NovelToon NovelToon
Seutas Bayang

Seutas Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Konflik etika / Angst
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Flowyynn_

Renjana menikah bukan karena jatuh cinta, melainkan karena percaya bahwa bakti dan komitmen cukup untuk membangun rumah tangga.

Favian adalah lelaki yang tenang, penuh perhatian, dan nyaris tanpa cela. Ia memperlakukan Renjana dengan baik—terlalu baik untuk sebuah pernikahan yang lahir tanpa cinta.

Namun perlahan, Renjana menyadari satu hal yang mengusik: ada ruang dalam hidup suaminya yang tak pernah bisa ia masuki. Sebuah sunyi yang selalu ia bagi dengan kenangan.

Di antara peran sebagai istri dan harapan akan dicintai apa adanya, Renjana dihadapkan pada kenyataan paling pahit dalam pernikahan—bahwa dicintai dengan syarat lebih menyakitkan daripada tidak dicintai sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flowyynn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Rumah Sakit

“Mas, obatnya udah diminum belum?”

Pertanyaan itu meluncur dari bibir Renjana. Ia berdiri di depan cermin rias, jemarinya sibuk mengikat tali gaun tidur di pinggangnya.

Di balik punggung perempuan itu, Favian berdiri sembari mengompres ruam yang merambat di kulit lengannya. Ia menoleh sekilas ke arah sang istri, lalu melangkah ke sisi ranjang dan duduk di sana. Kompres pun ia letakkan asal di atas nakas, seolah hawa sejuknya tak lagi sanggup meredakan panas di kulitnya.

“Sudah. Seharusnya ini sudah bekerja,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Alis Renjana bertaut. Entah mengapa ada perasaan tak enak yang menyelinap dalam dirinya secara tiba-tiba. Ia lantas memutar tubuh, menatap penuh sosok suaminya itu.

Begitu menangkap sosok Favian yang biasanya tegap kini tampak lesu, Renjana membelalak.

“Mas! Ruam kamu makin banyak!” jeritnya panik.

Ia bergegas menghampiri suaminya yang duduk dengan mata setengah kantuk. Anehnya, Favian tetap tak menunjukkan raut kesakitan, meski alergi itu kini bekerja di bawah kulitnya—akibat keras kepalanya menyantap udang masakan Renjana. Obat pun sudah ia minum setelah makan malam, tetapi lihatlah … belum tampak tanda-tanda mereda.

Renjana sontak menangkup wajah Favian yang menatapnya sayu. Napas pria itu memburu dengan bibir yang sudah agak bengkak. Matanya membulat oleh kepanikan yang membayang di wajahnya sendiri. Jantungnya berdentum tak karuan, tangannya sedikit gemetar.

“Saya baik-baik saja, Jana. Saya sudah minum obatnya, tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” ujarnya rendah, berusaha terdengar meyakinkan.

Renjana mengguncang kepalanya keras, sungguh tak percaya. “Harusnya kamu nggak makan udang saus Padang itu, Mas! Ayo kita ke rumah sakit!”

Alih-alih menurut, Favian justru menumpukan kepalanya di perut si lebih muda yang kini berdiri di hadapannya dengan cemas membumbung tinggi.

“Saya tidak mau ke rumah sakit,” katanya lirih. “Alergi saya akan reda sendiri nanti. Kamu tidak perlu khawatir.”

Renjana mengerutkan kening. Bibirnya tergigit kuat, tetapi tangannya tak juga lepas di wajah pria itu. Ia justru mengusap lembut pipi Favian, seolah sentuhan itu bisa menenangkan keduanya.

“Kapan terakhir kali alergi kamu kambuh?” tanya Renjana akhirnya.

Ada jeda hening yang menyelimuti kamar mereka. Hanya dengung pendingin ruangan yang setia mengisi ruang kosong di antara keduanya.

Hingga akhirnya Favian mendongak, menatap Renjana yang resah bukan main. Seperti biasa, pria itu sulit ditebak—ia justru menyunggingkan senyum tipis sebelum memeluk istrinya. Renjana terkesiap, manik beningnya kian melebar oleh tindakan mendadak itu.

“Saya tidak ingat,” suara Favian mengalun parau. “Mungkin satu tahun yang lalu … saya juga tidak tahu, Jana. Jangan marahi saya.”

Kening Renjana berkerut makin dalam. Apakah efek alergi bisa membuat orang linglung seperti ini? Atau efek obat yang baru Favian konsumsi? Renjana tak benar-benar mengerti, dan hal itu menyalakan lebih besar rasa bersalah dalam dirinya.

“Ruam kamu nggak membaik,” Renjana akhirnya angkat bicara, nadanya terdengar mendesak. “Kemungkinan alergi kamu parah. Lebih baik kita ke rumah sakit, Mas. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Tidak mau, Jana,” balas Favian amat keras kepala.

Favian melepaskan pelukan itu hanya untuk menarik pinggang Renjana, membuat perempuan itu terjerembab duduk di pangkuannya. Renjana tersentak, jantungnya semakin berdebar keras—menghantam dada kecilnya hingga meninggalkan rasa nyeri tipis.

Favian kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghirup aroma floral yang menguar lembut di kulitnya, seolah tak peduli sebagaimana gugupnya perempuan satu ini dalam dekapannya.

“Jana, saya baik-baik saja. Saya tidak mau ke rumah sakit,” bisiknya rendah, membuat Renjana meremang seketika.

Tangan Renjana bertumpu di bahu Favian, lalu meremas ringan—lebih karena guncangan emosinya sendiri daripada tenaga yang tersisa.

“Alergi kamu parah,” ujarnya. “Ini salahku. Harusnya aku cari tahu dulu apa yang bisa kamu makan dan nggak, bukan malah masak bahan seadanya di kulkas.”

“Aku minta maaf, ya. Aku belum jadi—”

“Sshhh, tidak. Sudah cukup,” sergah Favian pelan namun tegas. “Diam saja, Jana. Jangan terus merendahkan dirimu sendiri di hadapan saya.”

Pelukan itu menguat. Kepala Favian terasa berat dan berdenyut. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pandangannya mulai mengabur, fokusnya pecah. Suara istrinya terdengar semakin jauh, lalu perlahan memudar.

“Mas?”

...****************...

Derap kaki panik menggema di lorong rumah sakit. Tangan Renjana menggenggam erat jemari Favian yang terkulai tak sadarkan diri di atas brankar. Napas si pria benar-benar tak stabil.

Begitu pintu IGD terbuka lebar, genggaman itu spontan ia kuatkan, seolah takut kehilangan sentuhan terakhir yang masih bisa ia rasakan.

“Maaf, Anda tidak bisa masuk, Bu,” ujar sang perawat tegas, menghadang langkahnya.

Renjana menggeleng. Wajah cantiknya berubah pucat, bulir peluh membasahi pelipisnya. Udara yang ia hirup di rumah sakit itu serasa tak mau masuk ke dalam paru-paru—tercekat sudah tenggorokannya oleh kepanikan.

“Saya istrinya. Saya … saya—”

“Mohon maaf, kami tidak bisa membawa Anda masuk. Mohon tunggu di luar. Kami harus segera menangani pasien,” jelas perawat itu lagi, tidak memberi ruang tawar-menawar.

Kalimat itu jatuh bak vonis di indra pendengaran Renjana. Pintu IGD tertutup dengan bunyi berat yang berdenging di kepalanya, menelan sosok suaminya ke balik ruang steril itu.

Napas Renjana tersengal. Matanya tak lepas menyorot pintu IGD di hadapannya. Hawa dingin rumah sakit terasa lebih menusuk dari yang seharusnya, merambat halus hingga ke tulang.

Jantungnya seperti berhenti sesaat. Berbagai skenario buruk menyerbu pikirannya, saling berebut ruang. Dan ia paling membenci ketika pikirannya berkhianat seperti ini.

Tenang, Jana. Mas Favian nggak akan kenapa-kenapa. Dia pasti baik-baik aja, batinnya berusaha meyakinkan.

Dia pasti bisa pulih. Ini bukan salah kamu, Jana. Ini … ini ….

Tak lama, suara langkah tergesa bergema di lorong itu. Renjana refleks memutar tubuh.

Di sana, sang mertua dan sang bibi sudah berdiri dengan raut wajah panik yang serupa.

“Ibu, Ayah ….”

PLAK!

Tamparan tanpa aba-aba itu jatuh telak di pipi kanan Renjana. Kepalanya terpelanting ke samping, sorot matanya membeku. Ia terperangah dengan apa yang baru saja menyambutnya. Rasa panas menjalar cepat, menyisakan denyut nyeri di kulit yang kini memerah.

“Kamu itu ya, sudah perempuan bikin malu keluarga! Sekarang kamu bikin ponakan saya jatuh sakit seperti ini!” bentak Ningrum nyaring.

Suasana rumah sakit itu semakin mencekam. Renjana menahan napas. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya, berusaha meredam gejolak emosi yang nyaris meledak.

“Mbok ya kalau nggak bisa jadi istri yang baik, harusnya kamu bisa menjaga suamimu sendiri, Renjana!” hardik Ningrum tajam, tak peduli pada orang-orang yang mulai melirik.

“Mbak Ningrum, sudah,” sela Devita akhirnya. “Jangan memarahi menantuku seperti itu. Ini semua murni kecelakaan.”

Ningrum mencebik, matanya berkilat gusar. “Kecelakaan bagaimana? Jelas-jelas perempuan itu sudah jadi istrinya, harusnya dia tahu, toh, tentang suaminya itu.”

“Kalaupun nggak tahu kenapa nggak ada sama sekali bertanya?”

Renjana menelan saliva susah payah yang terasa seperti batu besar di kerongkongannya. Sakit dan sesak. Ini salahnya. Ya, mungkin itu benar. Harusnya ia bertanya dulu. Harusnya ia memastikan dulu. Tetapi tidak, ia memasak bahan apa yang ada demi menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.

Namun Ningrum seolah tak mau kalah, cercaannya terus mendera dada Renjana yang sudah penuh oleh rasa bersalah.

“Memangnya kamu mau Favian kenapa-kenapa? Kamu mau jadi janda karena dicerai mati seumur hidup?!”

Renjana ingin memprotes, namun usapan lembut di pundaknya lebih dulu menghentikan, membuat perempuan itu akhirnya mendongak perlahan. Matanya berkaca-kaca kala bersitatap dengan sang ayah mertua.

“Jangan dengarkan Bibimu. Kamu tidak bersalah, Nak. Aku percaya itu,” ujar Ajigar tenang.

“Ajigar!” Ningrum berseru kesal.

Ajigar segera mengangkat tangan, menghentikan untaian penghinaan lain yang hendak meluncur lagi dari kakaknya itu.

“Sudah cukup. Jangan Mbak Ningrum luapkan rasa frustrasi itu pada menantuku,” tekan Ajigar. Sorot matanya amat dingin, setegas Favian saat kesabarannya habis.

“Aku tahu Favian begitu Mbak Ningrum sayangi sebagai pengganti Adi yang sudah lama meninggalkan kita.”

“Tapi mereka tidak sama. Dan jangan menyalahkan menantuku atas apa yang belum seluruhnya dia ketahui.”

Ningrum memicing tak suka. Fakta tersebut seperti racun, dalam sekejap membunuhnya perlahan oleh kenangan masa lalu. Ia melangkah mendekat ke arah Renjana yang hanya bisa berdiri terpaku—masih belum ada tenaga guna meladeni ocehan bibi mertuanya itu.

“Kamu ini ya, perempuan perusak segalanya. Sama seperti Ratna, Ibumu itu,” cibir Ningrum tanpa ampun. “Aku yakin sekali, Favian nggak akan mencintai kamu. Sama seperti kamu dan Ibumu yang nggak pernah benar-benar dipilih seorang laki-laki. Karena perempuan seperti kalian itu penuh kutukan.”

Napas Renjana kini memburu. Kepalan tangannya kian kuat, nyaris saja akan ia layangkan ke wajah wanita senja satu ini.

“Jangan bawa-bawa mendiang Ibu saya, Bibi,” tukas Renjana berani.

“Saya bisa terima cibiran apa pun yang keluar dari mulut Bibi. Tapi saya tidak terima Bibi Ningrum ikut mencemooh Ibu saya!”

Amarah yang sedari tadi Renjana tekan akhirnya tumpah. Tatapan mata tajamnya mengaburkan batas sopan santun yang biasa ia jaga. Rahangnya mengetat tanpa ia sadari.

“Mungkin Bibi tidak menyukai saya, tapi tidak dengan Mas Favian,” tantangnya kurang ajar. “Bibi tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan Mas Favian untuk saya. Jadi, simpan saja sumpah serapah itu untuk diri Bibi sendiri.”

“Karena bisa saja … kutukan yang baru Bibi lontarkan justru bersemayam dalam diri Bibi sendiri.”

Usia berkata demikian, Renjana berbalik dan duduk di kursi tunggu. Ia tak peduli pada pasang mata yang menyorotnya tajam, seperti elang mengintai mangsa. Ia juga tak peduli pada suara Ningrum yang kini hanya terdengar seperti dengung lebah—berisik dan mengganggu indra pendengarannya.

Udah cukup aku menelan cemoohan sejak kecil. Udah cukup aku menelan pahitnya nggak diinginkan itu sendirian. Sekarang nggak lagi.

Suara batinnya berteriak lantang dalam dirinya, menumbuhkan tekad yang kini ia genggam erat.

1
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk
Fitra Sari
lanjut Thor ..update setiap hari ngpa KK dan 😍
Flowyynn_: Aku usahakan daily up ya, terima kasih lho masih setia ngikutin Renjana dan Favian ini 🥰
total 1 replies
gralsyah
bagussss. tapi up nya lama bettt gengsss
gralsyah
banyakin scene manis gini plss authorrrr. trs up nya jan kelamaan atuhhhh
Fitra Sari
doubel up donk Thor 🙏
Fitra Sari
doubel up donk thorr ....🙏🙏🙏
gralsyah
favian tuh sulit ditebak ya huftt. mirip sama sapa tuh si jana, favian???
gralsyah
kak author kenapa jaranh update ya wehhh. nungguin padahal lohh 😌
Flowyynn_: Maaf, ya Kak. Akhir-akhir ini memang ada kendala di rl, jadi waktu buat nulis terbagi terus, huhu. Tapi aku usahakan akan mulai up setiap hari. Makasih banyak masih setia mengikuti kisah Renjana dan Favian, ya 🥰
total 1 replies
gralsyah
pengen liat tuh manusia tenang bucin sama istrinya gimana yaa
gralsyah
ayo up lagi thorrr. kamu nih suka amat ye ngilang
gralsyah
kok gemes ya 😄 mereka sebenarnya dah jatuh cinta belum sih 🤣
Fitra Sari
doubel up donk thorr🙏🙏
Fitra Sari
lanjut donk ...doubel up donk 🙏🙏🙏
Fitra Sari
lanjut donkk thorr doubel up ...nungguin dari kemarin2 😘😘😘
gralsyah
kok belum up lagi thor?
Flowyynn_: Nanti aku up lagi ya, Kak. Ditunggu 🤗
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK
Flowyynn_: Halo, Kak. Terima kasih ya sudah mampir, sehat selalu ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!