NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

So Sweet

Malam itu kamar pengantin yang tadinya sunyi berubah jadi saksi bisu perjuangan sang auditor untuk mendapatkan "lembur" di luar jadwal resminya.

Setelah ritual pertama selesai, Aruna sudah siap-siap mau menarik selimut dan tidur nyenyak. Tapi dia melihat Gavin malah duduk bersandar di kepala ranjang dengan tatapan yang... tidak seperti biasanya. Tidak ada kilatan auditor, yang ada cuma tatapan memelas.

"Runa, apakah menurutmu kita bisa melakukan satu siklus tambahan?" ujar Gavin.

Aruna langsung melotot, "Mas! Satu siklus apanya? Masih perih tau! Kan tadi Mas sudah "buka segel" secara administratif, sakitnya masih berasa ini. Aku mau tidur, capek!"

Mendengar perkataan Aruna, bahu Gavin merosot, bibirnya agak maju. "Tapi Runa. Berdasarkan literatur yang Saya baca, hormon endorfin yang dihasilkan pada ronde kedua akan jauh lebih stabil dan membantu relaksasi otot setelah ketegangan tadi. Selain itu... Saya merasa porsi pertama tadi terlalu singkat karena Saya terlalu grogi."

Tapi Aruna, "Nggak ada ya! Tetep aja perih, Mas. Besok-besok lagi aja, kan kita sudah sah seumur hidup."

Gavin tidak membantah, tapi dia diam seribu bahasa. Dia cuma menatap Aruna dengan mata yang persis kayak kucing minta makan, layu dan memelas banget. Wajahnya yang biasanya tegas mendadak jadi kayak anak kecil yang nggak dibelikan mainan.

Aruna menatap Gavin lalu menghela napas. "Duh, Mas... jangan gitu dong mukanya. Jadi nggak tega, Aku."

"Saya tidak memaksa, Runa. Saya hanya mengutarakan keinginan untuk mengoptimalkan momen ini. Tapi kalau kamu tidak mampu secara fisik, Saya akan melakukan Audit mandiri saja di dalam pikiran."

Aruna ketawa geli. "Audit mandiri apa sih? Ya udah, ya udah... sini. Tapi pelan-pelan ya, Bapak Auditor. Jangan kayak lagi ngejar deadline laporan akhir tahun!"

Wajah Gavin langsung cerah seketika, kayak lampu neon baru diganti. "Siap, Sayang! Saya akan menyesuaikan parameter intensitasnya agar tetap nyaman bagi kamu."

*******

Keesokan paginya, Aruna bangun dengan badan yang rasanya kayak habis ikut maraton antar provinsi. Begitu dia membuka mata, aroma roti panggang dan kopi sudah menyeruak masuk ke kamar.

Gavin masuk membawa nampan dengan posisi tangan yang sangat stabil. Di atas nampan itu ada dua piring sarapan yang isinya terlihat sangat estetik, dan... dihitung banget.

"Selamat pagi, Isteriku. Saya sudah menyiapkan unit pemulihan energi." kata Gavin sambil menunjukkan nampan yang dia bawa.

Aruna duduk sambil merapikan rambut. "Aduh Mas. Wangi banget. Masak apa?"

"Ini adalah paket sarapan "recovery 500". Dua telur rebus untuk protein otot, setengah alpukat untuk lemak sehat, dan satu tangkup roti gandum."

Gavin meletakkan nampan itu diatas tempat tidur dan mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku kaosnya.

'Berdasarkan aktivitas fisik yang kita lakukan semalam, terutama karena ada tambahan ronde kedua yang tidak direncanakan, kita kehilangan sekitar tiga ratus sampai empat ratus kalori. Jadi sarapan ini sudah Saya formulasikan untuk mengembalikan supply energi kita tanpa menyebabkan penumpukan lemak." Jelas Gavin panjang lebar.

Aruna mengambil telur rebusnya, "Mas, kalau lagi sarapan begini, kertas hitung-hitungannya disimpan dulu, bisa nggak? Aku laper, bukan mau ujian matematika."

Gavin tersenyum tipis sambil menyuapi Aruna potongan alpukat, "Maaf, Runa. Kebiasaan. Saya cuma nggak mau kamu lemas. Bagaimana perasaanmu pagi ini? Ada keluhan fisik yang perlu dimasukkan ke dalam catatan kesehatan?"

Aruna tersenyum manja sambil mengunyah. "Keluhannya cuma satu, Mas. Suamiku ternyata kalau sudah dapat izin lembur ternyata lebih parah dari bos di kantor. Tapi... aku suka kok."

Gavin tersipu. Wajahnya memerah sampai ke telinga. "Baiklah. Laporan diterima. Untuk hari ini, agenda kita adalah istirahat total. Saya sudah membatalkan semua rencana rumah agar proses pemulihan kamu berjalan seratus persen."

Aruna tertawa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. Ternyata hidup dengan seorang auditor tidak selalu kaku. Kadang-kadang justru sangat penuh perhatian, meskipun perhatiannya pakai perhitungan kalori.

Begitu sarapan selesai, Aruna mencoba untuk turun dari tempat tidur. Namun begitu dia menyingkap selimut, matanya langsung membelalak. Di atas sprei putih bersih itu, ada noda merah yang cukup banyak, bukti "perjuangan" lembur dua ronde mereka semalam.

"Aduh! Mas, Spreinya!" seru Aruna panik.

Dia mencoba berdiri untuk segera membereskan kekacauan itu, tapi begitu kakinya menapak lantai, Aruna meringis. Rasanya perih dan badannya pegal luar biasa, sampai-sampai jalannya jadi agak mengangkang karena menahan sakit.

"Duh, sakit banget... Mas, itu noda darahnya banyak banget. Aku harus langsung cuci, kalau nggak nanti membekas nggak bisa hilang. Aku ke kamar mandi dulu ya, mau ambil ember."

Aruna baru melangkah dua kali dengan tertatih-tatih, tapi tiba-tiba tangan Gavin menahan bahunya dengan lembut namun tegas.

"Berhenti di tempat, Runa. Berdasarkan observasi visual Saya, koordinasi motorik kamu sedang terganggu akibat kelelahan fisik. Kamu dilarang melakukan aktivitas domestik berat pagi ini." Kata Gavin.

"Tapi, Mas. Itu sprei kesayangan kamu! Nanti kalau nodanya permanen gimana? Biar aku aja yang rendam pakai air dingin." kata Aruna lagi.

Gavin menuntun Aruna kembali duduk di kursi rias. "Runa, dengarkan Saya. Kamu adalah prioritas utama dalam Audit pagi ini. Noda darah memiliki kandungan protein yang akan mengeras jika terkena air panas. Saya sudah tahu prosedur pembersihannya menggunakan larutan garam dan deterjen pH seimbang. Itu tugas Saya."

Gavin kemudian berlutut di depan Aruna, memastikan posisi duduk isterinya sudah nyaman.

"Sekarang, kamu duduk disini seperti ratu. Jangan bergerak lebih dari radius satu meter. Saya akan menggendong kamu ke kamar mandi kalau kamu butuh, dan setelah itu Saya yang akan menangani TKP di tempat tidur."

Aruna tersipu sekaligus terharu, "Mas, kamu beneran mau nyuci sprei kena darah gitu? Nggak geli?"

"Geli tidak ada dalam variabel saya jika itu menyangkut kebahagiaan Isteri Saya. Lagipula, ini adalah bukti validasi bahwa merger kita sukses besar semalam. Saya akan membersihkannya dengan tingkat presisi seratus persen."

Gavin benar-benar membuktikan ucapannya. Dengan sigap dia menggendong Aruna ke kamar mandi supaya Aruna tidak perlu berjalan jauh. Setelah itu, dia balik ke kamar, melepas sprei dengan sangat hati-hati agar noda tidak melebar, dan mulai melakukan "operasi pembersihan" di wastafel laundry dengan sangat teliti.

Aruna yang mengintip dari pintu kamar mandi cuma bisa senyum- senyum sendiri.

"Mas, makasih ya. Ternyata punya suami auditor itu enak juga ya? Semua masalah langsung diselesaikan dengan SOP." kata Aruna.

Gavin sambil mengucek sprei dengan ritme yang stabil. "Tentu, Runa. Selama Saya masih bernapas, tidak ada noda, baik di sprei maupun di hubungan kita, yang tidak bisa saya bersihkan."

"Ah.. so sweet banget sih, Suamiku!" kata Aruna. Gavin langsung menepuk-nepuk pelan dadanya sambil tersenyum bangga.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!