnya. Ia pura-pura sibuk mengaduk kopinya sendiri, sendok plastiknya berbunyi klik-klik di pinggir cup. "Ini bagian dari normalitas." Jawabnya melalui gerakan bibir yang hampir tak terlihat. "Kau ingin jadi partnerku? Berperilakulah seperti partner. Duduk. 'Minum' kopi itu. Jangan biarkan aku terlihat seperti orang gila yang mengobrol dengan hantu di kantin polisi."

"Tapi membeli kopi untuk kursi kosong justru membuatmu terlihat sepuluh kali lebih gila, menurutku." Balas Sam, terkekeh. Ia mengulurkan tangan, jari-jarinya yang panjang dan pucat mencoba menyentuh sisi cup. Ujung jarinya menembus plastik hangat itu tanpa perlawanan, seperti mencelupkan tangan ke dalam bayangan. "Tapi aromanya… aromanya mengingatkanku pada sesuatu. Mungkin dari sebelum. Terima kasih."

Lisa mendengus, berusaha keras menahan senyum yang ingin merekah di sudut mulutnya. "Diam saja dan berpura-puralah menikmatinya. Jangan lihat ke sekeliling seperti pencuri."

Saat Lisa membawa cup kopinya ke bibir, menikmati sentuhan hangat pertama yang membakar lidahnya, sebuah bayangan besar jatuh menutupi meja mereka, memotong cahaya.

Lisa tersentak. Refleksnya menegakkan postur tubuh, seperti prajurit yang ketahuan lengah. Di sana, berdiri Detektif Senior Hwang Hendry. Tubuhnya tegap mengisi ruang, seragamnya sedikit berkerut di bagian lengan. Wajahnya yang biasanya tampak datar dan mengantuk sekarang menyimpan sorot mata yang tajam, bergerak dari wajah Lisa ke cup kopi kedua, lalu ke kursi kosong.

"Detektif Ahn." Sapanya, suara beratnya serak oleh rokok. "Kencan bisnis? Atau… kau sedang berlatih untuk pertunjukan ventrilokuis? Kursinya kok kosong."

Jantung Lisa berdegup kencang. Ia berusaha menelan dengan tenang. "Senior Hwang. Ah, tidak. Hanya… haus saja. Aku memang memesan dua cup biar puas."

Hendry tidak menjawab. Ia malah mengambil satu langkah mendekat. Matanya yang sipit dan tajam memindai area di sekitar kursi kosong itu. Di dimensi Lisa, Sam langsung waspada; ia melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajah Hendry, bahkan menjulurkan lidah dengan ekspresi nakal. Tapi Hendry hanya berkedip, lalu menggosok hidungnya yang besar.

"Haus, ya?" Gerutu Hendry. Ia menarik kursi di sebelah kursi "Sam"—kursi itu berderit di lantai—dan duduk. Sam dengan cepat mengangkat kakinya, wajahnya berkerut kesal. "Aneh," Hendry melanjutkan, matanya masih berputar. "Kenapa di spot ini dingin sekali? Seperti ada kebocoran AC."

"Barangkali ventilasinya di atas sini, Senior." Lisa menjawab, suaranya terdatar mungkin. Dia meremas cup kopinya hingga plastiknya berkerut.

Hendry memandangnya lagi. Tatapannya tidak judes, tapi… menyelidik. Seperti ia sedang memeriksa TKP dan Lisa adalah barang bukti yang tidak konsisten. "Tadi dari meja aku, aku melihat bibirmu bergerak-gerak. Padahal tidak ada yang duduk di sana. Kau baik-baik saja? Kasus artefak Joseon itu… jangan-jangan memberimu tekanan sampai kau mulai mendengar suara-suara?"

Keringat dingin menggelitik punggung Lisa. "Saya hanya… menghafal kronologi laporan, Senior. Saya terbiasa mengucapkannya keras-keras agar lebih melekat. Itu cara belajar lama saya." Alasannya terdengar kering dan rapuh di telinganya sendiri.

Hendry mengangguk perlahan, tapi tidak terlihat yakin. Ia berdiri, dan sebelum pergi, menepuk bahu Lisa. Bukan tepukan kasar, tapi tegas, penuh makna. "Bekerja keras itu bagus. Tapi ingat, di divisi kita, yang kita pegang adalah fakta dan logika. Bukan firasat atau… teman khayalan. Jagalah kewarasanmu. Kita butuh detektif yang tajam, bukan yang perlu diantar ke psikiater."

Saat Hendry berbalik dan berjalan pergi, Lisa melihatnya dengan saksama. Sebelum menghilang di balik pintu kantin, Hendry mengeluarkan buku catatan kecil dari saku dadanya. Ia membukanya, menuliskan sesuatu dengan cepat, lalu menutupnya kembali. Gerakan itu sederhana, tapi bagi Lisa, terasa seperti sebuah tanda centang merah di sebelah namanya.

Begitu Hendry hilang, Sam mendesah—suara yang panjang dan dramatis. "Wah. Senior itu punya radar atau bagaimana? Aku merasa hampir tertangkap basah, padahal secara teknis aku tidak bisa ditangkap."

Lisa merosot di kursinya, melepaskan ketegangan yang membuat bahunya sakit. Dia memijat pangkal hidungnya. "Bagus. Luar biasa. Sekarang aku resmi jadi bahan tertawahan dan kecurigaan di kantor. Semua berkat kehadiran 'teman khayalan'-ku."

"Hey, jangan salahkan aku. Aku bahkan tidak minta kopi spesial dengan ekstra shot." Bantah Sam, wajahnya polos tapi matanya berbinar nakal. "Tapi sungguh… dia tampak begitu mencurigaimu. Itu sangat berbahaya."

Lisa menatap cup kopi kedua yang kini sudah dingin, kondensasi di sisinya seperti keringat. Rasanya seperti metafora yang buruk untuk situasinya. Dia mengambil napas dalam-dalam. "Aku tahu. Tapi ini harga yang harus dibayar. Dan kau… kau harus lebih berhati-hati. Jangan membuat suhu turun drastis di sekitarku. Cobalah… berbaur."

Sam melihat sekeliling kantin yang ramai, pada kehidupan yang begitu padat dan berisik. Ekspresinya yang tadi jenaka perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi. "Berbaur." Ucapnya pelan, seperti mencoba kata asing. "Itu adalah satu hal yang tidak pernah bisa kulakukan. Tapi… untukmu, aku akan berusaha."

Lisa mengangguk, rasa frustrasinya sedikit mereda. Dia menyesap kopinya yang sudah tak terlalu hangat. Rasanya pahit, tapi membumi. Di seberang meja, Sam menatap keluar jendela, ke arah langit Seoul yang kelabu, sementara di sekeliling mereka, kehidupan markas kepolisian terus berdenyut, tak menyadari bahwa di sudut paling sunyi, sebuah kerja sama yang mustahil sedang belajar untuk tidak tersandung oleh kewaspadaan manusia yang paling tajam.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!