NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sementara itu, di kantor pusat Alexander Group

Lucane tenggelam dalam tumpukan dokumen dan rangkaian meeting tanpa jeda. Wajahnya tetap datar, gerakannya presisi, seolah tidak ada perubahan apa pun dalam hidupnya.

Seolah ia tidak baru saja menikah.

Siang itu, pintu ruang kerjanya terbuka.

Ethan masuk dengan senyum santai, jasnya sedikit terbuka, aura pria yang terlalu menikmati hidup.

“Wow,” katanya sambil melirik jam tangan.

“Bagaimana bisa pengantin baru langsung kerja? Kejam sekali hidupmu.”

Lucane tidak mengangkat kepala. Jemarinya masih membalik halaman berkas.

“Bicaralah jika ada urusan.”

Ethan duduk santai di sofa.

“Baiklah, urusan,” katanya dengan senyum licik.

“Bagaimana malam pertama kalian? Menyenangkan?”

Lucane berhenti membalik berkas hanya sedetik.

“Relevansinya?”

Ethan terkekeh.

“Kalau aku, sih, tidak akan rela bangun pagi. jika jadi Pengantin baru.”

Lucane akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya dingin, tajam, tanpa emosi.

“Apa kau datang ke sini hanya untuk membual, Ethan?”

Ethan mendecak dramatis.

“Ck. Kau ini pria sedingin es bisa menikah, sementara aku masih jomblo elegan.”

Ia menunjuk Lucane.

“Kenapa bukan aku saja yang menikah duluan, hah?”

“Maka menikahlah,” jawab Lucane singkat, kembali ke dokumen.

Ethan terdiam dua detik… lalu tertawa.

“Baiklah, baiklah, Tuan Muda Alexander,” katanya sambil mengangkat tangan menyerah.

“Mari kita bahas proyek kita. Bukan pernikahan kontrakmu yang terlalu misterius itu.”

Lucane menyodorkan satu map ke arah Ethan.

“Investasi pelabuhan. Fokus.”

Ethan mengambil map itu, masih tersenyum tipis.

“Tetap saja,” gumamnya pelan.

“Aku penasaran… wanita macam apa yang bisa tinggal di mansion es itu.”

Lucane tidak menjawab.

Namun untuk sepersekian detik bayangan senyum cerah yang terlalu berisik terlintas di benaknya.

Dan tanpa ia sadari,

ketenangan hidupnya perlahan mulai terusik.

* * * *

Sore itu, Eve dan Anne baru saja pulang dari kantor. Mereka berjalan menyusuri koridor menuju halte, tas kerja menggantung di bahu, sepatu hak sudah terasa tidak bersahabat.

“Pasti sekarang Jema lagi bermalas-malasan,” celetuk Eve.

“Duduk cantik, dilayani banyak maid.”

Anne mengangguk setuju.

“Jelas. Nyonya muda keluarga Alexander. Hidupnya naik level, sementara kita masih kejar absensi.”

“Hmm…” Eve menoleh pelan, lalu merendahkan suara.

“Oh iya, besok Vella menikah. Menurutmu Jema bakal datang bawa suaminya atau tidak?”

Anne ikut melirik kanan kiri, memastikan tak ada rekan kantor yang mendengar.

“Aku juga penasaran.”

“Kalau begitu kita tanya langsung,” lanjut Eve cepat.

“Sekalian ingatkan. Jangan sampai dia lupa gara-gara sibuk jadi nyonya.”

“Oke.”

Anne mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak Jema.

Beberapa dering berlalu.

“Hallo,” terdengar suara Jema dari ujung sana.

“Hallo, Nyonya Muda,” goda Anne penuh tekanan.

“Kamu sibuk nggak?”

“Ck!”

“Aku mana mungkin sibuk,” jawab Jema cepat.

“Pekerjaanku sekarang cuma mikirin mau makan apa.”

Eve langsung menyambar.

“Jema, besok itu hari pernikahan Vella. Jangan bilang kamu lupa.”

“Hah?”

“Oh iya!” seru Jema.

“Hampir saja aku melupakan itu.”

Ia mendecak pelan.

“Jadi kalian nelpon cuma buat ngingetin itu?”

“Kami hanya memastikan,” sahut Anne santai,

“kalau Nyonya Muda Alexander besok wajib datang.”

“Stop panggil aku nyonya muda!” bentak Jema kesal.

“Jangan diumbar-umbar dong!”

Dari ujung sana terdengar dua tawa.

“Jema,” ujar Eve sambil terkekeh,

“bahkan semua wanita memimpikan status itu.”

“Ya, ya. Aku tahu,” jawab Jema malas.

“Tapi tolong… jangan bikin aku pengen lempar ponsel.”

“Huh,” lanjut Jema,

“kupikir kalian nelpon karena rindu. Ternyata cuma ingat jadwal.”

“Tentu saja kami rindu,” sahut Anne cepat.

“Makanya kami sangat berharap besok kamu datang.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada usil,

“Dan… kalau bisa, bawa pasanganmu.”

“Hm…” Jema terdiam sesaat.

“Aku juga tidak tahu pria tua itu mau ikut atau tidak.”

“Pria tua?” Eve tertawa keras.

“Tapi yang pasti,” lanjut Jema,

“aku bakal datang.”

“Baiklah,” kata Eve.

“Sampai ketemu besok, Nyonya Jema.”

“Bye, Nyonya Jema Alexander,” tambah Anne.

“Sttt! Menyebalkan!” seru Jema.

Klik.

Sambungan terputus.

Di halte, Eve dan Anne saling pandang lalu tertawa puas.

“Dia belum berubah,” ujar Anne.

“Bedanya,” Eve tersenyum,

“sekarang dia nyebelin… tapi hidupnya kelas atas.”

Dan di mansion besar itu,

Jema menatap layar ponselnya sambil mendengus.

“Besok bakal ribet,” gumamnya.

“Tapi… sepertinya seru.”

* * * *

Malam menjelang ketika mobil hitam Lucane memasuki halaman mansion.

Lampu-lampu menyala seperti biasa. Gerbang terbuka sempurna. Tidak ada alarm. Tidak ada laporan darurat.

Semuanya… terlihat normal.

Lucane melangkah turun dari mobil.

Namun begitu kakinya menginjak lantai marmer, ia langsung merasakan sesuatu yang aneh.

Sunyi mansion itu berbeda.

Bukan sunyi kaku yang biasa ia kenal.

Ini… sunyi yang hidup.

Para maid dan pengawal berdiri rapi, tapi ekspresi mereka tidak sepenuhnya netral. Ada yang terlalu sigap. Ada yang menunduk menahan senyum. Ada pula yang terlihat… gugup.

Lucane berjalan masuk.

“Selamat malam, Tuan,” sapa Berin, maid senior, sedikit lebih cepat dari biasanya.

Lucane berhenti sejenak.

“Di mana Nyonya?” tanyanya datar.

“Di dalam, Tuan,” jawab Berin.

“Beliau… beraktivitas.”

Kata beraktivitas terdengar mencurigakan.

Lucane melanjutkan langkah.

Di ruang keluarga, ia mendapati pemandangan yang tidak seharusnya ada.

Bantal sofa berpindah posisi. Tirai dibuka lebar. Sebuah selimut tipis terlipat di sandaran kursi.

Lucane menatapnya beberapa detik.

Ia berjalan lagi.

Di ruang bar mini segelas jus jeruk setengah habis tertinggal di meja. Ada potongan buah di piring kecil.

Rapi, tapi bukan rapi versi Lucane.

Di bioskop mini, lampu redup masih menyala.

Lucane menekan pelipisnya pelan.

“Apa yang terjadi hari ini?” tanyanya singkat pada Nelli yang berdiri tegang di dekat lorong.

Nelli menelan ludah.

“Tidak ada yang buruk, Tuan,” jawabnya cepat.

“Nyonya hanya… membuat mansion ini terasa lebih hidup.”

Lucane menghela napas pelan.

Itu bukan jawaban yang ia inginkan.

Ia naik ke lantai dua. Dan berhenti.

Dari arah kamarnya terdengar suara.

Bukan suara gaduh.

Bukan teriakan.

Suara… tawa kecil.

Lucane berdiri diam beberapa detik, lalu membuka pintu. Dan di sanalah Jema.

Duduk santai di karpet kamarnya yang pintunya terbuka lebar dengan tumpukan bantal, sebuah tablet menyala memutar film, dan secangkir teh di tangannya.

Rambutnya diikat asal, gaun rumah sederhana, wajahnya terlalu santai untuk seseorang yang baru sehari tinggal di mansion ini.

“Oh,” kata Jema begitu melihatnya.

“Kamu pulang.”

Lucane menatap sekeliling.

“Kenapa pintu kamarmu terbuka?”

Jema mengangkat bahu.

“Biar tidak pengap. Mansion ini gede, tapi auranya serius banget.”

Lucane terdiam.

“Kau mengubah susunan ruang keluarga.”

Jema terkekeh kecil.

“Sedikit. Sofanya terlalu kaku, aku cuma bikin bisa didudukin manusia.”

“Kau membuka bar.”

“Aku cuma ambil jus.”

“Kau menyalakan bioskop.”

“Sendirian. Tanpa popcorn pun.” Lucane menatapnya lama.

“Kau membuat seluruh mansion… berbeda.”

Jema berdiri, menatapnya balik, santai.

“Tenang,” katanya ringan.

“Aku tidak menjatuhkan patung mahalmu. Aku cuma… tinggal di sini.”

Hening.

Lucane menghela napas pelan sangat pelan.

“Besok,” katanya akhirnya,

“jangan masuk ruang kerjaku.”

Jema mengangguk cepat.

“Oh jelas. Aku masih mau hidup.”

Ia tersenyum lebar.

“Tapi ruang lainnya?”

Lucane melangkah pergi.

“…Selama tidak mengganggu.”

Jema menatap punggungnya, tersenyum puas.

“Perkembangan yang bagus,” gumamnya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, mansion Alexander tidak terasa seperti museum dingin

melainkan rumah yang mulai bernapas.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!