NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Bau lembab kayu lapuk memenuhi udara di ruangan terbengkalai itu. Bau besi berkarat, debu tua, dan tanah basah bercampur menjadi satu, menusuk hidung seperti kenangan buruk yang menolak dilupakan.

Samira terbangun perlahan. Matanya mengerjap bersama dengan kepalanya yang terasa berat. Dunia terasa berputar di sekelilingnya. Lalu …

Byur! 

Air dingin menyiram wajahnya, ia langsung tersedak.

Tubuhnya tersentak keras, napasnya tersengal seolah paru-parunya menolak udara. Ia terbatuk keras, tersedak air dingin. Air menetes dari rambutnya, merembes ke kerah baju.

Matanya akhirnya terbuka sepenuhnya, dan pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah lampu gantung tua yang berayun pelan di atas kepalanya. Cahayanya yang kekuningan dan redup, membuat bayangan-bayangan panjang menari di dinding kayu gudang.

Di mana … di mana ini? Pikirnya. 

Ia mencoba bergerak, namun tak bisa. Tangannya terikat kuat di sandaran kursi kayu. Pergelangan kakinya pun diikat kasar oleh tali. 

Hawa dingin mulai merayap sampai ke tulang. Lalu ia melihatnya. Ia melihat Arga berdiri beberapa langkah di depan, memegang ember kosong. Wajahnya setengah tertutup bayangan, sambil tersenyum puas. 

“Kau bangun juga akhirnya,” ucap Arga santai sambil melemparkan ember kosong itu ke samping. 

Samira menatapnya tajam, bibirnya mendesis pelan. Amarah memenuhi matanya. 

“Dasar pengecut,” katanya dengan suara serak, tapi tegas. “Kalau kau pikir ini akan membuatku takut, kau salah besar.”

Arga tertawa kecil, “Sudah seperti ini pun kau tetap saja galak. Hentikan ocehanmu dan katakan permintaan terakhirmu saja, itu lebih baik bagimu.” 

Samira mengangkat dagu, menatap lurus ke matanya. “Semua yang kau lakukan akan berbalik padamu. Kau akan membayar semuanya, Arga. Satu per satu.”

Sunyi membingkai keduanya. Mereka hanya saling menatap tajam satu sama lain selama beberapa detik. Lalu, Arga tertawa keras. Tawanya menggema di seluruh ruangan. 

“Masih berani mengancamku?” katanya sambil menghapus air di tangannya. “Kau benar-benar keras kepala, Samira.”

Ia berjalan mengelilinginya pelan, seperti pemburu yang mengitari mangsanya.

“Sayangnya .…” Ia berhenti tepat di belakang Samira, berbisik dekat telinganya, “Kau tidak akan sempat melihat hukumanku.”

Samira menegang, antara merasa takut sekaligus kesal. 

“Aku akan membakarmu hidup-hidup di sini,” katanya berbisik. 

Jantung Samira berdetak keras. Namun ia mencoba untuk tetap tenang. Ia tidak boleh membiarkan Arga, meski artinya ia harus mati, ia akan memastikan mati bersama dengan Arga. 

“Gedung tua ini,” lanjut Arga santai, “Mudah sekali terbakar. Kayu kering di mana-mana. Tak ada yang akan tahu dan tak akan ada yang peduli.”

Ia mundur, mengambil jerigen kecil berisi bensin dan menyiramnya ke sekeliling Samira dan seluruh lantai ruangan itu. Bau menyengat langsung memenuhi udara.

“Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Arga.” Samira mendesis pelan. “Aku tidak akan membiarkanmu menang.” 

“Ah iya, begini saja.” Arga tersenyum tipis. “Kalau kau bisa keluar hidup-hidup, mungkin kau bisa melihatku dihukum atau bahkan menghukumku, bagaimana?”

Tangannya mengepal kuat, hingga tali di pergelangannya membuat kulitnya perih saat ia meronta. Ia menarik-narik tangannya, memutar, berusaha melepaskan ikatan itu hingga kursi kayunya berderit keras.

“Lepaskan aku! Sialan kau, Arga!” maki Samira lantang.

Namun Arga hanya menonton, sesekali tertawa, merasa terhibur dengan sikap Samira yang mencoba melepaskan diri walaupun kesulitan. 

“Percuma saja, Samira. Kau tak akan bisa melepaskan ikatan itu,” katanya sambil terkekeh pelan. 

Amarah Samira mendidih. “Lihat dirimu,” desisnya. “Bagiku, kau hanya seorang pria pengecut yang tak berani menghadapi perempuan tanpa mengikatnya. Kau menyebut dirimu kuat? Cih!”

Arga berhenti tertawa, tatapannya berubah gelap. 

Samira tersenyum tipis, sinis. Ia tahu hal itu bisa membuat ego Arga sebagai pria merasa terluka. 

“Kau pengecut, Arga. Selamanya, kau akan menjadi pengecut. Bahkan untuk membunuh pun kau butuh api dan tali. Apa kau tidak bisa membunuhku dengan tanganmu sendiri?” ujar Samira menantang. 

Kalimat itu seperti pukulan keras yang tepat mengenai egonya. Wajah Arga berubah mengeras. Langkahnya yang berat, berjalan mendekati Samira hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa inchi. 

“Kau menantangku? Apa kau tidak takut padaku?” tanya Arga. Matanya yang kecoklatan menatap Samira lekat, seolah mencari celah ketakutan dalam tatap perempuan itu.

“Untuk apa aku takut padamu?” jawab Samira datar. “Aku justru curiga kau yang takut padaku, Arga. Bukankah kau sendiri mengakui bahwa aku ini adalah perempuan yang cerdas?” Katanya lagi, berhasil membuat Arga tersinggung. 

“Baiklah kalau begitu, ayo kita lihat siapa yang akan berhasil membunuh siapa,” balas Arga geram. Dengan gerakan kasar, Arga menarik tali di pergelangan tangan Samira.

Ikatan itu akhirnya terlepas. Samira melihat kedua tangannya memar kemerahan dan terasa perih. Tapi, ia juga merasa puas. Setidaknya, ia memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengakhiri permainan di antara mereka.

“Ayo, lawan aku.” Arga menendang sepotong kayu kecil ke arah Samira. Kayu itu jatuh tepat di depan kaki Samira, berguling pelan.

Samira menatap sepotong kayu yang tampak rapuh itu, lalu menatap Arga. Pria itu memegang sebuah belati kecil yang tajam. Samira yakin, Arga akan menggunakan belati itu untuk menusuknya. 

Ia kemudian berjongkok, mengambil sepotong kayu itu dan meraihnya. Samira merasa ragu bisa mengalahkan pria itu dengan sepotong kayu, mustahil tubuh kecilnya melawan Arga seorang diri. Maka, ia pun mencari akal. 

Samira berdiri beberapa langkah dari Arga, tangannya menggenggam potongan kayu yang tadi ia ambil dari lantai. Telapak tangannya berkeringat, napasnya memburu, tapi matanya tajam. Tidak ada lagi kepanikan di sana. Hanya kebencian yang dingin dan kesadaran bahwa malam ini salah satu dari mereka tidak akan keluar sebagai orang yang sama.

Di seberangnya, Arga menyeringai sambil memutar belati kecil di tangannya. Sorot matanya liar, seperti binatang yang terpojok. “Ayo,” katanya pelan, menantang. “Katanya kau mau melawanku. Buktikanlah sekarang.”

Belum sempat Samira menjawab, Arga sudah bergerak lebih dulu. Langkahnya cepat, sepatu menghantam lantai semen dengan bunyi keras. Samira menghindar ke samping, mengangkat kayu untuk menahan serangan. Bunyi benturan menggema, membuat lengannya bergetar hebat. Tenaga Arga jauh lebih kuat, tapi Samira memaksa dirinya tetap fokus. Ia tidak bertarung dengan kekuatan. Ia bertarung dengan akal.

Arga menyerang lagi dan lagi, seperti orang kesetanan. Ujung pisau berkilat melewati wajah Samira, begitu dekat hingga ia bisa merasakan angin tajamnya di pipi. Ia tersandung karung tua dan hampir jatuh, jantungnya berdentum liar. Tawa Arga menggema di ruangan kosong itu, menusuk telinganya.

“Ternyata kau hanyalah perempuan lemah! Aku benar-benar sudah salah menilaimu,” ejeknya.

Samira menggertakkan gigi. Empat tahun ia hidup dalam kegelapan, berpura-pura rapuh, berpura-pura tak berdaya. Malam ini ia menolak menjadi korban lagi.

Saat lampu berayun dan bayangan Arga terpotong sesaat, Samira memanfaatkan celah itu. Ia mengayunkan kayu sekuat tenaga ke tangan Arga. Belati itu terlepas, jatuh berdenting di lantai. Arga mengumpat marah, lalu menerjangnya dengan tubuhnya sendiri. Mereka bertabrakan keras. Punggung Samira membentur lantai dingin, dan napasnya tercekat.

Tangan Arga mencengkeram kerah bajunya, menekan lehernya. “Sudah cukup, waktunya untuk mengakhiri semuanya, Samira!” desisnya.

Dengan sisa tenaga, Samira menendang lutut Arga. Pria itu terhuyung, cengkeramannya lepas. Samira merangkak menjauh, tangannya meraba-raba lantai, mencari apa pun yang bisa membantunya. Lalu, ia menemukan pemantik. 

Ia menyalakan pemantik itu dan mengacungkannya ke hadapan Arga. Napasnya memburu dengan jantung yang berdebar hebat. 

“Tu-tunggu, Samira! Jangan lakukan!” 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang hanya kebahagiaan yg akan menghampirimu Samira 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
omooo.. sejak kapan ray?
HK: Sejak ...
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
karepmu
HK: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Astiana 💕
baru 20 bab masa dah tamat, cerpen kah🙏
HK: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
cinta semu
jgn bilang kayak film India ,,setelah musuh ny mati ,,,polisi ny datang 🤣🤣
HK: Kak 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
cinta semu
q lebih suka cepat tamat .. daripada lama sampai bab ny banyak tamat kagak malah di gantung iya ...🤣🤣yg penting kn happy. ending 💪
HK: Betul 🤭🤭🤭
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
lanjut dong 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga berjodoh dengan Rayhan 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kisah Wanita hebat 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu karmamu 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa mereka akan mati bersama..?
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Good job Samira 👍🏻
Siti Siti Saadah
pertarungan yg cukup tegang samira punya dokter reyhan kenapa ngga bantu cari cara melawan arga
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg akan tertipu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar orang gila 😏
Rosmayanti 80
dikit se x update nya trs LM pula update 🙏😄🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
dikit ihh
HK: Ngejar target Nyak 🤣
total 1 replies
Siti Siti Saadah
arga ternyata sungguh terlalu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jahat sekali kamu Arga 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!