NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Poppo

Rayyan membawa Alana pergi ke mall yang berada tidak jauh dari apartemen. Malam itu, mall cukup ramai karena akhir pekan.

Alana berjalan di belakang Rayyan dengan langkah pelan. Dia mengenakan dress rajut selutut warna abu-abu muda, dengan cardigan putih yang tidak dikancingkan. Alana menunduk. Rambut pendek sebahunya dibiarkan tergerai, dan wajahnya diberi makeup tipis yang membuatnya terlihat lebih segar.

Alana menunduk.

Sorot lampu mall, suara orang-orang, dan banyaknya langkah kaki membuat dadanya terasa sesak. Setiap suara kecil membuat tubuhnya menegang.

Jantungnya berdebar kencang. 

Alana teringat terakhir kali dia berada di keramaian, video dirinya disebarkan, membuatnya merasa dipermalukan. 

Melihat banyak orang di mall, Alana seperti melihat saat orang-orang mulai menatapnya dengan tatapan menghakimi dan jijik. Padahal semua orang di mall sibuk dengan dirinya sendiri. 

Kedua tangan Alana terkepal kuat.

Di depan, Rayyan menghentikan langkah. Dia mengamati Alana yang berhenti beberapa langkah di belakangnya. Alana memejamkan mata, menarik napas dalam berkali-kali.

Lalu perlahan, Alana sedikit mengangkat dagu, menatap sekitar dengan lebih percaya diri. Setelahnya, dia melangkah dengan langkah yang lebih tegas. 

Rayyan tersenyum melihat perubahan itu. Ketika Alana sudah kembali di dekatnya. Rayyan mengulurkan tangan, menggenggam tangannya.

Rayyan mengajaknya menuju gerai es krim yang terletak di area tengah mall. Gerai itu penuh pelanggan, tetapi mereka berhasil mendapatkan meja kecil di bagian samping yang menghadap langsung ke koridor mall.

Suasana sekitar ramai. Suara musik pop dari speaker mall terdengar samar, bercampur dengan dentingan sendok dari gerai minuman di depan dan ocehan anak-anak yang baru saja mendapat balon dari promosi.

Rayyan menaruh cup es krim rasa yogurt peach milik Alana di meja. Sementara itu, es krim Rayyan berwarna cokelat keemasan, caramel butterscotch.

Rayyan mencicipi sedikit es krimnya sendiri, lalu menoleh ke Alana. “Lo mau coba punya gue nggak?”

Alana tidak menjawab. Sorot matanya hanya menatap cup es krimnya sendiri tanpa ekspresi.

Rayyan menyendok sedikit es krim miliknya, lalu mengulurkannya ke dekat bibir Alana. Rayyan mengangkat sebelah alisnya. “Nih.”

Alana menatap Rayyan sebentar, lalu membuka mulut sedikit untuk menerima suapan itu. Wajahnya tetap datar.

“Enak nggak?” tanya Rayyan.

Alana tidak menjawab. Hanya menelan es krim itu tanpa ekspresi.

Rayyan tetap tersenyum dan mengangguk kecil. “Gue coba punya lo, ya.”

Alana tetap diam.

Rayyan menyendok sedikit es krim milik Alana, lalu mencicipinya.

“Enak punya lo. Punya gue manis banget, sumpah. Punya lo pas banget manisnya.” 

Dia menggeleng kecil sambil mendesah pelan, setengah menyesal. “Aduh, harusnya tadi gue beli rasa itu aja.”

Alana sama sekali tidak memberikan respons. Dia hanya memegang cup-nya dan mengaduk es krim tersebut perlahan dengan sendok.

Rayyan menoleh ke arah keramaian mall, mencoba mencari topik lain. “Mall hari ini rame banget, ya. Kayaknya semua orang pilih keluar hari ini. Wajar sih, cuaca malam ini enak banget, nggak dingin tapi juga nggak panas. Weekend lagi.”

Rayyan menunjuk ke arah atrium yang terlihat dari tempat mereka duduk. “Tuh, di sana ada live musik Sheila on 7. Abis ini kita ke sana, yuk.”

Ketika Rayyan kembali menoleh ke Alana, dia mendapati bahwa Alana sudah tidak menatap es krimnya lagi.

Tatapannya beralih menatap lurus ke depan pada sebuah toko berwarna pink pucat dan putih. 

Rayyan mengikuti arah tatapannya.

Alana menatap boneka beruang coklat muda dengan pita krem di leher. Ukurannya cukup besar. Boneka itu tampak empuk dan halus, dengan mata bulat hitam kecil yang membuat wajahnya terlihat lucu. Menonjol. Dan jelas menarik perhatian Alana bahkan ketika dia sedang diam.

Sudut bibir Rayyan terangkat sedikit, hampir tidak terlihat.

“Na,” panggilnya pelan.

Alana menoleh perlahan, tanpa ekspresi.

“Lo tunggu sini dulu, ya. Sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, Rayyan berdiri dan pergi. 

Alana hanya menatap punggungnya sejenak dengan tatapan datar sebelum kembali diam. Dia makan es krimnya perlahan tanpa ekspresi, tatapannya tetap lurus ke depan, tidak benar-benar memikirkan apa pun. Gerakan sendoknya pun monoton.

Tidak lama kemudian, Rayyan kembali. Langkahnya terdengar cukup jelas di tengah keramaian.

Di tangannya ada boneka yang tadi dipajang di toko.

Rayyan menaruh boneka itu tepat di depan Alana. Setelah itu, dia menggerakkan boneka itu sedikit ke kiri dan kanan, seolah boneka itu hidup. “Hai,” ucap Rayyan menggunakan suara sedikit lucu. 

“Namaku Poppo. Mulai hari ini aku akan menemani kamu. Soalnya dari tadi kamu lihatin aku terus, jadi aku mau ikut kamu aja.”

Alana berhenti makan. Dia meletakkan sendoknya ke cup. Sorot matanya beralih menatap boneka itu. Perlahan, tangannya terangkat, mengambil boneka itu dari tangan Rayyan.

Rayyan tersenyum kecil, lalu duduk kembali.

Alana meletakkan boneka itu di pangkuannya. Dia menunduk, menyentuh bulu boneka itu dengan ujung jarinya. Dia meremas sedikit bagian lengannya, merasakan tekstur lembutnya, lalu mengusapnya lagi.

Rayyan memperhatikan itu sambil bersandar ringan ke kursinya. “Kalau lo ngerasa sedih, marah, kesel, atau apapun dan lo masih belum mau cerita ke gue, lo bisa cerita ke Poppo. Mulai hari ini Poppo akan temenin lo terus.”

Rayyan mengetuk meja pelan dengan jarinya. “Pokoknya jangan dipendem sendirian.”

Alana tetap melihat ke boneka itu. Ada perubahan kecil di wajahnya. Tatapannya tidak lagi setegang tadi. Ada sedikit kelembutan yang muncul.

Rayyan menyilangkan tangan di atas meja, menatap sempurna ke arah Alana, lalu tersenyum kecil.

“Sama-sama,” ucapnya pelan, meski Alana belum mengucapkan apa pun.

Alana tetap diam. Namun, jemarinya yang tidak berhenti menyentuh boneka itu.

...***...

Alana terbangun perlahan. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Cahaya pagi sudah menyentuh wajah, menyusup dari sela tirai jendela. 

Kali ini dia bangun dengan tubuh yang lebih segar.

Alana menunduk. Poppo berada di dalam pelukannya, terjepit erat di dada. Alana menarik napas kecil, lalu sudut bibirnya terangkat halus, sekilas seperti refleks. 

Dia mengusap kepala Poppo pelan sebelum memindahkannya ke posisi duduk di kasur. Alana menatanya sampai tegak, lalu sekali lagi mengusap bulu lembutnya.

Setelah itu, Alana bangun menuju kamar mandi.

Di depan cermin, dia menatap dirinya sendiri. Rambutnya yang kini sebahu terlihat rapi meski belum disisir. Wajahnya tampak lebih segar. Warna pucatnya sudah memudar sedikit. Ada rona kehidupan di wajahnya. Kantung hitam di bawah matanya juga tampak berkurang. Bibirnya terlihat lembab.

Perlahan, sudut bibir Alana kembali terangkat.

Melihat dirinya sendiri seperti itu membuatnya merasa lebih bahagia.

Setelah cukup lama menatap dirinya di pantulan cermin, Alana keluar. Di luar, aroma tumisan langsung menyambutnya. Harum, hangat, menenangkan.

Rayyan berada di dapur. Punggungnya menghadap Alana. Dia menoleh sedikit ketika mendengar langkah pelan Alana.

“Udah bangun, Na,” ucapnya hangat, seperti biasa.

Alana tidak menjawab. Dia melangkah menuju meja makan dan duduk.

Kursi itu menghadap langsung ke dapur, membuatnya dapat melihat semua pergerakan Rayyan dengan jelas.

Rayyan memakai apron. Tangannya terampil mengaduk sayur. Gerakannya cepat, efisien, jelas dia sudah hafal urutan memasak. Sesekali Rayyan mengambil sendok kecil, mencicipi kuahnya, lalu mengangguk kecil sebelum menambahkan sedikit garam.

Alana menatapnya tanpa ekspresi.

Tiba-tiba, perutnya mual. Alana sontak bangun dari kursinya dan berjalan cepat menuju kamar mandi.

Rayyan menoleh ketika mendengar langkah tergesa itu. Dia mematikan kompor dan segera menyusul Alana dengan tenang.

Di kamar mandi, Alana sudah membungkuk di depan wastafel. 

Rayyan merapikan rambut Alana yang menjuntai ke bawah, memegangnya dengan satu tangan. Satu tangannya lagi mengusap tengkuk Alana perlahan.

Setelah mualnya mereda, Rayyan mengantar Alana kembali ke kamar. Dia membantu Alana duduk bersandar di headboard dengan posisi senyaman mungkin.

“Bentar ya, gue ambilin minum,” ucap Rayyan.

Setelah itu, Rayyan kembali ke dapur, mengambil air hangat, lalu kembali ke kamar. Rayyan mengarahkan gelas itu ke bibir Alana, membantunya minum seperti biasa.

Namun kali ini, Alana tidak hanya diam. Dia ikut memegang gelas itu. Tangannya menempel ringan di punggung tangan Rayyan.

Rayyan tersenyum kecil. 

Dia duduk di tepi ranjang, menunggu Alana mengatur napasnya. Tidak terburu-buru. Tidak terlihat gelisah. Rayyan hanya menatapnya, memastikan semuanya baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, Rayyan baru membuka suara. “Sarapan dulu yuk. Lo mau makan di luar atau di kamar aja?” 

Alana menarik napas perlahan. “Luar.”

Rayyan mengangguk. Dia mengulurkan tangan. Alana menatapnya sejenak sebelum menyambutnya. Rayyan membantu Alana berdiri pelan, lalu berjalan keluar.

Selama makan, Rayyan sesekali melirik Alana, memastikan kondisinya.

Alana tetap diam, tapi dia makan perlahan dan tidak terlihat terpaksa.

Selesai selesai mencuci piring bekas makan, Rayyan kembali duduk di depan Alana. 

Alana masih duduk, menahan mual yang tersisa dengan menekan ujung jari di pelipis.

“Lo masih mual terus kayak gini. Nanti kita ke dokter aja ya biar dicek kondisi lo. Sekalian juga, kita belum pernah bener-bener cek kondisi adek bayinya,” ucap Rayyan.

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!